Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Facebook, Akhir-akhir ini

Akhir-akhir ini saya lumayan sering online Facebook. Hal ini berawal dari obrolan saya dengan mbak kembar. Dia bilang, “coba buka fb, ada anak SMA yang tulisannya viral karena menulis tentang warisan,”

Saya pun penasaran. Seperti apa sih tulisan anak ini sampai saya googling dengan keyword “tulisan tentang warisan,” munculah sederet berita dengan foto gadis SMA berjilbab. Dari hasil googling sebagian besar artikel tersebut memuji sebuah tulisan berjudul “warisan” yang ditulis Afi Nihaya Faradisa. Dimana dari banyak komentar (yang pro) menyebutkan jika Afi ini sangat Pancasilais, mendukung keberagaman dan mengklaim jika semua agama adalah sama baiknya.

Saya lanjut kepo tentang Afi. Saya kunjungi laman Facebooknya. Saya buka statusnya yang berjudul Warisan yang ternyata banyak banget netizen yang like dan komen. Isi komennnya pun macam-macam. Ada yang pro dan kontra. Setelah tulisan Afi viral, munculah tulisan-tulisan balasan untuk “Warisan” milik Afi. Seperti dari Gilang Kazuya Shimura. Saya benar-benar hanya menjadi silent reader di dunia maya. Hanya saja di kehidupan nyata saya banyak ngobrol dengan mbak kembar terhadap kisah Afi ini.

Jika dilihat dari isi tulisannya, Afi ini ingin menegaskan jika semua agama adalah sama baiknya. Jika sebaiknya mayoritas jangan mengecilkan minoritas. Jika jangan kita, masyarakat Indonesia meributkan hal yang sensitif seperti agama disaat negara lain mulai maju dengan penemuan-penemuan scientific mereka.

Afi ini, menurut saya seperti sedang menjilat ludahnya sendiri. Bukankah tulisannya itu yang membuat netizen sekarang seperti terbagi menjadi dua. Kubu pro dan kontra. Ribut soal agama. Saling nyinyir satu sama lain. Mulai meributkan tentang toleransi atau kubu mana yang paling menghormati Pancasila. Saya hanya menyayangkan akan sikap Afi yang seakan-akan mempertanyakan kebenaran agamanya. Ia seolah-olah memeluk islam hanya karena pendahulunya beragam islam. Hmm, sangat disayangkan sekali Afi ini.

Hingga akhirnya suatu hari bom waktu itu meledak, salah satu tulisan Afi dikatakan hasil dari plagiarisme. Ya, kebetulan yang menulis tentang kisah plagiarisme Afi beserta bukti-buktinya adalah salah satu teman faceobook saya. Seorang penulis dan abdi negara yang cerpen-cerpennya saya kagumi, seorang Pringadi. Tulisan itu tentu saja menjadi viral, dibagi oleh banyak orang. Hingga saya pun tertarik kepo (lagi) ke akun Pringadi ini. Banyak komentar pro dan kontra mampir di berandanya. Tak sedikit juga yang nyinyir. Hal serupa juga yang saya temukan pada akun Gilang Kazuya selepas ia merespon tulisan Afi. Dimana ditulisannya Gilang, saya banyak setuju dengan pemikirannya Gilang. Namun tak sedikit orang yang nyinyir dan berkomentar negatif.

Ya, menurut saya Afi ini anak yang cerdas, bacaannya banyak, tapi ia perlu banyak belajar dan bimbingan lagi agar bisa berpikiran lebih luas dan tahu banyak tentang keindahan Islam. Bagaimana agama yang menurut dia adalah warisan ini adalah agama yang Indah, yang ย toleran, yang menghargai keberagaman. Jika Islam bukan hanya sekedar warisan tapi juga iman yang harus diperjuangkan.

