Diposkan pada Rumah Kata :)

[FF] Di Penghujung Agustus

Namanya Ge. Lengkapnya Geribaldi Witjaksono. Lelaki yang kali ini mampu mencuri malam-malam panjangku hanya untuk berbincang bersama. Lelaki yang hanya karena senyum dan tingkah lakunya membuatku merasa lebih bahagia. Lelaki ini…..dia yang pertama kali kutemui di atas Taksaka.

***

“Din! Belum pulang? Mau bareng?” Sapa Ben, teman sekantorku. Ia menurunkan kaca mobilnya dan bisa kulihat lagi tatapan cemasnya.

“Sorry Ben, duluan aja,” jawabku.

“Masih nunggu Ge?”

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Ya sudah, tunggu di lobi aja Din, kasian kamu ntar kedinginan,”

Aku mengangguk. Ben melambaikan tangannya lantas pergi memacu mobilnya.

Lima belas menit berlalu. Dan seorang Ge belum juga menampakan dirinya. Rupanya aku mulai lelah menunggu.

Kemana sih Ge ini? Satu jam yang lalu dia kirim pesan akan pulang cepat demi memberiku surprise. Berkali-kali kuyakinkan dia kalau hari ini bukan hari ulang tahunku, bukan juga hari anniversary kita. Lagian, Ge ini gimana sih? Katanya mau surprise kok bilang-bilang sih?

“Supaya kamu dandan cantik. Biasanya kalau aku bilang langsung pulang, kamu abai dengan penampilanmu,”

Tulis Ge. Aku hanya tersenyum saat membaca pesannya. Dan kali ini demi menjawab permintaannya aku melakukan touch up sederhana. Mungkin, bedak dan gincu favoritku ini bisa membuat lelakiku ini senang.

Sepuluh menit kemudian datanglah dia yang kunanti. Kupasang wajah cemberut saat laki-laki itu melepas helmnya.

“Maafin aku Din, ada rapat mendadak,” Ge menggaruk rambutnya yang kukira tidak gatal. 

Aku masih diam saja demi menunjukkan kekesalanku.

“Kamu marah ya Din?”

“Enggak,”

“Ya sudah kalau kamu nggak marah, sini kubantu pasang helmnya,”

Ge meraih helm berwarna merah maroon, helm khusus yang ia berikan kepadaku karena hampir tiap hari aku menjadi pengojek setianya. Aku pasrah saja saat ia memakaian helm di kepalaku.

Ge menyalakan mesin motornya dan kami pun membelah jalanan kota Jakarta bersama.

“Katanya kamu mau kasih aku surprise, ayo dong apaan, udah gak sabar nih,” tanyaku disela-sela deru motor dan angin.

“Emang kamu penginnya dapet kejutan apaan Din?”

“Mmm…tiket pesawat buat liburan ke Jepang?”

“Hahahaha becanda ah Din,”

“Oh iya, mungkin kamu mau kasih aku seekor Panda?”

Ge menurunkan kecepatan sepeda motornya.

“Panda?? Bukannya di kamarmu udah banyak Panda ya. Bisa dijadiin bantal pula,”

“Idiiih itu mah boneka Ge. Aku penginnya yang asli, bisa dipeluk-peluk lucu gitu,”

“Ya udah kamu peluk aku saja, anggap saja aku ini Panda yang punya perut sixpack,”

Aku tertawa mendengar jawaban Ge. Kamu, Ge, memang selalu bisa membuatku tertawa seperti ini.

“Ge kita mau kemana?” Tanyaku saat Ge mengarahkan motornya di sebuah parkiran.

“Lihat aja,” jawabnya sok penuh teka-teki.

“Eh ini kan stasiun Gambir. Ngapain kita kesini Ge?”

“Udah, ikut aja yuk,” Ge mengamit tanganku. Dan aku hanya pasrah mengikuti langkah-langkah panjang laki-laki ini.

Ge mengajakku duduk di sebuah bangku panjang tempat para calon penumpang kereta biasa menunggu.

“Ge…kita ngapain sih disini? Atau…jangan-jangan kamu mau pergi? Kamu mau kemana Ge?”

Ge tersenyum mendengar pertanyaanku.

“Tenang Dina, aku nggak kemana-mana kok, aku kan selalu ada untuk kamu,”

“Kamu diajarin siapa ngegombal begitu?”

Ge terkekeh.

“Btw kamu malam ini cantik banget, Din”

Aku merasakan jantungku berdebar dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Kucoba kuatur napasku dan berusaha menyembunyikan bahagia yang luar biasa ini.

“Kamu laper ya Din? Kok diem aja,”

“Aku kaget aja, nggak biasanya kamu memuji aku cantik. Tapi, terimakasih, aku senang,”

“Sama-sama,”

Rasanya pengin ketawa melihat sikap Ge yang aneh begini. Ya, karena Ge tak pernah bersikap setegang ini.

