Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Melewati Batas 25

Hai, halo, lama ya rasanya tidak bercakap di rumah ini. Beberapa bulan ini memang sedang puasa nulis blog dulu. Ntah mengapa sebenarnya banyak sekali yang ingin ditumpahkan di rumah ini, tapi selalu kalah dengan kemalasan dan alasan ‘sibuk’ lainnya. Untuk sibuk sih sebenarnya nggak sibuk sibuk banget. Rutinitas seperti biasa, kalau lagi libur kerja ya main atau tidur. Atau berkunjung ke rumah saudara, main sama ponakan atau nongki nongki cantik demi melepas penat.
Dan sore tadi baru saja saya mendapat kabar jika salah seorang sahabat akan melangsungkan akad nikah setelah lebaran. Kaget dong saya ya! Secara dia nggak pernah share apa pun, lagi dekat sama siapa atau tanda-tanda mau menikah lainnya eeh tiba-tiba jeng jeng dapet undangan di grup kesayangan kalau sahabat saya yang baik ini akan menikah. Benar-benar deh bisaaa aja kasih surprisenya ๐Ÿ˜„. Selain sahabat saya, beberapa undangan pun bermunculan. Mulai dari teman SMP, SMA sampai kuliah. Mulai tuh undangan nikah berdatangan kembali. Jikalau menilik dari pertemanan jaman SD kayaknya tinggal tersisa tiga orang cewek yang belum meniqa dalam lingkup pertemanan saya. Dan di dalamnya ada saya hahaha. Kalau teman-teman SD memang kebanyakan nikah muda karena selepas SMP/SMA kebanyakan memilih untuk bekerja dan hanya beberapa yang melanjutkan kuliah. Nggak kebayang ntar kalau ada reuni SD pasti lah hampir semuanya sudah bawa suami dan anak. Terus aku enaknya bawa siapa yaaa? ๐Ÿ˜‚.
Beberapa kawan juga sudah mengusik dengan pertanyaan, “Mana calon?“, Kapan nikah?, ” sampai petuah-petuah” Jangan keasyikan kerja, ntar lupa nikah, “. Ooh tunggu dulu, kalau keasyikan kerja sih kayaknya nggak ya. Wong saya anaknya nih biasa biasa aja engga terlalu ngoyo sama pekerjaan. Mungkin saya keasyikan menghabiskan duit gajian. ๐Ÿ™ˆ
Dalam kurun waktu dua tahun ini, memang hampir sebagian besar teman-teman saya melangsungkan pernikahan. Yha, menurut saya wajar saja sih karena usia kami sudah memasuki 25 tahun. Heheu. Usia yang katanya ideal untuk menikah. Dulu saat SMA, saya membayangkan akan menikah paling telat usia 25 tahun karena doktrin dari Ibu jika menikah tak boleh lebih dari usia 25 tahun. Katanya kalau melewati itu prioritas seseorang semakin berubah dan makin banyak kriteria dan syarat seseorang tentang jodohnya (oh ya?) . Kemudian pertengahan masa kuliah saya perpanjang deh tuh tenggat waktu. Usia 27 lah batas akhir nikahnya. Karena dulu bayangan saya usia 27 tuh udah kelar pendidikan sampai S2. Udah tenang kan ya. Eeh ternyata sekarang bentar lagi memasuki usia 27 tahun dan aku masih gini-gini aja ๐Ÿ˜‚. Nikah belum, S2 juga belum. Modyaaar nggak tuh. Hahaha. Satu persatu planning dari jaman kuliah ini tergeser. Ya, gimana lagi waktu itu sebenarnya sudah ada kesempatan S2, tapi ada panggilan kerja. Tahun berikutnya mau coba lagi, eh ada penerimaan CPNS hingga akhirnya jadi rejeki dan mengharuskan re-schedule total planning pendidikan saya.

Sekarang sudah melewati batas usia 25 tahun. Makin sering ditanya “Kapan? “. Baik oleh orang tua (terutama Ibu tercinta), saudara dan para tetangga dan juga rekan kerja. Iyaa! Rekan kerja yang hampir tiap hari ngomporin buat segera melepas masa lajang. Ooh tidak. Kadang mbatin, ngapain sih ini orang-orang pada ngurusin jodoh saya? Terus mikir lagi, mungkin ini sebagai perwujudan dari doa mereka ya. Atau setidaknya kekepoan yang diungkapkan dengan sengaja. Bagi saya sih, cukup hadapi dengan senyuman saja meski dalam hati perasaan saya ambyar ๐Ÿ’”.
Melewati usia 25 tahun rasanya banyak hal-hal baru yang muncul terkait menikah atau pun tentang pasangan hidup atau pun tentang permasalahan kehidupan yang lain. Saya banyak melihat fenomena teman yang semasa sekolah/kuliah pacaran sama siapa, ujung-ujungnya nikahnya sama siapa. Benar jika jodoh itu urusan masing-masing individu dengan Allah swt.

Bulan Ramadan ini pun banyak dikasih tahu dari sodara (thanks to mbak kembar) tentang doa-doa minta didekatkan jodoh. Berdoa? Tentu saja iya. Saya yakin sekali akan kekuatan doa. Namun tak ingin cepat-cepat, biarlah ia datang di waktu yang menurut Allah adalah yang paling tepat :).

Saya ingin mengucapkan selamat untuk sahabat (yang namanya belum bisa saya sebut sampai akad terucap ๐Ÿ˜). Semoga urusan kalian dalam menyegerakan kebaikan ini dilancarkan dan dimudahkan. Semoga saya dapat jadwal libur sehingga bisa kondangan ke Oslo. ๐Ÿ’•

Catatan ini ditulis di kereta Taksaka dalam perjalanan pulang menuju kota Purwokerto tercinta. Maaf jika postingan ini sarat akan nuansa curhat. Karena inilah sebenarnya latar belakang lahirnya Layang-Layang Sore. Iya, sebagai tempat membuang kepenatan pikiran dan perasaan alias curhat tipis tipis ๐Ÿ˜†.

Dulu saat ibu dan kakak belum mampir di blog ini, curhat tuh rasanya mengalir saja. Tapi sekarang kadang kakak suka ngintipin postingan saya. Begitu pun ibu. Haha khan jadi maluuuu. Ntar kalau ketemu di dunia nyata jadi dibahas deh. Heeu. Sepertinya saya butuh lapak baru yang benar-benar tidak terjangkau oleh mereka ๐Ÿ˜„

Oh iya bagi teman-teman semua, Selamat menyambut hari raya idul fitri yaaa semoga keberkahan selalu menyertai kita ๐Ÿ˜Š yang mau mudik hati-hati di jalan, semoga selamat sampai bertemu dengan keluarga tercinta โค๏ธ.

Iklan
Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Sore Tadi

Sore tadi akhirnya memutuskan untuk lari. Bukan kok, bukan lari dari masalah. Tapi, lari sore alias jogging sore sore ๐Ÿ˜. Sudah beberapa bulan ini jadi wacana terus. Selalu adaa aja alasan untuk menghindar. Ntah itu ngantuk, mager, mendung dll.

Hari ini sebenarnya niatnya mau lari pagi di Taman Cattleya dekat kosan tapi apa daya tadi pagi bangun kesiangan, habis shalat subuh tidur lagi karena ngantuk luar biasa. Ya gimana engga ngantuk yaa, baru tidur aja jam 1 pagi. Oow, memang ini satu kebiasaan buruk yang sedang berusaha dikurang kurangin. Dan dengan tekad kuat sepenuh hati, sore tadi berangkat ke Lapangan Banteng. Waktu keluar kosan sudah terlihat awan gelap, tapi ya sudahlah, dah terlanjur siap siap, sayang banget kalau mundur lagi. Sampai di Lapangan Banteng ternyata udah ramai, banyak yang jogging atau sekadar jalan jalan sore. Banyak juga yang hunting foto. Udah deh itu saya lari muter dua putaran, ngos ngosan juga karena jarang olahraga. Dilanjut jalan santai.

Eh ada yang nyamperin, kakak yang kebetulan kantornya persis di depan Lapangan Banteng. Tinggal lompat nyampe tuh. Kebetulan juga, pas kakak datang, gerimis turun. Jadi lah saya diajak ke kantornya. Tak lupa beli cilok dulu. Enak ciloknya, 5rb dapat 7 cilok hehehe.

Berteduh di kantor kakak sampai maghrib sekalian shalat, habis itu diajak ngupi ngemil di Warung Upnormal Raden Saleh Cikini. Tempatnya kecee, retro gitu. Waktu masuk disambut live music gitu, tapi maaf lupa nggak saya foto, karena hp lowbat juga sih. Saya pesen pisang bakar topping green tea ice cream. Lucu ya, nambah gula lagi ๐Ÿ˜ habis olahraga harusnya banyakin makan buah, ini malah ngemil manis manis. Hmm… gapapa lah yaa yg penting happy.

