Diposkan pada Cerita Sehari-hari

‘Catcalling’ Tak Bisa Ditoleransi

Assalamualaikum. Apa kabar Ramadhannya teman-teman? Semoga lancar yaa. Nggak kerasa ya udah masuk sepuluh hari terakhir ramadhan saja. Huhu. Sedih. Rasanya ramadhan cepet banget berlalu ๐Ÿ˜ญ.

Oya, kali ini saya pengin nulis terkait kasus yang akhir-akhir viral di dunia permedsosan. Terutama di IG dan Twitter. Yap tentang sexual harassment yang dialami oleh seorang social media influencer dan seorang penyanyi dangdut yang sedang naik daun. Kalau kalian ngaku anak IG pasti tahu lah siapa Gita Savitri Dewi aka @gitasav. Seorang hijaber dengan follower puluhan ribu dan akun yutub aktif dengan ber-K subscribernya. Hal ini berawal dari postingan Gita di snapgramnya yang menuliskan jika ada sebuah akun (cowok) yang DM ke gita dan melakukan sexual harassment (kalau ga salah mengajak gita untuk berhubungan seks). Iuuuh banget kan? Dan Gita ini nggak tinggal diam. Ia berani speak up agar kisahnya ini diketahui orang lain. Terlepas dari drama dengan akun bernama Helmi, saya sih setuju banget dengan cara Gita untuk berani bicara. Nggak diam aja dengan pelecehan seksual via media yang dialaminya. Ya, karena ini bukan masalah sepele. Satu lagi kisah pedangdut cantik, Via Vallen. Ia juga menulis disnapgramnya bahwa ada seorang laki-laki yang DM dan memintanya untuk menyanyi dengan baju seksi. Omg!
Di dunia pertwitteran, kisah mereka terblow up lebih massive lagi. Ada kubu pro and cons. Saya sih ga ikutan twitwor gitu yha. Cuma nyimak aja hehe. Dan dari kisah dua perempuan ini saya tertarik dengan tagar #SayaJuga yang juga menjadi trending setelah kasus mbak Gita dan mbak Via ini.

Jadi, tagar #SayaJuga berisi tentang curhatan para perempuan tentang sexual harrasment yang mereka alami. Ya Allah saya bacanya sampai ngeri ngeri gitu. Ada yang berkisah pernah diremas payudaranya oleh laki-laki asing, dicium pipi, dipepet di commuter line dan kisah tragis lainnya. Duh serem amat ya!

Dan rata-rata mereka mulai mengalami pelecehan seksual dari kecil, sebagian besar mulai usia SD-SMP.
Apa sih sexual harassment atau pelecehan seksual itu?
Menurut wikipedia, Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks. Pelecehan seksual dapat terjadi di mana saja baik tempat umum seperti bis, pasar, sekolah, kantor, maupun di tempat pribadi seperti rumah.
Dalam kejadian pelecehan seksual biasanya terdiri dari 10 persen kata-kata pelecehan, 10 persen intonasi yang menunjukkan pelecehan, dan 80 persen non verbal.

Membaca tagar #SayaJuga saya jadi teringat kejadian 3 bulan yang lalu. Saya alami sendiri di gang dekat kosan. Saat itu pagi hari sekitar jam 9, saya akan pergi membeli sarapan di warung ujung gang. Untuk sampai di warung nasi tersebut saya harus melewati sebuah bengkel las dimana notabene semua pekerjanya adalah laki-laki. Dan apa yang terjadi saat saya melewati mereka? Ya, mereka melakukan catcalling.

“Assalamualaikum cantik.., sendirian aja?”

“Neng mau kemana?”

