Diposkan pada Others

A Light in A Morning

“Suster, nama suster hampir sama loh kayak nama aku,” kata pasien saya pagi tadi saat saya masuk ke kamarnya untuk menawarkan sibin pagi.

“Oh ya? Cuma beda huruf a dan i saja ya,” kata saya.

Dia mengangguk.

“Sust, aku bosan.. udah pengin pulang. Aku pengin ke salon, pengin creambath,” kata pasien saya yang masih remaja ini. Sepertinya dia mulai jenuh dengan seabrek pengobatan untuk kankernya yang terlihat tidak kunjung usai.

“Boleh, nanti ke salon, creambath, spa… boleh banget. Tapi… nanti kalau pengobatannya udah selesai yaa,” kata saya disertai senyuman.

“Sust, saya pengin nonton di bioskop,”

“Bisaa, tuh depan ada CGV,” kata saya sambil menunjuk mall di seberang RS.

Dia tertawa.

“Sambil bawa-bawa ini semua sust?” Katanya menunjuk alat-alat medis segambreng yang terpasang di badannya.

“Eh ada loh, film yang tokoh utamanya sakit,terus dia kemana-mana harus bawa oksigen,” kata saya.

“Aku tahu sus! FIVE FEET APART khan???” Jawabnya penuh semangat. Sayangnya, bukan itu jawabannya.

“Bukaan, nama judulnya apa yah, pokoknya adaptasi dari sebuah buku gitu,” kata saya sambil berusaha mengingat judul film itu. Saya ingat tokoh cewek yang memerankannya tapi lupa nama dan judul filmnya.

Akhirnya kami berdua sama-sama mikir. Kocak juga membayangkan adegan tadi pagi. Saya sampai berhenti di tengah-tengah merapikan tempat tidurnya.

Hingga akhirnya….

“The Fault in Our Stars! Ya ya benar itu judulnya,” kata saya penuh semangat. Berharap dia membalas tatapan saya dengan penuh semangat juga.

“Aku gak tahu sust,” katanya cemberut.

“Masa siiih? Ini film terkenal loooh,”

Dia menggeleng. “Emangnya keluaran tahun berapa tuh film?”

Terus saya mengingat-ingat lagi. Oh iya, ini film keluar sekitar 5-6 tahun yang lalu saat saya masih kuliah.

“Yaa mungkin 2013-2014. Sekitar itu,”

“Suster gimana siiih? Udah lama banget ituu, aku kan di tahun itu masih anak-anak!”

Kemudian saya terbahak. Pasien saya inj baru menginjak 17 tahun. Kalau 5-6 tahun yang lalu berarti dia usia 11-12 tahun, masih SD. Masih anak kecil. Mungkin tontonnya masih barbie fairy tale gitu yak 😆

“Iya ya deh, maafin yak. Suster nonton film jadul berarti ya?”

Terus dia tertawa.

“Udah yaaa, dah beres, kamu dah mandi, udah suster gantiin baju, gantiin sprei, sekarang suster mau operan jaga dulu sama teman suster yang jaga pagi. Udah jam 8, saatnya suster istirahat,”

Dia melambaikan tangan kepada saya. “Daah suster,” katanya.

“Semangat terus ya. Nanti kalau sudah boleh pulang, kamu boleh pergi ke bioskop, nonton film yang kamu suka, pergi ngemall, hang out sama teman-teman kamu. Lakukanlah hal-hal yang kamu suka. Nanti saat waktu pengobatan datang, kamu tidak akan terlalu bosan dan bayangkan hal hal menarik lainnya yang bisa kamu lakukan setelah pengobatanmu selesai. Tetap semangat!”

Dia tersenyum kemudian bilang terima kasih.

Saya mengambil laundry kotornya, berpamitan dan keluar dari kamarnya.

Selalu ada cerita yang berbeda dari setiap pasien tiap harinya. Entah itu duka maupun suka. Saya banyaaak sekali belajar dari mereka. Belajar untuk sabar, belajar memahami, dan juga belajar berempati.

Lelah memang bekerja di pelayanan itu. Namun, semoga lelah ini menjadi Lillah… Aamiin.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Trip Solo-Joga dan Pengalaman Menginap lewat Aplikasi RedDoorz

Sedari tahun lalu saya ingin sekali liburan ke Jogja. Seingat saya, terakhir saya mengunjungi kota itu adalah di semester akhir kuliah, sekitar tahun 2015. Sudah empat tahun berlalu, rasanya saya kangen untuk menjelajah kota budaya ini.

Sepertinya memang sudah menjadi rezeki. Akhir ramadhan kemarin saya mendapat kabar jika sahabat saya, Rahma akan menikah di akhir bulan Juni dan melangsungkan resepsi seminggu setelahnya. Langsung dong saya siapkan budget, permintaan libur ke ibu kepala ruang, dan beli tiket ke Solo. Saya memilih menggunakan moda transportasi kereta api yaitu kereta Argo Lawu. Waktu tempuh perjalanannya dari Gambir hingga Solobalapan kurang lebih selama 9 jam.

