Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Orang Baik di Sekitar Kita

Selasa, 10 Oktober 2017.

Pagi tadi, kota Cilacap berawan tapi tidak hujan. Hanya udara lumayan panas. Saya yang semalam sengaja melupakan diri untuk tidak makan malam akhirnya terpaksa keluar kosan untuk mencari makanan pengganjal perut. Maka diputuskannya lah saya sarapan dengan nasi uduk. Sayangnya saya nggak beli nasi uduk “Umi” seperti yang biasa saya beli karena mungkin Umi yang asli Sunda itu sedang pulang kampung ke Garut sana. Ya, karena beberapa hari ini saya melihat warung di ujung gang itu tutup. Saya akhirnya beli nasi uduk di warung saingannya Umi. Penjualnya Mas Mas yang menurut saya cukup cute untuk menjadi penjual nasi uduk (?). Cukup 6 ribu rupiah dan perut pun kenyang.

Selesai sarapan saya bergegas untuk berangkat ke kantor. Ganti baju, pake make up, dan taraaaa! Saya kaget bukan kepalang saat akan menyalakan motor, “Loh kok mesin motornya mati?” Gumam saya dalam hati. Saya lirik jam, wih udah jam 7.24 Wib (kantor saya masuk jam 7.30). Dijamin telat nih nyampe kantor. Saya coba cagak berdiri (bahasa Indonesianya apa ya cagak berdiri itu? 😂😂😂). Saya coba nyalakan tetap aja nggak bisa. Duh sedih kali, mana jadi keringetan. Luntur deh itu me’ap 😂. Saya pun bergegas ke rumah bapak kos untuk minta bala bantuan. Bapak kos menawarkan diri untuk membantu mengantar ke bengkel. Alhamdulillah… sampai akhirnya tetangga kosan saya (kamarnya persis di sebelah kamar saya) keluar hendak berangkat kantor. Si masnya tanya kenapa saya panik dsb dan saya pun menjelaskan jika motor mogok. Si mas manggut manggut dan ikut mencoba menyalakan motor tapi sayangnya gagal juga. Si merah matic-ku kenapaaa? Hiks. 

“Sepertinya ada kabel yang putus mba, dibengkelin aja. Mbaknya berangkat bareng saya aja,” tawar si Mas baik hati ini. 

“Beneran Mas? Wah alhamdulillah… makasih ya Mas,” saya pun tersenyum lega. Alhamdulillah…. betapa Allah Maha Baik, Ia menurunkan pertolonganNya  melalui si Mas baik hati dan Bapak kos yang super perhatian. 

“Sudah mbak berangkat aja, biar motor saya antar ke bengkel, nanti saya ambil sekalian,” 

KURANG ROCK N ROLL APA LAGI COBA BAPAK KOS SAYA? pengin deh saat itu juga pelu ibuk Kos wkwkw. Habisnya baik banget sih ❤️ saya serahkan kunci motor dan berangkat ke kantor dengan senyum sumringah eh dengan keringetan karena ngeslah motor gagal terus. 

Dan bisa ditebak kan? Nyampe kantor sudah hampir jam 8. Saya telat banyak menit 😭😭😭

Hari ini mengajarkan betapa orang baik itu masih ada di sekitar kita. Saya jadi inget film Pay It Forward. Filmnya jadul banget, mungkin keluaran tahun 2003-2003. Menceritakan seorang anak kecil yang memiliki gagasan untuk menyebarkan kebaikan. Prinsipnya, jika hari ini kita menerima kebaikan/pertolongan dari orang lain, maka kita wajib membayarnya dengan menolong orang lain juga (tentunya orang yang berbeda). Nah si anak kecil yang punya ide itu mempraktekannya ke komunitas terkecil lingkungannya. Mulai dari keluarga, teman bermainnya, geng anak jalanan di sekitar rumahnya dan hasilnya keren banget! Semuanya berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan. Kalau dalam islam dikenal dengan Fastabikulkhairat.  Jika itu benar-benar dilakukan di dunia nyata, ah indahnya…….. 

