Diposkan pada Cerita Pendek

[Cerpen] : Untuk Sahabat

sahabat

Jam menunjukkan pukul 2 siang. Ponselku berdering, ada pesan masuk dari Vivi.

“Chita, udah lama nunggu ya? Lima menit lagi aku nyampe, macet nih,”

“Tenang aja Vi, aku lagi nggak buru-buru kok, aku tunggu di meja biasa ya,”

Aku memandang ke luar café. Ada banyak orang yang hilir mudik memasuki pusat perbelanjaan terbesar di kotaku. Mulai dari anak-anak, remaja, anak kuliahan sampai nenek-nenek dengan pengasuhnya lalu lalang di depan café dimana aku menghabiskan satu jam terakhirku. Ya, satu jam untuk menunggu Vivi.

Semalam gadis itu meneleponku, menangis. Dia tak banyak bercerita, hanya menginginkan aku menemuinya di café favorit kita. Aku setuju. Dan hari ini aku meninggalkan kelas dan kampusku. Untung saja aku tak ada jadwal mengajar. Urusan dengan mahasiswaku juga sudah aku cancel. Sore ini benar-benar aku luangkan untuk wanita berparas ayu ini.

Vivi tergopoh menghampiriku. Wajahnya yang cantik di usianya yang memasuki seperempat abad sangat kukenal. Wajah ayu khas puteri keraton dipadukan dengan kulit putih khas peranakan Eropa. Perfect!

“Maaf banget Chita, aku telatnya kebangetan. Ada deadline desain yang harus segera aku selesaikan. Mana macet pula,”

Aku tersenyum. Menyuruhnya memesan sesuatu sebelum obrolan kami berlanjut ke tahap yang lebih serius. Ya, ini hanya perkiraanku terkait dengan kejadian semalam. Tangisan Vivi.

“Jadi, apa kabar Bayu?” ia bertanya tentang suamiku.

“Baik sekali. Pagi tadi Ia baru terbang ke Zurrich, ada konferensi internasional disana. Yah, mungkin untuk 2 minggu ke depan aku bakal kangen wajah innocent-nya,”

“Hmm…Bayu memang selalu sibuk. Anak-anak gimana?”

“Aidil aku titipkan ke mama mertua, mumpung liburan. Apalagi ibu berharap banget bisa membawanya liburan ke Bali,”

“Si kecil?”

“Kau lupa ya, seminggu terakhir ibuku sedang liburan di Jakarta. Jadi, sekarang aku bisa tenang menemuimu,”

Vivi tertawa renyah. Entah kenapa, sejak pertama aku mengenalnya di bangku kuliah, aku suka sekali tawanya yang khas. Enak didengar dan bisa menimbulkan tawa juga.

“Gimana kabar Ario?” tanyaku basa basi. Ario pacar Vivi, seorang anak band. Dan entah kenapa, ia selalu bangga dengan profesi pacarnya yang masih serabutan ini.

Kulihat Vivi menggeleng. Wajahnya yang sumringah berubah mendung. Nah kan? Aku menemukan titik temunya. Pasti ini ada kaitannya dengan tangis Vivi di telepon kemarin.

Aku mengusap bahunya demi menunjukkan empatiku. Tangisannya bertambah kencang. Kali ini aku relakan ia memelukku erat. Dan mulailah cerita tentangnya mengalir. Lanjutkan membaca “[Cerpen] : Untuk Sahabat”

Iklan
Diposkan pada Cerita Pendek

[CERPEN] Menikahimu

wedding_06

“Nina, sepuluh menit lagi aku take off. Perkiraan subuh besok aku sampai di Jakarta,”

Yippie!! Aku berteriak senang saat membaca pesan dari mas Demas. Akhirnya Long Distance Relationship untuk sementara ini akan segera berakhir dalam beberapa jam. Aku segera membereskan meja kerjaku. Deadline laporan artikel untuk edisi bulan depan baru saja beres lima menit yang lalu. Aku menguap lebar.

“Nin! Payah banget sih, masih sore udah ngantuk!” Jossy menepuk kepalaku dengan common note nya.

“Ngopi ngopi yuk sebelum balik?” ajak cewek berdarah Sunda ini.

Aku mengernyitkan dahi. Tidak langsung meng-iya kan ajakan Jossy seperti biasanya. Besok adalah hari penting buatku, kalau malam ini begadang kan bisa telat jemput mas Demas di bandara.

Sorry ya Jossy-ku sayang, malam ini aku mau tidur cepet. Besok mau jemput Aa tercinta di bandara, hehe”

“Ah iye iye ngertilah gue. Yang bakal ketemu yayang..” Jossy menggodaku membuat beberapa rekan kerjaku yang memang sedang bersiap-siap pulang menoleh dan ikut-ikutan melancarkan celetukan-celetukan mereka.

“ Duh yang mau nikah mah bawaannya kangen melulu,” komentar Dede, editor majalah kami yang masih aja betah menjomblo padahal usianya jauh diatasku.

“Jangan lupa oleh-oleh ya Nin. Biasanya sih cokelat dari Swiss itu enak-enak loh,” mbak Ratih mulai mengkode soal makanan.

Aku hanya bisa tersenyum menanggapi mereka semua. Ah, waktu cepatlah berputar aku sudah kangen mas Demasku.

***

“Nin, sudah tidur? mas lagi transit nih di Singapur. Kamu nggak usah repot jemput ya, mas mau langsung pulang ke Purwokerto,”

Pelan-pelan aku baca whats app dari mas Demas. Hah? Gak usah jemput? Duh, kok mendadak banget sih bilangnya. Kenapa pula mas Demas cepet-cepet pulang ke rumah? Ada sesuatu kah dengan keluarganya?

“Kita ketemu dulu ya mas? Please. Aku kangen. Ibu bapak sehat kan?”

“Alhamdulillah semuanya sehat. Mas cuma pengin banget ketemu ibu sama bapak. Gpp ya, kita nggak ketemuan dulu bentar,”

Aku menghela nafas. Kecewa banget. Kulayangkan pandanganku pada sekotak red velvet kesukaan mas Demas. Semalam baru saja aku beli di bakery langganan kami. Kalau memang mas Demas pulang dulu ke Purwokerto pasti urusannya bakalan lama. Mas Demas tak pernah sebentar di rumah. Minimal 3 hari baru ia akan kembali bekerja di Jakarta.

