Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Dari Selatan Jakarta

Sore itu saya mengajak Nada berkunjung ke salah satu bookstore di Pasar Santa, Jakarta Selatan. Sebuah toko buku indie yang di akhir tahun 2018 menjadi wishlist saya.
Saya yang tinggal di Jakarta Barat dan Nada yang tinggal di Depok membuat kami memutuskan untuk langsung bertemu di Post Santa, nama bookstore yang menjadi tujuan kami.
Turun dari bus TransJakarta di halte Wolter Monginsidi, saya berjalan kaki sekitar 5 menit menuju Pasar Santa. Saya lihat Nada sudah menunggu di depan pintu masuk. Di samping ATM Bank BRI. Kami saling bertukar salam untuk kemudian segera menuju ke lantai 2.
Post Santa ternyata sebuah toko buku yang menarik. Terletak di lantai teratas Pasar Modern Santa, di tengah impitan kios kios dagangan lain. Sore itu suasana cukup ramai. Mungkin ada sekitar 10 pengunjung. Beberapa asyik ngobrol di sebuah meja di tengah toko, beberapa asyik duduk sambil membaca dan sisanya sibuk memilah buku mana yang kiranya menarik. Termasuk saya. Nada bilang ia tak ingin membeli buku, karena katanya lagi, cashflownya bulan ini sedang jelek.
Setengah jam berada di toko buku ini, saya memutuskan untuk membawa pulang dua buah buku. Menurut saya, buku-buku di Post Santa sunggulah menarik. Buku-buku yang jarang ditemukan pada toko buku besar. Sebenarnya banyak yang ingin saya beli, tapi lagi-lagi saya harus ingat jika masih ada dua buku di kos yang menanti untuk diselesaikan, dan juga saya masih harus menabung. Jadi, saya urungkan niat untuk membeli lebih dari dua buku.

(Buah tangan dari Post)