“Aduh si Nengnya bikin pengin nemenin,”

Dan sebagainya. Padahal waktu itu pakaian saya tertutup loh (pake jilbab inshaa Allah nutup dada, dan pake rok). Saya hanya lupa ga pake masker. Ada pula yang nambahin pake siulan. Menjijikan. Saya pun mempercepat langkah dan berusaha tidak mempedulikan yang ternyata gagal karena saya kepikiran terus sampai selesai sarapan. “Gimana nih pulangnya? Masa aku harus nglewatin mereka lagi?” Sempat bimbang karena gang itu adalah satu-satunya jalan yang paling dekat menuju kosan. Ada jalan satu lagi tapi memutar jauh. Setelah pergulatan batin, saya akhirnya memilih lewat jalan tadi sambil terus berdoa. Mencoba secepat mungkin melewati mereka. Ada seorang pekerja yang tiba-tiba berdiri di pinggir jalan. Saya sudah curiga tuh, mau ngapain nih masnya? Saya harus waspada. Hingga akhirnya saat saya melewati si masnya, dia tiba-tiba mendekatkan tubuhnya ke arah saya dengan posisi hendak mencium wajah saya. Saya refleks menghindar dan langsung berjalan cepat menghindari mereka. Kesalnya saya mendengar teman-teman laki-laki itu malah bersorak dan tertawa. Dan kalau saya nggak salah denger si mas yang nyebelin itu bilang “yah gagal,”. See? Bikin kesel banget gak sih? Sampai kosan, saya menangis dan saya trauma melewati gang tersebut saat bengkel las itu buka. Sedihnya saya, kenapa dari sekian banyak laki-laki disana (sekitar 4-5 orang) ga ada yang negur mas mas nyebelin tadi? Kenapa malah pada ketawa? Apanya yang lucu coba?
Sejak itu saya selalu pasang alert alarm kalau lewat bengkel itu meski naik ojek pun. Dan kemana pun saya pakai masker! Trauma ini masih membekas loh sampai sekarang. Alhamdulillah sih nggak sampai nyentuh apa-apa tuh sih mas mas nyebelin. Kalau sampai iya pengin saya tendang. Saat nulis ini pun masih kesel bangeeettt.
Bagi laki-laki yang baca ini please jangan sekali-kali ngelakuin catcalling, bikin siulan ga jelas saat ada cewek lewat, even menatap cewek segitunya pun jangan. Risih sekali tau. Dan bagi cewek-cewek, sekecil apa pun bentuk sexual harassment jangan dianggap remeh. Saya nyesel sih kenapa waktu kejadian itu ga teriak? Kenapa cuma lari? ๐Ÿ˜ข yang jelas saat itu saya takut. Contoh yang saya alami ini adalah masuk kategori street harassment. Ada juga loh yang masuk ke kategori public transportation harrasment. Contohnya di commuter line atau busway bahkan ojek online pun bisa. Makanya kalau naik KRL di jam jam padat saya selalu menghindari deket bapak-bapak/mas-mas. Kalau harus berdiri, saya lebih memilih berdiri depan ibu-ibu/mbak-mbak. Kalau terpaksa deket laki-laki saya pasti selalu dalam keadaan body alert. Nempel dikit, geser coy. Geser ga mempan? Lirik maut coy. Ga mempan juga? Pindah atau panggil PKD.
Semoga kalian para wanita selalu dilindungi dimana pun kalian berada ya.

Sebenernya ada kisah lain lagi terkait sexual harrasment ini. Kejadiannya saat saya masih duduk kelas 6 SD. Ini bukan saya yang mengalaminya, saya hanya saksi mata. Teman sekelas saya yang menjadi korban. Saya nggak mau cerita detail kalau yang ini, soalnya kan menyangkut privacy teman saya juga. Dulu mikirnya, “oh si B cantik jadi disayang banyak orang,”. Dan ternyata ada sebuah kejadian yang sebenarnya adalah pelecahan seksual. Cuma saat itu saya yang masih bocah bingung mau ngomong ke siapa. Teman saya yang jadi korban pun diam saja. Nggak berani bilang ke orang tuanya. Seiring waktu berlalu dan semakin bertambah pengetahuan, saya sadar jika dulu yang dialami oleh teman saya adalah termasuk pelecehan seksual. Kasian : ( semoga sekarang dia baik-baik saja.

Semoga dengan tulisan ini bisa bermanfaat ya teman-teman. Silahkan ambil yang baik dan buang yang buruk ๐Ÿ˜Š.

Iklan
Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Jalan-Jalan ke Cikini

Okay. Ehm. Halo.