***

“Demas berubah,” ucapku.

Jossy memandangku. Heran. Ia segera menyodorkan secangkir machiato.

“Nih, ngopi dulu baru cerita,”

Aku menyesapnya. Bau harumnya menguar menggoda selera.

“Dia nggak mau ketemu aku lagi,”

“Maksudmu?”

“Sepulangnya dia dari Swiss, sampai sekarang kita belum pernah sekali pun ketemu,” suaraku melemah.

Jossy terdiam.

“Pasti ada yang salah denganku ya Jo?”

Jossy mengelus pundaku tanda simpati. Sepertinya ia kehilangan selera untuk menggodaku seperti biasa.

“Pernikahan kita tinggal sebulan lagi. Banyak banget yang mesti kita omongin. Undangan belum beres, katering masih nggantung,gedung buat resepsi masih indent. tapi hampir dua minggu aku sama Demas belum sekali pun bertemu! Aku pusing Jo!”

“Komunikasi masih kan? Wa? Sms? Bbm?”

Aku mengangguk.

“Tenang Nin. Semuanya akan baik-baik saja. Gue yakin masalah lo sama Demas bakalan kelar. Gue bakalan bantu ngomong sama Demas ya?” Jossy menatapku.

“Nggak usah. Kalau sampai kamu tanya tentang ini ke Demas dia bakal ngira aku kekanakan. Masalah kayak gini aja harus bawa bawa Jossy. Dia kan selalu begitu Jo. Dia mengharapkan aku untuk lebih dewasa. But, thanks ya, kamu selalu ada kapan pun aku butuh,”

Jossy mengangguk. “That’s bestfriend means to do, right?”

***

Lanjutkan membaca “[CERPEN] Menikahimu”

Diposkan pada Cerita Pendek

[Cerpen] : Orang Asing

bunga pengantin

“Jadi, dia?” Kak Salwa melirikku.

Aku tertunduk. Kuberanikan diri untuk menganggukan kepalaku juga.

“Cantik,”

Kak Salwa tersenyum menggodaku.”Seleramu bagus juga, dik,”

***

Sudah seminggu sejak aku mengenalkan Rayya kepada kak Salwa. Ya, meskipun itu adalah perkenalan yang ilegal. Aku mengenalkan gadis itu saat kak Salwa mengisi kajian di fakultasku. Selain sibuk menjadi dosen di fakultas Psikologi, kakaku juga aktif sharing ilmu kepada kelompok-kelompok kajian di kampus.

“Assalamualaikum, kak, lagi sibuk ya?” aku masuk ke kamar kak Salwa. Kakak perempuanku satu-satunya itu menghentikan acara baca bukunya.

“Waalaikumsalam,cuma membaca ulang buku ini. ada apa? Tumben banget kamu nanyain kakak?” kak Salwa melepas kacamatanya. Sekarang ia benar-benar siap mendengar ceritaku.

“Kaak, aku bingung memulainya dari mana,” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku terlalu malu mengatakan ini semua.

Kulihat kak Salwa tersenyum lantas berjalan ke tumpukan koleksi buku-bukunya.

“Nih, kakak kasih pinjam ini. selesai baca ini kakak pengin tahu komentarmu,”

Aku menerima buku bersampul warna merah maroon itu dengan ragu-ragu. Di sampulnya tertulis, “Tentang Hujan dan Perasaan”. Lanjutkan membaca “[Cerpen] : Orang Asing”

Diposkan pada Cerita Pendek

Eleanor: Perempuan Senja

perempuan jingga

“Kamu sepertinya perlu refreshing,” kata Hendro kepadaku. Siang tadi saat jam makan siang hampir berakhir, ia mendapatiku sedang duduk melamun di dalam kubikelku. Aku tidak sedang mengejar deadline tugas, tidak juga sedang mengerjakan artikel tentang film terbaru yang harus aku resensi. Aku hanya sedang…pusing!

Ini adalah hari ke sembilan aku tinggal di Surabaya. Kota ini sama saja dengan Jakarta. Sama panasnya, sama macetnya. Mungkin yang membedakan hanya taman-taman di Surabaya terlihat lebih rapi dan hijau. Aku bisa dengan mudah menemukan anak-anak kecil atau muda-mudi yang tengah menikmati keindahan taman di kota ini, sesuatu yang jarang kutemukan di Jakarta. Kepindahanku ke kota ini memang atas perintah atasanku. Mantan petinggi sebuah partai politik-yang notabene adalah pemilik bisnis surat kabar terbesar di Indonesia. Beliau menginginkan aku untuk bergabung bersama tim kota Pahlawan agar semuanya bisa berjalan baik, sebaik yang dulu aku lakukan di Jakarta. Sebenarnya aku ingin menolak perintah ini. Alasannya sederhana, hanya karena kota ini adalah kota dimana kekasihku tinggal. Tidak, sebenarnya bukan kekasih, lebih tepatnya mantan kekasih.

Sore ini kuputuskan untuk mengunjungi tempat rekomendasi dari Hendro.

“Namanya Danau Air Mata,” ucap Hendro kepadaku siang tadi.

Letaknya memang lumayan jauh dari pusat kota. Hendro memberiku semacam peta sederhana agar aku tidak tersesat. Akhirnya, setelah hampir satu jam aku berputar-putar, kutemukan juga Danau Air Mata yang ia sebutkan.

Sesuai usul Hendro, aku datang tepat disaat senja mulai merona merah. Aku begitu terpesona dengan pemandangan di danau ini. Letaknya tepat di pinggir kota membuat tempat ini cukup tenang. Sejauh telingaku bisa mendengar, tak ada hiruk-pikuk jalan raya yang selalu membuatku kesal. Air di danau ini juga tenang. Warnanya kehijauan karena memantulkan rimbunan pohon yang berjajar di tepinya. Tetapi, saat senja seperti ini, warna hijau itu berubah menjadi merah. Ya, warna senja, merah seperti darah.

Disana, disebuah bangku berwarna merah maroon, duduk seorang gadis. Rambutnya panjang sebahu, ada jepit bergambar bunga menempel di atas telinga kanannya. Awalnya, aku tak begitu mempedulikannya. Paling-paling ia penikmat senja, sama sepertiku. Namun, setelah kedatanganku untuk yang ketiga kalinya, gadis itu masih disana. Seperti ia tak pernah beranjak seinchi-pun dari tempatnya duduk.

