Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Lebaran atau Lebar-an?

Hello!

Welcome back to my #acakacakan blog ๐Ÿ˜‚ gimana kabar perut? Semakin membuncit kah? Gimana kadar LDL, HDL, Kolesterol? Masih aman kah? Hahaha meski lebaran makanan melimpah ruah, please jangan kalap ya teman-teman. Kasian tuh perut kaget ๐Ÿ˜… ini lebaran bukan lebar-an? *nengok lingkar perut sendiri*

Gais..nggak kerasa yaa lebaran yang dinanti sudah lewat saja. First time saya mengucapkan:

“Taqobalallahu minna wa minkum. Selamat hari raya idul fitri 1438 H teman-teman blogger semua ๐Ÿ˜Š maafkan semua salah saya yaa baik yang disengaja atau tidak. Mungkin pernah komen nyelekit di blog kalian, atau kalian komen terus lupa gak saya balas ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ maafin segala salah dan khilaf saya yaa. Semoga tahun depan masih bisa bertemu dengan ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat. Aamiin”

Kegiatan lebaran saya sepertinya hampir sama dengan orang-orang kebanyakan. Bangun subuh, Mandi, shalat subuh, sarapan (it’s sunnah), siap-siap ke masjid, shalat id dan salam-salaman. Jika lebaran masjid deket rumah jadi berasa keciiiil banget karena membludaknya jamaah. Terus seperti biasa saya banyak nggak kenal sama muka-muka baru yang ternyata mereka adalah para perantau yang lagi pada mudik. Si A yang ternyata istrinya mas B. Anak Y yang ternyata anaknya mas C. Hadeuh, pusing sayanya. Dan lagi! Kawan SD saya terkhusus yang cewek-cewek udah pada gendong baby! ๐Ÿ˜ฑ oemji, baper he eh? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ ย #nggakusahnanya!

Lebaran kali ini rumah cukup sepi karena ini pertama kalinya lebaran tanpa mbah kakung dan Mbah putri ๐Ÿ˜ข sedih emang, biasanya kan habis minta maaf sama ibu Bapak kita langsung cus ke rumah mbah untuk maaf-maafan. Sekarang nggak lagi. Tapi ga papa, inshaa Allah mbah sudah tenang disisiNya. Aamiin.

Lebaran kali ini pun tanpa kehadiran mas dan mbak karena lebaran di orangtua mbak ipar di Surabaya sana. Jadi lah ibu, Bapak, saya dan mbak kembar, berempat ย keliling ke rumah sanak saudara. Mulai keliling jam 9 pagi nyampe rumah jam 4 sore. Ya ampun rasanya capek kuadrat! Keluarga saya memang nggak mengenal istilah mudik karena saudara ibu dan Bapak masih satu kecamatan ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ mudik bisa ditempuh dalam waktu 15 menit hahaha. Hemat waktu dan duit euy! :p :p Cuma paling lusa kalau jadi mau ke Slawi, ke rumah saudara Bapak. Itu yang paling jauh haha.

Oya, biasanya kalau lebaran gini, keluarga ngumpul di tempat pakde selaku saudara tertua dari ibuk. Enaknya, kalau di tempat pakde itu banyak makanan dan rame! Secara anaknya pakde banyak dan saudara dari ibuk juga pada ngumpul disitu. Menu lebaran kemarin bude dan mbak mbak masak bakso ikan patin. Hmm..sedaaap! Saya sampai habis dua mangkok hahaha #kalap maaaak.

Alhamdulillah lebaran day 1 and day 2 terlewati dengan lancar jaya meski diwarnai dengan pertanyaan serba “kapan?” “Siapa calonnya?” “Siapa duluan? Atau mau barengan?” Deuuuuw. Semua sudah bisa kujawab dengan….“MINTA DOANYA AJA BUDHE, BULIK, PAKDE, PAKLIK,” ย kemudian kasih bonus senyuman paling manis. #eaaaak

Lebaran oh lebaran, ternyata dikau cepat sekali berlalu. Segala euforia akan terganti dengan rutinitas seperti biasa. Ngantor lagi, nyari recehan lagi. Ah, gapapa, nggak usah dipikirin, semua itu masih minggu depan juga! ๐Ÿ˜‚ sisa liburan kali ini harus dimanfaatkan dengan baik! Yosh!

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Kawan Lama yang Tiba-Tiba Datang Menjemput

Malam tadi selepas isha saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Sisa-sisa berkas lemburan masih bertebaran di meja. Rasanya jenuh dan muak sekali melihat tumpukan berkas yang tak kunjung mengikis ini.

Jam menunjukan pukul 19.40 WIB. Setelah mampir bentar ke kos untuk mengambil baju kotor, lekas saya memacu kendaraan menuju rumah. Sepanjang jalan pulang suasana cukup ramai. Suara kajian di masjid-masjid pinggir jalan pun samar-samar terdengar. Lebih banyak lagi orang-orang yang berkendara memenuhi jalan raya untuk tujuan bertemu keluarga atau memang hanya sekedar melepas penat semata.

Keluar dari wilayah kota Cilacap, volume kendaraan mulai berkurang dan sepi mulai menggelayut. Sebelumnya saya tak pernah pulang selarut ini. ย Jika ingin mudik ke rumah maksimal pukul 18.00 WIB saya sudah harus keluar kantor. Malam ini pun awalnya saya tak ingin pulang ke rumah karena besok di hari Sabtu masih ada jadwal lembur lagi ๐Ÿ˜ฉ namun, sepertinya batin ini sedang membutuhkan asupan kasih sayang dari keluarga tercinta. Hingga akhirnya saya nekat untuk pulang saja.

