Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Siapa Mereka? (Part 2)

Malam itu bulan bersinar cukup terang. Sepertinya sebentar lagi memasuki pertengahan bulan. Pukul 20.45 WIB aku memastikan semuanya telah siap. Yap! Ini adalah kali pertama aku melakukan shift malam. Tas berisi kamus keperawatan, diagnosa penyakit dan kumpulan-kumpulan tugasku siap kubawa. Rencananya malam ini, jika ada waktu aku ingin menyelesaikan tugas-tugasku yang menggunung.

Aku keluar kamar. Belum ada jam sembilan malam tapi suasananya lumayan sepi. Hari ini Bunga, Laras, Ina dan Dani shift siang. Jadi mereka masih ada di RS. Sedangkan Yuni, Nita dan Kiki sepertinya mereka tengah keluar beli makan malam. Jadi tinggal aku yang tersisa di lantai 2. “Payah deh, nggak ada orang gini berarti nggak ada yang bisa dipinjami motor,” gumamku. Jadilah malam itu aku jalan kaki dari kosan menuju RS. Hmm..dinikmati saja deh, itung-itung olahraga.

Setelah handover/operan shift dan melihat kondisi serta catatan medis pasien, aku pun segera ke ruang obat untuk membantu perawat senior meracik obat. Oh iya, sebelumnya aku akan menjelaskan ruangan rawat dimana aku praktik. Jadi, di dua minggu pertama aku dan Ina mendapat jatah praktik di ruang Wijayakusuma yang merupakan ruang bedah pria. Ruangan ini terdiri dari ruang kelas 1, kelas 2 dan kelas 3. Total bed nya sekitar 24 bed. Karena aku masih mahasiswa jadi aku diberi tanggungjawab untuk mengurus pasien kelas 3 karena kebetulan pasien kelas 1 dan 2 nya sedang kosong sih hehe.

Malam itu hanya aku dan dua perawat senior lain yang berjaga. Sekitar pukul 22.30 WIB ada Pasien baru dari IGD. Pasien dengan BPH (benign prostate hyperplasia). Aku pun mendapat tugas untuk mengkaji pasien tersebut. Setelah dikaji dan dimasukan dalam rekam medis, mbak perawat yang jaga denganku memanggil. Rupanya ia baru saja konsul dengan dokter penangungg jawab ruangan.

“Dek siswa, minta tolong ke apotik ya ambil resep Tn. M., pasien baru tadi. Hati-hati ya Dek, kalau malam sepi,” kata mbaknya sambil senyum-senyum gak jelas. Aku mengangguk dan lekas melaksanakan perintahnya.

Benar saja, saat keluar ruangan ternyata selasar RS gak seramai saat aku berangkat shift tadi. Karena baru beberapa hari praktik di RS, aku juga rada rada bego dengan ruangan-ruangan yang ada. Ditambah kemampuan navigasiku yang jelek. Duh! Kalau ke apotik lewat mana ya?  Biasanya aku pakai jalan pintas di ruang Kenanga. Tapi sepertinya kalau malam hari pintunya dikunci. Mana gak ada orang yang bisa aku tanya pula. Setelah beberapa saat nunggu orang lewat, wkwkwk useless banget deh, akhirnya kuputuskan mengikuti petunjuk arah yang ada di RS. Tapi kok kayak rada ga beres ya. Karena semakin kuikuti jalanan malah tambah sepi. Lorong-lorong pun mulai tampak redup gak ada lampunya. Gawat. Aku kesasar mak! Meski ragu, aku tetap melanjutkan perjalanan sambil tetap baca ayat kursi dalam hati. Ah elah ini kenapa lorong sepi amat sih? Apotiknya juga kenapa gak ketemu-ketemu? Apa aku balik aja ya? Ah udah kepalang basah. Tiba-tiba ada suara langkah dibelakangku.

“Mbak!”

Duh! Hantu sekarang bisa ngomong ya? Jantungku serasa mau copot.

“Mbak ngapain malam-malam kesini?” Tanya mas mas berbaju hitam yang ternyata adalah security.

“Ya Allah Mas ngagetin aja sih! Kirain siapa, ini loh Mas, aku mau ke apotik ngambil obat,” kataku sedikit lega. Ternyata aku ketemu manusia.

“Lah apotik? Kamu berani banget lewat sini,” kata Mas satpam yang ternyata rambutnya cepak itu (info ga penting, btw)

“Emangnya kenapa gitu Mas?” Tanyaku penasaran.