Meski tak kenal, aku menikmati kebersamaanku dengan gadis itu. Sepertinya, hanya aku dan gadis itu yang rutin mengunjungi Danau Air Mata. Terbukti, saat aku mengarahkan mobilku ke danau itu selama seminggu penuh, gadis itu selalu ada disana. Duduk di bangku panjang berwarna merah maroon. Diam dan terus menatap senja.

Aku tak pernah mengenal wajahnya secara detail, sampai suatu hari kuputuskan untuk mendekat ke bangku panjang berwarna merah maroon. Gadis itu, hmm lebih baik kuberi nama perempuan senja, masih duduk diam sambil menatap senja. Digenggamannya ada setangkai mawar, yang menurutku itu jenis primrose yang mulai layu. Setelah kuamati, ternyata ia cantik. Kulitnya putih, matanya sipit khas keturunan Asia Timur, dan bibirnya berwarna merah, meskipun aku tahu ia tak sedikitpun menyapukan gincu diatasnya. Ia suka sekali memakai baju model Sabrina, sehingga aku bisa leluasa mengamati bahunya yang bersih.

Dan seperti sore-sore berikutnya, kami masih mengaggumi senja dalam diam kami masing-masing.

Tentang Surabaya, aku tidak begitu kesulitan untuk beradaptasi dengan kota ini. Kontrakan yang aku sewa letaknya cukup strategis. Hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai di kantorku. Hanya saja, aku selalu teringat dengan kekasihku-maaf, mantan kekasihku bila menyantap semangkuk bubur ayam di Jalan Pahlawan.

Semangkuk bubur ayam ini makanan favoritnya. Dia, wanita yang dulu pernah menjadi kekasihku. Lanjutkan membaca “Eleanor: Perempuan Senja”

Diposkan pada Cerita Pendek

Lamaran (Cerpen)

tumblr_nj1buw0me61sz6g6zo1_500

“Sudah?” Laki-laki di depanku bertanya. Aku menggeleng cepat. Sedikit kesal, kurapikan kembali kertas-kertas hasil perjuanganku selama satu bulan.

“Sini aku bantu,” laki-laki itu menggeser duduknya. Berpindah dari kursi ke lantai. Duduk berhadapan denganku. Sebenarnya aku ingin menolak. Aku tak cukup bisa untuk bersikap biasa saja jika ia repot membantuku seperti ini.

“Ini gimana ya? Maksudnya aku harus menyusunnya seperti apa?” tanyanya.

“Susun seperti ini Mas,” aku memberinya contoh satu bendel laporanku.

“Ibumu kemarin telepon,”

“Telepon Mas Aji? Ngapain?”

“Biasa lah, nanyain kamu. Katanya akhir-akhir ini kamu suka lama balas smsnya dan jarang telepon ke rumah. Ibu tanya sebenarnya kamu sibuk apa,”

Duh, apa-apaan coba ibu ini, kenapa pakai acara telepon Mas Aji, kan sudah aku bilang kalau seminggu ini aku sibuk menyusun laporan kuliah kerja lapanganku.

“Maaf ya Mas,” entahlah, kenapa tiba-tiba aku meminta maaf pada laki-laki ini. Memangnya aku salah apa? Dan aku pasti tahu ia akan bertanya balik kepadaku.

“Maaf untuk apa?”

Nah kan, tepat sekali. Sekarang aku harus pandai-pandai menyusun kata.

“Membuat Mas Aji repot karena harus mengangkat telepon ibu,”

“Lintang, kamu berlebihan,” katanya.

***

“Lintang bisa keluar sebentar?” suara laki-laki itu di seberang telepon.

“Keluar?” jawabku bingung. Bagaimana tidak? Ini masih pukul 6 pagi, hari minggu pula. Aku harus keluar kemana?

“Aku di depan kos kamu, keluar sebentar ya?”

Aku meloncat dari tempat tidurku. Hei? Kenapa pula laki-laki ini sudah ada di depan kos pagi-pagi begini? Kemarin dia bilang, hari ini akan ke Jogja untuk urusan Rumah Sakit atau apapun itu aku tak begitu ingin tahu.

Aku mengenakan jilbab meran marun, rok panjang dan jaket.

Laki-laki itu sudah berdiri di depan mobilnya. Pakaiannya? Tentu saja rapi.

“Ada apa mas?” tanyaku.

Laki-laki itu tersenyum.

“Ini, kubawakan bubur ayam kesukaanmu,”

Aku terdiam. Bingung.

“Kaget ya? Tadi aku tiba-tiba ingat kemarin kamu bilang ingin sarapan sama bubur ayam, ya sudah aku bawakan ini untukmu,”

Sepertinya aku terlalu lama membiarkan bubur ayam itu menggantung antara diberikan dan diterima.

“Tak seharusnya Mas Aji repot-repot begini Mas, aku kan bisa beli sendiri nanti,” jawabku seraya menerima bubur ayam itu.

“Aku nggak merasa repot. Sudah ya, aku harus segera berangkat ke Jogja,”

Aku mengangguk. Masih saja diam. Aku bahkan tak sempat bilang ‘terimakasih’.

***

Lanjutkan membaca “Lamaran (Cerpen)”

