Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Tentang Fitriya

“Des, lg ngapain? Aku telepon ya?” Bunyi chat dari sahabat saya, Fitriya tadi malam.

“Aku baru nyampe kos fit, bentar ya cuci muka dan bersih-bersih dulu. Mau shalat juga, nanti kalau udah beres aku kabarin,” jawab saya. Setengah jam kemudian masuklah telepon dari Sahabat saya ini.

Namanya Fitriya. Salah satu penghuni kosan bulusan jaman kuliah dulu. Teman sekelas juga. Memasuki dunia pasca kuliah, dimana masing-masing dari kita saling terpisah, Fitriya lah yang paling rajin telepon anak-anak kosan. Satu per satu ia hubungi lewat telepon atau video call. Demi menjaga silaturahmi, katanya. Dari hasil obrolan semalam, saya tahu jika Fitriya sekarang sudah bekerja di salah satu klinik rawat luka. Selama 2 bulan awal bekerja dia ditempatkan di Bekasi. Namun sekarang harus move out ke Bogor, di kantor cabang klinik rawat luka yang lain. Anak ini banyak cerita, ia sekarang menyukai pekerjaannya. Bertemu pasien Diabetes Mellitus setiap hari, merawat luka mereka, ngobrol dan memberi pendidikan kesehatan kepada tiap-tiap Pasien.

“Bahagianya bisa berbagi ilmu yang aku miliki rasanya menyenangkan banget Des. Bayangin yah kamu ketemu Pasien DM dengan luka yang cukup parah. Ibaratnya sudah jelek banget tuh keadaan lukanya. Terus kita kaji tuh, sebisa mungkin aku rawat lukanya jangan sampai diamputasi. Karena jika penanganan rawat lukanya benar, ndak perlulah itu diamputasi. Seneng rasanya ngeliat pasienku semakin hari lukanya semakin membaik. Bahagianya ndak ada yang ngalahin,”

Mendengar cerita Fitriya saya senang. Akhirnya dia menemukan pekerjaan impiannya ๐Ÿ™‚ dulu selepas skripsi dan akan memulai dunia profesi, kami sempat ngobrolin tentang masa depan. Katanya saat itu, “Aku pengen tetap jadi orang lapangan Des, ketemu pasien. Tapi sepertinya nggak harus di rumah sakit. Mungkin bisa di klinik dengan spesialisasi tertentu,”. Dan saat ini doanya terkabul. Dia juga banyak cerita tentang kota tempat tinggal saat ini. Yap, kota hujan Bogor.

“Wah sejuk dong Fit, kan kota hujan,” kata saya. Di seberang sana Fitriya tertawa. “Ndak ah, sama aja. Panas disini, dinginnya kalau pas hujan aja,”

Fitriya…Fitriya…katamu dulu tak pernah ada bayangan untuk merantau di ibu kota atau kota-kota lainnya di sebelah barat Jawa sana. Malahan, saya yang dulu bermimpi untuk mencicipi ganasnya ibu kota. Sekarang status kita berkebalikan yah.

Fitriya bilang tantangan paling berat saat ini adalah jarang bertemu keluarga dan susahnya mendapat tiket kereta untuk pulang kampung. Dulu saat masih kuliah jarak rumahnya ke kota perantauan hanyalah 2 jam dengan sepeda motor. Semarang-Jepara. Lebih jauh juga saya dari Purwokerto-Semarang dengan 5 jam waktu tempuh. Sekarang untuk dapat tiket mudik saja ia harus rela begadang untuk membooking tiket pulang.

“Aku sampai begadang biar bisa pulang kampung lebaran nanti. Alhamdulillah dapet juga. Sempet nangis nangis loh des karena aku lupa kalau harus beli ticket,”.

“Jadi inget jaman kuliah dulu nggak sih fit? Kamu kalau mau pulang enak banget, tinggal pulang aja naik motor. Jam berapa pun. Sedangkan aku kalau mau pulang harus ngatur waktu, ngepasin jadwal travel, bus atau kereta,” Kata saya.

Fitriya tertawa. “Dunia kita kebalik ya sekarang,”

Ia yang dulunya sangat awam dengan transportasi bernama kereta. Pengalaman pertamanya naik kereta kalau tak salah di tahun 2014 akhir saat saya dan Fitriya tergabung di kelompok praktik yang sama dan mendapat jatah praktik di RSUD Pemalang. Kami naik kereta ekonomi dari Semarang ke Pemalang. Dan saat ini ia sudah terbiasa dengan dunia perkereta apian, terutama KRL ๐Ÿ˜ƒ. Selamat ya Fit, sesuatu yang kamu anggap asing diawal, ternyata kini menjadi bagian hidupmu sehari-hari ๐Ÿ˜.

