Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Melewati Batas 25

Hai, halo, lama ya rasanya tidak bercakap di rumah ini. Beberapa bulan ini memang sedang puasa nulis blog dulu. Ntah mengapa sebenarnya banyak sekali yang ingin ditumpahkan di rumah ini, tapi selalu kalah dengan kemalasan dan alasan ‘sibuk’ lainnya. Untuk sibuk sih sebenarnya nggak sibuk sibuk banget. Rutinitas seperti biasa, kalau lagi libur kerja ya main atau tidur. Atau berkunjung ke rumah saudara, main sama ponakan atau nongki nongki cantik demi melepas penat.
Dan sore tadi baru saja saya mendapat kabar jika salah seorang sahabat akan melangsungkan akad nikah setelah lebaran. Kaget dong saya ya! Secara dia nggak pernah share apa pun, lagi dekat sama siapa atau tanda-tanda mau menikah lainnya eeh tiba-tiba jeng jeng dapet undangan di grup kesayangan kalau sahabat saya yang baik ini akan menikah. Benar-benar deh bisaaa aja kasih surprisenya 😄. Selain sahabat saya, beberapa undangan pun bermunculan. Mulai dari teman SMP, SMA sampai kuliah. Mulai tuh undangan nikah berdatangan kembali. Jikalau menilik dari pertemanan jaman SD kayaknya tinggal tersisa tiga orang cewek yang belum meniqa dalam lingkup pertemanan saya. Dan di dalamnya ada saya hahaha. Kalau teman-teman SD memang kebanyakan nikah muda karena selepas SMP/SMA kebanyakan memilih untuk bekerja dan hanya beberapa yang melanjutkan kuliah. Nggak kebayang ntar kalau ada reuni SD pasti lah hampir semuanya sudah bawa suami dan anak. Terus aku enaknya bawa siapa yaaa? 😂.
Beberapa kawan juga sudah mengusik dengan pertanyaan, “Mana calon?“, Kapan nikah?, ” sampai petuah-petuah” Jangan keasyikan kerja, ntar lupa nikah, “. Ooh tunggu dulu, kalau keasyikan kerja sih kayaknya nggak ya. Wong saya anaknya nih biasa biasa aja engga terlalu ngoyo sama pekerjaan. Mungkin saya keasyikan menghabiskan duit gajian. 🙈
Dalam kurun waktu dua tahun ini, memang hampir sebagian besar teman-teman saya melangsungkan pernikahan. Yha, menurut saya wajar saja sih karena usia kami sudah memasuki 25 tahun. Heheu. Usia yang katanya ideal untuk menikah. Dulu saat SMA, saya membayangkan akan menikah paling telat usia 25 tahun karena doktrin dari Ibu jika menikah tak boleh lebih dari usia 25 tahun. Katanya kalau melewati itu prioritas seseorang semakin berubah dan makin banyak kriteria dan syarat seseorang tentang jodohnya (oh ya?) . Kemudian pertengahan masa kuliah saya perpanjang deh tuh tenggat waktu. Usia 27 lah batas akhir nikahnya. Karena dulu bayangan saya usia 27 tuh udah kelar pendidikan sampai S2. Udah tenang kan ya. Eeh ternyata sekarang bentar lagi memasuki usia 27 tahun dan aku masih gini-gini aja 😂. Nikah belum, S2 juga belum. Modyaaar nggak tuh. Hahaha. Satu persatu planning dari jaman kuliah ini tergeser. Ya, gimana lagi waktu itu sebenarnya sudah ada kesempatan S2, tapi ada panggilan kerja. Tahun berikutnya mau coba lagi, eh ada penerimaan CPNS hingga akhirnya jadi rejeki dan mengharuskan re-schedule total planning pendidikan saya.

Sekarang sudah melewati batas usia 25 tahun. Makin sering ditanya “Kapan? “. Baik oleh orang tua (terutama Ibu tercinta), saudara dan para tetangga dan juga rekan kerja. Iyaa! Rekan kerja yang hampir tiap hari ngomporin buat segera melepas masa lajang. Ooh tidak. Kadang mbatin, ngapain sih ini orang-orang pada ngurusin jodoh saya? Terus mikir lagi, mungkin ini sebagai perwujudan dari doa mereka ya. Atau setidaknya kekepoan yang diungkapkan dengan sengaja. Bagi saya sih, cukup hadapi dengan senyuman saja meski dalam hati perasaan saya ambyar 💔.
Melewati usia 25 tahun rasanya banyak hal-hal baru yang muncul terkait menikah atau pun tentang pasangan hidup atau pun tentang permasalahan kehidupan yang lain. Saya banyak melihat fenomena teman yang semasa sekolah/kuliah pacaran sama siapa, ujung-ujungnya nikahnya sama siapa. Benar jika jodoh itu urusan masing-masing individu dengan Allah swt.

Bulan Ramadan ini pun banyak dikasih tahu dari sodara (thanks to mbak kembar) tentang doa-doa minta didekatkan jodoh. Berdoa? Tentu saja iya. Saya yakin sekali akan kekuatan doa. Namun tak ingin cepat-cepat, biarlah ia datang di waktu yang menurut Allah adalah yang paling tepat :).

Saya ingin mengucapkan selamat untuk sahabat (yang namanya belum bisa saya sebut sampai akad terucap 😁). Semoga urusan kalian dalam menyegerakan kebaikan ini dilancarkan dan dimudahkan. Semoga saya dapat jadwal libur sehingga bisa kondangan ke Oslo. 💕

Catatan ini ditulis di kereta Taksaka dalam perjalanan pulang menuju kota Purwokerto tercinta. Maaf jika postingan ini sarat akan nuansa curhat. Karena inilah sebenarnya latar belakang lahirnya Layang-Layang Sore. Iya, sebagai tempat membuang kepenatan pikiran dan perasaan alias curhat tipis tipis 😆.

Dulu saat ibu dan kakak belum mampir di blog ini, curhat tuh rasanya mengalir saja. Tapi sekarang kadang kakak suka ngintipin postingan saya. Begitu pun ibu. Haha khan jadi maluuuu. Ntar kalau ketemu di dunia nyata jadi dibahas deh. Heeu. Sepertinya saya butuh lapak baru yang benar-benar tidak terjangkau oleh mereka 😄

Oh iya bagi teman-teman semua, Selamat menyambut hari raya idul fitri yaaa semoga keberkahan selalu menyertai kita 😊 yang mau mudik hati-hati di jalan, semoga selamat sampai bertemu dengan keluarga tercinta ❤️.

Iklan