Jumat hari ini menyenangkan, libur shift, jalan-jalan, olahraga sore dan ngemil gratisan. Kalau yang lain besok libur, saya besok mulai masuk kerja dan untuk seminggu ke depan jadwalnya padat merayap. Tadi juga dikasih tahu teman kalau pasien juga sedang full tank. Semangat!

Diposkan pada Cerita Sehari-hari, Others

Acaraki Jamu, Menikmati Jamu Tradisional dengan Sentuhan Modern

Apa yang pertama kali terpikirkan di benak kawan-kawan semua saat mendengar kata ‘Jamu’? Kalau saya sih langsung terbawa pada sosok mbok mbok Jamu gendong dengan sapaan khasnya “Jamuuuu mu jamuuu,”. Nostalgia banget ya. Berawal dari salah satu postingan teman di Instagram yang mengenalkan sebuah kafe unik bernama Acaraki Jamu, saya pun penasaran ingin menilik langsung bagaimana sebenarnya konsep sebuah kafe Jamu ini.

Sabtu, 2 Februari kebetulan saya mendapat jatah libur shift di weekend. Saya pun segera menghubungi teman jalan-jalan paling the best, Nada. Kami sepakat untuk bertemu di stasiun Jakarta Kota pukul 13 WIB karena paginya Nada ada agenda tes TOEFL.

Tepat pukul 13.30 WIB akhirnya kami berdua bertemu dan kami pun langsung menuju lokasi di kawasan Kota Tua. Suasana siang hari di sekitar Kota Tua ini memang luar biasa panasnya. Fiuh, untung saja saya bawa bucket hat merah andalan hehe. Bisa mengurangi teriknya matahari Jakarta.

Dari depan museum Fatahillah kami berjalan menuju gedung Kerta Niaga. Ini kali kedua saya menginjakan kaki di gedung Kerta Niaga setelah Maret, 2018 saat ikut acara Jakarta Walking Tour bersama Jakarta Good Guide. Kafe Acaraki ini ternyata mudah sekali dicari. Nuansa Coffe shop sangat kentara saat pertama kali saya masuk. Kami juga disambut lantunan Adelaide Skyline nya Adhitia Sofyan yang langsung menambah betah suasana.

Kami memilih untuk duduk di bar, tepat di depan alat alat peracik jamu ini berjajar. Menurut pengamatan saya, konsep dari Acaraki jamu sendiri adalah membawa jamu yang begitu tradisional ke dalam sebuah kafe yang modern. Mungkin, kalau saja belum pernah mendengar tentang kafe ini saya pasti mengiranya bangunan berarsitektur nyentrik ini adalah coffee shop. Dan uniknya proses pembuatan jamunya mirip dengan pembuatan kopi. Ada sistem roasting, mesin grinder, ada juga teknik brewing demi menciptakan jamu dengan suasana baru. Mereka menyebutnya #JamuNewWave.

Saya memesan menu jamu dengan nama Saranti yaitu campuran beras kencur, gula, susu dan kreamer. Rasanya unik sekali. Kalau kata Nada mirip wafer yang dicelup ke susu. Kalau menurut saya sih rasanya gurih dan manis. Selain itu saya juga memesan beras kencur pekat. Rasanya otentik, mirip kencur parut buatan ibu kalau saya sedang sakit tenggorokan.

Saya juga sempat mencicip pesanan Nada yaitu Golden Sparkling, campuran dari kunyit asam, gula dan soda. Rasanya enak! Apalagi yang disajikan bersama es batu. Dingin- dingin sedap. Serasa panasnya kota tua lenyap seketika. Next time jika ke Acaraki Jamu lagi saya ingin pesan menu yang ini.

Asyik sekali ya minum jamu cantik sembari disuguhi suasana kafe yang Instagramable. Bonus foto-foto cantik pula hehe.

Oya, saya dan Nada memang memilih tempat duduk di Bar karena disini kami bisa melihat langsung cara mengolah jamu. Mulai dari menyiapkan bahan dasarnya. Yaitu bubuk kunyit dan kencur yang sudah disangrai. Kemudian menyiapkan grinder dan teman-temannya. Maaf sekali tidak bisa menjelaskan dengan detail karena saya tidak hafal nama mesinnya satu persatu ๐Ÿ˜‚. Pokoknya menarik banget melihat proses pembuatan jamu a la Coffee shop ini. Oya katanya sih nama Acaraki diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya “Pembuat Jamu”. Karena masih tergolong baru, menu jamu di Acaraki baru sebatas beras kencur dan kunyit asam. Belum ada jenis jamu yang lainnya. Jadi, kalau yang mau nyari jamu ‘brotowali’ belum ada disini yaa ๐Ÿ˜†. Mungkin sembari berjalannya waktu, menu jamu disini akan berkembang karena pasti lah perlu riset yang tidak singkat.

Bagi saya nilai plus dari Acaraki Kafe ini adalah mbak dan mas baristanya super ramah. Mereka sabar sekali melayani pertanyaan dari pengunjung meski kedua tangan mereka sibuk meracik jamu.

Satu jam berada di Acaraki rasanya tak begitu terasa. Saya asyik terbawa pada suasana kafe yang hangat. Apalagi playlist musiknya cocok dengan selera saya ๐Ÿ˜Š. Tiba-tiba saja sebentar lagi adzan Ashar berkumandang. Saya dan Nada pun beranjak meninggalkan Acaraki demi melanjutkan agenda jalan-jalan berikutnya. Sampai berjumpa di lain waktu, Acaraki โค๏ธ.

Salam dari Dua manusia random

Acaraki Jamu

Gedung Kerta Niaga 3

Kota Tua-Jakarta

Instagram: @acaraki.jamu

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Lantunan Mantra Mantra yang Membius

Cukupkanlah ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu

Cukupkanlah ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu

Bagaimana rasanya mendengar sepenggal kalimat ini yang terus diputar berulang-ulang dalam sebuah lagu?

Rasanya damai.

Saya berkenalan dengan lirik lagu ini di bulan November 2018. Saat itu, Nada dan Lia mengajak saya untuk nonton acara MakerFest di GBK Senayan dimana salah satu bintang utamanya adalah Kunto Aji. Waktu itu saya mengiyakan ajakan mereka karena memang bertepatan dengan libur saya di weekend dan memang saya sedang tidak ada agenda apapun.

“Mbak, coba deh dengerin Mantra Mantranya Kunto Aji, ini album baru kayaknya bakalan dinyanyikan di MakerFest,” kata Nada melalui pesan whatsapp.

Saya manut aja, dan coba buka Spotify mencari album yang dimaksud. Dan sejak saat itu saya menjadi fans berat album Mantra Mantra Kunto Aji โค๏ธ.

Dalam album ini terdapat 9 lagu yang menurut saya keren semua. Kata beberapa sumber, Aji menulis album ini berlatar belakang isu mental health, terutama tentang overthinker. Saya banget deh : ‘). Dan judul lagu yang pertama saya dengar adalah Sulung. Salah satu lirik penggalannya saya tulis sebagai pembuka tulisan ini. Daleeeem banget kan?

Lagu pertama berjudul Sulung ini bercerita tentang penerimaan diri. Dimana seringnya kita sibuk mencoba memberikan hal yang terbaik baik orang lain namun melupakan kebahagiaan diri sendiri. Oleh Sulung kita diingatkan kembali bahwa sebelum menjaga orang lain, kita lebih baik menjaga dan menyayangi diri kita sendiri terlebih dahulu.

Sebelum kau menjaga, merawat, melindungi segala yang berarti

Yang seharusnya kau jaga adalah

Dirimu sendiri

Dilanjutkan dengan mendengar Rancang Rencana yang akan membawa kita untuk berfikir sejenak tentang ‘Apa sih tujuan kita hidup?’. Kemudian ada Pilu Membiru. Ini lagu super mellow, saya sempat nangis loh pas mendengarnya karena memang liriknya benar-benar mewakili perasaan saya. Di dalam Pilu Membiru kita dibawa kembali untuk mengingat Unfinished Business entah itu tentang cinta, pertemanan, keluarga dan masalah-masalah yang memang tak terselesaikan lainnya. Salah satu lirik yang ngena banget adalah:

Akhirnya kulihat lagi

Akhirnya kutemui

Tercekat lidahku

Masih banyak yang belum sempat aku sampaikan padamu

Tak ada yang seindah matamu, hanya rembulan

Tak ada yang selembut sikapmu, hanya lautan

Oh tak tergantikan

Walau kita tak lagi saling menyapa

Dan lirik ini diucapkan berulang-ulang. Sungguh luar biasa rasanya hingga air mata tak bisa ditahan lagi. Hahaha maaf ya, saya cengeng orangnya.

