Diposkan pada Others

Pantai Laguna

Waktu itu ditengah kejenuhan dengan rutinitas kerja, saya memutuskan untuk jalan-jalan. Seperti biasa, saya kontak Nada, apakah dia bersedia menemani saya JJS di dalam kota. Dan jadilah saya dan Nada bertemu dan memutuskan untuk ke Pantai Ancol. Sebenarnya ini idenya Nada sih, secara impulsive gitu tiba-tiba pengin sepedaan di pinggir pantai. Ya sudah, toh saya juga ingin jalan-jalan, akhirnya saya iya kan saja usulnya untuk ke Pantai Ancol.

Saat itu kami memulai perjalanan ke Ancol pukul 16.30 WIB. Kami berniat hunting foto saat senja. Apalagi saat itu kondisi senja di langit Jakarta sedang cantik-cantiknya.

Kami berangkat menggunakan Trans Jakarta. Berhenti di pemberhentian terkahir yaitu di halte Ancol. Untuk masuk kawasan Ancol kami harus membayar tiket masuk. Masing-masing 25.000 rupiah.

“Mau kemana kak?” Tanya petugas loket.

“Ke Pantai Laguna pak,” jawab Nada.

“Naik bis wara wiri aja, gratis,”

Kami pun segera menuju lokasi tempat menunggu bus wara wiri. Saat itu sekitar pukul 17. Sepuluh menit menunggu, ternyata bisnya belum datang juga. Lama yak ternyata, bisa bisa kita gagal berburu sunset nih, pikir saya. Saat kami berdua sudah tak sabar dengan kedatangan bus, datang lah bapak supir taksi menawarkan tumpangan.

“Busnya masih lama mbak, naik taksi aja 25rb langsung sampai pantai Laguna, kalau kelamaan nunggu bis, ntar sunsetnya keburu habis loh,” kata si bapak supir.

Ah, bisa aja nih si bapak membaca pikiran kami berdua. Akhirnya saya dan Nada luluh dengan bujuk rayu pak Supir dan memutuskan menggunakan taksi menuju pantai Laguna.

Nggak ada 10 menit sampailah kami di Pantai Lagoon. Begitu tiba langsung disambut semilir angin pantai yang menyejukkan. Di sebelah barat sudah mulai semburat merah pertanda senja akan datang.

Rasanya…. satu per satu kejenuhan dalam pekerjaan perlahan runtuh. Hahaha lebay yaaa 😂 tapi menyenangkan loh berjalan di pinggir pantai sambil menikmati semilir angin pantai. Sedikit bisa mengurangi beban pikiran. Apalagi ditambah pemandangan indah yang tercipta saat senja.

Yhaa meski saat itu suasana cukup ramai, saya masih bisa menikmatinya. Maklum ya, setelah satu tahun di Jakarta ini kali pertama saya mengunjungi Pantai Ancol. Dulu saat saya masih kerja kantoran di Cilacap, rasanya bosen banget sama Pantai. Ya iya lah, Cilacap kan ada di ujung selatan pulau Jawa 😂 jarak kantor dengan pantai cukup dekat. Sampai bosan sih kalau main ke pantai terus.

Menjelang senja berakhir, saya dan Nada pun mulai disibukan dengan acara foto-foto.

Ini semua saya ambil pakai kamera hape (si mimi) yang hampir dua tahun menemani. Penginnya sih punya kamera mirrorless yhaa, tapi apadaya tabungannya belum cukup 😆. Doakan yaa teman-teman semoga kamera mirrorless nya segera terbeli hehehe.

Difotoin Nada. Maafkan, nggak bisa bergaya ala ala selebgram. Hahahahaha.

Oh iya, karena nabrak waktu maghrib, kami pun shalat di kawasan pantai Ancol. Sempat khawatir susah nemu tempat shalat, tapi alhamdulillah ada mushola di dekat pantai. Yha meskipun sederhana setidaknya bisa shalat dengan nyaman. Minusnya sih tempat wudu ceweknya agak terbuka yaa, jadi agak risih gimana gituu. Huhuhu sedih. Semoga ke depannya bisa ditingkatkan.

Pukul 20.00, saya dan Nada memutuskan untuk pulang. Kami akhirnya mencoba naik bus wara wiri. Sampai lari-lari loh kami mengejar busnya 😂 mental mental gratisan nih yhaa hahaha eh bukan ding, kami tuh mental memanfaatkan fasilitas yang ada secara maksimal wehehehehe. Nggak lama setelahnya, kami pun sampai di halte Ancol dan dilanjutkan naik TransJakarta menuju kosan kami masing-masing.

Ini sedikit cerita jadi wisatawan lokal di Ibu Kota. Alhamdulillah ya, jalan-jalan murah meriah yang bisa memperbaiki suasana hati. Ternyata masih banyak tempat di Ibu Kota yang belum sempat saya kunjungi dan masih jadi wishlist saya tahun ini 😁.

Iklan
Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Sore Tadi

Sore tadi akhirnya memutuskan untuk lari. Bukan kok, bukan lari dari masalah. Tapi, lari sore alias jogging sore sore 😁. Sudah beberapa bulan ini jadi wacana terus. Selalu adaa aja alasan untuk menghindar. Ntah itu ngantuk, mager, mendung dll.

Hari ini sebenarnya niatnya mau lari pagi di Taman Cattleya dekat kosan tapi apa daya tadi pagi bangun kesiangan, habis shalat subuh tidur lagi karena ngantuk luar biasa. Ya gimana engga ngantuk yaa, baru tidur aja jam 1 pagi. Oow, memang ini satu kebiasaan buruk yang sedang berusaha dikurang kurangin. Dan dengan tekad kuat sepenuh hati, sore tadi berangkat ke Lapangan Banteng. Waktu keluar kosan sudah terlihat awan gelap, tapi ya sudahlah, dah terlanjur siap siap, sayang banget kalau mundur lagi. Sampai di Lapangan Banteng ternyata udah ramai, banyak yang jogging atau sekadar jalan jalan sore. Banyak juga yang hunting foto. Udah deh itu saya lari muter dua putaran, ngos ngosan juga karena jarang olahraga. Dilanjut jalan santai.

Eh ada yang nyamperin, kakak yang kebetulan kantornya persis di depan Lapangan Banteng. Tinggal lompat nyampe tuh. Kebetulan juga, pas kakak datang, gerimis turun. Jadi lah saya diajak ke kantornya. Tak lupa beli cilok dulu. Enak ciloknya, 5rb dapat 7 cilok hehehe.

Berteduh di kantor kakak sampai maghrib sekalian shalat, habis itu diajak ngupi ngemil di Warung Upnormal Raden Saleh Cikini. Tempatnya kecee, retro gitu. Waktu masuk disambut live music gitu, tapi maaf lupa nggak saya foto, karena hp lowbat juga sih. Saya pesen pisang bakar topping green tea ice cream. Lucu ya, nambah gula lagi 😁 habis olahraga harusnya banyakin makan buah, ini malah ngemil manis manis. Hmm… gapapa lah yaa yg penting happy.

Jumat hari ini menyenangkan, libur shift, jalan-jalan, olahraga sore dan ngemil gratisan. Kalau yang lain besok libur, saya besok mulai masuk kerja dan untuk seminggu ke depan jadwalnya padat merayap. Tadi juga dikasih tahu teman kalau pasien juga sedang full tank. Semangat!