Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Lantunan Mantra Mantra yang Membius

Cukupkanlah ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu

Cukupkanlah ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu

Bagaimana rasanya mendengar sepenggal kalimat ini yang terus diputar berulang-ulang dalam sebuah lagu?

Rasanya damai.

Saya berkenalan dengan lirik lagu ini di bulan November 2018. Saat itu, Nada dan Lia mengajak saya untuk nonton acara MakerFest di GBK Senayan dimana salah satu bintang utamanya adalah Kunto Aji. Waktu itu saya mengiyakan ajakan mereka karena memang bertepatan dengan libur saya di weekend dan memang saya sedang tidak ada agenda apapun.

“Mbak, coba deh dengerin Mantra Mantranya Kunto Aji, ini album baru kayaknya bakalan dinyanyikan di MakerFest,” kata Nada melalui pesan whatsapp.

Saya manut aja, dan coba buka Spotify mencari album yang dimaksud. Dan sejak saat itu saya menjadi fans berat album Mantra Mantra Kunto Aji ❤️.

Dalam album ini terdapat 9 lagu yang menurut saya keren semua. Kata beberapa sumber, Aji menulis album ini berlatar belakang isu mental health, terutama tentang overthinker. Saya banget deh : ‘). Dan judul lagu yang pertama saya dengar adalah Sulung. Salah satu lirik penggalannya saya tulis sebagai pembuka tulisan ini. Daleeeem banget kan?

Lagu pertama berjudul Sulung ini bercerita tentang penerimaan diri. Dimana seringnya kita sibuk mencoba memberikan hal yang terbaik baik orang lain namun melupakan kebahagiaan diri sendiri. Oleh Sulung kita diingatkan kembali bahwa sebelum menjaga orang lain, kita lebih baik menjaga dan menyayangi diri kita sendiri terlebih dahulu.

Sebelum kau menjaga, merawat, melindungi segala yang berarti

Yang seharusnya kau jaga adalah

Dirimu sendiri

Dilanjutkan dengan mendengar Rancang Rencana yang akan membawa kita untuk berfikir sejenak tentang ‘Apa sih tujuan kita hidup?’. Kemudian ada Pilu Membiru. Ini lagu super mellow, saya sempat nangis loh pas mendengarnya karena memang liriknya benar-benar mewakili perasaan saya. Di dalam Pilu Membiru kita dibawa kembali untuk mengingat Unfinished Business entah itu tentang cinta, pertemanan, keluarga dan masalah-masalah yang memang tak terselesaikan lainnya. Salah satu lirik yang ngena banget adalah:

Akhirnya kulihat lagi

Akhirnya kutemui

Tercekat lidahku

Masih banyak yang belum sempat aku sampaikan padamu

Tak ada yang seindah matamu, hanya rembulan

Tak ada yang selembut sikapmu, hanya lautan

Oh tak tergantikan

Walau kita tak lagi saling menyapa

Dan lirik ini diucapkan berulang-ulang. Sungguh luar biasa rasanya hingga air mata tak bisa ditahan lagi. Hahaha maaf ya, saya cengeng orangnya.

Lagu keempat dan seterusnya ada Topik Semalam, bercerita tentang kelanjutan sebuah hubungan. Kemudian kita akan dibawa pada Rehat. Di lagu ini kita diingatkan kembali untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Kunto Aji seperti ingin menyampaikan, “sudahlah, ayo istirahat sejenak, pulihkan hati dan pikiranmu, karena semua ini bukan salahmu,”. Seakan ingin bilang pada kaum overthinker, “Hei, yang kau takutkan tak akan terjadi,”. Dan semuanya terangkum secara pas pada lirik dan musik yang menenangkan.

Tenangkan hati, semua ini bukan salahmu

Terus berlari, yang kau takutkan, tak akan terjadi

Ada pula Jakarta Jakarta. Sebuah lagu yang mengisahkan tentang perjuangan kaum urban di belantara ibu kota. Ini salah satu lagu yang sering diputar diplaylist lagu saya sih karena benar-benar menggambarkan kehidupan saya di Jakarta 😆.

Tiga lagu terakhir adalah Konon Katanya, Saudade, dan ditutup dengan Bungsu. At least, semua lagu di album Mantra Mantra benar-benar membius. Liriknya cenderung poetic, musiknya menenangkan dan sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Sepertinya lewat album ini keterikatan antara Kunto Aji dan Terlalu Lama Sendirinya mulai memudar. Karena saat saya dengar Kunto Aji, sekarang tak melulu tentang Terlalu Lama Sendirinya yang super hits itu. Saat ini jika bicara tentang Aji, saya langsung terbawa pada Mantra Mantra.