“Din, masih ingat setahun yang lalu? Kereta Taksaka dan novel ini?” Ge tiba-tiba mengeluarkan sebuah novel yang halaman  covernya sudah lusuh dari dalam backpacknya.

“Critical eleven nya Ika Natassa,”

Ge mengangguk.

“Kau tahu Din, saat pertama kali kita bertemu setahun yang lalu aku tak pernah ada pikiran untuk bisa mengenalmu lebih dalam. Aku pikir kamu hanya penumpang biasa yang kebetulan cantik dan baik. Cewek yang kebetulan asyik untuk diajak ngobrol selama perjalanan. Tapi ternyata takdir membawa kita untuk bertemu lagi. Dan kupikir dari hari itu sampai sekarang aku semakin jatuh cinta padamu,”

Ge memandangku lekat. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.

“Ge, please, kamu mau melamar aku disini?”

“Kok tebakanmu selalu bener sih Din?”

“I know you well, Ge,”

Ge kembali tersenyum. Kuraih jemarinya yang dingin, kukira karena saking nervousnya dia.

“Ge, makasih ya. Aku senang malam ini,”

“Din, bentar ini belum selesai. Kejutan utamanya baru ini,”

Ge memberi kode berupa tepukan. Dan sekelompok orang yang biasa bernyanyi di stasiun Gambir mendekat.

Dan….mengalunlah lagu kesukaanku itu…..

//…..Bila nanti saatnya ‘tlah tiba. Kuingin kau menjadi istriku….berdua bersamamu dalam terik dan hujan, berjalan kesana kemari dan tertawa~ //

“Kalau kau mau, minggu depan aku akan ke rumahmu untuk minta ijin ke Bapak,”

“Untuk?”

“Untuk meminang anak perempuannya yang paling cantik,”

Ge memandangku lagi.

Kupejamkan mataku sejenak. Memori setahun lalu kembali bergerak. Statsiun Gambir, Taksaka, aku dan Ge, juga novel Critical Eleven yang menjadi awal perbincangan kami. Semuanya tertata rapi kembali. Kuingat senyum hangat Ge saat menawarkan minum. Sampai pertemuan tak disengajaku dengan Ge di lobi kantor. Kali kedua itu lah yang akhirnya mendekatkan kita.

Kali ini kutatap lagi mata laki-laki ini. Kulihat ada kesungguhan didalamnya.

Akhirnya aku mengangguk dan kugenggam tangannya lebih erat lagi.

“Ge, aku mau hidup bersamamu,”

End.

***

Ehm.

Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari lagu Akad-nya Payung Teduh. Yuhuuuu, kalian pasti tahu dong lagu ini yang lagi ngehitsnyaaa dan sungguh sangat romantis sekali liriknya. Cucok meong lah buat dinyanyikan di hari pernikahan. Ecie. 

Jadi, karena suka banget sama lagu ini. Bingung mau diapain (?), akhirnya saya tuangkan dalam bentuk flash fiction saja. Oh iya, FYI ini saya nulisnya di HP, maap aja kalau acakadut. Besok kalau ada waktu dan sedang online di PC saya percantik lagi deh. Dan lagi ini kali pertama saya nulis fiksi dan cecintaan setelah kurang lebih setahun vakum tidak menulis fiksi ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.

Iklan

Penulis:

Kimi no nawa~

21 tanggapan untuk “[FF] Di Penghujung Agustus

  1. Kenapa panggilannya di tokoh gak *des* aja hahah ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… aku juga loh des ngayal macem macem semenjak ada lagu akad nih, kyakny brasa seru gitu dilamar pake lagu payung teduh, wauw gtuuu. Hahha ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

    Disukai oleh 1 orang

    1. Hahaha jangan lahhh Nu, kalau ‘des’ ntar akan menimbulkan banyak pertanyaan (ealah, siapa juga yang mau kepo).
      Yup. Ku suka banget sama Akad-nya Payung Teduh. Request sana sama masmu Nu, buat dilamar pake lagu itu wkwk eh jangan request ding, di kode ajaaa~

      Suka

  2. Nah, kalau ceritanya sedetail ini kan gampang ngedoainnya. Bisa sesuai dengan gambaran pelamaran ideal wkwk

    Lalu kalau kebeneran ada di posisi Dina nanti, mungkin baiknya nggak langsung nuduh Ge nya mau ngapain. Kasian Ge nya kena serangan nervous akut ๐Ÿ˜‚

    Disukai oleh 1 orang

      1. Ya kamulah des ๐Ÿ˜‚
        Ini kita lagi ngomongin si cewek kan? ๐Ÿ˜‚ Ku suka kasihan aja sama pria2 yang sudah mengumpulkan keberanian setengah mati tapi akhirnya dipermainkan huhuhu

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s