Ngobrol dengan Sahabat memang tak ingat ย  waktu ya. Setelah ngobrol ngalor ngidul membahas apa saja dari yang namanya pekerjaan dan drama-dramanya, gosip artist di lambe turah, rencana jalan-jalan, sampai ke bagian cecintaan juga, akhirnya baterai HP saya drop dan kebetulan pulsa Fitriya juga habis xixixi. Klop deh, percakapan ini harus kita akhiri. Saat saya liat jam, omegat udah jam 22.30 WIB. Kami menghabiskan dua jam untuk ngobrol? Seriously???! ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ begini ya, cewek kalau dah ngobrol suka lupa waktu. Ini kita ngobrol ditelepon loh, coba kalau ketemu langsung? Bisa-bisa kita begadang just for “ngegosip dan curhat rempong”.

Dan saya pikir, she still the same. Masih menjadi Fitriya yang asyik diajak ngobrol remeh temeh. Yang tetap tertawa dengan candaan receh yang saya lontarkan. Hampir setahun belum ketemu Fitriya lagi, ย dia bilang sedang harap-harap cemas menanti kelahiran ponakan keduanya. Yang dari hasil USG katanya berjenis kelamin cowok. Selamat menanti ya Fit. Semoga lancar untuk persalinannya. Semoga mbakmu sehat, dan ponakanmu lahir dengan selamat :’)

Dan pertanyaan Fitriya yang masih terngiang-ngiang sampai saat ini adalah…..

“Did you finally find your own prince?”

Dan saya pura-pura kehilangan sinyal. Besok (entah kapan alias kalau ada waktu libur) kalau temanmu ini jadi main ke Bogor, pertanyaanmu mungkin sudah ada jawabannya. Kalau belum ya berarti…yah kamu tahu sendiri lah Fit.

The journey must begin.

P.s: Fitriya berpesan kepada saya untuk selalu ingat ini:

“Des, denger ini, Seseorang yang baik akan bertemu orang yang baik dengan cara yang baik pula. So create your own amazingly story. Aku tunggu ceritamu di kesempatan baik yang lain ya,”

Iklan

Penulis:

Kimi no nawa~

10 tanggapan untuk “Tentang Fitriya

    1. Wqwq aku nggak bisa ngebayangin Fitriya kalau baca komenmu ini Del ๐Ÿ˜‚ tapi Fitriya memang selalu menjadi sosok yang mendinginkan di tengah panasnya suasana. (Ini Fitriya atau es? ๐Ÿ˜‚)
      Fitriya nggak main blog del. Bermedia sosial pun dia sewajarnya dan seperlunya. Dia pecinta dunia nyata….

      Suka

      1. Kalau gitu jangan diceritain wkwk. Bikin malu ๐Ÿ˜‚
        Teman begitu yang selalu kita butuh ya. Yang ngademin, yang ngangenin juga huhu. Apalagi ditelfon rutin walau udah misah gitu…

        Hasut buat blog dung des… Lumayan buat pendokumentasian hidupnya.. Jadi 5 atau 10 tahun lagi kan bisa ngeliat rekam jejak sendiri. Eh. Kalau cuma Bogor mah, jangan2 selama ini kami pernah berpapasan. Cuma nggak pernah tak-sengaja-nabrak-sampai-jatuh aja kayak di FTV ๐Ÿ˜‚

        Disukai oleh 1 orang

      2. Iyessss. Dia yang paling rajin halohalo di group anak kos. Dia juga yang rajin nanya kabar. Gapapa kalau nanti aku ketemu sama Fitriya kutunjukin komennya Fadel ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„
        Susyah Del….dulu anak kosan udah pada punya blog tapi pada mati suri. Keliatan deh mana yang tukang galau dari postingan di blognya huehehe.
        What ftv? Ahaha adegan ftvnya belum diadaptasi ke dunia nyata ya del ๐Ÿ˜‚

        Suka

    1. Wah salam buat Kak Chun ya bang…dulu saat kuliah saya juga pernah praktik di ruang perinatologi. Khususnya di ruang NICU (neonatus intensive care unit) banyak bayi bayi dengan kondisi kritis. Sedih banget kalau si bayi ndak tertolong ๐Ÿ˜ข

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s