Diposkan pada Others

Batas Waktu

[Disclaimer: postingan ini adalah karya fiksi yang dibumbui beberapa kenangan. Tidak menyebabkan hati ambyar kok, jadi nggak usah sedia tissue : ‘)]

“Hai,” sapamu seraya meletakkan tas kantormu di kursi samping tempatmu duduk.

“Sudah pesan makan?” Tanyanya. Mungkin karena melihat meja kami masih kosong.

“Belum, baru pesan minum. Aku nunggu kamu,”

Kemudian ia memanggil waitress dan memesan dua jenis makanan yang tak pernah asing bagi kami berdua.

“Ooh ternyata masih hapal,” aku tersenyum padanya yang ku lihat semakin terpancar aura bahagianya.

By the way… selamat yaa, akhirnya sah nih. Selamat enaena!”

Dia tertawa.

“Iyaa makasih ya! Lagian kamu sih nggak mau sama aku,”

Aku terbahak dalam kepalsuan.

“Itu masa lalu. Udah lah gak usah dibahas lagi kenapa sih?”

“Habisnya gemes aja sama kamu. Sok jual mahal. Sekarang giliran aku udah nikah, kamu nangis nangis kan?” Katanya sambil tertawa.

Aku cemberut, tak terima mendengar kata-kata yang barusan terlontar.

“Idiih, pede banget sih! B aja kaliii, nggak sampai nangis juga. Cumaa yaa kenapa kamu duluan yang nikah sih?!”

Ia tertawa lagi. Tawa yang masih sama. Tawa yang dulu membuatku rela cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan untuk segera menemuinya di akhir pekan.

“Eh kenapa nih, tumben ngajak ketemu?” Tanyaku akhirnya.

Dia berdeham. “Nggak apa-apa, kangen aja ngobrol sama kamu,”

“Eh nggak boleh gini. Kasihan istri kamu di rumah,”

“Dia tahu kok,”

“Hah?”

“Kan, kamu sahabatku, jadi nggak apa-apa lah kita ngobrol gini. Lagian rasa yang dulu pernah ada sudah menguap. Jadi, tenang aja lah,”

Sekarang, giliran aku yang tertawa.

“Dasar aneh. Kirain kamu mau ngenalin aku sama temen kamu,”

“Eh iya, ada loh. Kamu beneran mau? Sebentar aku punya fotonya,”

“Eeh aku bercanda! Jangan serius gini dong,”

“Kenapa lagi sih? Kamu masih mau beralasan apa? Masih ingin sendiri? Takut nggak ada yang bisa ngimbangin kerandoman kamu? klise tahu! Aku masih hapal semua alasan alasan yang kamu berikan saat kamu pergi begitu saja ninggalin aku. Kurang-kurangin lah kayak gitu. Kalau bisa hilangkan. Kamu tuh udah dewasa. Kamu butuh sebuah hubungan,”

Aku masih terdiam.

“Hei.. dengar… coba dengarkan kata hatimu yang paling dalam… kamu sebenarnya… kesepian kan?”

Aku tersenyum. Dia masih sama seperti dulu. Masih seseorang yang sama yang memelukku saat aku berada di jurang kesendirian. Laki-laki itu menghela napas.

“Kenapa sih dulu kamu nolak aku?” Tanyanya sambil menatapku penuh simpati.

“Nggak bisa. Kita nggak bisa bareng aja. Terlalu banyak perbedaan,”

“Ya aku tahu sih. Tahu banget. Ya sudah, aku cuma khawatir sama kamu. Ingat ya, mulai sekarang lupakan aku, temukan laki-laki lain. Kamu cantik, kamu baik. Kekurangan kamu hanya satu… belum berani berkomitmen,”

“Iya. Kamu benar. Aku terlalu takut dalam menjalani sebuah komitmen. Sama kamu pun sebenarnya sama. Aku takut suatu hari bakalan ninggalin kamu. Jadi, lebih baik gini kan? Coba dulu kita pacaran, kamu pasti nggak tahan sama aku yang suka ilang-ilangan,”

Dia mengheleng.