Alhamdulillah ya akhirnya saya kembali ke rumah ini lagi. By the way, ada yang kangen aku nggak? ๐Ÿ˜

Ada beberapa teman dari dunia nyata yang ternyata sering kepo-kepo blog sederhana ini tanya, “Kok lama ga update?”, “Kamu ngapain aja sih kalau di kos? Kapan nulis cerpen lagi?,”. Kalau ada yang tanya gini, enaknya dijawab apa yaaa? Karena kadang pengin kelihatan sok sibuk gitu jadi jarang update blog huehuee. Alasan yang tak bermutu.

Oyaaa hari ini adalah tepat 2 bulan saya resign dari kantor lama dan menjadi pendatang di kantor baru. Ciye. Alasan saya jarang update blog sebenarnya juga karena ini. Yup, karena saya masih bergelut dengan segala jenis orientasi di tempat kerja baru. Ditambah lagi dengan adaptasi yang juga tak mudah. Butuh usaha lahir dan batin yang sama-sama menghabiskan energi dan duit. Tuh kan malah jadi tjurhat kan? Skip skip.

Siang tadi saya memutuskan untuk jalan-jalan. Refreshing sejenak dari kehidupan RS yang kadang bikin pusing pala. Dan karena kebetulan tanggal 2 Maret alias tanggalnya masih muda banget, saya memutuskan untuk menghabiskan hari libur saya dengan…. nonton film! Bentar bentar, kenapa hari Jumat kok libur? Di kalender tintanya masih biru kok. Jangan jangan kamu bolos kerja yaa? Hei hei, jangan su’udzon dulu. Hari Jumat saya libur memang karena kebetulan saya sedang bebas shift. Berhubung sekarang pekerjaan saya bukanlah pekerjaan yang menuntut hari kerja Senin-Jumat dan libur di hari Sabtu-Minggu jadi terkadang saya kerja di saat kebanyakan orang menikmati liburan mereka atau sebaliknya. See? Begitulah kehidupan tenaga medis. Enjoy aja lah ๐Ÿ˜

Setelah saya pikir-pikir, akhirnya saya putuskan untuk nonton di Metropole XXI Menteng. Dah, begaya bener! Wkwk gapapa lah ya, mumpung awal bulan. Saya juga dari dulu penasaran banget sama gedung yang ternyata merupakan cagar budaya ini. Setelah saya baca di Wikipedia (jujur amat sih Des ๐Ÿ˜†) gedung bioskop Metropole ini awalnya dibangun di era masa kolonial Belanda sekitar tahun 1932 dan bernama Bioscoop Metropool. Dari awal dibangun nih gedung memang dikhususkan untuk memanjakan para penikmat film. Awalnya hanya terdiri dari 1 theatre yang bisa menampung hampir 1000 orang. Wiiih banyak bener ya! Namun sekarang sudah direnovasi dan jumlah theatrenya juga lebih dari satu. Untuk lebih lengkapnya, baca di Wikipedia atau gugling sendiri aja deh ya! Xixixi we capek ngetik cyin!

Saya berangkat dari kos menuju stasiun Juanda dengan diantar bapak gojek nan baik hati. Kemudian dilanjutkan naik KRL menuju stasiun Cikini. Nah, yang lucu disini nih. Berhubung saya masih buta Jakarta, masa’ iya saya pesen gojek dari stasiun Cikini ke Metropole! Khan ga lucu ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ sampai babang gojeknya bilang gini, “Mbak, metropole deket loh, beneran nih naik ojek?”. Memang sih saya sempat melirik gmaps, hanya butuh 5 menit dari stasiun Cikini menuju Metropole by walk. Tapi yasudahlah, sudah terlanjur pesan dan tadi siang Jekarda panasnya Masyaa Allah… panas bangetzzzz. Sambil pura-pura bete saya bilang ke masnya, “Cuss lah mas! Panas,”. Si mas gojek pun segera memacu kendaraannya. Dan benar saja ngga sampai 3 menit saya sudah sampai di depan Metropole! Ya ampun ternyata cuma seencrit. Pantesan diaplikasi cuma bayar 3rebe ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.

Sudahlah lupakan drama tadi. Saya pun segera memasuki kawasan bioskop ini. Kesan pertama sih, ini gedung emang bangunan kuno banget. Khas arsitektur Belanda, pantas saja jadi salah satu cagar budaya. Begini penampakan luarnya.