Diposkan pada Cerita Pendek

FF: Serayu

serayu

Senja di tepian serayu selalu saja cantik. Itulah mengapa aku selalu menyukai tempat ini, resto Mercusii. Didirikan di tepian serayu, berbatasan langsung dengan hutan pinus yang mempesona berhasil membuatku betah berlama-lama duduk disini. Aku jadi teringat bagaimana dulu kita bertemu.
Bukan, bukan di resto ini. Kita bertemu di stasiun Lempuyangan. Gara-gara nasi pecel combrang yang dijual simbah di dekat pintu masuk stasiun. Dulu belum ada penertiban, jadi kita masih bisa leluasa makan beraneka macam jajanan, bukan?
“Tinggal satu nduk, tapi sudah duluan dipesan sama mas ini,” ujar simbah penjual pecel sambil menujukan telunjuknya ke arahku.
Aku dan kamu saling berpandangan. Lalu kamu tersenyum ke arahku. Aku yang tengah sibuk mencari recehan sedikit gusar. Aku tak enak hati kepadamu.
“Oh nggih sampun mbah, maurnuwun,” katamu, seraya mengangguk sopan ke arahku dan beranjak pergi.
“Tunggu! Kalau mau, ambil saja,” tawarku. Entah bujukan malaikat mana, aku bisa langsung berbaik hati kepadamu. Biasanya kan aku paling anti menjadi dermawan jika menyangkut pecel combrang favoritku ini.
Kamu menolak lembut pemberianku. Namun, sepertinya tergoda juga saat aku menyodorkan satu pincuk pecel combrang. Bau bumbunya yang menguar harum dari dalam pincuk tak mungkin bisa membuatmu menahan godaan untuk menyantapnya. Dan, mulai saat itu aku memanggilmu dengan nama, Hayu.
Hayu yang ayu. Begitu aku sering mengumamkan namamu. Tentu saja, hanya aku dan Tuhanku saja yang tahu. Ya, mungkin ditambah dengan cicak, kecoa, dan nyamuk yang menjadi penghuni kamar kosku yang sempit.
Ternyata Hayu asli Purwokerto. Satu kampus denganku. Cuma beda angkatan, ia lebih tua satu tahun dariku. Ah, kakak tingkat.
Gara-gara tragedy pecel combrang aku jadi akrab dengannya. Pernah kita duduk satu bangku di kereta pulang menuju Purwokerto. Saat melewati Serayu, Hayu selalu memekik senang.
“Itu kali favoritku, saat kecil dulu aku sering bermain di tepiannya,” ucapnya dengan nada gembira.
“Suatu hari temenin aku makan di resto itu ya. Aku ingin makan ditemani serayu yang ayu,” ia menunjuk sebuah resto di tepian Serayu
Ah, Hayu, yang ayu itu bukan hanya Serayu. Kamu malah seribu lebih ayu darinya.
***
Dan disinilah aku terdampar. Seusai adegan klimaks sabtu malam lalu. Sabtu malam yang seharusnya bertabur bunga malah berubah menjadi rekaman adegan sedih hiperbolis dariku.
“Maksudnya?” Hayu mengernyitkan alisnya.
“Ya, aku serius sama kamu Yu, aku ingin hubungan kita ke jenjang yang lebih lagi,” aku mencoba mengatakannya sebaik mungkin.
“Aku nggak ngerti,” Hayu memandangku.
“Aku mau kita..pacaran,”
“Hahaha..kamu bercanda Adri! Aku nyaman seperti ini,”
“Jadi?”
“Hmm…sudah terjawab kan?” Hayu memainkan anak rambutnya.
“Sudah ah, lebih baik kita pulang saja. Udah sore,”
Sekarang, jika aku memandang sungai itu, seketika aku merasa Serayu seribu kali lipat lebih cantik dari Hayu Prabawati. Gadis manis asli Purwokerto yang sebentar lagi akan menikah, ya, selamat untukmu Hayu. Semoga kamu bahagia.

#FF #ceritamini

Diposkan pada Cerita Pendek

Sudah, Sampai disini Saja

Aku tahu ini salah. Jelas sekali salah. Sudah larut malam dan aku belum juga sampai di rumah. Beberapa kali kulirik jam tanganku. Duh, sudah hampir pukul sebelas malam.

“Kenapa?” tanyanya heran.

“Dingin,” jawabku sekenanya. Tanganku sibuk mengaduk secangkir kopi. Tanpa aku sadari, dia sudah berdiri di belakangku, melingkarkan jaket di tubuhku.

“Terimakasih,” jawabku pendek.

“Kamu kenapa sih? Kok akhir-akhir beda banget,” Dia mencoba mencari tanganku yang aku lipat di bawah jaketnya.

“Cuma ingat Laura aja,” aku mencoba tersenyum. Akhirnya tangannya menemukan tanganku. Seperti biasa ia berubah romantis jika aku menyebutkan malaikat kecilku itu.

“Aku usahakan yang terbaik ya,”

Aku diam.

“Aku pikir apa yang kita lakukan ini salah,”

Dia memandangku.

“Bukannya kamu sudah tahu sejak memutuskan berhubungan lebih jauh denganku?”

Aku memandangnya. Kali ini, entah kenapa aku begitu takut memandang kedua matanya. Takut jika aku kembali terjebak dalam manik matanya yang selalu membuatku susah melupakannya.

“Sampai sini aja ya, sepertinya kita sudah terlalu jauh. Sepertinya bukan ini yang dulu aku inginkan,”

“Hanya sebatas teman kan?”

Aku mengangguk.

“Susah. Bagiku susah sekali untuk tidak mencintai wanita sepertimu,”

“Terimakasih, tapi aku ingin semuanya selesai, cukup sampai disini saja,”

“Kenapa?” ia semakin erat mengenggam tanganku.

Ah, andai kamu tahu, siang tadi istrimu menelponku. Ya, istrimu yang tak lain adalah sahabatku sendiri. Dia bilang kamu selingkuh dengan seseorang. Dia bisa lihat dari gelagatmu setiap pulang kerja. Dia tahu, istrimu sudah tahu. Dan yang lebih parah lagi, anak gadisku, Laura. Dia selalu bertanya-tanya kenapa aku selalu pulang larut dan kenapa aku mulai jarang mengunjungi makam almarhum ayahnya.

“Aku masih bisa mencintai dengan logis. Aku tak mau merusak semuanya. Semua yang sudah kamu bangun dan semua yang sudah aku miliki,”

Perlahan dia mulai melepas genggamannya.

“Dari awal aku tahu, aku pasti akan jatuh cinta jika bertemu denganmu. Ya, sejak istriku bercerita banyak hal tentang kamu. Dan semuanya benar,”

Aku mengembalikan lagi jaketnya.

“Mari kita pulang,” Laki-laki itu membimbingku ke mobilnya.

Asal kamu tahu, aku juga jatuh cinta kepadamu sejak istrimu bercerita banyak hal tentangmu. Dan, ternyata benar. Baik aku, maupun kamu ternyata membawa masalah untuk masing-masing diri kita. Lain kali, aku tak mau terperangkap dalam hatimu lagi. Rasanya, susah sekali harus melepas hati yang terlanjur terpaut, bahkan sebelum kedua manik mataku melihat sosokmu.

end-

diikutkan dalam #FF2in1 NulisBuku

Diposkan pada Cerita Pendek

Januari

Pukul lima sore.

Mendung masih menggantung di Langit Jakarta. Satu persatu teman-temanku mulai membereskan meja kerjanya.