Memasuki kawasan Jeruklegi (arah Cilacap-Wangon) volume kendaraan semakin menurun drastis. Hanya ada satu dua sepeda motor dari arah berlawanan. Saya pacu si merah dikisaran 60 km/jam. Tak boleh lebih, janji saya terhadap diri sendiri. Jujur, saya masih trauma memacu kendaraan terlalu kencang karena dulu akibat saya naik motor dengan kecepatan ala ala Valentino Rossi, saya pun jatuh dan lukanya masih membekas hingga sekarang ๐Ÿ˜ข. Sepanjang jalan saya banyak berdoa. Selain suasana sepi, hujan juga mulai turun cukup deras. Ini menambah penderitaan saya karena kacamata menjadi berembun dan jarak pandang menipis. Kalau kalian para pengguna kacamata pasti tahu lah bagaimana rasanya. Epic sekali. Hingga akhirnya peristiwa itu pun terjadi.

Di sebuah tikungan di depan saya ada truck tronton gandeng yang membawa muatan entah apalah itu. Karena saya pikir suasana sepi, jadilah saya mencoba mendahului/nyalip truck tersebut. Bodohnya, saya mencoba mendahului di tikungan. Dan saat mencoba mendahului truck ini, di depan saya dari arah berlawanan datang Bus PATAS. Allahurabbi! Saya kaget. Saat itu kondisi jalan sempit, hujan dan saya terjebak di dua kendaraan super besar. Sambil berusaha tetap tenang, saya pencet klakson mencoba memberi tahu si sopir tronton jika saya berada di sampingnya. Alhamdulillah, Bus PATAS tidak sedang melaju dengan kecepatan penuh sehingga semuanya bisa dikondisikan. Sopir truck tronton pun bahkan mau menghentikan kendaraannya. Can you imagine that? Saya persis berada di tengah-tengah dua kendaraan raksasa ini. Saat truck tronton berhenti, bus melaju perlahan. Ya Allah…saya mengucap syukur berulang-ulang. Saya ucapkan terima kasih kepada supir truck dengan membunyikan klakson. Semoga Pak supir nan baik hati ini mengerti sinyal sinyal yang saya berikan. Saya tidak bisa membayangkan jika Supir truck ini egois dan tetap melajukan kendaraannya. Akankah saya sekarang masih bisa menulis catatan ini? Saya pikir tidak.

Sepanjang sisa perjalanan pulang saya istighfar berkali-kali. Saya banyak baca doa sampai saya menangis. Kacamata yang sudah buram karena air hujan akhirnya tambah buram lagi oleh airmata sendiri. Duh, sedih.

See?

Kematian adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kita. Dan kapan pun bisa datang menjemput. Jika Allah sudah mengutus malaikat maut untuk menjemput umatNya, lantas kita bisa apa? Karena Allah sudah mengabadikannya dalam firmanNya jika setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Termasuk saya, kamu, kita.

Jika kawan lama ini menjemput saya suatu hari nanti apakah amalan saya telah cukup?

Apakah saya dijemput dalam keadaan baik?

Apakah kesalahan yang pernah saya perbuat pada teman, keluarga, rekan kerja yang kiranya luput dari ingatan saya dan saya belum sempat mengucap kata maaf?

Pertanyaan-pertanyaan itu senantiasa berputar sepanjang saya menghabiskan sisa perjalanan. Ah, saya jadi ingat ibadah saya selama ini kurang maksimal. Shalat tidak semua dilakukan di awal waktu, amalan sunnah yang masih minimal sekali, dan semenjak saya bekerja susah sekali membiasakan shalat tahajjud dan puasa sunnah. Sedih juga rasanya melihat targetan ramadhan yang belum berubah warna menjadi checklist hijau.

Kejadian malam tadi seolah menjadi pertanda jika suatu hari si Kawan Lama kita ini pasti akan datang. Entah nantinya ia akan datang dengan mengetuk pintu dulu atau tidak. Tinggal bagaimana saya akan menyambutnya nanti, maka mulai hari ini harus mulai dipersiapkan.

Selamat berjumpa dengan 10 hari ramadhan terkahir. #selfreminder banyakin amalan biar diberi nikmat sehat sehingga bisa melakukan kegiatan yang akan menambah pundi-pundi amal kita nantinya. Aamiin.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Adakah yang Tahu?

So, how’s your Monday fellas? ๐Ÿ˜„ *sok keminggris banget siiiy*

Senin saya kali ini sungguh luar biasa. Baru juga hari Senin, eh tiba-tiba dapat pengumuman dari pak bos jika terhitung mulai hari ini sampai seminggu ke depan bakalan ada lemburan di kantor. Yang biasanya pulang jam empat sore, mundur lamaan dikit menjadi jam setengah tujuh malam. So, its mean….bakalan buka puasa di kantor terus dong ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ hiks, padahal kangen masakan emak. Mamam tuh nasi kotak wkwk.

Oya, kali ini saya nggak nulis panjang x lebar seperti postingan sebelumnya. Di postingan kali ini saya cuma pengin nanya, diantara teman-teman Blogger adakah yang suka koleksi action figure? Terutama tokoh tokoh manga seperti Detective Conan, Naruto, Dragon Ball de el el? Karena saya sedang mencari toko online yang menjual action figure. Kalau bisa yang kualitasnya bagus ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ yang saya cari sih sebenarnya Action Figure tokoh karya-karya Studio Ghibli. Terutama Tottoro atau Ponyo. Saya udah lama kesengsem sama film-filmnya Ghibli and one of my favorite ya My Neighbour Tottoro ini. Mau nonton beberapa kali pun nggak pernah ada bosannya ๐Ÿ’ƒ

Sebenarnya saya sudah searching online shop di Instagram, namun karena banyaknya pilihan jadi bingung toko mana yang trusted. Ada yang bagus, ternyata shipping dari mancanegara. Duh, saya kan penginnya pengiriman dari Indonesia aja biar kagak ribet xixixi ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Jadi, tak ada salahnya kan saya nanya di blog, siapa tau ada yang tahu toko online recommended yang menjual macam macam action figure ini ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ yang tau, minta tolong share yaaaa ๐Ÿ™๐Ÿ™‡ maaciw โค

โ€‹

0562720163dd80dfd2acf2f51b19178a

6befa725e43c3a537c76b05eba89eeeb

6f783cebb43193e70dbfaa93746c019d

ini cutee bangeeet!!!!