Waktu itu pukul 12.16 WIB. Saya mengantri beli tiket dan dapat yang jam tayang pukul 12.45 WIB. Wah, syukur deh masih bisa sholat dulu. Asyiknya nih, mushola di komplek Megaria cukup nyaman. Lumayan besar dan bersih, mukenanya juga wangi. Ssttt kebersihan dan kewangian mukena itu mempengaruhi kekhusyuan shalat loh. Iya ga buibuk? Hehe.

Trus, film yang kamu tonton itu apa sih Des?

Ookaay, jadi tadi siang itu saya nonton ini.

(Jari aku gemuk amat ya? ๐Ÿ˜)

Yap, Red Sparrow. Film bergenre thriller mystery yang dibintangi si aktris cantik Jennifer Lawrence (si mbak Katnis Everdeen dalam serial Hunger Games). Masih inget kagak gimana sesembaknya dijuluki Girls on Fire di Hunger Games? Kece banget kaan? Nah, di film ini mbak Jennifer Lawrence berperan jadi mata-mata Rusia yang dijuluki sparrow. Mirip agen CIA nya Amerika gitu. Tugasnya si mbak JLaw ini buat pedekate sama agen CIA yang ganteng agar bisa mendapatkan informasi terkait keamanan negara mereka. Eeh terlalu lama pedekate malah jatuh cinta beneran tuh si mbak dan masnya.

Why nonton Red Sparrow?

Karena tertarik habis nonton trailernya. Banyak adegan pembunuhan sadis yang berdarah-darah gitcu. Di trailernya juga akting mbak JLaw kayaknya kok keren bingits. Khan saya jadi penasaran gitu. Oya katanya film ini diangkat dari sebuah novel dan penulis novel ini mantan anggota CIA. Duh, makin bikin penasaran kan?

So, after nonton nih, recommended gak nih film?

Waduh kalau memutuskan recomended atau enggaknya sih maaf aja saya nggak berhak cyin. Just bocoran aja ya, film ini cukup banyak adegan sadis seperti pembunuhan yang darahnya sampai muncrat muncrat, hubungan sex, dan lain lain. Makanya film ini dilabeli 21++. Jadi dik adik manis yang belum 21 tahun mending nonton yang lain aja yah ๐Ÿ˜ *ternyata 25 tahun menguntungkan juga yes*. Ada beberapa adegan yang terpaksa di cut sama KPI yaitu pas adegan ranjang Jlaw sama lawan mainnya. Si agen CIA nan ganteng itu. Maybe karena terlalu vulgar kali ya. Ndak baik ditonton bagi para jomblo *eh. Sayangnya adegan pemotongannya itu kasar banget. Jadi aneh dilihatnya. Dan sepertinya di adegan itu ada dialog yang cukup vital. Soalnya kenapa tiba-tiba Jlaw lengket amat sama si masnya. Pokoknya bagi kalian kalian yang nggak tahan nonton yang berdarah darah mending nggak usah nonton deh. Ngilu cyin!

Eh, pertanyaan terkahir nih, tadi nonton sama siapaa?

Oke jadi tadi itu saya nonton bareng… Nicholas Saputra *tapi dalam mimpi๐Ÿ˜‚. Yap, saya nonton sendiri aja. Puas? Wkwk. Ya iya lah emang mau sama siapa lagi. Temen yang sekiranya punya selera film yang sama sedang kena shift. Ngajak temen yang free dia nggak suka genre thriller. Pusing khan? Daripada nggak jadi nonton, mending berangkat sendiri aja deh. Ternyata nonton film sendirian nggak secanggung yang saya bayangkan. Awalnya sempet mikir, wah gimana nih kalau nanti banyak pasangan terus saya sendirian, di pojokan kayak orang ilang? Gimana nih kalau nanti saya dipepet sama pasangan, maksudnya samping kanan-kiri diapit sama pasangan? Hah, semua itu hanya mitos saudara-saudara! Saya enjoy enjoy saja sepanjang nonton. Nggak ada juga yang merhatiin saya. Jadi pede aja lah. Saat saya amati sekeliling, ternyata banyak juga penonton yang ternyata nonton sendirian kayak saya ini. Dunia tidak sekejam ibu kota gan. Hehehe.