Lagu keempat dan seterusnya ada Topik Semalam, bercerita tentang kelanjutan sebuah hubungan. Kemudian kita akan dibawa pada Rehat. Di lagu ini kita diingatkan kembali untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Kunto Aji seperti ingin menyampaikan, “sudahlah, ayo istirahat sejenak, pulihkan hati dan pikiranmu, karena semua ini bukan salahmu,”. Seakan ingin bilang pada kaum overthinker, “Hei, yang kau takutkan tak akan terjadi,”. Dan semuanya terangkum secara pas pada lirik dan musik yang menenangkan.

Tenangkan hati, semua ini bukan salahmu

Terus berlari, yang kau takutkan, tak akan terjadi

Ada pula Jakarta Jakarta. Sebuah lagu yang mengisahkan tentang perjuangan kaum urban di belantara ibu kota. Ini salah satu lagu yang sering diputar diplaylist lagu saya sih karena benar-benar menggambarkan kehidupan saya di Jakarta ๐Ÿ˜†.

Tiga lagu terakhir adalah Konon Katanya, Saudade, dan ditutup dengan Bungsu. At least, semua lagu di album Mantra Mantra benar-benar membius. Liriknya cenderung poetic, musiknya menenangkan dan sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Sepertinya lewat album ini keterikatan antara Kunto Aji dan Terlalu Lama Sendirinya mulai memudar. Karena saat saya dengar Kunto Aji, sekarang tak melulu tentang Terlalu Lama Sendirinya yang super hits itu. Saat ini jika bicara tentang Aji, saya langsung terbawa pada Mantra Mantra.

Seperti saat ini, hujan, Jakarta sore hari dan album Mantra Mantra diplaylist saya sungguh perpaduan yang indah. Mungkin bisa ditambah secangkir teh/kopi dan buku favorit.

Oh ya, saya menulis tentang album ini bukan sedang promosi, bukan pula memaksa teman-teman mendengarnya. Hanya saja, menurut saya lagu-lagu sebagus ini rasanya sayang untuk didengarkan sendiri :).

(Karena sukanya sampai saya gambar dan tulis liriknya untuk wallpaper handphone โค๏ธ)

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Dari Selatan Jakarta

Sore itu saya mengajak Nada berkunjung ke salah satu bookstore di Pasar Santa, Jakarta Selatan. Sebuah toko buku indie yang di akhir tahun 2018 menjadi wishlist saya.
Saya yang tinggal di Jakarta Barat dan Nada yang tinggal di Depok membuat kami memutuskan untuk langsung bertemu di Post Santa, nama bookstore yang menjadi tujuan kami.
Turun dari bus TransJakarta di halte Wolter Monginsidi, saya berjalan kaki sekitar 5 menit menuju Pasar Santa. Saya lihat Nada sudah menunggu di depan pintu masuk. Di samping ATM Bank BRI. Kami saling bertukar salam untuk kemudian segera menuju ke lantai 2.
Post Santa ternyata sebuah toko buku yang menarik. Terletak di lantai teratas Pasar Modern Santa, di tengah impitan kios kios dagangan lain. Sore itu suasana cukup ramai. Mungkin ada sekitar 10 pengunjung. Beberapa asyik ngobrol di sebuah meja di tengah toko, beberapa asyik duduk sambil membaca dan sisanya sibuk memilah buku mana yang kiranya menarik. Termasuk saya. Nada bilang ia tak ingin membeli buku, karena katanya lagi, cashflownya bulan ini sedang jelek.
Setengah jam berada di toko buku ini, saya memutuskan untuk membawa pulang dua buah buku. Menurut saya, buku-buku di Post Santa sunggulah menarik. Buku-buku yang jarang ditemukan pada toko buku besar. Sebenarnya banyak yang ingin saya beli, tapi lagi-lagi saya harus ingat jika masih ada dua buku di kos yang menanti untuk diselesaikan, dan juga saya masih harus menabung. Jadi, saya urungkan niat untuk membeli lebih dari dua buku.

(Buah tangan dari Post)

Kekurangan dari Post Santa bagi saya adalah belum ada layanan pembayaran menggunakan kartu debit, jadi membayarnya harus dengan uang tunai. Tapi, jika teman-teman lupa membawanya, jangan khawatir karena di lantai 1 pasar Santa ada beberapa mesin ATM seperti ATM Bank BRI, Bank BNI, bank DKI, Mandiri dan BCA. Lengkap kan?
Waktu menunjukan pukul 17.30 WIB saat saya dan Nada keluar dari kawasan Pasar Santa. Kemudian kami memutuskan untuk makan sebelum melanjutkan petualangan. Kami memilih makan di Ayam Bakar Kambal. Lokasinya tepat di depan Pasar Santa. Ayamnya enak dan rasa sambalnya pas. Saya yang baru pertama mencobanya langsung jatuh cinta. Mungkin kapan-kapan bisa mampir lagi. Selain rasa makanannya yang enak, disini juga menyediakan tempat sholat di lantai dua. Ruangannya cukup luas, bersih dan mukenanya wangi. Suka sekali, โค๏ธ.
Selepas shalat, Nada memutuskan untuk menginap di kos saya di Jakarta Barat. Dan sebelum ke kosan, kami jalan-jalan dulu ke Central Park Mall yang lokasinya cukup dekat dengan kosan. Kami berdua akan nonton film How to Train Your Dragon: The Hidden World yang tayang pukul 21.50 WIB. Cukup malam ya? Dan Nada akhirnya bisa membujuk saya untuk pulang larut. Jujur, saya rada takut karena belum pernah pulang ke kos lewat pukul sebelas malam ๐Ÿ˜‚ (anak rumahan sekali).
Dan Nada, adik kos saya jaman SMA ini ternyata hpnya baru. Pantaslah jika sampai di Central Park dia sibuk foto-foto ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Kalau saya sih hanya lihat-lihat saja karena baterai handphone sudah menipis.
Sebenarnya ini adalah pertemuan ketiga saya dengan Nada selama di Jakarta. Hari itu Kami banyak ngobrol tentang apa saja. Tentang pekerjaan, kehidupan, nostalgia masa-masa SMA dan tenta saja masalah cinta. Rumit memang, bagi kami yang sedang menjalani quarter life crisis. *ceilah.
“Nad, pernah kepikiran nggak kalau selamanya kamu akan tinggal di Jakarta?” Tanya saya di suatu kedai kopi.
Nada menggeleng. “Ntah lah mbak, kalau mbak gimana? ”
“Kalau aku sih palingan, misalkan nih jodohnya emang rejekinya di Jakarta, ya udah tetep tinggal disini. Cuma ya paling bisanya punya rumah di pinggiran Jakarta,” kata saya.
Nada tertawa. “Macem Depok gitu ya mbak?”
Saya menggeleng. “Bukan, aku penginnya tinggal di Bintaro. Biar dekat sama Rumah Sakit dimana sekarang aku kerja. Kalau Depok kok rasanya jauh banget ya, apalagi Bekasi,”. Saat itu saya menerawang membayangkan diri ini berdesakan di commuter line demi menuju atau meninggalkan ibu kota. Seperti ikan pindang, ngeri. Apakah saya bisa melewatinya? Eh tapi by the way, kalau Bintaro mah bukan pinggiran Jakarta sepertinya ๐Ÿ˜‚.
“Mbak, nggak ada gitu teman kerja yang mbak suka?”
Saya terdiam. Mengulang kembali pertanyaan dari Nada dalam hati. Dan kemudian tertawa.
“Maksudmu suka itu seperti have a crush gitu Nad?”
Ia mengangguk. Saya kemudian menggeleng.
“Belum nemu,”
Nada kemudian bercerita tentang topik lain, masalah lain, cerita lain.
“Mbak, ceritain dong gimana kembaranmu bertemu dengan suaminya,”
Dan lagi, mengalirlah cerita saya. Yang tak begitu detail, karena saya memang tidak tahu detailnya hehe.
Kami ngobrol lagi tentang usia.
Time flies ya Mbak. Dulu pas SMA aku ga pernah bayangin bakal merantau ke Jakarta, terus ketemu mbak disini, minum dan duduk di kafe ini,”
Saya melahap buah kiwi terakhir.
“Hahaha sama lah, mana mikir aku sampai sini. Dulu pas SMA mikirnya yang penting bisa lolos dari pelajaran Kimianya pak Oo,”
Dan Jakarta akhirnya mempertemukan kami dan kenangan-kenangan masa lalu.
“Sedih Mbak saat aku terakhir ke kos, bu Bandi sudah sepuh sekali, udah nggak ingat lagi sama aku. Kabar terakhir beliau dibawa anaknya ke Jakarta. Tapi aku enggak nanya lagi Jakartanya mana,”
Saya terdiam. Memori kembali berputar ke sebelas tahun yang lalu. Awal-awal SMA dan harus menjalani kehidupan sebagai anak kos. Berjodoh dengan kos Bu Bandi dan menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Buktinya, selama 3 tahun masa SMA tak sekali pun saya menyingkir dari rumah kos ini. Nada, datang di tahun kedua saya SMA. Bersama beberapa anak baru lain. Kami semua cepat akrab. Tiap pagi rebutan kamar mandi, siapa yang beli sarapan, atau siapa yang mau pake setrika duluan. Belum lagi kalau tak ada yang mau mandi lebih dulu karena pagi terlalu dingin.
Ah, iya masa SMA. Indah, sedih, haru, tawa, tangis, dan bahagia bercampur menjadi satu.
“Mbak, aku inget kalau kalian lagi tengkar, seisi kos tau semua,”
Nada mengingatkan saya betapa seringnya saya marahan dengan mbak kembar ๐Ÿ˜‚ biasa lah, seperti kakak beradik, anak kembar pun bisa bertengkar. Sering malahan. Tak ada kisah cinta yang tertuang saat SMA. Palingan hanya kisah cinta monyet, ngefans dengan salah seorang kakak kelas yang tak pernah tersampaikan hingga kini. Bahkan hingga perasaan suka itu hilang dan lenyap begitu saja.
Nada benar menginap, dan kami benar-benar nonton hingga tengah malam. Keesokan harinya kami berniat untuk ikut CFD di jalan Sudirman-Thamrin namun akhirnya hanya menjadi wacana belaka karena selepas subuh kami tertidur kembali dan baru benar-benar membuka mata pukul sepuluh pagi. Acara untuk menjelajah Kota Tua pun batal karena kami terlalu malas beranjak pergi. Pagi sampai sore di hari Minggu memang paling cocok untuk bemalasan saja di kosan. Membalas dendam atas kurangnya waktu tidur di hari hari sebelumnya untuk kemudian esok harus berjumpa kembali di tempat kerja.
Dari selatan Jakarta hingga ke tepian Barat, banyak cerita yang mengalir, membuka kenangan, dan merumuskan kembali rancangan untuk waktu yang akan datang.
Semoga, lain waktu kita bisa berjumpa kembali, Nad. Untuk saat ini, nikmatilah Jakarta-mu, Jakarta kita.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Yang Sudah Terlewati di 2K18