Dan karena saya berangkat tidak membawa sepeda motor, pulangnya pun saya masih harus merepotkan orang lain. Terima kasih mba Monic sudah mau mengantar sampai kosan 😉😉 😘

Rasanya hari ini itu…… lelah tapi semoga lelah ini Lillah…. Aamiiin. Selamat malam, selamat istirahat. 

Iklan
Diposkan pada Rumah Kata :)

[Fiksi] Kita yang Bertemu Sore Itu

Kala itu adalah senja. Di sebuah toko buku, seseorang menepuk pundakku pelan. Aku berbalik dan kulihat laki-laki itu berdiri di depanku. Tersenyum dan mengulurkan tangannya seraya bertanya, “Apa kabar Rayya?” 

Dan memory sepuluh tahun yang lalu kembali bermunculan. Hujan, terik, mendung dan dingin pernah aku habiskan bersama laki-laki di depanku ini. Sekali lagi, aku mencoba menghilangkan gemuruh yang muncul di dalam dada. Perasaan apa lagi ini? 

“Hai, kabarku baik,” itulah kata yang berhasil aku ucapkan.

Laki-laki itu kembali tersenyum. 

“Kau kaget ya?” 

“Iya. Ku kira kamu masih di Jakarta, lagi mudik?” 

“Ya begitulah, ada hari cuti yang belum kuambil. Ya sudah deh sekalian saja aku pulang kampung,” 

Aku terdiam. Susah sekali mencari topik pembicaraan di situasi seperti ini. 

“Senggang? Ngopi yuk, di lantai 1 katanya ada kopi enak loh,” ajaknya. 

“Kok kamu bisa tahu sih? Aku merasa gagal sebagai produk lokal,” 

Ia terbahak. 

“Rayya kamu ternyata masih sama,” 

Segelas machiato dan kopi hitam tersaji di meja. Masing-masing dari kami mulai menyesap minuman berkafein yang selalu penuh kejutan ini.

“So, how’s life?” Tanya laki-laki ini. 

“Beginilah,” 

“Kudengar sekarang ngajar ya? Jadi dosen?” Tanyanya. 

Aku mengangguk. 

“Ngajar apa?” 

“Coba tebak,” 

“Yang jelas kamu nggak jadi dosen matematika kan?hahaha,” 

Aku terbahak. Ah, ternyata ia masih mengingat mata pelajaran SMA yang tak kusukai. Sampai aku kuliah pun aku memilih jurusan yang tak bersentuhan dengan matematika. 

“Inget ga Ya, dulu waktu SMA kamu itu tomboi banget kan? Rambut dipotong pendek, kalau les pakenya jeans sama kaos, ga pernah mau pake baju model dress gitu. But, look at you now! Kamu berubah!” 

Ia memandangku heran. 

“Nggak usah lebay gitu deh. Life’s change, right? Kamu juga dulu cupu sekarang…Yah, okelah naik dikit levelnya” 

“Enak aja! Dulu aku nggak cupu kali! Buktinya fansku banyak,” belanya. 

 “Karena dulu mereka kagum dengan kemampuan matematikamu kan? Itu nggak mempan buat aku,” 

“Hahaha sudah lah, itu hanya masa lalu. Omong-omong aku lebih suka kamu berhijab begini, kamu berubah jadi cewe sejati,” 

Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. 

Ternyata dia tidak berubah. Suaranya, tatapan matanya, cara dia mengajakku berbincang. Dia masing sama seperti Nanda sepuluh tahun yang lalu. Nanda yang selalu kukagumi karena kecerdasannya, keramahannya, kesabarannya dan semuanya yang ada pada dirinya selalu terlihat hebat di mataku. Hanya saja dulu aku terlalu bodoh untuk mengakui jika jauh di lubuk hati yang paling dalam aku menaruh rasa padanya. Hingga kini semuanya berubah. 

“Kamu datang bareng siapa? Sendiri?” Tanyaku. 

“Enggak. Aku dateng berdua. Sebentar lagi juga kesini. Aku udah bilang mau aku kenalin ke Rayya, sahabatku di SMA yang paling keren,” 

Aku tersenyum. Kau masih saja memujiku Nan… 

“Eh itu dia,” 

Seorang perempuan berjalan ke arah kami. Ia terlihat kewalahan membawa beberapa tas belanjaan dan juga pengaruh janin yang ada di kandungannya. Ya, perempuan ini tengah hamil. 

