Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Siapa Mereka? (Part 1)

September, 2013.

Hari itu hujan turun sejak pagi. Aku yang awalnya hendak mencuci baju akhirnya harus mengubur dalam-dalam rencana muliaku ini. Sebenarnya sedih banget melihat tumpukan cucian yang menggunung. Mau bagaimana lagi, akhir-akhir ini tugas kuliah menumpuk, belum lagi acara rapat kepanitiaan ini dan itu. Fiuh, daripada tak punya stok baju alangkah baiknya dilaundry saja kan?

“Sudah, kamu laundry aja. Urusan ambilnya serahin aja ke aku,” kata temanku, Uli. Tetangga kamar nan baik hati. Aku memang sempat bimbang karena malam nanti aku harus keluar kota untuk praktik klinik yang pertama kali. Setelah masalah cucian beres, aku pun segera packing dengan sisa-sisa baju yang ada. Pakaian klinik, pakaian sehari-hari, obat-obatan, buku-buku kuliah, sampai ember dan galon minum pun aku ikutkan dalam list barang-barang yang wajib dibawa. Maklum, aku dan teman kelompokku akan menetap selama 6 minggu di kota Pekalongan. Biar hemat kami pun membawa barang-barang yang memang dibutuhkan daripada harus membeli disana. Lagipula beberapa dari kami naik travel dan memesan bagasi lebih.

Pukul 18.30 WIB. Mobil travel yang akan mengantar aku dan dua temanku tiba. Sebenarnya kami bersepuluh, namun hanya aku, Ina, dan Bunga yang memilih naik travel. Sisanya? Mereka naik motor dari Semarang-Pekalongan. Ada dua laki-laki di kelompok kami dan mereka pun memilih untuk naik motor.

Pukul 23.00 WIB kami semua sampai di rumah kos yang jauh hari sudah kami pesan. Kesan pertama rumahnya cukup besar dan asri. Banyak pepohonan rindang di halamannya. Dan asyiknya lagi, kosan ini punya balkon. Cocok untuk menggalau, batinku.

Selama hampir setengah jam kami menunggu ibu kos membukakan pintu. Hawa dingin dan kantuk mulai menyapa. Kulihat wajah-wajah temanku yang tampak lelah dan mengantuk. Perjalanan hampir lima jam membuat energi kami (terutama yang naik sepeda motor) terkuras. Setelah beberapa kali mengirim pesan singkat dan telepon, akhirnya penjaga kos bangun dan membukakan pintu untuk kami. Beliau pun menginstrusikan kami untuk menempati 4 kamar kosong di lantai 2 karena kamar di lantai 1 sudah penuh semua.

Dengan badan super capek aku bawa barang-barangku ke atas. Mana banyak dan berat banget. Aku sekamar dengan Bunga. Ina dengan Nia. Kiki dengan Yuni. Dan Laras dengan Dani. Yup, kami 8 orang cewek-cewek strong siap menghabiskan September di kota perantauan.

“Des, mau langsung tidur?” Tanya Bunga, mungkin ia melihatku menguap beberapa kali.

Aku menggeleng. “Lebih baik kita bereskan kamar ini dulu deh Bung, liat tuh mejanya berdebu dan lantainya kotor. Sprei pun harus segera diganti,”

“Baiklah, mari kita kerja bakti,”

Dan malam itu 4 kamar di sebuah kosan mulai berpenghuni. Satu jam kemudian kamar kami bersih dan siap untuk ditinggali.