“Naya, pulang dulu ya. Kamu jangan kebanyakan lembur, kasihan tuh tubuh kamu,” nasihat mbak Hida sebelum menuruni tangga menuju lobbi kantor. Aku hanya mengangguk sopan.

“Nay, kamu nggak pulang?” kali ini suara bariton Harlan yang mampir ke kubikelku. Aku menggeleng seraya memberi tanda jika masih ada setumpuk kerjaan yang harus selesai malam ini.

Ruangan kantor mulai lengang. Aku masih berusaha konsentrasi dengan tumpukan artikel yang harus aku edit.

“Naya,” Dimas mendekat ke arahku. Ditangannya dua cangkir kopi mengepul menebarkan bau harum. Aku menghentikan aktivitasku. Setiap laki-laki ini berada di sekitar kubikelku, hatiku selalu kebat-kebit. Aku memang sudah lama menganggumi sosok lelaki ini. Lelaki dengan senyum paling manis di dunia.

“kamu belum pulang?” tanyaku tanpa menoleh sedikitpun. Aku takut melakukan hal-hal yang tak seharusnya jika harus bersitatap dengannya.

Ia menggeleng. “Mau nemenin kamu,”

“Aneh, nggak biasanya kamu begini. Ngga ada acara sama Diandra?” duh, pertanyaan ini keluar begitu saja. Menyebutkan nama wanita itu sebenarnya juga sudah membuat perutku mulas.

“Nggak, kita udah bubar. Kita putus, 1 Januari yang lalu,”

Aku melongo. Dimas tersenyum ke arahku.

“Jadi?”

“Tahun baru, cinta baru juga kan? Pas!” Ia tertawa. Matanya yang sipit menyisakan dua garis memanjang yang semakin membuatku gemas. Laki-laki ini paling bisa menyembunyikan kesedihan. Aku tahu, tahu sekali jika ia sangat kehilangan Diandra.

“Memangnya kamu sudah punya hati yang baru?” tanyaku. Berharap cemas sebuah jawaban yang bisa merubah malam overwork-ku ini.

“Iya, sejak satu jam yang lalu. Gadis pecandu kopi, cewek hard-worker yang paling aku kenal tiba-tiba saja membuat kupu-kupu kembali berterbangan di perutku,”

Lelaki itu meletakan secangkir kopi di mejaku.

“Kopi terakhir, habis ini dinner yuk!”

end

diikutkan dalam #FF2in1 Nulisbuku

Diposkan pada Cerita Pendek

Lampion Cinta di Kota Jogja

Hujan mengguyur Semarang sejak satu minggu yang lalu. Aku menatap lamat-lamat jalanan di sepanjang Simpang Lima. Masih seperti satu jam yang lalu, hujan belum juga reda.

“Bentar lagi pasti macet, pulang yuk!” ajak Renita. Secepat kilat ia menghabiskan cappuccino late-nya.

“Udah jam empat sore nih,” tambahnya.

Aku melangkah menuju kasir dan membayar semua bon pesanan kami. Hari ini aku berjanji menraktir Renita.

“Makasih ya Sya untuk traktirannya. Sering-sering aja tuh tulisanmu di muat lagi di majalah, kan aku juga yang seneng,”

“Doain aja deh Ren, tahun depan masih suka nulis dan nggak kehilangan inspirasi,”

“Pasti dong! Apa sih yang nggak buat my truly bestfriend Anastasya Tamrin,”

Renita mengambil kunci mobil dari tas Buccherinya.

Pip! pip!

Kami masuk ke dalam Honda jazz putih kesayangan sahabatku ini.

“Sya, malem tahun baru besok udah ada rencana kemana gitu belum?”

“Kenapa?”

“Ya, Tanya aja Sya soalnya aku kayaknya nggak bakal bisa nemenin kamu melewatkan pergantian tahun,”

Aku sudah bisa menebak, Renita pasti anak pergi bersama Jay, kekasih barunya.

“Brian jadi ke Semarang kan Sya?”

“Mmm..ngga tahu deh Ren. Eh, aku langsung pulang ke kos aja ya Ren,”

Renita menatapku curiga. Tanpa banyak bicara ia meluncurkan mobilnya menuju kosku di daerah Tembalang.

***

“Jadi kan besok ke Semarang?”

“Aduh, sayang, bukannya aku nggak mau nonton recital itu bareng kamu, tapi kerjaanku numpuk. Minggu depan juga udah ujian semester,”

“Jadi?”

“Aku nggak berani janji. 99% aku nggak bisa,”

“Oke,”

Aku hempaskan badanku di atas kasur. Kamar 3×4 meter ini jadi terlihat semakin sempit saja. Fiuuh…apa yang harus kulakukan? Nggak mungkin aku menghabiskan malam tahun baru seorang diri di kamar kos sempit ini. Mau pulang kampung? Jarak Semarang-Jakarta itu nggak dekat. Lagian, di rumah, mama dan papa juga sibuk semua. Mau nyusul adik yang kuliah di Malang? Duh, aku nggak mau rusuh di kamar kosnya. Dia pasti juga sedang sibuk menyiapkan ujian semester.

“Hah? Brian nggak jadi ke Semarang? Seberapa sibuknyakah cowok kamu Sya?” Renita teriak-teriak di telepon saat aku bilang Brian meng-cancel rencananya main ke Semarang.

“Maklum lah Ren, tahun ini dia sibuk ngurus TA,”

“Terus rencanamu apa Sya?”

“Nyusul Brian ke Jogja!”

“Hah? Jahat banget sih kamu ke Jogja tanpa aku?”

“Lah, mau gimana lagi? Kamu kan sibuk sama pacar barumu,”

Renita kembali protes dengan rencanaku ke Jogja.

“Sebagai permintaan maafku, aku kasih dua tiket free nonton Recital pergantian tahun baru ya. Bisa kamu gunakan bareng Jay,”

“Hahh! Kamu gila ya Sya. Recital itu kan impianmu sejak bulan lalu? Aku cariin temen deh biar kamu bisa nonton,”

“Nggak Ren. Aku cuma mau ditemenin sama Brian tapi dianya nggak bisa. Santai aja lagi, itu tiket juga dikasih gratisan sama tanteku,”

“Tapi, lusa tanggal 1 Januari, kamu ultah Sya! Masa’ sih Brian tega banget sama kamu? Terus, kalau aku pengin kasih surprise ke kamu gimana?”