Tak terasa ya sebentar lagi pergantian tahun. Tahun 2018 akhirnya terlewati juga~ satu kata yang bisa menggambarkan tahun 2018 saya adalah SURVIVE!

Loh kok?

Yhaa alhamdulillah di akhir 2017 saya mendapat rezeki pekerjaan yang mengharuskan saya move on ke Ibu Kota terhitung per tanggal 1 Januari 2018. Pekerjaan yang membawa saya pada kodrat pendidikan yang memang sudah saya tempuh ๐Ÿ˜‚ bye bye kehidupan kantor dan selamat datang kembali hospital lyfe ๐Ÿ™. Terus kenapa “survive” bisa menggambarkan saya di tahun 2018? Yaa karena ternyata nggak mudah sodara, adaptasi untuk hidup di belantara Ibu Kota *ciyah lebay banget pakai kata belantara segala. Apalagi buat manusia single macam eike, apalagi yang udah terlanjur nyaman sama kampung halaman dan fasilitas yang sudah diberikan kedua orang tua.

Menapaki tahun pertama di Jakarta membuat saya banyak bersyukur. Kadang (atau malah sering) juga ngeluh capek, pusing dengan riuhnya Jakarta. Biasanya kalau gejala sambat sudah mulai muncul saya harus segera cari koping. Saya suka jalan-jalan ke toko buku, museum, nonton film. Iya, sendiri. Nama kerennya sih: me time. Enak juga loh kemana-mana sendiri karena engga harus pusing mikirin schedule yang kadang kitanya pengin ontime tapi teman yang diajak pergi malah ngaret atau bahkan tiba-tiba batalin janji. Selalin itu bebas menentukan tempat tujuan. Saya kan orangnya gampang kepingin ya. Jadi, kadang niatnya cuma ke toko buku malah nambah melipir jalan ke mall nyari skinker hahaha. Random memang. Dan di Jakarta, pergi sendiri itu bukan hal ANEH. Mau ngopi cantik sambil makan donat, nonton film, ke toko buku, ke taman, bahkan ke mall pun biarpun sendiri tydak jadi masalah. Salah satu yang membuat saya mulai menerima kota ini. Jiaaahhh. Kalau kata Maudy Ayunda di lagunya sih,

Jakarta ramai, hatiku sepi

Wkwkwk. Plis, udahan deh curhatnya. Oh iya, nilai plus hidup sebagai Jakartans juga lumayan banyak loh. Salah satunya banyak sekali komunitas hobi disini yang kadang masih susah dijumpai kalau di daerah. Mau ikut komunitas pecinta game? Ada. Komunitas nggambar? Ada. Komunitas fotografi? Banyhaaak. Pokoknya banyak kesempatan untuk mengembangkan diri deh. Asal kitanya ada niat. Karena kalau sudah ada niat, inshaa Allah ada jalan.

By the way, dengan kembalinya saya di hospital lyfe otomatis saya harus adaptasi lagi dengan dunia per-shift-an. Dimana saya nggak lagi kerja senin-jumat, jam kerja saya sekarang harus sesuai shift. Seringnya libur di weekdays dan masuk di weekend. Maklum lah ya manusia single belum ada tanggungan anaq sama suamik jadi hampir selalu kena shift di weekend. Berangkat kerja pun seringnya berkebalikan dengan normal people. Dimana yang lain jam delapan malam itu pulang kerja, sayanya baru berangkat kerja ๐Ÿ˜‚. Susah loh adaptasi ke jam kerja yang kayak begini. Di awal saya sempat stress haha. Apalagi di tengah tahun saya harus ikut pra jabatan dan diklat kurleb sebulan dan mengerjakan tugas yang seabrek. Sudah harus adaptasi, masih ada tugas pula. Rasanya ingin pulang kampung saja ๐Ÿ˜‚ puncaknya adalah saat hari raya idul fitri saya kena shift dan nggak bisa mudik. Ini sih SEDIH BANGET. Inget banget tuh, suasana kosan yang super duper sepi karena memang almost penghuninya pada mudik lebaran. Tersisa aku sama teman aku seorang yang tydak bisa mudik. But, yeah Alhamdulillah sekali lagi saya bisa survive! Kali ini saya ingin berterima kasih pada diri sendiri karena sudah bisa bertahan dan melewati ini semua. Maaciw yaaa~ ๐Ÿ˜Š

Oh iya di 2018 banyak juga saya mendapat kabar bahagia, termasuk dapat ponakan baru dari mbak kembar. ((Ya ampun, kembaran aku udah punya anak aja weiii!)), sahabat yang menikah, dan baru saja menerima kabar ada yang diterima PNS :).

Untuk 2019 sih saya nggak bikin resolusi. Sama seperti di tahun 2018, juga nggak pakai acara resolusi deh kayaknya. Eh sebentar, kalau nggak salah dulu pernah bilang ke sahabat kalau 2018 resolusi saya MENIKAH deng! Hahaha ya ampunnn. Tapi yha sudahlah, ternyata belum rezekinya untuk membangun rumah tangga #eaaa. Biarlah semua mengalir sajhaaa meski yang dulu pernah mengajak menikah sekarang sudah bersama yang lain. Lhaa kok malah curhat?