“Tuh liat!” Aku mengikuti arah yang ditunjukan Mamas satpam tadi.

Omegat!!!! Aku berada di depan kamar jenazah. Pantesan sepi pemirsa! Ini di belakang RS bro. Alamak!

“Ni sebelahmu ni kantin. Kalau malam tutup,” kata mas satpam lagi.

Aku memandangi gedung sederhana tak berlampu yang di siang hari jadi tempat nongkrong aku dan mahasiswa mahasiswa lain saat istirahat. Gila, ternyata kalau malam serem amat yak! Gelap gini.

“Sebenernya ke kiri terus apotik, tapi kamu harus lewatin kantin. Berani gak?” Kata Mas satpam lagi. Kali ini mukanya sedikit ngeledek.

“Dih gini aja mah saya berani Mas,” ah elah mulutku enak banget ngomongnya. Padahal dalam hati dag dig dug kayak bedug maghrib. Mau balik lagi tengsin juga sama Mas satpamnya. Minta ditemenin? Idih dah gedhe kok manja.

“Mmm..Mas, saya ke apotik lewat sini aja deh,” kataku.

“Yakin? Nggak mau ditemenin nih?”

Aku menggeleng.

“Saya liat aja dari sini ya Mbak, nanti kalau ada apa-apa tinggal teriak aja,” kata si Mas sambil senyum. Duh, ternyata senyum si Mas Satpam ini manis juga hihihi nyesel deh kenapa tadi nolak ditemenin #ehsalahfokus #abaikan.

Akhirnya dengan keberanian kelas remahan rengginang, aku pun berjalan menuju apotik. Tentu saja sambil baca doa-doa. Ya Allah..lindungilah hambaMu ini. Aamiin….dan berhasil! saya akhirnya sampai di apotik dalam keadaan masih jomblo eh maksudnya dalam keadaan utuh tak kekurangan suatu apa. Setelah ketuk-ketuk pintu dan menyerahkan resep obat ke mbak-mbak apotik yang mukanya bantal banget (sepertinya aku menganggu acara tidurnya), aku duduk di ruang tunggu apotik. Kukira bakalan disuruh masuk. Secara ya ini malam-malam loh. Eh, si mbaknya dengan santai nutup pintu apotik dan cuma bilang “tunggu di luar ya,”

What the…abcdzhshsjahukkhsillk!!!!

Tega bener kau mbak membiarkan diriku menjadi sumber makanan para nyamuk nakal! Mentang-mentang aku masih mahasiswa jadi seenaknya kamu perlakukan aku seperti ini mbak? Huhuhu mbak apotik, apa yang kamu lakukan itu…jahat T.T

Setelah nunggu hampir 15 menit. Mbak mbak mak lampir tadi keluar dan menyerahkan seplastik obat, cairan infus DLL sesuai resep yang aku kasih. Dan aku pun kembali ke ruangan semula. Tentu saja aku tak ingin mengulangi kesalahan dua kali. Jadi deh, baliknya lewat depan aja. Meski jaraknya dua kali lipat, tapi gapapa karena suasananya lebih ramai dan lampu-lampu di lorongnya nyala semua. Beda banget kan nggak kayak yang di bagian belakang tadi?

Setelah semua pasien beres. Jadilah kita para perawat shift malam bersiap istirahat.

“Dek tidurnya gantian ya. Sekarang kmu jaga dulu. Aku sm mas Ijan mau istirahat. Nanti kalau ada apa-apa tolong bangunin ya, kita istirahat disitu, pintunya gak dikunci, terus kalau ada telepon diangkat aja. Kalau kamu bingung panggilin aku. Oya yang di meja itu catatan pasien ya, nggak usah panik. Pokoknya kalau butuh bantuan bangunin kita,” kata si mbak perawat. Aku mengangguk. Mbak perawat baik hati itu memberiku selimut. Lumayan bisa untuk bantal hehehe.

Segera setelah dua orang perawat itu istirahat aku mengambil setumpuk tugas. Lumayan ada waktu untuk nyicil. Sambil terkantuk-kantuk aku mulai mengerjakan tugas kuliahku. sesekali aku berkeliling melihat kondisi pasien, sekiranya ada cairan infus yang habis dan harus segera diganti.