Renita selalu sibuk memikirkanku. Ah, sudahlah lebih baik aku sudahi saja percakapanku ini. Kepergianku ke Jogja bukan semata-mata rasa kangenku dengan Brian. Ini lebih kearah, mau berakhir dengan cara apa hubungan kami yang sudah semakin rumit ini. Sepanjang Desember ini Brian sepertinya mulai berubah. Mulai dari  sms yang jarang dibalas, telepon yang tak diangkat, bbm yang cuma di-read atau mensen twitter yang cuma dia retweet. Entahlah, aku yakin ada sesuatu di balik perubahan sikapnya.

“Oke, gue jemput di stasiun Tugu ya! See you soon in Jogja,” suara Abel melengking keras di handphoneku. Ah, itu anak memang belum berubah sejak SMA. Tiga tahun duduk satu meja dengannya sepertinya cukup bagiku untuk mengenal karakter Abel yang meledak-ledak dan serba spontan itu. Kami sahabat yang cukup dekat sejak SMA. Namun, nasib membawa kami di dua kota berbeda. Aku diterima di jurusan ilmu komunikasi di salah satu universitas negeri di Semarang, sedangakan Abel diterima di international relation di universitas negeri terbesar di kota Jogja.

Sekarang aku dalam perjalanan menuju Jogja. Di stasiun Tawang kota Semarang. Kukirim pesan singkat untuk Brian.

Hari ini aku ke Jogja. Semoga bisa bertemu disana.

Send.

Tiga jam perjalanan dari Semarang-Jogja membuat perutku sedikit kembung. Sepertinya aku mabuk darat. Stasiun Tugu memang tak pernah sepi. Aku tengok kanan dan kiri mencari sosok Abel. Namun tak ada sosok cewek bermata sipit itu. Aku putuskan untuk mampir sejenak di cafe sekitar stasiun.

Hot chocolate selalu bisa memperbaiki perasaan tak nyaman di perutku.

Hi, Asya, sorry for coming late. 5 menit lagi gue nyampe, tunggu ya!

Aku asyik mendengarkan 22-nya Taylor Swift saat Abel menepuk pundaku.

How’s your travel? First time ya ke Jogja,” suara cempereng Abel selalu ceria seperti biasa.

“Iya, first time pergi sama kamu. Lupa ya, aku kan pernah sekolah disini jaman SD dulu,” aku dan Abel tertawa.

“Yuk, langsung ke kosku aja atau mau main-main dulu?”

“Ajak aku ke kampusmu!”

Seharian Abel mengajakku keliling Jogja. Muter-muter di kampusnya yang super keren, makan gudeg Jogja di sekitaran UGM dan berburu cinderamata di Malioboro dan Kasongan.

“Jangan bilang lu kesini mau ketemu Brian,” selidik Abel sambil menyantap steak sapi lada hitam favoritnya.

“Kalau iya kenapa?”

“Yah gue kecewa..gue kan penginnya lu kesini cuma mau nemuin gue. Kalau gini caranya gue cuma jadi tempat transit lu doang nih,”

“Haha tenang aja kali Bel, aku juga kangen kamu kok,”

“Lu sama Brian baik-baik aja kan?”

Aku menggeleng. “Sepertinya kali ini aku mau bener-bener Tanya ke Brian apa yang membuatnya berubah akhir-akhir ini,”

Did you think, he has an affair?”

Maybe,”

“Terus?”

“Ya kalau masih bisa lanjut ya aku lanjutin, kalau enggak ya mau gimana lagi,”

“Sabar ya. Mungkin dia lagi sibuk aja Sya. Tau kan, dia kuliah di fakultas teknik yang terkenal sama kesibukannya. Gue aja suka ngeri liat temen kos gue yang jurusan teknik sipil, tiap hari pulang pagi, begadang di kampus buat ngelarin maket atau apa lah. Belum lagi kuliah dan tugas-tugas lagi,”

“Semoga aja begitu. Ironis banget nggak sih Bel? Disaat orang-orang mengawali tahun dengan sukacita kok aku malah sedih begini,”

“Udah lah Sya, daripada lu sedih gini mending nikmati aja liburan lu. nanti malam mau ikut nggak nonton festival lampion di Parangtritis? Kita tahun baruan disana,”

“Mm..sebelumnya aku mau ke kos Brian dulu ya Bel,”

“Mau gue temenin?”

Aku menggeleng. Jarak kosan Abel dan Brian hanya sepuluh menit dengan berjalan kaki karena terletak di komplek kampus. Tiba-tiba saja aku ingin bertemu dengan Brian. Smsku tadi pagi belum dia balas juga. Jika memang harus berakhir, aku harap hubungan kita bisa berakhir dengan baik.

Kosan berwarna hijau muda itu terlihat sepi. Sudah lebih dari lima kali aku main kesini tapi masih saja canggung jika harus masuk kosan cowok.

“Mba Asya!”

Aku menoleh. Ternyata Gilang, adik kos Brian yang kebetulan satu kamar dengannya. Sepertinya ia baru pulang dari membeli sesuatu.

“Cari mas Brian ya?”

Aku mengangguk. “Di kos nggak lang?”

“Nggak mbak. Barusan pergi, kira-kira sepuluh menit yang lalu. Akhir-akhir ini mas Gilang memang sibuk banget. Maklum mba, mahasiswa tingkat akhir,”

“Mari masuk dulu mbak,” ajak Gilang. “Kebetulan aku baru beli batagor nih, enak loh mba,”

Aku memasuki kamar Brian. Kamar ini masih sama dengan kamarnya satu tahun yang lalu. Terakhir aku menghabiskan waktu di kamar ini sambil menunggu Brian selesai kuliah. Selama 4 jam aku habiskan dengan bermain game.

“Mas Brian tuh orangnya rapi banget mbak, aku sampai nggak enak hati kalau pulang kuliah dan langsung rebahan di kasur. Mas Brian suka beres-beres soalnya,”

Kususuri sudut-sudut kamarnya. Meja belajarnya masih rapi seperti biasa, sesibuk apa pun dia. Fotoku? Mana fotoku yang biasa ia pajang di meja belajarnya? Hanya pigura kosong yamg tersisa. Dadaku langsung sesak. Mungkinkah ia sudah menemukan penggantiku? Secepat itu kah? Semudah itu kah?setelah basa-basi ala kadarnya dengan Gilang, aku segera pamit. Entah kenapa aku mulai enggam untuk bertemu Brian.