Gambar ambil dari Pinterest ๐Ÿ™‚

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Siapa Mereka? (Part 2)

Malam itu bulan bersinar cukup terang. Sepertinya sebentar lagi memasuki pertengahan bulan. Pukul 20.45 WIB aku memastikan semuanya telah siap. Yap! Ini adalah kali pertama aku melakukan shift malam. Tas berisi kamus keperawatan, diagnosa penyakit dan kumpulan-kumpulan tugasku siap kubawa. Rencananya malam ini, jika ada waktu aku ingin menyelesaikan tugas-tugasku yang menggunung.

Aku keluar kamar. Belum ada jam sembilan malam tapi suasananya lumayan sepi. Hari ini Bunga, Laras, Ina dan Dani shift siang. Jadi mereka masih ada di RS. Sedangkan Yuni, Nita dan Kiki sepertinya mereka tengah keluar beli makan malam. Jadi tinggal aku yang tersisa di lantai 2. “Payah deh, nggak ada orang gini berarti nggak ada yang bisa dipinjami motor,” gumamku. Jadilah malam itu aku jalan kaki dari kosan menuju RS. Hmm..dinikmati saja deh, itung-itung olahraga.

Setelah handover/operan shift dan melihat kondisi serta catatan medis pasien, aku pun segera ke ruang obat untuk membantu perawat senior meracik obat. Oh iya, sebelumnya aku akan menjelaskan ruangan rawat dimana aku praktik. Jadi, di dua minggu pertama aku dan Ina mendapat jatah praktik di ruang Wijayakusuma yang merupakan ruang bedah pria. Ruangan ini terdiri dari ruang kelas 1, kelas 2 dan kelas 3. Total bed nya sekitar 24 bed. Karena aku masih mahasiswa jadi aku diberi tanggungjawab untuk mengurus pasien kelas 3 karena kebetulan pasien kelas 1 dan 2 nya sedang kosong sih hehe.

Malam itu hanya aku dan dua perawat senior lain yang berjaga. Sekitar pukul 22.30 WIB ada Pasien baru dari IGD. Pasien dengan BPH (benign prostate hyperplasia). Aku pun mendapat tugas untuk mengkaji pasien tersebut. Setelah dikaji dan dimasukan dalam rekam medis, mbak perawat yang jaga denganku memanggil. Rupanya ia baru saja konsul dengan dokter penangungg jawab ruangan.

“Dek siswa, minta tolong ke apotik ya ambil resep Tn. M., pasien baru tadi. Hati-hati ya Dek, kalau malam sepi,” kata mbaknya sambil senyum-senyum gak jelas. Aku mengangguk dan lekas melaksanakan perintahnya.

Benar saja, saat keluar ruangan ternyata selasar RS gak seramai saat aku berangkat shift tadi. Karena baru beberapa hari praktik di RS, aku juga rada rada bego dengan ruangan-ruangan yang ada. Ditambah kemampuan navigasiku yang jelek. Duh! Kalau ke apotik lewat mana ya? ย Biasanya aku pakai jalan pintas di ruang Kenanga. Tapi sepertinya kalau malam hari pintunya dikunci. Mana gak ada orang yang bisa aku tanya pula. Setelah beberapa saat nunggu orang lewat, wkwkwk useless banget deh, akhirnya kuputuskan mengikuti petunjuk arah yang ada di RS. Tapi kok kayak rada ga beres ya. Karena semakin kuikuti jalanan malah tambah sepi. Lorong-lorong pun mulai tampak redup gak ada lampunya. Gawat. Aku kesasar mak! Meski ragu, aku tetap melanjutkan perjalanan sambil tetap baca ayat kursi dalam hati. Ah elah ini kenapa lorong sepi amat sih? Apotiknya juga kenapa gak ketemu-ketemu? Apa aku balik aja ya? Ah udah kepalang basah. Tiba-tiba ada suara langkah dibelakangku.

“Mbak!”

Duh! Hantu sekarang bisa ngomong ya? Jantungku serasa mau copot.

“Mbak ngapain malam-malam kesini?” Tanya mas mas berbaju hitam yang ternyata adalah security.

“Ya Allah Mas ngagetin aja sih! Kirain siapa, ini loh Mas, aku mau ke apotik ngambil obat,” kataku sedikit lega. Ternyata aku ketemu manusia.

“Lah apotik? Kamu berani banget lewat sini,” kata Mas satpam yang ternyata rambutnya cepak itu (info ga penting, btw)

“Emangnya kenapa gitu Mas?” Tanyaku penasaran.

“Tuh liat!” Aku mengikuti arah yang ditunjukan Mamas satpam tadi.

Omegat!!!! Aku berada di depan kamar jenazah. Pantesan sepi pemirsa! Ini di belakang RS bro. Alamak!

“Ni sebelahmu ni kantin. Kalau malam tutup,” kata mas satpam lagi.

Aku memandangi gedung sederhana tak berlampu yang di siang hari jadi tempat nongkrong aku dan mahasiswa mahasiswa lain saat istirahat. Gila, ternyata kalau malam serem amat yak! Gelap gini.