Kesimpulannya film Red Sparrow ini bagus (apalagi aktingnya Jlaw) tapi yang nggak bagus-bagus banget sih #lah. Gimana ya ngomongnya. Pokoknya gitu deh! ๐Ÿ˜† soalnya #RedSparrow nggak sampai bikin saya terngaga, terdiam, terkejud macam saat selesai nonton Gone Girl hehe. Maybe kalau ada lembar penilaian saya kasih 7.5/10.

Demikian sekelumit cerita dari saya. Semoga weekend kalian menyenangkan!

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Jalan-Jalan ke UI Depok

Berawal dari weekend tanpa agenda, akhirnya saya memutuskan untuk silaturahim ke tempat Nada. Nada ini adalah adik kos semasa SMA. Iya, semenjak SMA saya sudah mengalami nano nano rasanya jadi anak kosan. Meskipun tiap weekend pulang sih, tapi tetap saja menjadi anak kosan memberi pengalaman dan kenangan tersendiri.
Jumat sore, sepulangnya bekerja saya lekas bersiap menuju Depok. Rencana akan menginap ke rumah kakak di Depok barulah besok paginya meluncur ke tempat Nada. Sekitar isha, saya sampai di stasiun Juanda. Ini merupakan pengalaman pertama saya naik KRL di jam pulang kerja saat weekend pula! Ya ampun “Ini nih baru namanya Jakarta,” gumam saya. Ya, saya yang lama tinggal di desa terpana melihat ke-hectic-an Jakarta. Lebay banget pokoknya.
Saya pun meluncur ke Depok bersama kakak (sebelumnya kami janjian untuk bertemu di stasiun Juanda). Di dalam KRL saya melihat para penumpang baik itu perempuan, laki-laki, mas-mas, mbak-mbak, bapak-bapak, ibu-ibu, kakek-nenek semuanya tampak sibuk dengan dunia mereka sendiri. Ada yang asyik main hp, tidur, bersandar di bahu pasangan (eh) atau yang asyik melamun seperti saya hehe. Saya mbatin, “Kamu baru seminggu di Jakarta, masih banyak minggu-minggu yang harus kamu jalani, semangatttt,” kemudian saya tertawa tanpa bersuara.
Singkat cerita saya sampai di rumah kakak dalam keadaan mata ngantuk dan badan capek sekali. Saya pun menutup hari dengan tertidur pulas di depan tv ๐Ÿ˜‚.
Sabtu pagi, selesai acara nyuci baju segambreng saya bersiap ke tempat Nada di daerah Margonda. Ya, Nada ini bekerja sebagai asdos di FEUI. Jadilah hari ini saya minta ditemani jalan-jalan keliling UI. Perjalanan ke Margonda diawali dengan mas-mas gojek yang kelewat baper. Jadi ceritanya saya pesen gojek tuh, saat masnya datang tenryata motor yang dipakai sejenis motor vi*ion (motor cowok lah pokoknya). Terus saya digodain tuh sama kakak saya, mbak ipar dan mas Bondan (teman kakak). “Peluk.. peluk,” kata mas Bondan seraya memeragakan diri sedang memeluk seseorang. Eh ogah lah saya main peluk-peluk ๐Ÿ˜‚ dikira boneka. Alhasil tuh sepanjang perjalanan saya ditanya banyak banget sama si Masnya. Sampai ke masalah pacar dan pekerjaan. Hingga akhirnya sampai di Margo City (tempat ketemuan saya dengan Nada) si Masnya masih baper.
Mas gojek: “Neng nanti pulangnya gimana?”
Saya: “Paling naik gojek lagi mas,”
Mas gojek: “Pulang sama saya aja Neng, nanti saya jemput, wa aja ya,”
Saya: (ketawa sambil buru-buru lepas helm dan ngacir pergi) makasih mas!
Mas gojek: gak ngerti ngomong apalagi.
Ada-ada aja si mamang gojek ini. Untungnya nomer yang saya daftarin di gojek bukan nomer utama, ga ada WhatsApp juga ๐Ÿ˜ jadi aman deh ๐Ÿ‘Œ.
Tepat pukul 11.30 WIB saya melihat sesosok perempuan berjilbab hitam menghampiri saya. Surprise! Si Nada ketemu juga. Ternyata ini anak kurusan, lebih kurus dari saat terakhir ketemu. Kenapa kau kurusan bu dosennn??? Pasti mahasiswanya pada susah diatur ya haha ๐Ÿ˜. Akhirnya kita memutuskan ke foodcourt dan cerita ngalor ngidul.