Okeeedeeeh babye gudbay. Semoga tahun 2019 kerjaan lancar, rejeki nambah, diberi kesehatan, orang tua sehat, ponakan sehat, sodara sehat dan jangan lupa bahagia โค๏ธ

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Jalan-Jalan ke Bandung: Menginap di Casa Tubagus dan Wisata ke Bird & Bromelia Pavilion

Kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman jalan-jalan ke Bandung. Yap, tanggal 14-16 Juli kemarin saya pergi ke Bandung untuk melepas penat alias wisata tipis-tipis. Setelah kerja lembur bagai quda (bahkan lebaran pun masuk qerja) saya pun langsung mengiyakan saat Mas Imam dan Mbak Diah mengajak liburan ke Bandung. Awal bulan, ketika jadwal ruangan keluar saya langsung cari tanggal yang sekiranya pas untuk liburan. Tanggal dimana saya libur pas weekend. Yah, mengingat mas dan mbak ipar adalah pekerja kantoran jadi saya menyesuaikan saja jadwal mereka.
Perjalanan dimulai Sabtu siang pukul 11.30 WIB. Selesai shift malam saya lekas pulang ke kos dan mandi kemudian packing dan segera berangkat ke stasiun Gambir. Rencana saya naik Argo Parahyangan pemberangkatan pukul 11.30 sedangkan mas, mbak, dan ponakan saya sudah berangkat duluan dengan mobil mereka. Kenapa nggak bareng? Karena mas dan mbak ipar memilih untuk berangkat lebih pagi. Habis subuh mulai perjalanan dari Depok menuju Bandung. Sedangkan kalau harus menunggu saya selesai shift pasti bakal lama dan takutnya kesiangan.
Perjalanan dengan Argo Parahyangan merupakan pengalaman pertama saya naik kereta api ke Bandung. Ternyata menyenangkan ya, sepanjang perjalanan saya disuguhi pemandangan alam yang bagus. Tapi agak serem juga sih karena jalur Jkt-Bdg banyak dijumpai jembatan. Takut ngguling aja gitu. Hehe.
Alhamdulillah pukul 14.53 WIB sampai juga di stasiun Bandung. Awalnya saya sempet salah tuh, harusnya saya keluar melalui pintu keluar utama eh malah saya menuju pintu keluar yang arah pasar. Alhamdulillah belum sempat keluar (karena saya mampir beli dunkin, laper ey) saya menghubungi mas dan mbak ipar yang sudah sampai duluan di Bandung dan sedang silaturahmi ke tempat sepupu. Sadar kalau salah pintu akhirnya saya segera balik kanan ganti haluan menuju arah pintu yang benar yaitu pintu utama stasiun Bandung menuju jl. Kebon Kawung. Sambil menunggu jemputan mas dan mbak, saya pun melipir untuk makan di hokben. Ternyata perut ini masih lapar juga meski sudah masuk dua potong donat hehe.
Pukul 16.30 sampailah kakak saya di stasiun. Seneng banget bisa lihat ponakan setelah dua minggu terpisahkan! Udah kangen banget ey.
Perjalanan dilanjutkan menuju penginapan di daerah Tubagus Ismail. Ternyata Bandung di sore hari lumayan ramai dan macet. Apalagi penginapannya berada di pusat kota. Dari stasiun ke penginapan membutuhkan waktu sekitar 60 menitan.
Alhamdulillah sebelum maghrib kami sampai juga di penginapan. Nama penginapannya adalah Casa Tubagus. Beralamat di Jalan Tubagus Ismail VIII, Dago, Bandung.
Kesan pertama sewaktu sampai di penginapan inj adalah homey banget! Kami disambut oleh Bi Yanti dan Kang Ayas juga anak mereka bernama adek Izma yang usianya beda 3 bulan sama ponakan hehe. Jadi, penginapan ini bukan hotel atau motel atau guest house. Casa Tubagus adalah sebuah rumah yang disewakan untuk menginap singkat. Di Casa Tubagus sendiri ada dua kamar yang di sewakan yaitu Casa 1 (ada di lt. 1) dan Casa 2 (ada di lt. 2). Pertama kali masuk ke dalam rumah rasanya nyess…udara sampai keramiknya dingin ey padahal ga pake ac. Pas masuk ke kamarnya lebih amaze lagiiii. Btw, saya kebagian kamar di Casa 1 karena saya sendirian jadi dipilihkan kamar yang lebih kecil.
Begini penampakan Casa 1

Kamar tidur di Casa 1

Disediakan handuk dan sajadah juga loh ๐Ÿ˜

Ornamennya serba putih jadi kesannya rapi dan bersih. Di Casa 1 juga disediakan lemari pakaian yang gede. Cucok banget buat geng ciwi-ciwi yang kalau berpergian bawaannya banyak ๐Ÿ˜†.

Oh iya Casa Tubagus ini miliknya kang Adhitya Mulya (penulis buku best seller Sabtu Bersama Bapak) dan teh Ninit Yunita, istri kang Adhit yang juga penulis juga. Saya nggak banyak tanya sih terkait sejarah rumah ini, namun daru foto keluarga yang terpampang di dinding sepertinya ini rumah orang tua kang Adhit. Menurut penjelasan kang Ayas, rumah ini sehari-harinya adalah kos kosan. Saya mah ngebayangin, kalau saya ngekos di rumah ini yang pasti bakal malas kemana-mana. Udah lah di kamar aja gegoleran aja udah nyaman hehe.
Selesai beberes dan mandi juga sholat maghrib, saya main-main ke Casa 2 tempat ponakan, mas, dan mbak istirahat. Casa 2 kamarnya lebih luas, ada mini case juga buat nyimpen minuman dingin. Rencananya sih habis Isha mau keluar, ngafe gitu tapi ternyata kita semua mager karena kecapekan. Makan pun pesen lewat go food wkwk. Ponakan saya juga sepertinya udab ngantuk, kasian kalau diajak keluar lagi. Udah waktunya bobo. Yah begitulah ya namanya juga piknik bawa bayik ๐Ÿ˜†
Esoknya, sesuai itinerary yang sudah dirancang oleh Mbak Diah, kami akan menuju 3 tempat wisata. Sebelumnya kami akan cari sarapan dulu di kaki lima. Teledornya saya, habis shalat subuh malah main hp bukannya siap-siap. Saat semuanya udah siap saya masih berbalut piyama dong! Haha kocak. Saya langsung lari ke kamar mandi dan mandi singkat banget. Pokoknya mandi plus pakaian plus make up selesai dalam setengah jam! Alhamdulillah ya tiap hari udah terbiasa mandi meap cepet ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜†๐Ÿ˜† ada gunanya juga nih.
Pukul 08.00 WIB kami sampai di Bird & Bromelia Pavilion di kawasan Pramestha Resort Town, Jl.Akaza Utama Dago Giri. Kami datang terlalu pagi karena tempat wisata ini baru buka pukul 09.00 WIB. Dari selesai sarapan nyadar sih pasti nanti sampainya bakal kecepetan tapi nggak apa-apa karena dari datang terlalu pagi kami bisa dapat parkir yang nyaman hehe. Selain itu sambil menunggu tempat wisatanya buka, kami jalan-jalan keliling perumahan yang masih satu komplek dengan Bird & Bromelia Pavilion. Tiket masuk ke tempat wisata ini adalah 35.000 rupiah/orang (Weekdays) dan 50.000 rupiah/orang (Weekend). Setelah membayar tiket masuk, tangan kami masing-masing dikasih gelang sebagai penanda jika kami adalah pengunjung dan telah menyelesaikan pembayaran hehe. Ponakan saya sih masuknya gratis karena masih di bawah 2 tahun ya ๐Ÿ˜„

Maafkan penampakan tangan saya ini ๐Ÿ˜‘

Di dalam Bird & Bromelia Pavilion ini kita dapat melihat 300 jenis burung dan 50 spesies tanaman lho. Pertama kali masuk kesini pun kita sudah disuguhi oleh kicau burung nan merdu. Asyik banget pokoknya. Apalagi kalau liburan bareng keluarga plus bawa anak-anak, cocok deh pasti mereka seneng bisa lihat berbagai jenis burung. Jenis burung yang bisa dijumpai disini seperti burung Kakaktua, parkit, merpati, beo, burung hantu, lovebird dan juga ada berbagai macam jenis unggas juga loh. Mau lihat ayam? Banyak! Jenisnya pun bermacam-macam. Saya baru pertama kali lihat ayam Brahma yang kakinya gendut-gendut. Ada juga ayam asli China (namanya lupa hehe), ada burung puyuh juga, merak juga ada tapi saat kita mendekat ke sarangnya mereka masih malu-malu untuk menampakan diri. Alhasil kita hanya bisa nonton dari kejauhan deh. Oh ya, kalau ingin berinteraksi dengan burung-burung bisa banget kok. Hanya perlu merogoh kocek 5.000 rupiah untuk membeli sebungkus kuaci dan kita diperbolehkan memberi mereka makan. Lucu banget! Burung-burung ini pinter-pinter banget buka kuacinya! Gemesss.

Maaf, saya numpang eksis dulu ๐Ÿ™‹

Ponakan yang asyik main sama merpati

Si Cantik yang pongah. Hmm

Warna bulunya lucuu

Karena siang hari maka burung hantu pun tidur~

Selain segala jenis burung dan unggas, ada juga loh Taman Kelinci dan Ikan Koi. Banyak anak-anak kecil yang lari-lari mengejar kelinci yang gemuk-gemuk ini. Double gemesnya!