Tepat pukul 20.15 WIB kereta berangkat dari Gambir menuju Solo. Alhamdulillah bertepatan dengan weekend sehingga stasiun Gambir serasa lautan manusia. Maklum ya, Jumat malam waktunya penduduk Jakarta menghilang sejenak dari hiruk-pikuk ibu kota. Saya duduk di gerbong 5 kursi 6C. Agak sedih sih, nggak bisa duduk samping jendela. Tapi ternyata setelah terlewati ya nyaman-nyaman aja tuh, lagian kalau malam hari mau lihat pemandangan apa? Sepanjang perjalanan hanya terlihat kerlap kerlip lampu. Saya juga memutuskan untuk tidur karena hari itu saya baru selesai jaga malam.

Pukul 05.05 WIB saya tiba di stasiun Solo Balapan. Kereta telat 20 menit dari jadwal seharusnya. Saya segera mencari mushala untuk bersih-bersih dan shalat subuh. Pagi itu stasiun Solobalapan tidak begitu ramai. Saya segera menuju ke penginapan dimana teman-teman saya menginap.

Oh iya, berhubung saya kondangan ramai-ramai, jadi lah kami booking penginapan. Teman-teman saya yang lain sih sudah sampai di Solo sejak Jumat sore, sehingga mereka sempat menginap. Saya yang paling terakhir sampai di penginapan. Karena saya mendapat mandat untuk urusan booking kamar maka pilihan saya jatuh pada aplikasi Reddoorz.

Ini adalah kali pertama saya menginap di Reddoorz. Saya pesan kamarnya seminggu sebelum kedatangan, mengingat weekend jadi takut saja kamar penuh. Kami semua menginap di Reddoorz di dekat Taman Balaikambang, tepatnya di Jalan Majapahit III karena acara resepsi Rahma berada di Taman Balaikambang. Biar tidak terlalu jauh gitu lho.

Area depan kamar penginapan yang instagramable

Setelah melepas lelah dan kangen kangenan dengan geng bul (sebutan kami karena dulu saat kuliah kami berada dalam naungan satu kosan yang sama di daerah Bulusan, Tembalang 😂), saya pun segera bersiap kondangan. Mandi, ganti baju, make up. Ini sih make up time yang paling rempong yhaaa. Mana saya ini anaknya nggak bisa make up yaa. Yha palingan make up dasar saja. Untuk urusan eyeshadow, highlight, dll ituu saya nggak mudeng. Alhamdulillah geng bul ini semuanya jago make up (kecuali aku) wkwk beda jauh kemampuannya dari jaman kuliah dahulu kala 😂 tepuk salut deh untuk progress mereka semua 👏. Dengan saling gotong royong akhirnya make up time selesai dan kami segera menuju ke lokasi acara.

Saya happy banget waktu tahu ternyata konsep resepsinya rahma itu garden party! Keren deh, saya kira bakal dilaksanakan di gedung.

Pukul 10 acara dimulai. Saya dan para bridesmaid (ceilah) bersiap mengikuti prosesi adat manten. Dan kaget yang kedua, prosesi adatnya nggak ribet say! Biasanya kan kalau nikah adat Jawa tuh ritualnya banyak banget yaa. Tapi khusus di resepsinya Rahma banyak ritual yang diskip. Saya jadi terinspirasi heheu, soalnya bener-bener menyingkat waktu. Dan menurut saya ini efektif karena lebih diperbanyak waktunya untuk acara lain (salam-salaman dan foto bersama pengantin, santap hidangan kawinan).

Namanya Selat Solo

Alhamdulillah acara selesai sebelum adzan dzuhur. Para tamu undangan sudah kenyang dan saatnya para bridesmaid ala ala ini berfoto. Dilanjutkan dengan acara reuni bersama alumni PSIK Undip 2011. Senaaang rasanya bertemu teman-teman. Ada yang sudah bawa anak, bawa suami/istri, bawa calon suami/istri. Ternyata teman-teman saya sudah meniti fase baru lagi. Terharu saya tuh 😭.

Kondangan sekaligus reuni

Geng Bul reunited

Setelah melepas kangen dengan pengantin dan teman-teman yang lain, saya dan geng bul (ini ada 7 orang, terlalu banyak, jadi nggak dijabarin satu persatu 😂) segera berpindah lokasi ke kosan Niken untuk ganti baju dll. Saya, Intan dan Nunung segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju Jogja.

Saya pikir, “wah sudah jauh-jauh ke Solo, kenapa nggak ke Jogja sekalian?”. Akhirnya saya mengajak Intan yang kerja di Magelang untuk menemani main di Jogja. Awalnya Nunung mau ikutan tapi mendadak membatalkan karena ada ujian kredensial di RSnya.

Perjalanan menuju Jogja diawali dengan kereta prameks. Ini kali pertama saya merasakan naik prameks (singkatan dari Prambanan Ekspress). Kereta lokal yang melayani rute Solo-Purworejo.

“Nung, ini kita mesti kebagian tempat duduk gak to?” Tanya saya.