Seperti saat ini, hujan, Jakarta sore hari dan album Mantra Mantra diplaylist saya sungguh perpaduan yang indah. Mungkin bisa ditambah secangkir teh/kopi dan buku favorit.

Oh ya, saya menulis tentang album ini bukan sedang promosi, bukan pula memaksa teman-teman mendengarnya. Hanya saja, menurut saya lagu-lagu sebagus ini rasanya sayang untuk didengarkan sendiri :).

(Karena sukanya sampai saya gambar dan tulis liriknya untuk wallpaper handphone ❤️)

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Dari Selatan Jakarta

Sore itu saya mengajak Nada berkunjung ke salah satu bookstore di Pasar Santa, Jakarta Selatan. Sebuah toko buku indie yang di akhir tahun 2018 menjadi wishlist saya.
Saya yang tinggal di Jakarta Barat dan Nada yang tinggal di Depok membuat kami memutuskan untuk langsung bertemu di Post Santa, nama bookstore yang menjadi tujuan kami.
Turun dari bus TransJakarta di halte Wolter Monginsidi, saya berjalan kaki sekitar 5 menit menuju Pasar Santa. Saya lihat Nada sudah menunggu di depan pintu masuk. Di samping ATM Bank BRI. Kami saling bertukar salam untuk kemudian segera menuju ke lantai 2.
Post Santa ternyata sebuah toko buku yang menarik. Terletak di lantai teratas Pasar Modern Santa, di tengah impitan kios kios dagangan lain. Sore itu suasana cukup ramai. Mungkin ada sekitar 10 pengunjung. Beberapa asyik ngobrol di sebuah meja di tengah toko, beberapa asyik duduk sambil membaca dan sisanya sibuk memilah buku mana yang kiranya menarik. Termasuk saya. Nada bilang ia tak ingin membeli buku, karena katanya lagi, cashflownya bulan ini sedang jelek.
Setengah jam berada di toko buku ini, saya memutuskan untuk membawa pulang dua buah buku. Menurut saya, buku-buku di Post Santa sunggulah menarik. Buku-buku yang jarang ditemukan pada toko buku besar. Sebenarnya banyak yang ingin saya beli, tapi lagi-lagi saya harus ingat jika masih ada dua buku di kos yang menanti untuk diselesaikan, dan juga saya masih harus menabung. Jadi, saya urungkan niat untuk membeli lebih dari dua buku.

(Buah tangan dari Post)