“Sebenernya ke kiri terus apotik, tapi kamu harus lewatin kantin. Berani gak?” Kata Mas satpam lagi. Kali ini mukanya sedikit ngeledek.

“Dih gini aja mah saya berani Mas,” ah elah mulutku enak banget ngomongnya. Padahal dalam hati dag dig dug kayak bedug maghrib. Mau balik lagi tengsin juga sama Mas satpamnya. Minta ditemenin? Idih dah gedhe kok manja.

“Mmm..Mas, saya ke apotik lewat sini aja deh,” kataku.

“Yakin? Nggak mau ditemenin nih?”

Aku menggeleng.

“Saya liat aja dari sini ya Mbak, nanti kalau ada apa-apa tinggal teriak aja,” kata si Mas sambil senyum. Duh, ternyata senyum si Mas Satpam ini manis juga hihihi nyesel deh kenapa tadi nolak ditemeninย #ehsalahfokus #abaikan.

Akhirnya dengan keberanian kelas remahan rengginang, aku pun berjalan menuju apotik. Tentu saja sambil baca doa-doa. Ya Allah..lindungilah hambaMu ini. Aamiin….dan berhasil! saya akhirnya sampai di apotik dalam keadaan masih jomblo eh maksudnya dalam keadaan utuh tak kekurangan suatu apa. Setelah ketuk-ketuk pintu dan menyerahkan resep obat ke mbak-mbak apotik yang mukanya bantal banget (sepertinya aku menganggu acara tidurnya), aku duduk di ruang tunggu apotik. Kukira bakalan disuruh masuk. Secara ya ini malam-malam loh. Eh, si mbaknya dengan santai nutup pintu apotik dan cuma bilang “tunggu di luar ya,”

What the…abcdzhshsjahukkhsillk!!!!

Tega bener kau mbak membiarkan diriku menjadi sumber makanan para nyamuk nakal! Mentang-mentang aku masih mahasiswa jadi seenaknya kamu perlakukan aku seperti ini mbak? Huhuhu mbak apotik, apa yang kamu lakukan itu…jahat T.T

Setelah nunggu hampir 15 menit. Mbak mbak mak lampir tadi keluar dan menyerahkan seplastik obat, cairan infus DLL sesuai resep yang aku kasih. Dan aku pun kembali ke ruangan semula. Tentu saja aku tak ingin mengulangi kesalahan dua kali. Jadi deh, baliknya lewat depan aja. Meski jaraknya dua kali lipat, tapi gapapa karena suasananya lebih ramai dan lampu-lampu di lorongnya nyala semua. Beda banget kan nggak kayak yang di bagian belakang tadi?

Setelah semua pasien beres. Jadilah kita para perawat shift malam bersiap istirahat.

“Dek tidurnya gantian ya. Sekarang kmu jaga dulu. Aku sm mas Ijan mau istirahat. Nanti kalau ada apa-apa tolong bangunin ya, kita istirahat disitu, pintunya gak dikunci, terus kalau ada telepon diangkat aja. Kalau kamu bingung panggilin aku. Oya yang di meja itu catatan pasien ya, nggak usah panik. Pokoknya kalau butuh bantuan bangunin kita,” kata si mbak perawat. Aku mengangguk. Mbak perawat baik hati itu memberiku selimut. Lumayan bisa untuk bantal hehehe.

Segera setelah dua orang perawat itu istirahat aku mengambil setumpuk tugas. Lumayan ada waktu untuk nyicil. Sambil terkantuk-kantuk aku mulai mengerjakan tugas kuliahku. sesekali aku berkeliling melihat kondisi pasien, sekiranya ada cairan infus yang habis dan harus segera diganti.

Saat itu pukul 01.00 WIB, mataku susah sekali diajak kompromi. Aku pun tak sengaja tertidur dengan posisi duduk dan kepala di atas meja. Aku merasa angin berhembus lumayan kencang dari sebelah kiriku. Aku tahu itu angin dari luar karena pintu di sebelah kiriku yang menghubungkan dengan taman luar belum kututup. Namun, apadaya aku ngantuk sekali dan akhirnya kubiarkan saja pintu itu terbuka. Beberapa saat kemudian aku merasa ada yang menggoyangkan badanku. Meja juga turut bergerak. Aku kaget. Kukira ada pasien atau keluarganya yang butuh bantuan. Ternyata tidak ada. Aku celingukan. Aneh, gak ada siapa-siapa. ย Kulihat bangsal kelas 3. Semua oke oke saja. Pasien juga lumayan tenang. Karena masih ngantuk aku kembali melanjutkan tidurku. Dan apa yang terjadi pemirsa? Aku kembali merasa ada yang menggoyangkan meja dan badanku. Kali ini cukup kencang. Aku kaget dan merinding disko. Apaan nih? Gempa bumi? Tapi saat aku melihat tiang-tiang infus pasien tidak ada yang bergerak heboh. Aku istighfar beberapa kali. Hawa dingin kembali merasuk di kulitku.

“Alamak aku lupa nutup pintu!”

Setelah pintu kututup, aku pun duduk kembali di nurse station. Duduk bengong untuk beberapa saat. Dan parahnya saat duduk bengong gini aku baru sadar kalau di belakang ruanganku ini adalah…kamar jenazah! Omg, kenapa harus inget disaat seperi ini sih? Maaak, aku kan jadi kehilangan konsentrasi tidurku huhuhu. Aku kembali baca doa. Pokoknya kalau lagi takut banget aku baca-baca doa. Aku pun kembali mengantuk, namun karena takut diganggu lagi aku sampai bergumam pelan seperti ini, “maaf ya, aku nggak kenal kamu, aku juga nggak pengin kenalan sih. Saat ini aku ngantuuuuk banget. Kalau kamu emang udah lama disini kamu pasti bakalan tahu dong rasanya shift malam, mahasiswa lagi. Ngenes tau! Iya ngenes liat temen2 lain pada enak tidur di kamar masing-masing, eh aku harus tidur berbantalkan meja #ehkokcurhat. Jadi…please…let me free…biarkan aku bisa tidur barang sebentar saja ya. Terima kasih,” dilanjutkan dengan baca DOA sebelum tidur dan ayat kursi.