“Kenalin, ini Rayya. Rayya, ini istriku, Hani,” 

Hani mengajakku bersalaman.

“Nanda banyak cerita tentang kamu,” katanya. 

” Benarkah? Pasti cerita tentang kejelekanku kan? Haha,” 

Perempun berjilbab merah maroon itu tersenyum. 

“Kalau Nanda cerita tentang kamu, dan betapa masa SMA nya berwarna karena adanya kamu, kadang aku cemburu. Tapi setelah bertemu langsung, aku percaya apa yang Nanda katakan. Rayya memang wanita yang luar biasa,” 

Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Apa benar Nanda memujiku di depan istrinya? Untuk apa? Lagian dulu aku dan Nanda hanya sebatas teman. Emm, bukan juga sih. Kalau bisa dibilang TTMan yang hubungannya harus kandas di tengah jalan demi mewujudkan cita-cita. 

“Ehm, selamat ya atas kehamilannya! Semoga lancar sampai lahiran ya. Selamat Nan kamu bakal jadi ayah!” Kataku berusaha mencairkan suasana. 

Nanda tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Kami bertiga mengobrol sebentar sampai akhirnya aku pamit pulang karena sebentar lagi sepertinya hujan akan turun. Aku tak membawa jas hujan dan aku tak ingin basah kuyup di atas sepeda motor. 

“Hati-hati di jalan,” pesan Hani dan Nanda untukku. 

Sore itu mungkin menjadi sore paling kelabu di hidupku. Laki-laki yang selama ini aku harapkan ternyata telah menjadi harapan orang lain. Aku kalah. Aku patah. 

Dua hari kemudian aku mendapatkan sebuah pesan di emailku. 

Sahabatku, Rayya

Hai, senang rasanya bisa ketemu kamu. Rayya masih saja keren seperti dulu ya!  Hani senang akhirnya bisa ketemu langsung sama kamu. Ia titip salam. Oh ya  boleh minta izin? jika anak kami lahir, akan kami beri nama ia Rayya. Inginku agar ia kuat sepertimu. 

Rayya, 

Apakah sampai saat ini kamu masih sendiri? 

Jangan kamu terlalu asyik dengan diri kamu sendiri ya. Kamu butuh orang lain untuk melengkapimu. Kamu perlu bahagia. Hidup harus seimbang kan? Memberi dan menerima. Untuk melakukan itu kau butuh partner. Pendamping. Pasangan. 

Aku tahu suatu hari, tak lama lagi aku dan Hani akan datang ke pesta pernikahanmu. Kau pasti akan cantik sekali di hari itu. Bersanding dengan Pangeran yang berhasil memenangkan hatimu. 

Rayya yang baik. Pasti akan ada laki-laki yang datang untukmu. Dulu memang sempat ada dipikirku, jika laki-laki itu adalah aku. Tapi sepertinya tipe laki-laki idamanmu tidak ada pada diriku. Kau selalu mengatakan, jika laki-laki yang tampan itu seperti Chris Martin, sang vokalis band legendaris Coldplay kan? Jelas sekali aku tak bisa bersaing dengannya 😂

Rayya, 

Aku dan Hani selalu berdoa yang terbaik untuk kamu. Semoga kamu sehat dan bahagia selalu. 

Oh ya, saat anak kami lahir, boleh ya ia memanggilmu Onti Yaya? 

ps:kutulis ini karena tak kulihat cincin di jari manismu

Tangisku pecah bersamaan dengan turunnya hujan pertama di bulan Oktober. 

Saat ini yang bisa membuatku merasa lebih baik adalah aku pernah berada di suatu sore saat kami bertemu kembali. 