Saat itu pukul 01.00 WIB, mataku susah sekali diajak kompromi. Aku pun tak sengaja tertidur dengan posisi duduk dan kepala di atas meja. Aku merasa angin berhembus lumayan kencang dari sebelah kiriku. Aku tahu itu angin dari luar karena pintu di sebelah kiriku yang menghubungkan dengan taman luar belum kututup. Namun, apadaya aku ngantuk sekali dan akhirnya kubiarkan saja pintu itu terbuka. Beberapa saat kemudian aku merasa ada yang menggoyangkan badanku. Meja juga turut bergerak. Aku kaget. Kukira ada pasien atau keluarganya yang butuh bantuan. Ternyata tidak ada. Aku celingukan. Aneh, gak ada siapa-siapa.  Kulihat bangsal kelas 3. Semua oke oke saja. Pasien juga lumayan tenang. Karena masih ngantuk aku kembali melanjutkan tidurku. Dan apa yang terjadi pemirsa? Aku kembali merasa ada yang menggoyangkan meja dan badanku. Kali ini cukup kencang. Aku kaget dan merinding disko. Apaan nih? Gempa bumi? Tapi saat aku melihat tiang-tiang infus pasien tidak ada yang bergerak heboh. Aku istighfar beberapa kali. Hawa dingin kembali merasuk di kulitku.

“Alamak aku lupa nutup pintu!”

Setelah pintu kututup, aku pun duduk kembali di nurse station. Duduk bengong untuk beberapa saat. Dan parahnya saat duduk bengong gini aku baru sadar kalau di belakang ruanganku ini adalah…kamar jenazah! Omg, kenapa harus inget disaat seperi ini sih? Maaak, aku kan jadi kehilangan konsentrasi tidurku huhuhu. Aku kembali baca doa. Pokoknya kalau lagi takut banget aku baca-baca doa. Aku pun kembali mengantuk, namun karena takut diganggu lagi aku sampai bergumam pelan seperti ini, “maaf ya, aku nggak kenal kamu, aku juga nggak pengin kenalan sih. Saat ini aku ngantuuuuk banget. Kalau kamu emang udah lama disini kamu pasti bakalan tahu dong rasanya shift malam, mahasiswa lagi. Ngenes tau! Iya ngenes liat temen2 lain pada enak tidur di kamar masing-masing, eh aku harus tidur berbantalkan meja #ehkokcurhat. Jadi…please…let me free…biarkan aku bisa tidur barang sebentar saja ya. Terima kasih,” dilanjutkan dengan baca DOA sebelum tidur dan ayat kursi.

Percaya nggak percaya aku bisa tidur ayam di nurse station selama kurleb satu jam tanpa goyangan badan atau goyangan meja. Wow! Warbiyasak. Aku terbangun karena ada keluarga pasien yang minta tolong dan aku juga harus menyiapkan air hangat untuk mandi pagi pasien-pasien tercinta.

Alhamdulillah…akhirnya shift malam terlewati juga. Terlepas dari semua kejadian-kejadian aneh  semalam, aku bersyukur shift malam is over! Ahahaha #ketawasenang #ketawapuas #ketawamenang.

Pukul 07.30 WIB. Aku keluar ruangan dan pulang. Horreee! Aku pun mengatur rencana setelah ini beli sarapan, Mandi, dan bobo cantik deh di kasur kosan yang empuk. Pembalasan dendam karena semalam cuma tidur ayam doang.

Saat membeli sarapan, aku ketemu sama mbak Ika. Mahasiswa perawat kakak tingkatku.

“Habis jaga malam ya? Semalam aku liat kamu di apotik,” kata mbak Ika ramah.

“Iya mbak. Mbak Ika malam juga ternyata,”

“He em aku abis malam ini. Kamu dinas di ruang mana?”

“Wijayakusuma,” jawabku.

Mbak Ika bengong untuk beberapa saat.

“Kenapa gitu mbak? Kok mukanya mbak Ika langsung aneh gitu?”

Mbak Ika tersenyum. “Kamu sudah ketemu dia ya?”

“Ketemu siapa ih mbak?”

“Halah, jangan sok innocent gini deh. Semalam kamu habis ketemu mbak kunti kan?”