Percaya nggak percaya aku bisa tidur ayam di nurse station selama kurleb satu jam tanpa goyangan badan atau goyangan meja. Wow! Warbiyasak. Aku terbangun karena ada keluarga pasien yang minta tolong dan aku juga harus menyiapkan air hangat untuk mandi pagi pasien-pasien tercinta.

Alhamdulillah…akhirnya shift malam terlewati juga. Terlepas dari semua kejadian-kejadian aneh ย semalam, aku bersyukur shift malam is over! Ahahaha #ketawasenang #ketawapuas #ketawamenang.

Pukul 07.30 WIB. Aku keluar ruangan dan pulang. Horreee! Aku pun mengatur rencana setelah ini beli sarapan, Mandi, dan bobo cantik deh di kasur kosan yang empuk. Pembalasan dendam karena semalam cuma tidur ayam doang.

Saat membeli sarapan, aku ketemu sama mbak Ika. Mahasiswa perawat kakak tingkatku.

“Habis jaga malam ya? Semalam aku liat kamu di apotik,” kata mbak Ika ramah.

“Iya mbak. Mbak Ika malam juga ternyata,”

“He em aku abis malam ini. Kamu dinas di ruang mana?”

“Wijayakusuma,” jawabku.

Mbak Ika bengong untuk beberapa saat.

“Kenapa gitu mbak? Kok mukanya mbak Ika langsung aneh gitu?”

Mbak Ika tersenyum. “Kamu sudah ketemu dia ya?”

“Ketemu siapa ih mbak?”

“Halah, jangan sok innocent gini deh. Semalam kamu habis ketemu mbak kunti kan?”

Aku melongo. Akhirnya kuceritakan apa yang terjadi semalam. Ternyata dua minggu yang lalu mbak Ika ini pernah jaga malam di ruang Wijayakusuma. Mbak Ika ini punya kemampuan bisa liat mahluk-mahluk astral (setelah kukonfirm ke temennya ternyata emang beneran bisa). Dia pun cerita saat dinas malam pertama di ruang Wijayakusuma, ia sempat bertemu dengan mbak Kunti yang ternyata tempat nongkrongnya di selasar samping pintu yang semalam aku lupa tutup. Omg! Jadi semalam mungkin mbak kuntinya pengin ngingetin aku supaya tutup pintu kali ya…hiii…makanya dia goyang-goyang badanku dan goyang-goyang meja juga. Dasar aku aja yang gak ngeh, malah enak-enak tidur.

“Dia baik kok dan kayaknya pengin kenalan tuh,” kata mbak Ika sembari diiringi senyumnya yang misterius.

Apa?

Cukup.

Kenapa harus denganmu Mbak Kun?

Sejujurnya aku ingin menolak friend request darimu.

Tapi aku tak tega. Kalau kamu marah terus ngikutin aku sampai kosan gimana? Huhuhu sungguh hidupku tak akan setenang dulu mbak Kun T.T

Tapi…

Aku nggak akan mau kenalan sama mbak kunti.

Kalau request kenalan sama mas mas yang masih single aja bisa nggak?

#ehngelunjak

Malam selanjutnya…

“Des! Aku shift malam nih. Gimana shift malammu kemarin?” Tanya Ina yang memang satu ruangan denganku.

Kupandang wajah Ina dengan tatapan penuh iba. Namun aku tak tega untuk bicara yang sejujurnya.

Aku pun hanya bisa menjawab,

“It was perfect!” ๐Ÿ™‚

To be continued…

Sumber gambar: pinterest

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Facebook, Akhir-akhir ini

Akhir-akhir ini saya lumayan sering online Facebook. Hal ini berawal dari obrolan saya dengan mbak kembar. Dia bilang, “coba buka fb, ada anak SMA yang tulisannya viral karena menulis tentang warisan,”

Saya pun penasaran. Seperti apa sih tulisan anak ini sampai saya googling dengan keyword “tulisan tentang warisan,” munculah sederet berita dengan foto gadis SMA berjilbab. Dari hasil googling sebagian besar artikel tersebut memuji sebuah tulisan berjudul “warisan” yang ditulis Afi Nihaya Faradisa. Dimana dari banyak komentar (yang pro) menyebutkan jika Afi ini sangat Pancasilais, mendukung keberagaman dan mengklaim jika semua agama adalah sama baiknya.

Saya lanjut kepo tentang Afi. Saya kunjungi laman Facebooknya. Saya buka statusnya yang berjudul Warisan yang ternyata banyak banget netizen yang like dan komen. Isi komennnya pun macam-macam. Ada yang pro dan kontra. Setelah tulisan Afi viral, munculah tulisan-tulisan balasan untuk “Warisan” milik Afi. Seperti dari Gilang Kazuya Shimura. Saya benar-benar hanya menjadi silent reader di dunia maya. Hanya saja di kehidupan nyata saya banyak ngobrol dengan mbak kembar terhadap kisah Afi ini.

Jika dilihat dari isi tulisannya, Afi ini ingin menegaskan jika semua agama adalah sama baiknya. Jika sebaiknya mayoritas jangan mengecilkan minoritas. Jika jangan kita, masyarakat Indonesia meributkan hal yang sensitif seperti agama disaat negara lain mulai maju dengan penemuan-penemuan scientific mereka.