Aku memandang sekeliling. Wow rupanya kosan ini cukup besar juga. Terdiri dari sekitar 25 kamar untuk dua lantai. Ada 4 kamar mandi (yang sayangnya terletak di lantai 1 semua), satu ruang TV di masing-masing lantai, mushola, tempat mencuci dan dapur di lantai 1. Sebenarnya jika di lantai 1 masih banyak yang kosong kami lebih memilih untuk tinggal disana karena aksesnya lebih gampang ke tempat-tempat umum yang krusial seperti dapur dan kamar mandi. Kan kalau malam-malam pengin pipis gak perlu lama-lama turun tangga ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Oke, jadi ceritanya setelah beres-beres aku dan Kiki mengambil air wudhu di lantai 1 untuk shalat isya. Niat awal ingin shalat di mushala Lt.1 tapi lama-lama kok ngeri ya. Jam 1 dini hari sist, sepi banget suasananya. Dengan sisa-sisa air wudhu kami ke kamar masing-masing untuk shalat. Bunga sedang asyik tiduran sambil mainan hp. Mungkin chatting sama pacarnya. Selesai shalat aku pun keluar sebentar untuk jemur handuk. Kosan ini bentuknya mirip asrama, jadi letter U gitu, tengahnya bolong alias atapnya langit. Jadi bisa melihat bintang-bintang dengan jelas. Indah sekaligus horor karena dengan jelas juga bisa melihat bangunan samping kosan kami yang ternyata sebuah sekolah. Bayangin deh, dini hari ngeliat ginian, ngeri ya? Hmm. Aku pun menuju tempat jemur baju di pojokan lantai dua. Ketiga kamar teman-temanku sudah sepi semua. Sepertinya Kiki juga sudah tidur karena saat aku panggil tidak ada jawaban dari penghuninya. Pelan tapi pasti aku melangkah ke tempat jemuran yang ternyata nggak ada lampunya! Pencahayaannya remang-remang mengandalkan sinar lampu dari lorong. Mampus, kupikir harus segera menyelesaikan ini dan kembali ke kamar. Namun sebuah gundukan putih mengalihkan konsentrasiku. Iya, jadi di dekat ruang jemuran ada ruang lain yang sepertinya adalah gudang. Pintunya tertutup dan digembok rantai dari luar dan ada jendela berbentuk jaring-jaring sehigga bisa liat isi di dalamnya. Dan apakah yang kulihat? Ya, sebuah gundukan berwarna putih. Mirip orang lagi tidur. Bulu kudukku langsung meremang…aku pun istighfar beberapa kali dan setengah berlari kembali ke kamar. Menyebalkan lagi saat kembali ke kamar, si Bunga sudah terlelap. Aaah, gimana sih? Padahal aku ingin cerita ke Bunga. Tapi gapapa lah mungkin yang aku lihat tadi gundukan karung berwarna putih berisi alat-alat rumah tangga atau apa pun itu yang memang sengaja disimpan oleh ibu kos. Mungkin imajinasiku saja yang terlalu liar ๐Ÿ˜…

Pukul 04.30 WIB. Alarm HPku berbunyi. Aku terbangun dan segera ke Lt. 1 untuk berwudhu. Saat naik ke kamar aku teringat dengan gundukan putih tadi malam. Iseng, aku mengintip ke dalam gudang. Berharap gundukan itu masih ada. Jika masih ada kan berarti itu beneran karung warna putih. Dan ternyata gundukan warna putih itu…….

UDAH LENYAP!

Iya. Beneran nggak ada di dalam gudang. Padahal itu gudang posisi pintunya tertutup dan digembok dari luar. Lagian disitu penerangannya remang-remang mengandalkan cahaya lampu dari lorong. Lantas, apakah gundukan putih yang aku lihat semalam? Jika dia orang, kenapa sepagi ini sudah menghilang? Kenapa juga ย dia memilih tidur di gudang yang sempit dan banyak perkakas pertukangan? (aku sempat kepo isinya di suatu siang, ternyata ruangannya Kecil dan penuh dengan alat-alat pertukangan). ๐Ÿ˜ฆ Waktu itu aku penasaran banget, tapi demi menjaga perasaan teman-teman lain dan waktu itu kami juga sedang persiapan untuk menghadapi praktik klinik untuk yang pertama kali, akhirnya aku pendam kisah ini hanya untuk diriku sendiri.

Hari demi hari berlalu. Ternyata yang tinggal di kosan ini kebanyakan adalah mahasiswa keperawatan di salah satu politeknik kesehatan. Beberapa juga ada yang sudah bekerja. Beberapa hari ini aku juga sudah lupa dengan kisah gundukan putih di gudang, sampai suatu hari temanku Laras curhat.

“Kalian ndak yo ngerasa panas kalau lg di kamar?” Tanyanya sambil makan es krim di depan TV.

Aku dan Bunga mengangguk sambil asyik melahap es krim kami. Ya, kami memang sedang makan es krim berjamaah ๐Ÿ˜… pulang shift pagi dan rasanya capek banget, panas pula. Tak ada yang mengalahkan enaknya menyantap es krim di tengah panasnya cuaca.