“Yo nggak Des, disik-disikan ngko sopo sing olih kursi. Tapi biasane ndek jam semene ki rame,”

Dan benar kata Nunung, kita bertiga nggak kebagian tempat duduk. Akhirnya ngemper deh haha saking capeknya kita. Sebenarnya ada peraturan kalau nggak boleh duduk di lantai kereta.

“Santai wae Des, asal orak kethok nang petugase, dewek aman,” kata Intan. Saya pun mengikuti mereka berdua duduk di lantai kereta. Saking capeknya, saya pun tertidur hingga tiba di stasiun Maguwo. Penumpang banyak yang turun, dan kami pun bisa duduk di kursi sesungguhnya. Selanjutnya adalah stasiun Lempuyangan, tandaya Saya dan Intan harus turun. Sedang Nunung melanjutkan perjalanan pulang menuju Kutoarjo.

Karena nggak kebagian tempat duduk

Dari stasiun Lempuyangan, saya dan Intan menuju penginapan menggunakan pinkiana, sepeda motor kesayangan Intan yang ia tinggal di stasiun Lempuyangan.

“Des, aku nggak tahu Jogja loh yaa, kita modal gmaps, oke?”

Aku tertawa dan berdoa semoga bisa sampai penginapan dengan selamat 😁.

Di Jogja kami menginap di Reddoorz lagi. Yaitu penginapan syariah di jalan Sisingamangaraja. Lokasinya tidak jauh dari alun-alun kidul atau alkid. Dan saat sampai disana, sudah ada mas resepsionisnya yang langsung membantu proses check in. Kenapa namanya syariah? Nah ini saya nggak nanya sih. Cuma dari pengamatan sih mungkin karena lokasinya persis di seberang mushola sehingga bisa mendengat adzan 5x sehari 😁. Alhamdulillah check in berjalan lancar dan kami diantar menuju kamar. Kesan pertama saat saya sampai di penginapan ini adalah bentuk penampakan luar rumahnya adalah rumah kuno khas Jogja. Namun saat sudah di dalam kamar desainnya sama seperti kamar penginapan modern lainnya. Kamarnya yang kami tempati menyenangkan karena bersih, rapi, dan kamar mandinya luas. Bertolak belakang dengan penginapan sebelumnya yang lebih menekankan ke luas kamar yang lebih luas dan kamar mandi yang mungil.

Saya dan Intan pun bersih-bersih dilanjutkan shalat maghrib dan Isha. Seperti biasa cewek ya, kita curhat ini dan itu hingga tak terasa sudah mau pukul 20.00.

Malam ini kami pun mengunjungi Tempo Gelato di Jalan Prawirotaman. Wishliat saya ke Jogja ya kepingin banget ke Tempo Gelato. Dengan bermodal gmaps, saya dan Intan akhirnya sampai di lokasi. Daan ternyata ramai sekali sodara. Awalnya saya pasrah, ya udah deh kalau nggak jadi masuk, tapi Intan tetap memaksa untuk masuk.

“Dah jauh-jauh kesini masa mau mundur? Itu palingan bule bule pada take away,”

Thanks to Intan akhirnya saya bisa mencicipi enaknya Tempo Gelato Jogja yang hits itu. Saya pesan rasa Kiwi dan Cappucino, sedangkan Intan kalau nggak salah rasa Matcha dan cokelat.

Perjalanan dilanjutkan dengan menuju jalan Malioboro. Bayangkan, kemarin itu malam minggu dan Jogja sedang macet-macetnya. Dari jalan Prawirotaman menuju Malioboro kita tempuh kurang lebih satu jam an dengan bermacet-macet ria. Ngerii sih macetnya luar biasa. Tapi ntah kenapa, meski macet saya tuh fine fine aja. Apa mungkin sudah kebal dengan kemacetan di Jakarta? 😂

Dan memang bener yaa, seramai itu Malioboro di malam minggu. Pukul 22.30 WIB kami pulang ke penginapan karena badan rasanya kayak habis nguli😂 alhamdulilah malam ini capek tapi senang.

Esok paginya kami checkout dari penginapan pukul 07.45 wib. Saya harus naik kereta dari stasiun Tugu. Dan pulang kali ini saya menggunakan Argo Lawu kembali dengab keberangkatan dari stasiun Tugu menuju Gambir. Estimasti perjalanan adalah 8 jam.

Saat sampai di stasiun, saya berniat ingin membeli oleh oleh bakpia kukus Tugu yang lagi hits itu. Dan gimana saudara? Apakah saya berhasil membelinta? Oo tentu tidak sodara. Antrinya itu loh bok, kagak kuat.

Mana sebentar lagi kereta saya akan tiba. Saya pun nyerah ngantri dan memilih membeli oleh-oleh di dalam stasiun saja. Mungkin lain waktu, saat saya kembali lagi ke kota ini bisa berkesempatan mencicipi rasa bakpia ini.

At least, terima kasih untuk dua hari menyenangkan ini. Terima kasih geng bul sudah meluangkan waktu untuk bertemu. Terima kasih Rahma yang menikah sehingga kami, geng Bul bisa reuni kembali: “). Terima kasih juga Reddoorz untuk penginapan yang baik.

Semoga dilain kesempatan bisa bertemu lagi 😘