Kekurangan dari Post Santa bagi saya adalah belum ada layanan pembayaran menggunakan kartu debit, jadi membayarnya harus dengan uang tunai. Tapi, jika teman-teman lupa membawanya, jangan khawatir karena di lantai 1 pasar Santa ada beberapa mesin ATM seperti ATM Bank BRI, Bank BNI, bank DKI, Mandiri dan BCA. Lengkap kan?
Waktu menunjukan pukul 17.30 WIB saat saya dan Nada keluar dari kawasan Pasar Santa. Kemudian kami memutuskan untuk makan sebelum melanjutkan petualangan. Kami memilih makan di Ayam Bakar Kambal. Lokasinya tepat di depan Pasar Santa. Ayamnya enak dan rasa sambalnya pas. Saya yang baru pertama mencobanya langsung jatuh cinta. Mungkin kapan-kapan bisa mampir lagi. Selain rasa makanannya yang enak, disini juga menyediakan tempat sholat di lantai dua. Ruangannya cukup luas, bersih dan mukenanya wangi. Suka sekali, ❤️.
Selepas shalat, Nada memutuskan untuk menginap di kos saya di Jakarta Barat. Dan sebelum ke kosan, kami jalan-jalan dulu ke Central Park Mall yang lokasinya cukup dekat dengan kosan. Kami berdua akan nonton film How to Train Your Dragon: The Hidden World yang tayang pukul 21.50 WIB. Cukup malam ya? Dan Nada akhirnya bisa membujuk saya untuk pulang larut. Jujur, saya rada takut karena belum pernah pulang ke kos lewat pukul sebelas malam 😂 (anak rumahan sekali).
Dan Nada, adik kos saya jaman SMA ini ternyata hpnya baru. Pantaslah jika sampai di Central Park dia sibuk foto-foto 😂😂😂. Kalau saya sih hanya lihat-lihat saja karena baterai handphone sudah menipis.
Sebenarnya ini adalah pertemuan ketiga saya dengan Nada selama di Jakarta. Hari itu Kami banyak ngobrol tentang apa saja. Tentang pekerjaan, kehidupan, nostalgia masa-masa SMA dan tenta saja masalah cinta. Rumit memang, bagi kami yang sedang menjalani quarter life crisis. *ceilah.
“Nad, pernah kepikiran nggak kalau selamanya kamu akan tinggal di Jakarta?” Tanya saya di suatu kedai kopi.
Nada menggeleng. “Ntah lah mbak, kalau mbak gimana? ”
“Kalau aku sih palingan, misalkan nih jodohnya emang rejekinya di Jakarta, ya udah tetep tinggal disini. Cuma ya paling bisanya punya rumah di pinggiran Jakarta,” kata saya.
Nada tertawa. “Macem Depok gitu ya mbak?”
Saya menggeleng. “Bukan, aku penginnya tinggal di Bintaro. Biar dekat sama Rumah Sakit dimana sekarang aku kerja. Kalau Depok kok rasanya jauh banget ya, apalagi Bekasi,”. Saat itu saya menerawang membayangkan diri ini berdesakan di commuter line demi menuju atau meninggalkan ibu kota. Seperti ikan pindang, ngeri. Apakah saya bisa melewatinya? Eh tapi by the way, kalau Bintaro mah bukan pinggiran Jakarta sepertinya 😂.
“Mbak, nggak ada gitu teman kerja yang mbak suka?”
Saya terdiam. Mengulang kembali pertanyaan dari Nada dalam hati. Dan kemudian tertawa.
“Maksudmu suka itu seperti have a crush gitu Nad?”
Ia mengangguk. Saya kemudian menggeleng.
“Belum nemu,”
Nada kemudian bercerita tentang topik lain, masalah lain, cerita lain.
“Mbak, ceritain dong gimana kembaranmu bertemu dengan suaminya,”
Dan lagi, mengalirlah cerita saya. Yang tak begitu detail, karena saya memang tidak tahu detailnya hehe.
Kami ngobrol lagi tentang usia.
Time flies ya Mbak. Dulu pas SMA aku ga pernah bayangin bakal merantau ke Jakarta, terus ketemu mbak disini, minum dan duduk di kafe ini,”
Saya melahap buah kiwi terakhir.
“Hahaha sama lah, mana mikir aku sampai sini. Dulu pas SMA mikirnya yang penting bisa lolos dari pelajaran Kimianya pak Oo,”
Dan Jakarta akhirnya mempertemukan kami dan kenangan-kenangan masa lalu.
“Sedih Mbak saat aku terakhir ke kos, bu Bandi sudah sepuh sekali, udah nggak ingat lagi sama aku. Kabar terakhir beliau dibawa anaknya ke Jakarta. Tapi aku enggak nanya lagi Jakartanya mana,”
Saya terdiam. Memori kembali berputar ke sebelas tahun yang lalu. Awal-awal SMA dan harus menjalani kehidupan sebagai anak kos. Berjodoh dengan kos Bu Bandi dan menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Buktinya, selama 3 tahun masa SMA tak sekali pun saya menyingkir dari rumah kos ini. Nada, datang di tahun kedua saya SMA. Bersama beberapa anak baru lain. Kami semua cepat akrab. Tiap pagi rebutan kamar mandi, siapa yang beli sarapan, atau siapa yang mau pake setrika duluan. Belum lagi kalau tak ada yang mau mandi lebih dulu karena pagi terlalu dingin.
Ah, iya masa SMA. Indah, sedih, haru, tawa, tangis, dan bahagia bercampur menjadi satu.
“Mbak, aku inget kalau kalian lagi tengkar, seisi kos tau semua,”
Nada mengingatkan saya betapa seringnya saya marahan dengan mbak kembar 😂 biasa lah, seperti kakak beradik, anak kembar pun bisa bertengkar. Sering malahan. Tak ada kisah cinta yang tertuang saat SMA. Palingan hanya kisah cinta monyet, ngefans dengan salah seorang kakak kelas yang tak pernah tersampaikan hingga kini. Bahkan hingga perasaan suka itu hilang dan lenyap begitu saja.
Nada benar menginap, dan kami benar-benar nonton hingga tengah malam. Keesokan harinya kami berniat untuk ikut CFD di jalan Sudirman-Thamrin namun akhirnya hanya menjadi wacana belaka karena selepas subuh kami tertidur kembali dan baru benar-benar membuka mata pukul sepuluh pagi. Acara untuk menjelajah Kota Tua pun batal karena kami terlalu malas beranjak pergi. Pagi sampai sore di hari Minggu memang paling cocok untuk bemalasan saja di kosan. Membalas dendam atas kurangnya waktu tidur di hari hari sebelumnya untuk kemudian esok harus berjumpa kembali di tempat kerja.
Dari selatan Jakarta hingga ke tepian Barat, banyak cerita yang mengalir, membuka kenangan, dan merumuskan kembali rancangan untuk waktu yang akan datang.
Semoga, lain waktu kita bisa berjumpa kembali, Nad. Untuk saat ini, nikmatilah Jakarta-mu, Jakarta kita.