Aku melongo. Akhirnya kuceritakan apa yang terjadi semalam. Ternyata dua minggu yang lalu mbak Ika ini pernah jaga malam di ruang Wijayakusuma. Mbak Ika ini punya kemampuan bisa liat mahluk-mahluk astral (setelah kukonfirm ke temennya ternyata emang beneran bisa). Dia pun cerita saat dinas malam pertama di ruang Wijayakusuma, ia sempat bertemu dengan mbak Kunti yang ternyata tempat nongkrongnya di selasar samping pintu yang semalam aku lupa tutup. Omg! Jadi semalam mungkin mbak kuntinya pengin ngingetin aku supaya tutup pintu kali ya…hiii…makanya dia goyang-goyang badanku dan goyang-goyang meja juga. Dasar aku aja yang gak ngeh, malah enak-enak tidur.

“Dia baik kok dan kayaknya pengin kenalan tuh,” kata mbak Ika sembari diiringi senyumnya yang misterius.

Apa?

Cukup.

Kenapa harus denganmu Mbak Kun?

Sejujurnya aku ingin menolak friend request darimu.

Tapi aku tak tega. Kalau kamu marah terus ngikutin aku sampai kosan gimana? Huhuhu sungguh hidupku tak akan setenang dulu mbak Kun T.T

Tapi…

Aku nggak akan mau kenalan sama mbak kunti.

Kalau request kenalan sama mas mas yang masih single aja bisa nggak?

#ehngelunjak

Malam selanjutnya…

“Des! Aku shift malam nih. Gimana shift malammu kemarin?” Tanya Ina yang memang satu ruangan denganku.

Kupandang wajah Ina dengan tatapan penuh iba. Namun aku tak tega untuk bicara yang sejujurnya.

Aku pun hanya bisa menjawab,

“It was perfect!” 🙂

To be continued…

Sumber gambar: pinterest

Iklan

Penulis:

Kimi no nawa~

21 tanggapan untuk “Siapa Mereka? (Part 2)

      1. Hahaha manusia kok Khaaa 😂😂😂 sepertinya. Aku tak memperhatikan kedua kakinya napak atau nggak, btw 😪 tp dua hari kemudian aku ketemu mas satpam lagi tuh. Masih dengan senyumnya yang adorable wkwkwkwk

        Disukai oleh 1 orang

  1. Ini lucu wkwk…
    Mungkin sekarang aku bisa baca sambil ketawa dan mungkin kamu nulisnya sambil ketawa juga (sotoy mode: on), tapi pas kejadian itu pasti serem banget yak wkwk. Terkadang aku ngarep punya temen kayak Mbak Ika. Jadi bisa tau kan apa sebenarnya kita berinteraksi secara tidak sengaja dengan mereka atau tidak… 😂

    Btw “What the…abcdzhshsjahukkhsillk” izin kupake juga ya… Rasa kzl nya berasa bangeet pas baca ini 😂😂😂

    Disukai oleh 3 orang

    1. Aku nulisnya sambil digigitin nyamuk del 😩 entahlah akhir-akhir ini populasi nyamuk di kamarku meningkat pesat. Perlu beberes kayaknya hmm…
      Wahahaha aku mah serem kalau ketemu sm temen yang bisa liat. Saat kuliah beberapa temenku bisa ‘liat’ gitu. Dan kalau mau ngasih tau faktanya mereka akan selalu minta ijin dulu. Gak langsung cerita. Kalau aku mau ya monggo dia bakalan cerita, kalau aku nolak ya sudah dia bakalan keep silent 😁😁😁
      Iya. Aku KZL banget tau Del waktu itu 😭😒

      Disukai oleh 2 orang

      1. “Eh des des.. sini deh. Boleh nggak aku kasih tau sesuatu?”
        Yak. Siapa yang nggak harap2cemas kalau tau temen yang bisa ‘liat’ tiba2 ngomong gitu ke kita haha.
        Ya udah beberes sono.. Eh tapi kasian juga. Ibu2 nyamuk yang hamil itu perlu tempat bernaung des :((

        Disukai oleh 1 orang

    1. Hmm..kalau nggak salah jam sebelas malam Nu…merinding juga sebenernya, soalnya rumah sepi banget dah pada tidur semua. Wkwk. Tp malah jadi dapet feel nulisnya 😃

      Suka

    1. Dulu sesebapak gubernur ini belum ngehitz bang. Coba kalau beneran datang dia, kuajak selfie deh. Mayan dapet poto orang ganteng xixixi
      *mas satpamnya apa kabar ya sekarang?*

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s