Afi ini, menurut saya seperti sedang menjilat ludahnya sendiri. Bukankah tulisannya itu yang membuat netizen sekarang seperti terbagi menjadi dua. Kubu pro dan kontra. Ribut soal agama. Saling nyinyir satu sama lain. Mulai meributkan tentang toleransi atau kubu mana yang paling menghormati Pancasila. Saya hanya menyayangkan akan sikap Afi yang seakan-akan mempertanyakan kebenaran agamanya. Ia seolah-olah memeluk islam hanya karena pendahulunya beragam islam. Hmm, sangat disayangkan sekali Afi ini.

Hingga akhirnya suatu hari bom waktu itu meledak, salah satu tulisan Afi dikatakan hasil dari plagiarisme. Ya, kebetulan yang menulis tentang kisah plagiarisme Afi beserta bukti-buktinya adalah salah satu teman faceobook saya. Seorang penulis dan abdi negara yang cerpen-cerpennya saya kagumi, seorang Pringadi. Tulisan itu tentu saja menjadi viral, dibagi oleh banyak orang. Hingga saya pun tertarik kepo (lagi) ke akun Pringadi ini. Banyak komentar pro dan kontra mampir di berandanya. Tak sedikit juga yang nyinyir. Hal serupa juga yang saya temukan pada akun Gilang Kazuya selepas ia merespon tulisan Afi. Dimana ditulisannya Gilang, saya banyak setuju dengan pemikirannya Gilang. Namun tak sedikit orang yang nyinyir dan berkomentar negatif.

Ya, menurut saya Afi ini anak yang cerdas, bacaannya banyak, tapi ia perlu banyak belajar dan bimbingan lagi agar bisa berpikiran lebih luas dan tahu banyak tentang keindahan Islam. Bagaimana agama yang menurut dia adalah warisan ini adalah agama yang Indah, yang ย toleran, yang menghargai keberagaman. Jika Islam bukan hanya sekedar warisan tapi juga iman yang harus diperjuangkan.

Ah, saya ini siapa sih? Berani berkomentar tentang isu yang sedang santer berkembang ini. Saya memang orang biasa, dari kalangan biasa. Tentang plagiarisme? Saya tak bisa banyak berpendapat karena keilmuan saya untuk membahas ini kurang. Saya hanya menyayangkan kenapa ya sebagian masyarakat seakan naif terhadap kasus plagiarisme? Alasannya: Karena dia masih anak-anak, dia perlu banyak belajar, jangan kubur impiannya, jangan matikan tulisan-tulisannya dengan tuduhan plagiarism. Etc. Etc. Halo? Inikah Indonesia? Lucu. Iya, lucu kenapa orang salah hanya didiamkan, malah dibela. Hal ini mengajarkan pada dunia, ini loh orang Indonesia pemaaf banget. Orang mencuri malah disanjung-sanjung, dibela-bela. Pathetic! Bukan pada generasi muda lain tapi juga pada Afi sendiri. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang akan mudah memaafkan dirinya sendiri jika ia melakukan kesalahan. Bahkan bisa jadi ia akan ‘menggampangkan’ hal yang salah. Karena ia sadar masyarakat akan tetap membela dan menerimanya meski ia bersalah dan tanpa kata maaf yang terucap. Oh iya tentang dugaan plagiarismenya Afi silahkan gugling sendiri ya. Gampang kok dicarinya.

Kenapa saya menulis ini? Saya sudah lelah dengan beranda Facebook yang isinya klub pro dan kontra saling balas komen jahat. Terus kenapa nggak kamu uninstall aja tuh Facebook biar nggak usah lagi liat “war” di beranda? Haha susah kalik. Facebook adalah salah satu media sosial yang membuat saya terhubung dengan beberapa teman. Meski jarang bikin status atau posting apa pun saya sering scroll up dan down buat liat-liat isi beranda. Selain itu saya cuma pengin mencurahkan isi hati (ceilah). Saya nggak nyaman jika bikin status di facebook jadilah saya tulis di blog saja :”)

Saya tertarik juga dengan tulisan mbak Fissilmi Hamida tentang toleransi yang sesungguhnya. Ia berkisah di tulisannya jika ia menjalani waktu yang tidak gampang untuk menjadi seorang minoritas di tanah Eropa sana. Menjadi Muslim yang berhijab di sebuah kota di Bristol Inggris memang tidaklah mudah. Tapi disana toleransi benar-benar diterapkan. Jarang ada orang yang komen nyinyir terhadap agama atau kepercayaan orang lain. Untuk kisah lengkapnya bisa dibaca di blog mbak Mimi. Alamatnya ini: http://wp.me/p7ASNA-1m1 atau http://www.fissilmihamida.wordpress.com (maaf ya saya nulis di HP, nggak tahu caranya mengaktifkan link :((( huhu)

Intinya sih saya posting ini sekedar sharing unek-unek. Saya sadar pastilah ada yang pro dan yang kontra. Nggak papa, asalkan kita tetap teman ya :))))

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Siapa Mereka? (Part 1)

September, 2013.

Hari itu hujan turun sejak pagi. Aku yang awalnya hendak mencuci baju akhirnya harus mengubur dalam-dalam rencana muliaku ini. Sebenarnya sedih banget melihat tumpukan cucian yang menggunung. Mau bagaimana lagi, akhir-akhir ini tugas kuliah menumpuk, belum lagi acara rapat kepanitiaan ini dan itu. Fiuh, daripada tak punya stok baju alangkah baiknya dilaundry saja kan?