End

Diposkan pada Others

Weekend vibes: Menuju Ibu Kota

Weekend kali ini saya habiskan dengan jalan-jalan ke Ibu Kota. Demi mewujudkan ini seminggu sebelumnya saya harus lembur di kantor, empat hari berturut-turut. Saya mau tak mau harus pulang diatas pukul 20.00 wib. Menyelesaikan semua pekerjaan akhir bulan agar tak disuruh lemburan di hari Sabtu. Maklum, tiket sudah saya pesan dan sangat sangat tidak menguntungkan jika perjalanan ini saya tunda. Berangkat dari stasiun Purwokerto bersama mbak kembar dengan diantar Bapak dan Ibu tercinta. Seperti biasa sebelum berangkat ibu terus mengingatkan, “sudah bawa minum?”, “minyak anginnya jangan lupa,” “kabar-kabar kalau sudah sampai Jakarta,”. Ibu masih menganggap saya dan mbak kembar seperti putri kecilnya. Padahal sebentar lagi usia kami genap seperempat abad 😂😂😂. Ya sudah gapapa, namanya juga orang tua, pasti selalu mematiskan semua akan baik-baik saja. 
Kami berangkat dari stasiun Purwokerto menuju Gambir. Kereta Taksaka malam itu lumayan penuh. Saya memilih duduk di samping jendela agar bisa melihat pemandangan (meski hanya kerlip lampu perumahan atau kendaraan bermotor 😂😂😂) dan mbak kembar harus mengalah dengan duduk di samping lorong. 

Perjalanan ke Ibu Kota kali ini memang kami rencanakan cukup lama. Hanya saja pelaksanannya menunggu mbak ipar saya lahiran. Alhamdulillah tanggal 23 September 2017 keponakan pertama saya lahir. Its a baby girl! Saat itu hari sabtu, Bapak dan ibu serta dua saudara segera meluncur ke Depok demi melihat cucu pertamanya. Pokoknya so sweet deh, ibu bahagia banget melihat cucu perempuan pertamanya 😊😊😊. Dan saya memutuskan untuk menengoknya seminggu kemudian. Maka dipilihnya weekend ini. Hore akhirnya liburan! Melupakan sejenak semua kenyataan perih di kantor karena baru ditinggal 2 rekan kerja sekaligus karena habis kontrak (bye mas Jhon dan mas adit, i’ll miss you 😭). 

Pukul 04.19 WIB tibalah kami di stasiun Gambir. Keretanya telat kurang lebih 30 menit dari jadwal sebenarnya yaitu pukul 03.45 wib. Capek deh. Tapi gapapa juga sih, lagian saya juga harus menunggu sampai jam 6 karena akan naik KRL menuju Depok. Setelah bersih-bersih (baca: cuci muka dan sikat gigi)dan shalat subuh, mbak kembar segera memesan transportasi online untuk membawa kami ke stasiun Juanda. Kakak saya mengatakan akan menjemput di Juanda. 

Alhamdulillah pukul 07.30. Wib sampailah kami di stasiun Depok Baru. Saya dan Kakak segera menuju RS karena akan menemani mbak ipar kontrol pasca lahiran. Sedangkan mbak kembar kembali menggunakan jasa layanan transportasi online menuju rumah kakak. 

Capek juga ternyata setelah perjalanan kurleb 5 jam di atas kereta masih harus dilanjut nemenin mbak kontrol di RS. Namun rasa lelah itu terbayar saat melihat keponakan pertama saya. Terharu, akhirnya  mas dan mbak diamanahi buah hati juga 😊😊😊 semoga jadi anak yang shalihah ya dedek, menghormati orang tua dan selalu menjadi pribadi yang baik. Aamiiin. 

Perjalanan kali ini saya dan mbak kembar banyak menggunakan jasa transportasi online. Ternyata di kota besar seperti Jakarta, layanan transportasi online cukup bermanfaat yha. Dan saya melihat banyak dari mereka sliwar sliwer menggunakan jaket dan helm kebanggannya masing-masing. Terlepas beberapa orang yang mungkin pernah dikecewakan, saya malah alhamdulillah nggak pernah dikecewakan oleh jasa tranportasi online ini 😉 

Oke deh, sekian cerita weekend saya kali ini. Semoga besok bersemangat lagi mengumpulkan recehan demi recehan agar bisa ke Depok lagi dan melihat keponakan tercinta ❤️. 


(Muka kucel setelah naik krl depok-juanda) 

Perjalanan Gambir-Purwokerto, ditengah mendungnya langit sore Jakarta.