Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Kawan Lama yang Tiba-Tiba Datang Menjemput

Malam tadi selepas isha saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Sisa-sisa berkas lemburan masih bertebaran di meja. Rasanya jenuh dan muak sekali melihat tumpukan berkas yang tak kunjung mengikis ini.

Jam menunjukan pukul 19.40 WIB. Setelah mampir bentar ke kos untuk mengambil baju kotor, lekas saya memacu kendaraan menuju rumah. Sepanjang jalan pulang suasana cukup ramai. Suara kajian di masjid-masjid pinggir jalan pun samar-samar terdengar. Lebih banyak lagi orang-orang yang berkendara memenuhi jalan raya untuk tujuan bertemu keluarga atau memang hanya sekedar melepas penat semata.

Keluar dari wilayah kota Cilacap, volume kendaraan mulai berkurang dan sepi mulai menggelayut. Sebelumnya saya tak pernah pulang selarut ini.  Jika ingin mudik ke rumah maksimal pukul 18.00 WIB saya sudah harus keluar kantor. Malam ini pun awalnya saya tak ingin pulang ke rumah karena besok di hari Sabtu masih ada jadwal lembur lagi 😩 namun, sepertinya batin ini sedang membutuhkan asupan kasih sayang dari keluarga tercinta. Hingga akhirnya saya nekat untuk pulang saja.

Memasuki kawasan Jeruklegi (arah Cilacap-Wangon) volume kendaraan semakin menurun drastis. Hanya ada satu dua sepeda motor dari arah berlawanan. Saya pacu si merah dikisaran 60 km/jam. Tak boleh lebih, janji saya terhadap diri sendiri. Jujur, saya masih trauma memacu kendaraan terlalu kencang karena dulu akibat saya naik motor dengan kecepatan ala ala Valentino Rossi, saya pun jatuh dan lukanya masih membekas hingga sekarang 😢. Sepanjang jalan saya banyak berdoa. Selain suasana sepi, hujan juga mulai turun cukup deras. Ini menambah penderitaan saya karena kacamata menjadi berembun dan jarak pandang menipis. Kalau kalian para pengguna kacamata pasti tahu lah bagaimana rasanya. Epic sekali. Hingga akhirnya peristiwa itu pun terjadi.

Di sebuah tikungan di depan saya ada truck tronton gandeng yang membawa muatan entah apalah itu. Karena saya pikir suasana sepi, jadilah saya mencoba mendahului/nyalip truck tersebut. Bodohnya, saya mencoba mendahului di tikungan. Dan saat mencoba mendahului truck ini, di depan saya dari arah berlawanan datang Bus PATAS. Allahurabbi! Saya kaget. Saat itu kondisi jalan sempit, hujan dan saya terjebak di dua kendaraan super besar. Sambil berusaha tetap tenang, saya pencet klakson mencoba memberi tahu si sopir tronton jika saya berada di sampingnya. Alhamdulillah, Bus PATAS tidak sedang melaju dengan kecepatan penuh sehingga semuanya bisa dikondisikan. Sopir truck tronton pun bahkan mau menghentikan kendaraannya. Can you imagine that? Saya persis berada di tengah-tengah dua kendaraan raksasa ini. Saat truck tronton berhenti, bus melaju perlahan. Ya Allah…saya mengucap syukur berulang-ulang. Saya ucapkan terima kasih kepada supir truck dengan membunyikan klakson. Semoga Pak supir nan baik hati ini mengerti sinyal sinyal yang saya berikan. Saya tidak bisa membayangkan jika Supir truck ini egois dan tetap melajukan kendaraannya. Akankah saya sekarang masih bisa menulis catatan ini? Saya pikir tidak.

Sepanjang sisa perjalanan pulang saya istighfar berkali-kali. Saya banyak baca doa sampai saya menangis. Kacamata yang sudah buram karena air hujan akhirnya tambah buram lagi oleh airmata sendiri. Duh, sedih.

See?

Kematian adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kita. Dan kapan pun bisa datang menjemput. Jika Allah sudah mengutus malaikat maut untuk menjemput umatNya, lantas kita bisa apa? Karena Allah sudah mengabadikannya dalam firmanNya jika setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Termasuk saya, kamu, kita.

Jika kawan lama ini menjemput saya suatu hari nanti apakah amalan saya telah cukup?

Apakah saya dijemput dalam keadaan baik?

Apakah kesalahan yang pernah saya perbuat pada teman, keluarga, rekan kerja yang kiranya luput dari ingatan saya dan saya belum sempat mengucap kata maaf?

Pertanyaan-pertanyaan itu senantiasa berputar sepanjang saya menghabiskan sisa perjalanan. Ah, saya jadi ingat ibadah saya selama ini kurang maksimal. Shalat tidak semua dilakukan di awal waktu, amalan sunnah yang masih minimal sekali, dan semenjak saya bekerja susah sekali membiasakan shalat tahajjud dan puasa sunnah. Sedih juga rasanya melihat targetan ramadhan yang belum berubah warna menjadi checklist hijau.

Kejadian malam tadi seolah menjadi pertanda jika suatu hari si Kawan Lama kita ini pasti akan datang. Entah nantinya ia akan datang dengan mengetuk pintu dulu atau tidak. Tinggal bagaimana saya akan menyambutnya nanti, maka mulai hari ini harus mulai dipersiapkan.

Selamat berjumpa dengan 10 hari ramadhan terkahir. #selfreminder banyakin amalan biar diberi nikmat sehat sehingga bisa melakukan kegiatan yang akan menambah pundi-pundi amal kita nantinya. Aamiin.

Iklan

Penulis:

Kimi no nawa~

6 tanggapan untuk “Kawan Lama yang Tiba-Tiba Datang Menjemput

    1. Iya bang…sebelum jatuh beberapa bulan lalu diriku ini seringnya nekat pakai kecepatan 80 km/jam. Langsung deh kena teguran..😢
      He em, siraman rohani nih, persiapan menggantikan mama dedeh kalau lg berhalangan syuting wkwk

      Suka

  1. Mbaak…. ati-ati ya kalau berkendara. Saya ngeri baca ceritanya dan bayangin suasananya.

    Tapi iya, kawan lama pasti datang. Semoga kita semua bertemu dalam keadaan baik (husnul khotimah).
    Semangt 10 hari terakhir. 😊

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s