“Sudah, kamu laundry aja. Urusan ambilnya serahin aja ke aku,” kata temanku, Uli. Tetangga kamar nan baik hati. Aku memang sempat bimbang karena malam nanti aku harus keluar kota untuk praktik klinik yang pertama kali. Setelah masalah cucian beres, aku pun segera packing dengan sisa-sisa baju yang ada. Pakaian klinik, pakaian sehari-hari, obat-obatan, buku-buku kuliah, sampai ember dan galon minum pun aku ikutkan dalam list barang-barang yang wajib dibawa. Maklum, aku dan teman kelompokku akan menetap selama 6 minggu di kota Pekalongan. Biar hemat kami pun membawa barang-barang yang memang dibutuhkan daripada harus membeli disana. Lagipula beberapa dari kami naik travel dan memesan bagasi lebih.

Pukul 18.30 WIB. Mobil travel yang akan mengantar aku dan dua temanku tiba. Sebenarnya kami bersepuluh, namun hanya aku, Ina, dan Bunga yang memilih naik travel. Sisanya? Mereka naik motor dari Semarang-Pekalongan. Ada dua laki-laki di kelompok kami dan mereka pun memilih untuk naik motor.

Pukul 23.00 WIB kami semua sampai di rumah kos yang jauh hari sudah kami pesan. Kesan pertama rumahnya cukup besar dan asri. Banyak pepohonan rindang di halamannya. Dan asyiknya lagi, kosan ini punya balkon. Cocok untuk menggalau, batinku.

Selama hampir setengah jam kami menunggu ibu kos membukakan pintu. Hawa dingin dan kantuk mulai menyapa. Kulihat wajah-wajah temanku yang tampak lelah dan mengantuk. Perjalanan hampir lima jam membuat energi kami (terutama yang naik sepeda motor) terkuras. Setelah beberapa kali mengirim pesan singkat dan telepon, akhirnya penjaga kos bangun dan membukakan pintu untuk kami. Beliau pun menginstrusikan kami untuk menempati 4 kamar kosong di lantai 2 karena kamar di lantai 1 sudah penuh semua.

Dengan badan super capek aku bawa barang-barangku ke atas. Mana banyak dan berat banget. Aku sekamar dengan Bunga. Ina dengan Nia. Kiki dengan Yuni. Dan Laras dengan Dani. Yup, kami 8 orang cewek-cewek strong siap menghabiskan September di kota perantauan.

“Des, mau langsung tidur?” Tanya Bunga, mungkin ia melihatku menguap beberapa kali.

Aku menggeleng. “Lebih baik kita bereskan kamar ini dulu deh Bung, liat tuh mejanya berdebu dan lantainya kotor. Sprei pun harus segera diganti,”

“Baiklah, mari kita kerja bakti,”

Dan malam itu 4 kamar di sebuah kosan mulai berpenghuni. Satu jam kemudian kamar kami bersih dan siap untuk ditinggali.

Aku memandang sekeliling. Wow rupanya kosan ini cukup besar juga. Terdiri dari sekitar 25 kamar untuk dua lantai. Ada 4 kamar mandi (yang sayangnya terletak di lantai 1 semua), satu ruang TV di masing-masing lantai, mushola, tempat mencuci dan dapur di lantai 1. Sebenarnya jika di lantai 1 masih banyak yang kosong kami lebih memilih untuk tinggal disana karena aksesnya lebih gampang ke tempat-tempat umum yang krusial seperti dapur dan kamar mandi. Kan kalau malam-malam pengin pipis gak perlu lama-lama turun tangga ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Oke, jadi ceritanya setelah beres-beres aku dan Kiki mengambil air wudhu di lantai 1 untuk shalat isya. Niat awal ingin shalat di mushala Lt.1 tapi lama-lama kok ngeri ya. Jam 1 dini hari sist, sepi banget suasananya. Dengan sisa-sisa air wudhu kami ke kamar masing-masing untuk shalat. Bunga sedang asyik tiduran sambil mainan hp. Mungkin chatting sama pacarnya. Selesai shalat aku pun keluar sebentar untuk jemur handuk. Kosan ini bentuknya mirip asrama, jadi letter U gitu, tengahnya bolong alias atapnya langit. Jadi bisa melihat bintang-bintang dengan jelas. Indah sekaligus horor karena dengan jelas juga bisa melihat bangunan samping kosan kami yang ternyata sebuah sekolah. Bayangin deh, dini hari ngeliat ginian, ngeri ya? Hmm. Aku pun menuju tempat jemur baju di pojokan lantai dua. Ketiga kamar teman-temanku sudah sepi semua. Sepertinya Kiki juga sudah tidur karena saat aku panggil tidak ada jawaban dari penghuninya. Pelan tapi pasti aku melangkah ke tempat jemuran yang ternyata nggak ada lampunya! Pencahayaannya remang-remang mengandalkan sinar lampu dari lorong. Mampus, kupikir harus segera menyelesaikan ini dan kembali ke kamar. Namun sebuah gundukan putih mengalihkan konsentrasiku. Iya, jadi di dekat ruang jemuran ada ruang lain yang sepertinya adalah gudang. Pintunya tertutup dan digembok rantai dari luar dan ada jendela berbentuk jaring-jaring sehigga bisa liat isi di dalamnya. Dan apakah yang kulihat? Ya, sebuah gundukan berwarna putih. Mirip orang lagi tidur. Bulu kudukku langsung meremang…aku pun istighfar beberapa kali dan setengah berlari kembali ke kamar. Menyebalkan lagi saat kembali ke kamar, si Bunga sudah terlelap. Aaah, gimana sih? Padahal aku ingin cerita ke Bunga. Tapi gapapa lah mungkin yang aku lihat tadi gundukan karung berwarna putih berisi alat-alat rumah tangga atau apa pun itu yang memang sengaja disimpan oleh ibu kos. Mungkin imajinasiku saja yang terlalu liar ๐Ÿ˜…

Pukul 04.30 WIB. Alarm HPku berbunyi. Aku terbangun dan segera ke Lt. 1 untuk berwudhu. Saat naik ke kamar aku teringat dengan gundukan putih tadi malam. Iseng, aku mengintip ke dalam gudang. Berharap gundukan itu masih ada. Jika masih ada kan berarti itu beneran karung warna putih. Dan ternyata gundukan warna putih itu…….