“Aku tahu kamu kok. Always. Kamu menghilang untuk menetralkan kecamuk di pikiranmu kan? Hanya saja dulu kamu menghilang terlalu lama. Aku jadi hilang harapan,”

“Sudahlah. Kenapa jadi mengingat masa lalu? Lupakan ya semua diantara kita. Kamu sama istri kamu, dan aku yang masih berusaha menemukan seseorang yang mau menerimaku yang seperti ini,”

Dia tersenyum.

“Jaga kesehatan ya. Jangan terlalu sering begadang,”

Aku mengangguk.

“Oh ya, jangan sampai lupa inti dari tujuanku ketemu kamu,” aku mengeluarkan kantong berisi kotak di dalamnya. Seminggu yang lalu aku benar-benar sempatkan untuk mencarinya seorang diri.

“Kado pernikahan dariku untuk kalian berdua. Bahagia selalu ya!”

Ia menerimanya dengan canggung.

“Buka kalau kamu sudah sampai di rumah. Harus berdua ya, nggak boleh sendiri-sendiri,”

“Seharusnya kan tak perlu repot-repot begini,” katanya. Ia mengucapkan terima kasih dan sekali lagi mengingatkan aku untuk mengurangi begadang. Dih, memangnya aku anak kecil? Lagian soal begadang, bukannya aku mau. Hanya saja mata ini susah terpejam jika jarum jam belum melewati pukul 1 dini hari.

Pukul sepuluh malam dan kami pun berpisah. Aku tahu ada sedikit rasa perih di hati. Rasanya ingin menangis saja saat melihat dia lagi. Tapi aku tadi benar-benar menahannya. Ya, memori saat kami bersama kembali tayang ulang di otakku. Pedih. Hampir setiap sudut kota ini adalah kita. Namun, ya kembali lagi, itu adalah masa lalu. Saat ini yang harus aku lakukan adalah terus melangkah.

Bagaimana pun, selama kita masih hidup, kenangan akan terus tersimpan. Memori-memori itu tak akan bisa hilang begitu saja. Menyebalkannya lagi saat mereka datang disaat yang tidak kita inginkan.

Baginya aku adalah masa lalu. Bagiku, dia pun akhirnya menjadi kenangan. Suatu hari mungkin aku akan bercerita tentang dia kepada kamu. Tenang, saat aku cerita ke kamu, tak usah cemburu. Karena disaat perjalananku untuk menemukan kamu, aku banyak belajar, berproses. Dia hanya salah seorang.

Dan kamu… adalah selamanya.

[Note to myself: tahun 2019 adalah tahun yang menyenangkan. Bisa mengeksplor diri lebih jauh lagi. Tahun ini juga tahun dimana aku belajar memaafkan diri sendiri dan bangkit menghadapi persoalan hidup. Penuh lika-liku memang, tapi aku menikmatinya. Terima kasih untuk yang sudah singgah, meski sejenak tapi membawa banyak pelajaran. Hiyaaa kenapa aku malah curhat? 😆 semoga tahun 2020 lebih hebat lagi!]

Diposkan pada Rumah Kata :)

Sepulang Kerja

Pulang kerja tanah basah. Ternyata hujan turun sedari sore. Begitu kata bapak-bapak yang kebetulan lewat.

Benar sih, aku masih merasakan gerimis rintik-rintik jatuh di pipi dan tanganku. Melangkahlah kaki ini menuju halte busway.

Sepi. Oh mungkin karena sudah masuk libur akhir tahun. Sebagian besar penghuni Jakarta yang merupakan perantau mungkin mudik ke kampung halaman, atau mungkin juga liburan.

Aku menunduk, mengamati sepatuku yang basah. Aku tak suka sepatuku bercorak kotor seperti ini. Rasanya ingin lekas sampai di kosan saja.