Sore ini Jogja mendung. Perayaan tahun baru nanti malam sepertinya akan ditemani rintik hujan dan udara dingin yang menusuk tulang. Apalagi jika Abel jadi mengajaku menonton festival Lampion di Parangtritis. Siap-siap saja membawa jaket dan sepatu.

Abel bersorak gembira saat aku bersedia ikut dengannya ke perayaan pergantian tahun di Parangtritis. Selepas Isya kita bersiap-siap menuju pantai paling terkenal di seantero Jogja ini.

“Tapi kita naik motor ya Sya! Nggak papa kan? Sorry banget nih kamu yang biasa naik mobil harus repot bonceng,” dengan tampang kurang enaknya Abel menyuruhku memakai helm.

“Tenang aja Bel, di Semarang kadang aku bonceng juga kok,”

“Terus, kabar Brian gimana Sya?”

“Aku lagi malas ngomongin Brian. Berangkat sekarang aja yuk!”

Abel mengangguk walau aku tahu ada seribu pertanyaan di benaknya mengenai hubunganku dengan Brian. Maaf Bel, kali ini aku tak berminat membahas hubungan ini dengan siapapun. Aku lebih suka membaginya dengan diamku.

Sama seperti Abel, Renita juga terus-menerus memantau kondisiku. Cewek blasteran Jawa-Manado itu tak henti-hentinya menelponku. Padahal aku tahu sekarang pasti ia tengah menikmati red velvet favoritnya di salah satu cafe elit di kota Atlas dan dilanjutkan dengan menonton recital di hall salah satu hotel ternama di Semarang.

Perjalanan dari kosan Abel menuju Parangtritis cukup memakan waktu. Aku sampai kedinginan diterpa angin Jogja.

Suasana pantai Parangtritis ramai sekali. Warga Jogja seperti tumpah ruah disini. Pasti mereka tidak mau melewatkan pergantian tahun hanya lewat televisi. Lampion-lampion cantik beraneka warna mulai disiapkan.

“Kamu mau satu? Kita bisa beli loh,” ajak Abel. Aku menggeleng.

Aku asyik mengamati sebuah lampion berwarna merah saat sekelompok pengunjung, yang kupikir mereka mahasiswa menghampiri Abel. Benar juga, mereka pasti teman-teman Abel. Sebelum berangkat tadi, Abel bilang hendak bertemu teman-teman kampusnya.

“Asya! Sini!” Abel memanggilku.

“Kenalin Sya temen-temen gue dari pecinta Alam,”

Abel memperkenalku dengan teman-temannya. Kebanyakan dari mereka adalah cowok. Abel memang tak berubah sejak SMA dulu, kawan laki-lakinya selalu lebih banyak dari kawan perempuannya.

“Sya, lu mau ikut nggak? Liat Bobby nyiapin lampionnya, kita mau merapat ke pantai nih, ikut yuk!”

Aku menggeleng.

“Ya udah deh Sya, enjoy your night ya. Kalau udah bosen nyusul kita aja. Oh iya, jangan pergi jauh-jauh!” ia pun segera berlari menyusul teman-temannya.

Aku hanya ingin menyendiri sejenak. Aku ingin mendinginkan hatiku yang sedikit panas ini. Diantara ratusan orang yang memadati Parangtritis, adakah salah satunya Brian? Atau malah ia tengah mengahbiskan malam tahun barunya bersama seseorang di tempat lain?

Rambut panjangku berdesir-desir tertiup angin malam. Ah, pantai, selalu saja indah walau di malam hari sekali pun.

“Sendirian?”

Aku mendongak. Kulihat cowok berkacamata ikut duduk di sebelahku.

“Boleh gabung?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Dari luar Jogja ya?”

“Kok tau?”

“Ya iya lah, hampir dua puluh tahun jadi anak Jogja, aku tahu mana warga asli, mana warga perantauan. Dari bau keringatnya ketahuan,” dia terkekeh. Aku mencoba tersenyum untuk menghormati leluconnya yang aku pikir nggak lucu.

“Kenalkan namaku Angin,” cowok itu mengajakku bersalaman.

“Asya,” balasku. Angin tersenyum kepadaku. Ia lalu merebahkan badannya diatas pasir.

“Baru putus ya?”

Aku terdiam.

“Heran, aku ndak pernah ngerti sama pemikiran cewek jaman sekarang. Ditanya baik-baik kok malah diam gitu,”

“Bukan urusan kamu kan?” balasku sengit.

“Sekarang jadi urusanku,”

“Kenapa?”

“Karena aku sudah duduk di dekatmu dan kita udah mengenal nama kita satu sama lain,”

Aku menegadah menatap langit Jogja. Gerimis kecil masih enggan pergi.

“Jatuh cinta itu memang mudah. Mudah banget malah. Tapi ya gitu, dua insan yang jatuh cinta terus mereka memutuskan untuk pacaran. Namanya juga pacaran, pasti banyak suka dan dukanya. Ketemu duka dikit, eh langsung putus. Yang cewek nyalahin cowoknya, kurang perhatian lah, nggak peka lah, punya selingkuhan lah. Nah, yang cowok juga nyalahin ceweknya, bilang kalau cerewet banget lah, suka ngatur lah. Yah, padahal sebuah hubungan itu harusnya saling melengkapi. Jangan asal tuduh, bicarakan berdua semua masalah yang ada. Have a relation is about to give. Kita nggak boleh menuntut diberi tapi teruslah berusaha untuk memberi,”

Angin menatapku. Matanya yang jenaka mencoba menggali lebih dalam kesedihanku.

“Bagaimana?” tanyanya. “Agak baikan sekarang?”

Aku masih terdiam. Mencoba mencerna kembali kata-katanya.

“Aku pamit ya. Apa pun masalah yang kamu punya dengan cowok kamu coba deh diselesaikan dengan baik. Have a nice new year eve!” seperti namanya, secepat kilat laki-laki itu menghilang dari pandanganku.

Relation is about to give. Jangan pernah menuntut untuk diberi, tetapi berusahalah untuk selalu memberi,” kalimat terakhir Angin kembali terngiang di telingaku.

“Asya!” Abel memanggilku. Tangannya melambai menyuruhku mendekat.