Kekurangan dari Post Santa bagi saya adalah belum ada layanan pembayaran menggunakan kartu debit, jadi membayarnya harus dengan uang tunai. Tapi, jika teman-teman lupa membawanya, jangan khawatir karena di lantai 1 pasar Santa ada beberapa mesin ATM seperti ATM Bank BRI, Bank BNI, bank DKI, Mandiri dan BCA. Lengkap kan?
Waktu menunjukan pukul 17.30 WIB saat saya dan Nada keluar dari kawasan Pasar Santa. Kemudian kami memutuskan untuk makan sebelum melanjutkan petualangan. Kami memilih makan di Ayam Bakar Kambal. Lokasinya tepat di depan Pasar Santa. Ayamnya enak dan rasa sambalnya pas. Saya yang baru pertama mencobanya langsung jatuh cinta. Mungkin kapan-kapan bisa mampir lagi. Selain rasa makanannya yang enak, disini juga menyediakan tempat sholat di lantai dua. Ruangannya cukup luas, bersih dan mukenanya wangi. Suka sekali, ❤️.
Selepas shalat, Nada memutuskan untuk menginap di kos saya di Jakarta Barat. Dan sebelum ke kosan, kami jalan-jalan dulu ke Central Park Mall yang lokasinya cukup dekat dengan kosan. Kami berdua akan nonton film How to Train Your Dragon: The Hidden World yang tayang pukul 21.50 WIB. Cukup malam ya? Dan Nada akhirnya bisa membujuk saya untuk pulang larut. Jujur, saya rada takut karena belum pernah pulang ke kos lewat pukul sebelas malam 😂 (anak rumahan sekali).
Dan Nada, adik kos saya jaman SMA ini ternyata hpnya baru. Pantaslah jika sampai di Central Park dia sibuk foto-foto 😂😂😂. Kalau saya sih hanya lihat-lihat saja karena baterai handphone sudah menipis.
Sebenarnya ini adalah pertemuan ketiga saya dengan Nada selama di Jakarta. Hari itu Kami banyak ngobrol tentang apa saja. Tentang pekerjaan, kehidupan, nostalgia masa-masa SMA dan tenta saja masalah cinta. Rumit memang, bagi kami yang sedang menjalani quarter life crisis. *ceilah.
“Nad, pernah kepikiran nggak kalau selamanya kamu akan tinggal di Jakarta?” Tanya saya di suatu kedai kopi.
Nada menggeleng. “Ntah lah mbak, kalau mbak gimana? ”
“Kalau aku sih palingan, misalkan nih jodohnya emang rejekinya di Jakarta, ya udah tetep tinggal disini. Cuma ya paling bisanya punya rumah di pinggiran Jakarta,” kata saya.
Nada tertawa. “Macem Depok gitu ya mbak?”
Saya menggeleng. “Bukan, aku penginnya tinggal di Bintaro. Biar dekat sama Rumah Sakit dimana sekarang aku kerja. Kalau Depok kok rasanya jauh banget ya, apalagi Bekasi,”. Saat itu saya menerawang membayangkan diri ini berdesakan di commuter line demi menuju atau meninggalkan ibu kota. Seperti ikan pindang, ngeri. Apakah saya bisa melewatinya? Eh tapi by the way, kalau Bintaro mah bukan pinggiran Jakarta sepertinya 😂.
“Mbak, nggak ada gitu teman kerja yang mbak suka?”
Saya terdiam. Mengulang kembali pertanyaan dari Nada dalam hati. Dan kemudian tertawa.
“Maksudmu suka itu seperti have a crush gitu Nad?”
Ia mengangguk. Saya kemudian menggeleng.
“Belum nemu,”
Nada kemudian bercerita tentang topik lain, masalah lain, cerita lain.
“Mbak, ceritain dong gimana kembaranmu bertemu dengan suaminya,”
Dan lagi, mengalirlah cerita saya. Yang tak begitu detail, karena saya memang tidak tahu detailnya hehe.
Kami ngobrol lagi tentang usia.
Time flies ya Mbak. Dulu pas SMA aku ga pernah bayangin bakal merantau ke Jakarta, terus ketemu mbak disini, minum dan duduk di kafe ini,”
Saya melahap buah kiwi terakhir.
“Hahaha sama lah, mana mikir aku sampai sini. Dulu pas SMA mikirnya yang penting bisa lolos dari pelajaran Kimianya pak Oo,”
Dan Jakarta akhirnya mempertemukan kami dan kenangan-kenangan masa lalu.
“Sedih Mbak saat aku terakhir ke kos, bu Bandi sudah sepuh sekali, udah nggak ingat lagi sama aku. Kabar terakhir beliau dibawa anaknya ke Jakarta. Tapi aku enggak nanya lagi Jakartanya mana,”
Saya terdiam. Memori kembali berputar ke sebelas tahun yang lalu. Awal-awal SMA dan harus menjalani kehidupan sebagai anak kos. Berjodoh dengan kos Bu Bandi dan menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Buktinya, selama 3 tahun masa SMA tak sekali pun saya menyingkir dari rumah kos ini. Nada, datang di tahun kedua saya SMA. Bersama beberapa anak baru lain. Kami semua cepat akrab. Tiap pagi rebutan kamar mandi, siapa yang beli sarapan, atau siapa yang mau pake setrika duluan. Belum lagi kalau tak ada yang mau mandi lebih dulu karena pagi terlalu dingin.
Ah, iya masa SMA. Indah, sedih, haru, tawa, tangis, dan bahagia bercampur menjadi satu.
“Mbak, aku inget kalau kalian lagi tengkar, seisi kos tau semua,”
Nada mengingatkan saya betapa seringnya saya marahan dengan mbak kembar 😂 biasa lah, seperti kakak beradik, anak kembar pun bisa bertengkar. Sering malahan. Tak ada kisah cinta yang tertuang saat SMA. Palingan hanya kisah cinta monyet, ngefans dengan salah seorang kakak kelas yang tak pernah tersampaikan hingga kini. Bahkan hingga perasaan suka itu hilang dan lenyap begitu saja.
Nada benar menginap, dan kami benar-benar nonton hingga tengah malam. Keesokan harinya kami berniat untuk ikut CFD di jalan Sudirman-Thamrin namun akhirnya hanya menjadi wacana belaka karena selepas subuh kami tertidur kembali dan baru benar-benar membuka mata pukul sepuluh pagi. Acara untuk menjelajah Kota Tua pun batal karena kami terlalu malas beranjak pergi. Pagi sampai sore di hari Minggu memang paling cocok untuk bemalasan saja di kosan. Membalas dendam atas kurangnya waktu tidur di hari hari sebelumnya untuk kemudian esok harus berjumpa kembali di tempat kerja.
Dari selatan Jakarta hingga ke tepian Barat, banyak cerita yang mengalir, membuka kenangan, dan merumuskan kembali rancangan untuk waktu yang akan datang.
Semoga, lain waktu kita bisa berjumpa kembali, Nad. Untuk saat ini, nikmatilah Jakarta-mu, Jakarta kita.

Iklan

Penulis:

Kimi no nawa~

15 tanggapan untuk “Dari Selatan Jakarta

    1. Wah kalau itu saya kurang tahu. Banyak kedai kopi di Pasar Santa. Kemarin pas kesana ada yang menarik juga, namanya kedai kopi TUKU dan SELATAN JAKARTA. dari namanya sudah indie sekali. 😄

      Suka

  1. Waah, Post Santa. Itu toko buku yang pengen aku datengin kalau ke Jakarta lagi, Mbak. Akhir tahun kemarin pernah beli buku judulnya Na Willa di sana. Buku lainnya sepertinya bagus dan unik. 😀

    Btw, How To Train your Dragon sudah tayang yaa ternyata. Bagus mbak?

    Disukai oleh 1 orang

    1. Na Willa! Aku suka bangett mbaaa. Bagus bukunya. Ini aku beli lagi yg judulnya Semasa terbitan Post Press juga. Dan bagus juga 😆

      Sudah mbak, ada di bioskop. Baguusss, ku sukaaa. Haru, bahagia, tangis, tawa nyampur jadi satu.

      Disukai oleh 2 orang

      1. Tuh, kan, suka sama Na Willa juga ya. hehe. Iyaa, sering ngeliat buku Semasa jadi IGStory di Post Santa, ternyata beneran bagus ya, kapan2 beli ah. 😀

        Aaak, pengen nonton. penasaraan.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s