Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Buka Puasa Bersama (1)

Hari ini ada acara buka bersama di kantor. Sayangnya acaranya molor dari rencana awal dimana isha kita bisa pulang dan shalat di rumah masing-masing-masing menjadi saat-adzan-isha-kita-baru-selesai-makan πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜… Jadi deh dilanjut shalat Isha dan tarawih berjamaah untuk pegawai laki-laki, sedangkan pegawai wanita karena sudah malam kita pun dipersilahkan untuk pulang dan shalat di rumah masing-masing.

Rencananya buka puasa sore tadi adalah sekaligus acara perpisahan dengan Mas Koko. Tapi alhamdulillah ada kabar gembira jika kontraknya bisa diperpanjang dan pengurusan ijinnya berhasil. Saya sudah membayangkan jika lusa kubikel di samping saya ini (ex-kubikel mas Koko) bakalan kosong. Kebayang nggak sih biasanya ada orang yang duduk disitu ngetik-ngetik, eeh tiba-tiba kosong aja? Sedih sekaligus serem! 😒 

Oya acara buka puasa di kantor tadi menarik banget. Pukul 17.00 kita berkumpul di ruangan pelayanan Badan Usaha. Ruangan ini ditata sedemikian rupa, digelar karpet gitu. Kemudian datang pak Ustad Ayyub untuk mengisi tausiyah sebelum berbuka. Isi tausiyahnya tentang keutamaan bulan ramadhan dan perbedaan Zakat, Infaq dan sedekah. Ustadz menganjurkan di bulan ramadhan ini sebaiknya kita rutin memberi sedikit harta yang kita miliki untuk orang lain yang membutuhkan. Dimulai dari nilai yang kecil (jika nilai yang besar dirasa terlalu berat) dan terus ditingkatkan di setiap hari/minggunya tergantung targetan kita. Dianjurkan juga untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Duh, saya jadi inget targetan bulan ramadhan yang memasuki hari keempat ini agak keteteran 😒 sedih. Banyak yang harus diperbaiki. Yosh! Semangat! 

Acara dilanjutkan dengan berbuka puasa (minum teh manis hangat dan makan camilan), shalat mahgrib berjamaah dan baru deh kita makan bersama-sama. Dan ini bagian yang menarik, kita makannya gak di atas piring tapi diatas lembaran daun pisang (model bancakan gitu), makanannya ditaruh di atas daun pisang kemudian ditaruhlah lauk pauk disetiap pinggirnya. Rasanya enaaak banget, Alhamdulillah. Terakhir makan model seperti ini rasanya sudah lama banget yaitu saat ikut malam keakraban klub riset jaman semester 3 kuliah dulu. Wow! Udah hampir 4 tahun yang lalu yak! Gak kerasa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ dulu menunya pake ikan asin mantap sekali. Kalau sekarang lauknya pakai kering tempe campur kacang dan ikan teri. Mantapnya dobel 😁😁😁

Postingan ini saya dedikasikan untuk kubikel samping yang nggak jadi ditinggalkan. Selamat kubikel, kamu tak jadi ditinggalkan hingga berdebu dan tampak kasihan. Esok masih tetap ada yang bersihin kamu, rapiin mejamu (yakin?), dan ada yang ngetik-ngetik berisik sampai kamu bosan mendengarnya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Sekali lagi, selamat!

P.S: saya kasih angka (1) di judulnya karena masih ada kemungkinan ada undangan bukber-bukber lain. Sekiranya bukber itu nggak membuat kita meninggalkan yang wajib/membuyarkan konsentrasi ibadah kita sih gpp kali yak untuk ikutan. Cuma ya itu, jangan kebanyakan bukber nanti bosen πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

​
Suasana buka puasa sore tadi….ini model bancakan ya…udah siap makan tinggal dikasih aba aba (re: berdoa) dari pak Ustadz 

​
​

Iklan

Penulis:

Kimi no nawa~

13 tanggapan untuk “Buka Puasa Bersama (1)

  1. kalau di sunda, model makan kayak gitu disebut Ngaliwet kak. eh kegiatannya disebut BotramπŸ˜‚
    .
    aku ngerasain ditinggal tiba-tba sama rekan kerja itu menyedihkan. horeee selamat enggak jadi ditinggal.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s