“Gini nih mbak kalau di Jakarta, mall lagi mall lagi,” kata Nada. Dia rupanya rada kesel karena inginnya ketemuan di luar mall.
“Iya yah orang Jakarta pada suka ngemall,” jawab saya.
“Ya karena mall itu adem mbak. Jakarta udah panas, mereka ngemall buat ngadem,”
Ya memang sih, siang itu Depok sungguh menyengat. Panas sekali rasanya di luar. Saya jadi kangen sejuknya kampung halaman ๐Ÿ˜ข.
Setelah puas muterin Margo City, saya minta Nada untuk main ke UI. Tujuan pertama kita adalah Danau UI, dilanjutkan ke perpustakaan UI, rektorat dan sebelum pulang saya mampir ke MUI atau Masjid UI. Berada di sekitar Danau UI membuat saya lupa sejenak dengan bisingnya Jakarta. Rasanya adem dan damai. Asyik lah buat ngobrol dan juga foto-foto ๐Ÿ˜„ #tetepyah #kidsjamannow. Saat saya main ke UI, saya melihat tidak banyak mahasiswa bersliweran karena kata Nada memang saat ini sedang masa liburan semester. Jadi banyak mahasiswa yang memanfaatkannya untuk pulang kampung. Geser sedikit, dari danau UI ke rektorat. Ini permintaan saya sih , saya pengin foto ala ala wisudawan wisudawati UI yang sering muncul di explore IG ๐Ÿ˜„. Yah, siapa tau ya rejeki bisa lanjutin pendidikan lagi di UI. Sayangnya saya nggak sempat main ke FIK (Fakultas Ilmu Keperawatan) UI. Padahal pengin bangeeettt. Yah, mengingat waktu sudah sore dan sebentar lagi adzan maghrib berkumandang, rute pun berbelok ke Masjid UI atau MUI. Disana tenyata cukup banyak mahasiswa yang sedang diskusi atau kajian. Saya jadi teringat jaman kuliah, sore-sore begini sering diajak liqo/kajian. Duuuh jadi rindu Semarang~
Hampir seharian jalan kaki, perut pun protes minta diisi. Nada memberi rekomendasi untuk makan Mie Aceh dekat stasiun pocin (pondok cina) . Katanya sih itu Mie Acehnya endess banget. Dan ternyata bener sih, enak banget! Mungkin karena efek capek dan lapar juga kali ya atau malah doyan? ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜
Di warung Mie Aceh kita berdua sibuk nostalgia mengingat kembali keseruan jaman SMA. Terutama serunya jadi bagian kosan bu Bandi. Saya dan Nada sibuk ngabsenin para personil alumni Kos Bu Bandi yang sekarang sudah tersebar seantero dunia. Ceilah! Ini list kami dari hasil kepo IG atau kirim WhatsApp langsung.
Alumni senior (menjadi penghuni kosan saat kelas XI) dan domisili saat ini:
1. Saya (Jakarta)
2. Mbak kembar (Bintaro)
3. Fitri (Jogja)
4. Erin (Bandung)
5. Nindy (Jakarta)
6. Henggar (Hongkong, China lagi lanjut S2)
7. Lina (Cilacap)
Alumni junior (masuk pas kelas X)
1. Nada (Jakarta)
2. Lia (Jakarta)
3. Indri (Jakarta)
4. Yuan (Semarang)
5. Metri (Jakarta)
6. Ayu (belum ada kabar)
7. Iko (belum ada kabar)
8. Indy (belum ada kabar)
9. Anggi (Jogja)
Ternyata kebanyakan alumni kosan Bu Bandi hijrah ke Jakarta ya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ hobi banget sih merantau naq? Haha. Pertemuan dengan Nada pun ditutup dengan didirikannya sebuah grup WhatsApp bernama ALUMNI BU BANDI โค๏ธ. Harapannya sih semoga silaturahmi para alumni tetap terjaga. Kalau pada nikah silahkan kabar-kabar. Inshaa Allah jikalau ada waktu dan kesempatan disempatkan datang๐Ÿ˜‰
Sekian dan Terimakasih.
Terimakasih untuk Dhiafah Qatrunnada alias Nada yang telah menyisihkan waktu di tengah kesibukannya untuk menemani saya jalan-jalan. Terimakasih telah membuat saya tidak mati kutu di kosan ๐Ÿ˜‚. Makasih juga untuk kakak dan mba ipar sudah menampung saya selama di Depok. Sepertinya bakal sering merepotkan karena saya akan lebih sering main ke Depok ๐Ÿšต๐Ÿšต๐Ÿšต