UDAH LENYAP!

Iya. Beneran nggak ada di dalam gudang. Padahal itu gudang posisi pintunya tertutup dan digembok dari luar. Lagian disitu penerangannya remang-remang mengandalkan cahaya lampu dari lorong. Lantas, apakah gundukan putih yang aku lihat semalam? Jika dia orang, kenapa sepagi ini sudah menghilang? Kenapa juga ย dia memilih tidur di gudang yang sempit dan banyak perkakas pertukangan? (aku sempat kepo isinya di suatu siang, ternyata ruangannya Kecil dan penuh dengan alat-alat pertukangan). ๐Ÿ˜ฆ Waktu itu aku penasaran banget, tapi demi menjaga perasaan teman-teman lain dan waktu itu kami juga sedang persiapan untuk menghadapi praktik klinik untuk yang pertama kali, akhirnya aku pendam kisah ini hanya untuk diriku sendiri.

Hari demi hari berlalu. Ternyata yang tinggal di kosan ini kebanyakan adalah mahasiswa keperawatan di salah satu politeknik kesehatan. Beberapa juga ada yang sudah bekerja. Beberapa hari ini aku juga sudah lupa dengan kisah gundukan putih di gudang, sampai suatu hari temanku Laras curhat.

“Kalian ndak yo ngerasa panas kalau lg di kamar?” Tanyanya sambil makan es krim di depan TV.

Aku dan Bunga mengangguk sambil asyik melahap es krim kami. Ya, kami memang sedang makan es krim berjamaah ๐Ÿ˜… pulang shift pagi dan rasanya capek banget, panas pula. Tak ada yang mengalahkan enaknya menyantap es krim di tengah panasnya cuaca.

“Sesuk kudu tuku kipas angin ki, aku wes ra tahan,” kata Laras lagi. Yang ternyata sampai kita out dari kosan ini, pernyataan Laras hanyalah sebatas wacana tanpa realisasi nyata ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

“Kamarku hlo nggak begitu panas, biasa aja,” Ina menimpali.

“Kok bisa sih In? Perasaan panas gini,”

“Makanya tiap hari dibacain Al-Quran dong, jangan cuma musik playlist di HP doang yang kenceng, he he,”

Entah ini beneran atau sekedar bercandanya si Ina. Tapi emang kamarnya Ina nggak terlalu panas dibandingkan kamarku dan Laras. Dan kalau dipikir-pikir kamarnya Laras itu mepet dengan gudang horror yang sempat aku ceritakan tadi. Sebelah kamar Laras adalah kamarku dan Bunga, kemudian kamar Kiki dan Yun, barulah kamar Ina dan Nia. Jadi, kamar Ina dan Nia adalah kamar paling jauh dari gudang. Waaah? Tapi benarkah?

Jumat malam, pukul 22.30 WIB

Aku baru selesai mandi selepas shift siang. Jadi, kalau shift siang aku bekerja dari pukul 14.00-21.00 WIB. Setelah makan barulah aku mandi dan shalat isya. Sebelum tidur aku juga sempat ngobrol dengan Bunga. Ngobrol ngalor ngidul khas cewek. Sampai tak terasa pukul 01.00. Kami pun bersiap untuk tidur. Tiba-tiba…

“Bung, siapa ya jam segini ke lantai 1. Berani banget,” kataku.

“Kamu denger apa?”

“Ini tadi aku denger orang jalan di samping jendela turun ke lantai satu sepertinya,” posisi tempat tidurku memang mepet ke jendela dekat lorong. Jadi setiap orang yang lewat sangat jelas terdengar suara langkahnya.

“Tuh kan, Destin nih sukanya gitu, udah ah ayo cepetan kita tidur,” Bunga menarik selimutnya dan terlelap. Aku masih penasaran siapa gerangan di jam 1 dini hari masih berkeliaran di lorong. Sungguh berani sekali engkau nak. Yah, karena waktu itu aku sudah ngantuk dan besok harus shift pagi. Jadi deh aku menyingkirkan pikiran pikiran aneh yang sempat hinggap hingga akhirnya aku pun tertidur….

To be continued…

P.s: kisah ini merupakan kisah nyata saat saya menjalani praktik klinik di sebuah rumah sakit di kota Pekalongan. Ada beberapa kejadian ‘horor’ yang saya alami. Mungkin bagi beberapa orang hal ini adalah biasa saja. Tapi bagi saya yang jarang menemui hal-hal ‘aneh’ seperti ini adalah suatu pengalaman tak terlupakan. Lihat saja, kejadian ini hampir 4 tahun berlalu namun masih melekat erat diingatan saya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ oya cerita ini akan saya posting menjadi beberapa bagian (mungkin 2 atau 3) dan akan saya posting random. Mungkin lanjutannya saya posting besok, atau bisa jadi besok saya posting tema berbeda dan lanjutan kisah ini akan saya posting lusa hehe. Tergantung mood. Spoiler untuk next chapter adalah tentang hal ‘aneh’ yang saya temui di RS.

โ€‹
Tokoh No Face dari Filmnya Ghibli: Spirited Away. Ntah kenapa ini karakter terlihat lebih horor dibandingkan sederetan hantu legendnya Indonesia ๐Ÿ˜€ #iykwim

Sampai ketemu di cerita berikutnya. Bhay! ๐Ÿ˜๐Ÿ˜†