Ah, saya ini siapa sih? Berani berkomentar tentang isu yang sedang santer berkembang ini. Saya memang orang biasa, dari kalangan biasa. Tentang plagiarisme? Saya tak bisa banyak berpendapat karena keilmuan saya untuk membahas ini kurang. Saya hanya menyayangkan kenapa ya sebagian masyarakat seakan naif terhadap kasus plagiarisme? Alasannya: Karena dia masih anak-anak, dia perlu banyak belajar, jangan kubur impiannya, jangan matikan tulisan-tulisannya dengan tuduhan plagiarism. Etc. Etc. Halo? Inikah Indonesia? Lucu. Iya, lucu kenapa orang salah hanya didiamkan, malah dibela. Hal ini mengajarkan pada dunia, ini loh orang Indonesia pemaaf banget. Orang mencuri malah disanjung-sanjung, dibela-bela. Pathetic! Bukan pada generasi muda lain tapi juga pada Afi sendiri. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang akan mudah memaafkan dirinya sendiri jika ia melakukan kesalahan. Bahkan bisa jadi ia akan ‘menggampangkan’ hal yang salah. Karena ia sadar masyarakat akan tetap membela dan menerimanya meski ia bersalah dan tanpa kata maaf yang terucap. Oh iya tentang dugaan plagiarismenya Afi silahkan gugling sendiri ya. Gampang kok dicarinya.

Kenapa saya menulis ini? Saya sudah lelah dengan beranda Facebook yang isinya klub pro dan kontra saling balas komen jahat. Terus kenapa nggak kamu uninstall aja tuh Facebook biar nggak usah lagi liat “war” di beranda? Haha susah kalik. Facebook adalah salah satu media sosial yang membuat saya terhubung dengan beberapa teman. Meski jarang bikin status atau posting apa pun saya sering scroll up dan down buat liat-liat isi beranda. Selain itu saya cuma pengin mencurahkan isi hati (ceilah). Saya nggak nyaman jika bikin status di facebook jadilah saya tulis di blog saja :”)

Saya tertarik juga dengan tulisan mbak Fissilmi Hamida tentang toleransi yang sesungguhnya. Ia berkisah di tulisannya jika ia menjalani waktu yang tidak gampang untuk menjadi seorang minoritas di tanah Eropa sana. Menjadi Muslim yang berhijab di sebuah kota di Bristol Inggris memang tidaklah mudah. Tapi disana toleransi benar-benar diterapkan. Jarang ada orang yang komen nyinyir terhadap agama atau kepercayaan orang lain. Untuk kisah lengkapnya bisa dibaca di blog mbak Mimi. Alamatnya ini: http://wp.me/p7ASNA-1m1 atau http://www.fissilmihamida.wordpress.com (maaf ya saya nulis di HP, nggak tahu caranya mengaktifkan link :((( huhu)

Intinya sih saya posting ini sekedar sharing unek-unek. Saya sadar pastilah ada yang pro dan yang kontra. Nggak papa, asalkan kita tetap teman ya :))))

Iklan

Penulis:

Kimi no nawa~

14 tanggapan untuk “Facebook, Akhir-akhir ini

  1. Iya juga. Ingin merapatkan, namun yang ada malah jadi lebar jurang sentimen terkait agama. Agak sedih juga sih kalau baca tulisannya. Pandangan hidupnya tentang agama ini terlalu liberal.
    Dan poin yang kamu utarakan di sini keren. Mungkin salah. Tapi setidaknya harus dibimbing, bukan mencerca dengan nama plagiarisme dsb. Facebook sendiri kayaknya udah jadi medsos paling panas deh des. Meski gitu aku juga sama. Belum bisa lepas darinya haha

    Disukai oleh 1 orang

    1. Iya Del ini sekedar unek unek aku yang pastinya masih dangkal banget. Iya, facebook hawanya masih panas akhir-akhir ini. Banyakin di dunia nyata aja kali yak, biar adem hehe

      Suka

  2. Untuk bikin link via hape tinggal klik ikon rantai mba Destiii.
    .
    btw, tentang tanggapan tulisan Warisan ini, saya nemu tulisannya mas Rio. Kena banget jantung permasalahannya dibahas oleh beliau.
    .
    Ada di url debuterbang dot com. Tulisan tanggal 3 Juni. Tentang pluralitas.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s