Jangan lupa untuk swafoto! ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

Mikirin “ntar pulang sama siapa ya?” ๐Ÿ˜ difotoin sama Nada. Ternyata doi punya bakat jadi fotografer.

Seberang sana tu namanya Rektorat โค๏ธ

Ditulis di kamar kosan yang sekalinya buka jendela terlihat kerlap kerlip kandang burung raksasa ๐Ÿ˜‘

Penampakan Jakarta dari kosan. Hmmphhhh.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Rasanya Ditinggal Nikah

Assalamualaikum. Haloo semuanyaaa!! Anyeong haseyo! Moshi moshi! 

Ternyata udah lama juga ya ngga coret coret layangan ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†. Tiga bulan terakhir ini saya memang jarang update karena ehem, kesibukan yang membabi buta. Ciyeee #soksibuk banget dah. Maklum lah ya, akhir tahun kerjaan kayak ga ada selesainya. Laporan dimana-dimana, dateline merajalela. Maak, butuh tukang pijet. Saat nulis ini pun, badan saya rasanya masih ga karuan. Batuk, pilek dan ‘pating nggreges’ rasanya ๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข

Jadi ada perkembangan apa selama 3 bulan ini? 

Pengumumumannya adalah.. jeng jeng jeng! Saya habis ngurus nikahan. Whattt??? Kamu nikah Desss? (Seseorang bertanya dengan tampang kagetnya). Tunggu dulu, saya belum selesai nulis. Bukan saya kok yang nikah, tapi mbak kembar saya! 

Iyaaa.. huhuhuu.. saya ditinggal nikah sama kembaran sendiri ๐Ÿ˜‚. Jadi alhamdulillah tanggal 17 Desember 2017 kemarin mbak kembar saya resmi dihalalin sama masnya.  Mbak Destina dan Mas Wasis resmi menyandang status baru sebagai istri dan suami. Ceilaaaa. Rasanya terharu banget melihat mbak kembar akhirnya menemukan belahan jiwanya. Saya tahuuuu betul bagaimana perjuangan dia dalam menjemput jodoh. Mbak kembar saya ini selama 24 tahun mengarungi kehidupan belum pernah pacaran loh! Alhamdulillah dia selalu menjaga pergaulannya. Saat saya tanya alasannya kenapa ga pacaran, jawab dia adalah “Pacaran itu ga ada manfaatnya. Ngapain buang waktu untuk sesuatu yang jelas jelas unfaedah,” woow!! Hebaaat yaaaa ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘. Sekarang Alhamdulillah sudah halal juga ya mbak ๐Ÿ˜Š๐Ÿ’•๐Ÿ’•. 

Lantas, bagaimana rasanya ditinggal nikah sama kembaran sendiri? 

Jujur saja, saya mengalami jet lag, shocked dengan status baru saya. Meski yang nikah adalah mbak kembar, saya juga punya status baru sebagai “kembaran yang ditinggal nikah” hahhaha maksa. Setelah mbak kembar nikah, otomatis saya kehilangan ritual malam yang sering kami lakukan bersama: curhat sebelum tidur. Yaaap! Biasalah buibuk pasti senengnya cerita ngalor ngidul ngetan ngulon kan yaaa? Nah, kita pun sama. Setiap sebelum bobok kita sering cerita sampai lelah dan mengantuk. Semua bisa kita bahas, kita ketawain bareng-bareng kalau ada hal yang lucu. Kadang bisa curhat sampai tengah malam atau sampai denger suara ayam jantan berkokok. 