Aku berlari menuju bibir pantai.

“Cepat! Sebentar lagi lampionnya dilepas. Kita bakalan hitung mundur menuju 2014,”

Aku memegang lampion berwarna putih milik Abel.

“Pegang ya Sya! Aku yang bakal nyalain apinya,”

20..19..18..17..

“Sya, make a wish-mu di tahun 2014 yang pertama kali apa nih?”

16…15…14…

“Bisa sehat terus, lancar kuliah juga,”

13..12…

“Mau ketemu Brian nggak?”

Aku mengangguk

11…

“Aku kangen juga Bel sama dia,”

10…

“Sekarang aku sadar ternyata selama ini aku banyak menuntut perhatiannya tanpa pernah mau memberi lebih,”

9..8…7..

“Aku mau minta maaf Bel,”

6..5..4

“Gue kabulin sekarang ya Sya,”

3…2…

“Kita terbangin bareng ya,”

Suara itu..sepertinya aku mengenalnya.

1…

“Selamat ulang tahun my love, Anastasya Thamrin,”

Suara itu..aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya tangis yang pecah bersamaan dengan ledakan kembang api, tiupan terompet dan lampion-lampion yang terbang mengangkasa.

Brian mendekat ke arahku.

“Jangan nangis Sya, aku minta maaf banget udah cuekin kamu sebulan ini. Aku memang jahat ya Sya. Kamu boleh lakuin apa yang kamu mau. Aku siap,”

Aku terisak.

“Peluk aku,”

“Apapun alasan kamu, aku punya satu permintaan. Tolong, jangan pergi lagi,”

Aku merasakan pelukan Brian semakin kencang. Dari kejahuan, samar-samar kulihat Angin menerbangkan lampionnya. Lampion paling cantik diantara lampion lainnya. Ia tersenyum kepadaku. Belum sempat aku membalas senyumnya, kerumunan orang kembali menghilangkan sosoknya yang misterius.

“Sya, mau bantu aku?”

Aku melepaskan pelukanku. Brian mengusap air mata yang terlanjur membasahi pipiku.

“Terbangin lampion lagi yuk,”

Aku mengangguk.

Malam itu aku puas menerbangkan lampion-lampion bersama Brian. Entah kenapa lampion-lampion kita terlihat lebih terang dari lampion lainnya.

Abel berlari mendekatiku.

“Selamat ulang tahun Asya! Aku hadiahkan Parangtritis dan Brian untukmu. Surprise khusus dari aku featuring Brian!”

Aku peluk sahabat terbaiku itu. Kali ini, giliran Renita sibuk menghubungiku. Ah, Tuhan terima kasih sudah memberiku sahabat-sahabat terbaik.

“Brian!”

Laki-laki itu menoleh. “Kenapa Sya?”

“Aku baru sadar, ternyata malaikat bisa juga berwujud manusia,”

Ia tersenyum. Manis sekali. Kuacak rambut ikalnya.

“Dan aku juga baru sadar, bidadari surga ternyata ada juga di pantai Parangtritis,”

 selesai-

diikutkan dalam lomba #Nuliskilat @_PlotPoint dan @Bentangpustaka

 

 

 

Diposkan pada Cerita Pendek, Rumah Kata :)

Untuk Melati

“Selamat pagi Melati! Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyakah?” sapa kumbang kepada sepucuk melati yang baru saja merekah di pagi hari. Melati yang cantik menguap lebar.

“Nyenyak sekali tuan kumbang. Pagi ini aku merasa segar,”

“Dan, seperti biasa kamu terlihat cantik,” kumbang menari-nari menggoda di atas Melati. Sungguh, aku sebal melihatnya. Kenapa kumbang begitu dekat dengan Melati? Dan kenapa Melati selalu terlihat cantik setiap hari?

“Angin, hei angin. Kesini sebentar,” pintaku pada Tuan Angin yang baru saja berhembus tepat di depanku.

“Ada apa kawan? Kau terlihat gelisah sekali,”

“Angin, kamu mengenal Melati?”

“Tentu saja. Seluruh penghuni taman ini mengenal si cantik Melati,”

“Bisakah kau membantuku? Berikan kabar apa saja mengenai dia,”

“Baiklah kawan. Sepertinya aku mengerti maksudmu,” Tuan Angin terkekeh demi melihat wajahku yang memerah.

Mulai saat itu, setiap Tuan Angin datang ia pasti membawa kabar tentang Melati. Tentang dirinya yang bertambah cantik dari hari ke hari. Tentang Melati yang selalu mewangi.

“Dan sepertinya kumbang menyukai Melati. Setiap hari ia pasti hinggap di sekitaran Melati,”

“Apa yang kumbang lakukan?”

“Tentu saja menggodanya,” jawab Tuan Angin. Ia menatapku penuh simpati.

“Katakan saja, kalau kamu menyukai Melati juga,” perkataan Tuan Angin sontak membuat wajahku kembali memerah. Aku malu.

“Jika kamu mau, akan kusampaikan salam darimu untuknya,”

Aku menggeleng cepat. Tidak, aku tak seberani itu untuk bilang kepada gadis secantik melati.

“Mungkin kamu memang harus berfikir ulang, kawan. Esok hari aku akan kembali dan menawari hal yang sama. Semoga engkau berubah pikiran, kawan. Ya, selagi kesempatan itu masih ada,” Tuan Angin menatapku dengan tatapan bijaknya. Lantas ia pergi berhembus menuju utara.

Aku termenung dalam diam. Rintik-rintik hujan kembali membasahi taman ini. Aku teringat Melati, pasti ia kedinginan. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Disini tempatku ini aku juga meringkuk kesepian.

Esoknya, aku terbangun dengan perasaan tak karuan. Aku rindu Melati. Aku ingin berkenalan dengannya. Hari itu, kutunggu Tuan Angin datang. Namun, hingga berhari-hari ia tak berhembus ke tempatku juga. Ah, padahal sudah kusiapkan kata-kata indah untuk Melati. Biar Tuan Angin saja yang menyampaikannya.

Hingga akhirnya kudengar dari Nona kupu-kupu yang kebetulan terbang diatasku, hari itu Melati telah tiada. Dipetik oleh seorang pengantin muda tadi pagi.

Aku si rumput teki hanya bisa menangis sedih.

Diikutkan dalam #FF2in1 Nulis Buku