“Sesuk kudu tuku kipas angin ki, aku wes ra tahan,” kata Laras lagi. Yang ternyata sampai kita out dari kosan ini, pernyataan Laras hanyalah sebatas wacana tanpa realisasi nyata ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

“Kamarku hlo nggak begitu panas, biasa aja,” Ina menimpali.

“Kok bisa sih In? Perasaan panas gini,”

“Makanya tiap hari dibacain Al-Quran dong, jangan cuma musik playlist di HP doang yang kenceng, he he,”

Entah ini beneran atau sekedar bercandanya si Ina. Tapi emang kamarnya Ina nggak terlalu panas dibandingkan kamarku dan Laras. Dan kalau dipikir-pikir kamarnya Laras itu mepet dengan gudang horror yang sempat aku ceritakan tadi. Sebelah kamar Laras adalah kamarku dan Bunga, kemudian kamar Kiki dan Yun, barulah kamar Ina dan Nia. Jadi, kamar Ina dan Nia adalah kamar paling jauh dari gudang. Waaah? Tapi benarkah?

Jumat malam, pukul 22.30 WIB

Aku baru selesai mandi selepas shift siang. Jadi, kalau shift siang aku bekerja dari pukul 14.00-21.00 WIB. Setelah makan barulah aku mandi dan shalat isya. Sebelum tidur aku juga sempat ngobrol dengan Bunga. Ngobrol ngalor ngidul khas cewek. Sampai tak terasa pukul 01.00. Kami pun bersiap untuk tidur. Tiba-tiba…

“Bung, siapa ya jam segini ke lantai 1. Berani banget,” kataku.

“Kamu denger apa?”

“Ini tadi aku denger orang jalan di samping jendela turun ke lantai satu sepertinya,” posisi tempat tidurku memang mepet ke jendela dekat lorong. Jadi setiap orang yang lewat sangat jelas terdengar suara langkahnya.

“Tuh kan, Destin nih sukanya gitu, udah ah ayo cepetan kita tidur,” Bunga menarik selimutnya dan terlelap. Aku masih penasaran siapa gerangan di jam 1 dini hari masih berkeliaran di lorong. Sungguh berani sekali engkau nak. Yah, karena waktu itu aku sudah ngantuk dan besok harus shift pagi. Jadi deh aku menyingkirkan pikiran pikiran aneh yang sempat hinggap hingga akhirnya aku pun tertidur….

To be continued…

P.s: kisah ini merupakan kisah nyata saat saya menjalani praktik klinik di sebuah rumah sakit di kota Pekalongan. Ada beberapa kejadian ‘horor’ yang saya alami. Mungkin bagi beberapa orang hal ini adalah biasa saja. Tapi bagi saya yang jarang menemui hal-hal ‘aneh’ seperti ini adalah suatu pengalaman tak terlupakan. Lihat saja, kejadian ini hampir 4 tahun berlalu namun masih melekat erat diingatan saya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ oya cerita ini akan saya posting menjadi beberapa bagian (mungkin 2 atau 3) dan akan saya posting random. Mungkin lanjutannya saya posting besok, atau bisa jadi besok saya posting tema berbeda dan lanjutan kisah ini akan saya posting lusa hehe. Tergantung mood. Spoiler untuk next chapter adalah tentang hal ‘aneh’ yang saya temui di RS.

โ€‹
Tokoh No Face dari Filmnya Ghibli: Spirited Away. Ntah kenapa ini karakter terlihat lebih horor dibandingkan sederetan hantu legendnya Indonesia ๐Ÿ˜€ #iykwim

Sampai ketemu di cerita berikutnya. Bhay! ๐Ÿ˜๐Ÿ˜†

Iklan

Penulis:

Kimi no nawa~

6 tanggapan untuk “Siapa Mereka? (Part 1)

  1. โ€œSesuk kudu tuku kipas angin ki, aku wes ra tahan,โ€ kata Laras lagi. Yang ternyata sampai kita out dari kosan ini, pernyataan Laras hanyalah sebatas wacana tanpa realisasi nyata ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

    Yang sering saya temukan itu yang gini, bukan hantu ๐Ÿ˜…

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s