Disini ada ikan koinya tapi saya lupa foto ๐Ÿ˜†

Setelah hampir 2 jam berkeliling akhirnya kami memutuskan untuk pindah lokasi lagi mengingat masih ada 2 tempat wisata lain yang akan kami kunjungi. Kesan saya setelah main di Bird & Bromelia sih asyik banget. Terutama bagi teman-teman yang ingin mengajak buah hati atau keponakan tercinta lebih mengenal alam dan berinteraksi dengan hewan langsung.
Untuk cerita di dua lokasi wisata lain akan saya posting di tulisan berikutnya ya ๐Ÿ˜Š

More info tentang Casa Tubagus bisa dilihat di akun Instagram/@casatubagus

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

‘Catcalling’ Tak Bisa Ditoleransi

Assalamualaikum. Apa kabar Ramadhannya teman-teman? Semoga lancar yaa. Nggak kerasa ya udah masuk sepuluh hari terakhir ramadhan saja. Huhu. Sedih. Rasanya ramadhan cepet banget berlalu ๐Ÿ˜ญ.

Oya, kali ini saya pengin nulis terkait kasus yang akhir-akhir viral di dunia permedsosan. Terutama di IG dan Twitter. Yap tentang sexual harassment yang dialami oleh seorang social media influencer dan seorang penyanyi dangdut yang sedang naik daun. Kalau kalian ngaku anak IG pasti tahu lah siapa Gita Savitri Dewi aka @gitasav. Seorang hijaber dengan follower puluhan ribu dan akun yutub aktif dengan ber-K subscribernya. Hal ini berawal dari postingan Gita di snapgramnya yang menuliskan jika ada sebuah akun (cowok) yang DM ke gita dan melakukan sexual harassment (kalau ga salah mengajak gita untuk berhubungan seks). Iuuuh banget kan? Dan Gita ini nggak tinggal diam. Ia berani speak up agar kisahnya ini diketahui orang lain. Terlepas dari drama dengan akun bernama Helmi, saya sih setuju banget dengan cara Gita untuk berani bicara. Nggak diam aja dengan pelecehan seksual via media yang dialaminya. Ya, karena ini bukan masalah sepele. Satu lagi kisah pedangdut cantik, Via Vallen. Ia juga menulis disnapgramnya bahwa ada seorang laki-laki yang DM dan memintanya untuk menyanyi dengan baju seksi. Omg!
Di dunia pertwitteran, kisah mereka terblow up lebih massive lagi. Ada kubu pro and cons. Saya sih ga ikutan twitwor gitu yha. Cuma nyimak aja hehe. Dan dari kisah dua perempuan ini saya tertarik dengan tagar #SayaJuga yang juga menjadi trending setelah kasus mbak Gita dan mbak Via ini.

Jadi, tagar #SayaJuga berisi tentang curhatan para perempuan tentang sexual harrasment yang mereka alami. Ya Allah saya bacanya sampai ngeri ngeri gitu. Ada yang berkisah pernah diremas payudaranya oleh laki-laki asing, dicium pipi, dipepet di commuter line dan kisah tragis lainnya. Duh serem amat ya!

Dan rata-rata mereka mulai mengalami pelecehan seksual dari kecil, sebagian besar mulai usia SD-SMP.
Apa sih sexual harassment atau pelecehan seksual itu?
Menurut wikipedia, Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks. Pelecehan seksual dapat terjadi di mana saja baik tempat umum seperti bis, pasar, sekolah, kantor, maupun di tempat pribadi seperti rumah.
Dalam kejadian pelecehan seksual biasanya terdiri dari 10 persen kata-kata pelecehan, 10 persen intonasi yang menunjukkan pelecehan, dan 80 persen non verbal.

Membaca tagar #SayaJuga saya jadi teringat kejadian 3 bulan yang lalu. Saya alami sendiri di gang dekat kosan. Saat itu pagi hari sekitar jam 9, saya akan pergi membeli sarapan di warung ujung gang. Untuk sampai di warung nasi tersebut saya harus melewati sebuah bengkel las dimana notabene semua pekerjanya adalah laki-laki. Dan apa yang terjadi saat saya melewati mereka? Ya, mereka melakukan catcalling.

“Assalamualaikum cantik.., sendirian aja?”

“Neng mau kemana?”

“Aduh si Nengnya bikin pengin nemenin,”

Dan sebagainya. Padahal waktu itu pakaian saya tertutup loh (pake jilbab inshaa Allah nutup dada, dan pake rok). Saya hanya lupa ga pake masker. Ada pula yang nambahin pake siulan. Menjijikan. Saya pun mempercepat langkah dan berusaha tidak mempedulikan yang ternyata gagal karena saya kepikiran terus sampai selesai sarapan. “Gimana nih pulangnya? Masa aku harus nglewatin mereka lagi?” Sempat bimbang karena gang itu adalah satu-satunya jalan yang paling dekat menuju kosan. Ada jalan satu lagi tapi memutar jauh. Setelah pergulatan batin, saya akhirnya memilih lewat jalan tadi sambil terus berdoa. Mencoba secepat mungkin melewati mereka. Ada seorang pekerja yang tiba-tiba berdiri di pinggir jalan. Saya sudah curiga tuh, mau ngapain nih masnya? Saya harus waspada. Hingga akhirnya saat saya melewati si masnya, dia tiba-tiba mendekatkan tubuhnya ke arah saya dengan posisi hendak mencium wajah saya. Saya refleks menghindar dan langsung berjalan cepat menghindari mereka. Kesalnya saya mendengar teman-teman laki-laki itu malah bersorak dan tertawa. Dan kalau saya nggak salah denger si mas yang nyebelin itu bilang “yah gagal,”. See? Bikin kesel banget gak sih? Sampai kosan, saya menangis dan saya trauma melewati gang tersebut saat bengkel las itu buka. Sedihnya saya, kenapa dari sekian banyak laki-laki disana (sekitar 4-5 orang) ga ada yang negur mas mas nyebelin tadi? Kenapa malah pada ketawa? Apanya yang lucu coba?
Sejak itu saya selalu pasang alert alarm kalau lewat bengkel itu meski naik ojek pun. Dan kemana pun saya pakai masker! Trauma ini masih membekas loh sampai sekarang. Alhamdulillah sih nggak sampai nyentuh apa-apa tuh sih mas mas nyebelin. Kalau sampai iya pengin saya tendang. Saat nulis ini pun masih kesel bangeeettt.
Bagi laki-laki yang baca ini please jangan sekali-kali ngelakuin catcalling, bikin siulan ga jelas saat ada cewek lewat, even menatap cewek segitunya pun jangan. Risih sekali tau. Dan bagi cewek-cewek, sekecil apa pun bentuk sexual harassment jangan dianggap remeh. Saya nyesel sih kenapa waktu kejadian itu ga teriak? Kenapa cuma lari? ๐Ÿ˜ข yang jelas saat itu saya takut. Contoh yang saya alami ini adalah masuk kategori street harassment. Ada juga loh yang masuk ke kategori public transportation harrasment. Contohnya di commuter line atau busway bahkan ojek online pun bisa. Makanya kalau naik KRL di jam jam padat saya selalu menghindari deket bapak-bapak/mas-mas. Kalau harus berdiri, saya lebih memilih berdiri depan ibu-ibu/mbak-mbak. Kalau terpaksa deket laki-laki saya pasti selalu dalam keadaan body alert. Nempel dikit, geser coy. Geser ga mempan? Lirik maut coy. Ga mempan juga? Pindah atau panggil PKD.
Semoga kalian para wanita selalu dilindungi dimana pun kalian berada ya.

Sebenernya ada kisah lain lagi terkait sexual harrasment ini. Kejadiannya saat saya masih duduk kelas 6 SD. Ini bukan saya yang mengalaminya, saya hanya saksi mata. Teman sekelas saya yang menjadi korban. Saya nggak mau cerita detail kalau yang ini, soalnya kan menyangkut privacy teman saya juga. Dulu mikirnya, “oh si B cantik jadi disayang banyak orang,”. Dan ternyata ada sebuah kejadian yang sebenarnya adalah pelecahan seksual. Cuma saat itu saya yang masih bocah bingung mau ngomong ke siapa. Teman saya yang jadi korban pun diam saja. Nggak berani bilang ke orang tuanya. Seiring waktu berlalu dan semakin bertambah pengetahuan, saya sadar jika dulu yang dialami oleh teman saya adalah termasuk pelecehan seksual. Kasian : ( semoga sekarang dia baik-baik saja.

Semoga dengan tulisan ini bisa bermanfaat ya teman-teman. Silahkan ambil yang baik dan buang yang buruk ๐Ÿ˜Š.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Jalan-Jalan ke Cikini

Okay. Ehm. Halo.

Alhamdulillah ya akhirnya saya kembali ke rumah ini lagi. By the way, ada yang kangen aku nggak? ๐Ÿ˜

Ada beberapa teman dari dunia nyata yang ternyata sering kepo-kepo blog sederhana ini tanya, “Kok lama ga update?”, “Kamu ngapain aja sih kalau di kos? Kapan nulis cerpen lagi?,”. Kalau ada yang tanya gini, enaknya dijawab apa yaaa? Karena kadang pengin kelihatan sok sibuk gitu jadi jarang update blog huehuee. Alasan yang tak bermutu.