Lima menit menunggu, busway yang aku tunggu datang. Syukurlah, masih dapat tempat duduk. Akhirnya bisa melakukan hal yang paling aku suka, melamun sepulang kerja di busway! Haha aneh ya? Tapi aku suka. Karena hanya ada aku dengan kecamuk pikiranku sendiri. Memikirkan apa yang sudah aku lakukan selama bekerja tadi. Atau memikirkan besok enaknya sarapan pakai apa ya? Banyak pokoknya! Terserah aku mau memikirkan apa. Orang lain nggak ada yang tahu karena nggak akan aku tuliskan disini.

Sampai di kosan, setelah mandi, shalat dan bebersih sejenak akhirnya tibalah waktu rehat. Tapi rupanya mata ini belum mau terpejam. Otak ini masih ingin berfikir.

Hmm. Padahal tubuh sudah lelah. Buktinya aku menguap beberapa kali.

Buka instagram, isinya orang-orang yang liburan atau kumpul bareng keluarga. Belum lagi foto-foto pernikahan teman atau keluarga kecil mereka. Buka twitter, yaa itu itu saja postingannya. Bosan.

Akhirnya buka laptop dan nonton film. Judul filmnya Love, Rosie. Bagus. Aku suka. Benar-benar cocok ditonton sama orang yang lagi patah hati.

What? Patah hati ya? Enggak sih… hanya saja… entahlah. Nggak bisa dideskripsikan dengan kata-kata.

Lebay? Ya biarin aja.

“Yang bisa kamu lakukan ya letting go. Melepaskan.. jangan dipaksa untuk bertahan jika kamu tahu akan menyusahkan dirimu sendiri. Ayo move on!” Nasihat seorang teman.

Move on sih.. tapi terkadang suka teringat kembali. Ya namanya juga kenangan. Terkadang sering datang tanpa diminta. Menyebalkan.

Di situasi aneh bin melelahkan seperti ini, temanku bilang begini,

“Nanti pasti sampai kok, tenang aja, ”

Terus aku berterima kasih karena sudah mau mendengarkan. Temanku yang baik, semoga kamu juga selalu semangat. Aku juga ingin bilang ke kamu,

“Tenang saja, nanti pasti sampai kok,”

Yang perlu kita lakukan adalah tetap mengayuh, tetap berjalan, tetap berlari. Dan untuk itu semua dibutuhkan mimpi-mimpi sebagai bahan bakarnya.

Ya semoga, suatu saat nanti… aku sampai.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari, Others

“Tukar Baju” untuk Menyelamatkan Bumi

Tanggal 8 Desember 2019 kemarin saya mengikuti acara Tukar Baju yang diselenggarakan oleh Zero Waste Indonesia bekerja sama dengan Green Peace Indonesia. Tukar Baju (IG: @tukarbaju_) merupakan salah satu kampanye dari komunitas Zero Waste Indonesia (IG: zerowaste.id_official) yang bertujuan untuk meminimalisasi limbah atau sampah tekstil. Kampanye yang mereka fokuskan adalah sustainable fashion.

Untuk mekanisme acara Tukar Baju sendiri adalah kita sebagai penukar atau yang disebut #TemanTukar membawa baju layak pakai kita yang ingin ditukar sebanyak maksimal 5 baju. Baju-baju ini harus melewati sesi kurasi untuk bisa lolos dari para kurator. Beberapa syarat baju yang ingin kita tukar adalah layak pakai, tidak ada cacat di baju, tidak bernoda atau kancing/resleting dalam kondisi baik (tidak rusak).

Sehari sebelum acara, saya mulai memilah baju-baju di lemari. Kebetulan memang saya mulai proses decluttering dimulai dari lemari pakaian. Dan taraaa ternyata hasil declutter pakaian mencapai dua box. Hadeuh, baru juga dua tahun di Jakarta 😂 kebiasaan ini karena sering beli baju karena lapar mata atau tergoda harga murah.

Setelah memilah, akhirnya ada 4 baju yang saya yakin masih layak pakai dan minim cacat. Semoga aja lolos kurasi hehe.