Oyaaa hari ini adalah tepat 2 bulan saya resign dari kantor lama dan menjadi pendatang di kantor baru. Ciye. Alasan saya jarang update blog sebenarnya juga karena ini. Yup, karena saya masih bergelut dengan segala jenis orientasi di tempat kerja baru. Ditambah lagi dengan adaptasi yang juga tak mudah. Butuh usaha lahir dan batin yang sama-sama menghabiskan energi dan duit. Tuh kan malah jadi tjurhat kan? Skip skip.

Siang tadi saya memutuskan untuk jalan-jalan. Refreshing sejenak dari kehidupan RS yang kadang bikin pusing pala. Dan karena kebetulan tanggal 2 Maret alias tanggalnya masih muda banget, saya memutuskan untuk menghabiskan hari libur saya dengan…. nonton film! Bentar bentar, kenapa hari Jumat kok libur? Di kalender tintanya masih biru kok. Jangan jangan kamu bolos kerja yaa? Hei hei, jangan su’udzon dulu. Hari Jumat saya libur memang karena kebetulan saya sedang bebas shift. Berhubung sekarang pekerjaan saya bukanlah pekerjaan yang menuntut hari kerja Senin-Jumat dan libur di hari Sabtu-Minggu jadi terkadang saya kerja di saat kebanyakan orang menikmati liburan mereka atau sebaliknya. See? Begitulah kehidupan tenaga medis. Enjoy aja lah ๐Ÿ˜

Setelah saya pikir-pikir, akhirnya saya putuskan untuk nonton di Metropole XXI Menteng. Dah, begaya bener! Wkwk gapapa lah ya, mumpung awal bulan. Saya juga dari dulu penasaran banget sama gedung yang ternyata merupakan cagar budaya ini. Setelah saya baca di Wikipedia (jujur amat sih Des ๐Ÿ˜†) gedung bioskop Metropole ini awalnya dibangun di era masa kolonial Belanda sekitar tahun 1932 dan bernama Bioscoop Metropool. Dari awal dibangun nih gedung memang dikhususkan untuk memanjakan para penikmat film. Awalnya hanya terdiri dari 1 theatre yang bisa menampung hampir 1000 orang. Wiiih banyak bener ya! Namun sekarang sudah direnovasi dan jumlah theatrenya juga lebih dari satu. Untuk lebih lengkapnya, baca di Wikipedia atau gugling sendiri aja deh ya! Xixixi we capek ngetik cyin!

Saya berangkat dari kos menuju stasiun Juanda dengan diantar bapak gojek nan baik hati. Kemudian dilanjutkan naik KRL menuju stasiun Cikini. Nah, yang lucu disini nih. Berhubung saya masih buta Jakarta, masa’ iya saya pesen gojek dari stasiun Cikini ke Metropole! Khan ga lucu ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ sampai babang gojeknya bilang gini, “Mbak, metropole deket loh, beneran nih naik ojek?”. Memang sih saya sempat melirik gmaps, hanya butuh 5 menit dari stasiun Cikini menuju Metropole by walk. Tapi yasudahlah, sudah terlanjur pesan dan tadi siang Jekarda panasnya Masyaa Allah… panas bangetzzzz. Sambil pura-pura bete saya bilang ke masnya, “Cuss lah mas! Panas,”. Si mas gojek pun segera memacu kendaraannya. Dan benar saja ngga sampai 3 menit saya sudah sampai di depan Metropole! Ya ampun ternyata cuma seencrit. Pantesan diaplikasi cuma bayar 3rebe ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.

Sudahlah lupakan drama tadi. Saya pun segera memasuki kawasan bioskop ini. Kesan pertama sih, ini gedung emang bangunan kuno banget. Khas arsitektur Belanda, pantas saja jadi salah satu cagar budaya. Begini penampakan luarnya.

Waktu itu pukul 12.16 WIB. Saya mengantri beli tiket dan dapat yang jam tayang pukul 12.45 WIB. Wah, syukur deh masih bisa sholat dulu. Asyiknya nih, mushola di komplek Megaria cukup nyaman. Lumayan besar dan bersih, mukenanya juga wangi. Ssttt kebersihan dan kewangian mukena itu mempengaruhi kekhusyuan shalat loh. Iya ga buibuk? Hehe.

Trus, film yang kamu tonton itu apa sih Des?

Ookaay, jadi tadi siang itu saya nonton ini.

(Jari aku gemuk amat ya? ๐Ÿ˜)

Yap, Red Sparrow. Film bergenre thriller mystery yang dibintangi si aktris cantik Jennifer Lawrence (si mbak Katnis Everdeen dalam serial Hunger Games). Masih inget kagak gimana sesembaknya dijuluki Girls on Fire di Hunger Games? Kece banget kaan? Nah, di film ini mbak Jennifer Lawrence berperan jadi mata-mata Rusia yang dijuluki sparrow. Mirip agen CIA nya Amerika gitu. Tugasnya si mbak JLaw ini buat pedekate sama agen CIA yang ganteng agar bisa mendapatkan informasi terkait keamanan negara mereka. Eeh terlalu lama pedekate malah jatuh cinta beneran tuh si mbak dan masnya.

Why nonton Red Sparrow?

Karena tertarik habis nonton trailernya. Banyak adegan pembunuhan sadis yang berdarah-darah gitcu. Di trailernya juga akting mbak JLaw kayaknya kok keren bingits. Khan saya jadi penasaran gitu. Oya katanya film ini diangkat dari sebuah novel dan penulis novel ini mantan anggota CIA. Duh, makin bikin penasaran kan?

So, after nonton nih, recommended gak nih film?

Waduh kalau memutuskan recomended atau enggaknya sih maaf aja saya nggak berhak cyin. Just bocoran aja ya, film ini cukup banyak adegan sadis seperti pembunuhan yang darahnya sampai muncrat muncrat, hubungan sex, dan lain lain. Makanya film ini dilabeli 21++. Jadi dik adik manis yang belum 21 tahun mending nonton yang lain aja yah ๐Ÿ˜ *ternyata 25 tahun menguntungkan juga yes*. Ada beberapa adegan yang terpaksa di cut sama KPI yaitu pas adegan ranjang Jlaw sama lawan mainnya. Si agen CIA nan ganteng itu. Maybe karena terlalu vulgar kali ya. Ndak baik ditonton bagi para jomblo *eh. Sayangnya adegan pemotongannya itu kasar banget. Jadi aneh dilihatnya. Dan sepertinya di adegan itu ada dialog yang cukup vital. Soalnya kenapa tiba-tiba Jlaw lengket amat sama si masnya. Pokoknya bagi kalian kalian yang nggak tahan nonton yang berdarah darah mending nggak usah nonton deh. Ngilu cyin!

Eh, pertanyaan terkahir nih, tadi nonton sama siapaa?

Oke jadi tadi itu saya nonton bareng… Nicholas Saputra *tapi dalam mimpi๐Ÿ˜‚. Yap, saya nonton sendiri aja. Puas? Wkwk. Ya iya lah emang mau sama siapa lagi. Temen yang sekiranya punya selera film yang sama sedang kena shift. Ngajak temen yang free dia nggak suka genre thriller. Pusing khan? Daripada nggak jadi nonton, mending berangkat sendiri aja deh. Ternyata nonton film sendirian nggak secanggung yang saya bayangkan. Awalnya sempet mikir, wah gimana nih kalau nanti banyak pasangan terus saya sendirian, di pojokan kayak orang ilang? Gimana nih kalau nanti saya dipepet sama pasangan, maksudnya samping kanan-kiri diapit sama pasangan? Hah, semua itu hanya mitos saudara-saudara! Saya enjoy enjoy saja sepanjang nonton. Nggak ada juga yang merhatiin saya. Jadi pede aja lah. Saat saya amati sekeliling, ternyata banyak juga penonton yang ternyata nonton sendirian kayak saya ini. Dunia tidak sekejam ibu kota gan. Hehehe.

Kesimpulannya film Red Sparrow ini bagus (apalagi aktingnya Jlaw) tapi yang nggak bagus-bagus banget sih #lah. Gimana ya ngomongnya. Pokoknya gitu deh! ๐Ÿ˜† soalnya #RedSparrow nggak sampai bikin saya terngaga, terdiam, terkejud macam saat selesai nonton Gone Girl hehe. Maybe kalau ada lembar penilaian saya kasih 7.5/10.

Demikian sekelumit cerita dari saya. Semoga weekend kalian menyenangkan!

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Jalan-Jalan ke UI Depok

Berawal dari weekend tanpa agenda, akhirnya saya memutuskan untuk silaturahim ke tempat Nada. Nada ini adalah adik kos semasa SMA. Iya, semenjak SMA saya sudah mengalami nano nano rasanya jadi anak kosan. Meskipun tiap weekend pulang sih, tapi tetap saja menjadi anak kosan memberi pengalaman dan kenangan tersendiri.
Jumat sore, sepulangnya bekerja saya lekas bersiap menuju Depok. Rencana akan menginap ke rumah kakak di Depok barulah besok paginya meluncur ke tempat Nada. Sekitar isha, saya sampai di stasiun Juanda. Ini merupakan pengalaman pertama saya naik KRL di jam pulang kerja saat weekend pula! Ya ampun “Ini nih baru namanya Jakarta,” gumam saya. Ya, saya yang lama tinggal di desa terpana melihat ke-hectic-an Jakarta. Lebay banget pokoknya.
Saya pun meluncur ke Depok bersama kakak (sebelumnya kami janjian untuk bertemu di stasiun Juanda). Di dalam KRL saya melihat para penumpang baik itu perempuan, laki-laki, mas-mas, mbak-mbak, bapak-bapak, ibu-ibu, kakek-nenek semuanya tampak sibuk dengan dunia mereka sendiri. Ada yang asyik main hp, tidur, bersandar di bahu pasangan (eh) atau yang asyik melamun seperti saya hehe. Saya mbatin, “Kamu baru seminggu di Jakarta, masih banyak minggu-minggu yang harus kamu jalani, semangatttt,” kemudian saya tertawa tanpa bersuara.
Singkat cerita saya sampai di rumah kakak dalam keadaan mata ngantuk dan badan capek sekali. Saya pun menutup hari dengan tertidur pulas di depan tv ๐Ÿ˜‚.
Sabtu pagi, selesai acara nyuci baju segambreng saya bersiap ke tempat Nada di daerah Margonda. Ya, Nada ini bekerja sebagai asdos di FEUI. Jadilah hari ini saya minta ditemani jalan-jalan keliling UI. Perjalanan ke Margonda diawali dengan mas-mas gojek yang kelewat baper. Jadi ceritanya saya pesen gojek tuh, saat masnya datang tenryata motor yang dipakai sejenis motor vi*ion (motor cowok lah pokoknya). Terus saya digodain tuh sama kakak saya, mbak ipar dan mas Bondan (teman kakak). “Peluk.. peluk,” kata mas Bondan seraya memeragakan diri sedang memeluk seseorang. Eh ogah lah saya main peluk-peluk ๐Ÿ˜‚ dikira boneka. Alhasil tuh sepanjang perjalanan saya ditanya banyak banget sama si Masnya. Sampai ke masalah pacar dan pekerjaan. Hingga akhirnya sampai di Margo City (tempat ketemuan saya dengan Nada) si Masnya masih baper.
Mas gojek: “Neng nanti pulangnya gimana?”
Saya: “Paling naik gojek lagi mas,”
Mas gojek: “Pulang sama saya aja Neng, nanti saya jemput, wa aja ya,”
Saya: (ketawa sambil buru-buru lepas helm dan ngacir pergi) makasih mas!
Mas gojek: gak ngerti ngomong apalagi.
Ada-ada aja si mamang gojek ini. Untungnya nomer yang saya daftarin di gojek bukan nomer utama, ga ada WhatsApp juga ๐Ÿ˜ jadi aman deh ๐Ÿ‘Œ.
Tepat pukul 11.30 WIB saya melihat sesosok perempuan berjilbab hitam menghampiri saya. Surprise! Si Nada ketemu juga. Ternyata ini anak kurusan, lebih kurus dari saat terakhir ketemu. Kenapa kau kurusan bu dosennn??? Pasti mahasiswanya pada susah diatur ya haha ๐Ÿ˜. Akhirnya kita memutuskan ke foodcourt dan cerita ngalor ngidul.
“Gini nih mbak kalau di Jakarta, mall lagi mall lagi,” kata Nada. Dia rupanya rada kesel karena inginnya ketemuan di luar mall.
“Iya yah orang Jakarta pada suka ngemall,” jawab saya.
“Ya karena mall itu adem mbak. Jakarta udah panas, mereka ngemall buat ngadem,”
Ya memang sih, siang itu Depok sungguh menyengat. Panas sekali rasanya di luar. Saya jadi kangen sejuknya kampung halaman ๐Ÿ˜ข.
Setelah puas muterin Margo City, saya minta Nada untuk main ke UI. Tujuan pertama kita adalah Danau UI, dilanjutkan ke perpustakaan UI, rektorat dan sebelum pulang saya mampir ke MUI atau Masjid UI. Berada di sekitar Danau UI membuat saya lupa sejenak dengan bisingnya Jakarta. Rasanya adem dan damai. Asyik lah buat ngobrol dan juga foto-foto ๐Ÿ˜„ #tetepyah #kidsjamannow. Saat saya main ke UI, saya melihat tidak banyak mahasiswa bersliweran karena kata Nada memang saat ini sedang masa liburan semester. Jadi banyak mahasiswa yang memanfaatkannya untuk pulang kampung. Geser sedikit, dari danau UI ke rektorat. Ini permintaan saya sih , saya pengin foto ala ala wisudawan wisudawati UI yang sering muncul di explore IG ๐Ÿ˜„. Yah, siapa tau ya rejeki bisa lanjutin pendidikan lagi di UI. Sayangnya saya nggak sempat main ke FIK (Fakultas Ilmu Keperawatan) UI. Padahal pengin bangeeettt. Yah, mengingat waktu sudah sore dan sebentar lagi adzan maghrib berkumandang, rute pun berbelok ke Masjid UI atau MUI. Disana tenyata cukup banyak mahasiswa yang sedang diskusi atau kajian. Saya jadi teringat jaman kuliah, sore-sore begini sering diajak liqo/kajian. Duuuh jadi rindu Semarang~
Hampir seharian jalan kaki, perut pun protes minta diisi. Nada memberi rekomendasi untuk makan Mie Aceh dekat stasiun pocin (pondok cina) . Katanya sih itu Mie Acehnya endess banget. Dan ternyata bener sih, enak banget! Mungkin karena efek capek dan lapar juga kali ya atau malah doyan? ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜
Di warung Mie Aceh kita berdua sibuk nostalgia mengingat kembali keseruan jaman SMA. Terutama serunya jadi bagian kosan bu Bandi. Saya dan Nada sibuk ngabsenin para personil alumni Kos Bu Bandi yang sekarang sudah tersebar seantero dunia. Ceilah! Ini list kami dari hasil kepo IG atau kirim WhatsApp langsung.
Alumni senior (menjadi penghuni kosan saat kelas XI) dan domisili saat ini:
1. Saya (Jakarta)
2. Mbak kembar (Bintaro)
3. Fitri (Jogja)
4. Erin (Bandung)
5. Nindy (Jakarta)
6. Henggar (Hongkong, China lagi lanjut S2)
7. Lina (Cilacap)
Alumni junior (masuk pas kelas X)
1. Nada (Jakarta)
2. Lia (Jakarta)
3. Indri (Jakarta)
4. Yuan (Semarang)
5. Metri (Jakarta)
6. Ayu (belum ada kabar)
7. Iko (belum ada kabar)
8. Indy (belum ada kabar)
9. Anggi (Jogja)
Ternyata kebanyakan alumni kosan Bu Bandi hijrah ke Jakarta ya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ hobi banget sih merantau naq? Haha. Pertemuan dengan Nada pun ditutup dengan didirikannya sebuah grup WhatsApp bernama ALUMNI BU BANDI โค๏ธ. Harapannya sih semoga silaturahmi para alumni tetap terjaga. Kalau pada nikah silahkan kabar-kabar. Inshaa Allah jikalau ada waktu dan kesempatan disempatkan datang๐Ÿ˜‰
Sekian dan Terimakasih.
Terimakasih untuk Dhiafah Qatrunnada alias Nada yang telah menyisihkan waktu di tengah kesibukannya untuk menemani saya jalan-jalan. Terimakasih telah membuat saya tidak mati kutu di kosan ๐Ÿ˜‚. Makasih juga untuk kakak dan mba ipar sudah menampung saya selama di Depok. Sepertinya bakal sering merepotkan karena saya akan lebih sering main ke Depok ๐Ÿšต๐Ÿšต๐Ÿšต

Jangan lupa untuk swafoto! ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

Mikirin “ntar pulang sama siapa ya?” ๐Ÿ˜ difotoin sama Nada. Ternyata doi punya bakat jadi fotografer.

Seberang sana tu namanya Rektorat โค๏ธ

Ditulis di kamar kosan yang sekalinya buka jendela terlihat kerlap kerlip kandang burung raksasa ๐Ÿ˜‘

Penampakan Jakarta dari kosan. Hmmphhhh.