Esoknya, selepas dinas malam saya menuju ke tempat dimana acara Tukar Baju diadakan. Yaitu ke Museum Nasional. Ini juga pertama kalinya saya menginjakan kaki di Museum Nasional. Asyik deh, jadi nambah pengalaman jalan-jalan ke Museum. Tiket masuk Museum sendiri adalah 5.000 rupiah. Selanjutnya saya membayar biaya registrasi sebesar 10.000 rupiah.

Saat itu waktu menunjukan pukul 9.30 WIB dan ternyata antrian di depan booth Tukar Baju sudah panjang. Mereka pada datang jam berapa sih? 😂 saya kira jam 9.30 tuh masih pagi loh hehe.

Setelah proses registrasi, saya diberi nomor antrian dan dicap tangan sebagai tanda sudah terdaftar sebagai #TemanTukar. Saya mendapat antrian no. 24. Proses setelah ini adalah proses yang membuat hati resah dan gelisah. Yaitu proses kurasi! Yup, sebelum ditukarkan, baju-baju yang kita tukarkan harus melewati proses kurasi dulu. Saat nomor saya dipanggil, saya mendapat meja kurasi nomor 1. Kuratornya masih muda, mungkin usianya lebih muda dari saya. Satu persatu baju saya dilihat dan diperiksa secara detail. Perasaan lega saat baju nomor satu lolos kurasi. Baju ini adalah baju kenangan saat beli dengan gaji kerja pertama kali 🙂 kondisinya memang masih bagus karena jarang saya pakai dan selalu saya gantung. Baju nomor dua ternyata tidak lolos kurasi karena ada bagian baju yang serat kainnya menonjol. Wah padahal saya sendiri tidak sadar 😂. Baju nomor 3 yang saya donasikan adalah jenis outer. Warnanya tosca cantik. Salah satu kesayangan juga. Alhamdulillah lolos kurasi. Dan yang keempat adalah celana jeans. Karena saya memang sudah tidak memakai celana berbahan jeans lagi, daripada menggantung memenuhi lemari lebih baik saya tukarkan saja. Dan ternyata tidak lolos kurasi. Hiks sedihh. Alasannya karena ada benang yang menjuntai wkwk. See? Detail bangettt kuratornya. Dari 4 baju, yang lolos kurasi hanya 2 baju. Saya pun diberi koin kayu sebagai alat tukar. Oh maaf, terbuat dari batok kelapa ding, bukan dari kayu.

Ini adalah koin dari batok kelapa yang digunakan sebagai alat tukar

Saya pun masuk ke venue dan mulai memilih dua baju. Ada banyak baju-baju dengan kondisi yang masih baik. Baju-baju tersebut ditata sesuai dengan warna. Jadi gampang untuk memilih baju yang sedang dicari. Kami para #TemanTukar diberi waktu maksimal 20 menit di booth untuk mencari baju yang kita inginkan. Saya mulai berkeliling. Pilih celana, kemeja, outer, gamis dll. Ada banyak, jadi bingung sendiri hehe.

#TemanTukar yang asyik memilah baju

Selepas memilih, saya menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Dan koin tadi yang saya gunakan untuk membeli baju-baju yang saya pilih. Mudah bukan? Dapat baju baru, gratis pula 🙂 senaaang rasanya bisa ikutan acara ini. Selain lega karena bisa mengurangi isi lemari, dengan berpartisipasi di acara ini kita juga bisa mengurangi penumpukan limbah fashion lho. Oiya, baju-baju yang tidak lolos kurasi tetap bisa didonasikan di drop box dari Setali (IG: @setali.id) sebuah komunitas yang digagas oleh mbak Andien Aisyah untuk mengurangi limbah fashion.

Saya berjodoh dengan dua baju ini. Jenis knitwear dan tunic

Acara tukar baju ini berlangsung dari tanggal 7-8 Desember 2019 di Monumen Nasional. Komunitas Tukar Baju cukup sering melakukan kegiatan Tukar Baju, tidak hanya di Jakarta, namun juga pernah berlangsung di Jogja atau Bali.

Kuy, kalau ada waktu bisa ikutan 🙂