Sekarang…. mbak kembar sudah punya suamik. Dia sudah bobok sama suaminya ๐Ÿ˜ฟ. Lalu saya perlahan tergusur…. saya pun memilih untuk tidur bareng ibuk yang membuat bapak harus mengungsi ke kamar belakang ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ (Maafkan anakmu pak!) . Habisnya biasa tidur ada temennya, ini disuruh tidur sendiri, kan sedih yaaa. Jadi butuh adaptasi haha.  

Finally… saya sudah berada di fase ini. Fase dimana kembaran saya menikah dan dia sudah memiliki kehidupan dan tanggung jawab sendiri. Memang sih kadang ada rasa cemburu, “Kok sekarang jadi jarang whatsapp,” atau “sekarang kalau mau pergi udah gak minta ditemenin aku lagi. Sekarang udah ada suaminya yang siap antar jaga,”. Sedih? Yes. Tapiiii cuma dikit kok. Yang banyak bahagianya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ’•๐Ÿ’•. Barakallahu lakuma wa baraka alaikuma wa jama’a baynakuma fii khair untuk mbak kembar dan mas kembar. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawwadah, warrahmah. Semoga lekas dikaruniai buah hati yang lucu-lucu yaaaa. Aamiiin. 

Fyi, mas ipar saya ini juga kembar loh hehe. Bedanya, kembaran mas ipar saya udah nikah sedangkan kembaran istrinya masih betah sendiri aja ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. 

Oya, sepanjang 2 hari saat hajatan kemarin berulang kali saya mendapat pertanyaan “Kamu kapan nyusul?”, “Kenapa nggak bareng aja si nikahnya?,” atau “Udah ada calonnya kan?” ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Huahauahaua. Memangnya memilih pasangan segampang pilih baju saat diskonan? 

Jumat besok saya rencana ke Jakarta.  Inshaa Allah mulai Januari besok dan untuk waktu yang tidak bisa ditentukan saya akan banyak menghabiskan waktu di Jakarta ๐Ÿ˜Š yes, i’ll move to Jakarta. Ada rezeki yang Inshaa Allah berkah disana. See you soon Jakarta! Please be nice โค๏ธ

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Orang Baik di Sekitar Kita

Selasa, 10 Oktober 2017.

Pagi tadi, kota Cilacap berawan tapi tidak hujan. Hanya udara lumayan panas. Saya yang semalam sengaja melupakan diri untuk tidak makan malam akhirnya terpaksa keluar kosan untuk mencari makanan pengganjal perut. Maka diputuskannya lah saya sarapan dengan nasi uduk. Sayangnya saya nggak beli nasi uduk “Umi” seperti yang biasa saya beli karena mungkin Umi yang asli Sunda itu sedang pulang kampung ke Garut sana. Ya, karena beberapa hari ini saya melihat warung di ujung gang itu tutup. Saya akhirnya beli nasi uduk di warung saingannya Umi. Penjualnya Mas Mas yang menurut saya cukup cute untuk menjadi penjual nasi uduk (?). Cukup 6 ribu rupiah dan perut pun kenyang.

Selesai sarapan saya bergegas untuk berangkat ke kantor. Ganti baju, pake make up, dan taraaaa! Saya kaget bukan kepalang saat akan menyalakan motor, “Loh kok mesin motornya mati?” Gumam saya dalam hati. Saya lirik jam, wih udah jam 7.24 Wib (kantor saya masuk jam 7.30). Dijamin telat nih nyampe kantor. Saya coba cagak berdiri (bahasa Indonesianya apa ya cagak berdiri itu? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚). Saya coba nyalakan tetap aja nggak bisa. Duh sedih kali, mana jadi keringetan. Luntur deh itu me’ap ๐Ÿ˜‚. Saya pun bergegas ke rumah bapak kos untuk minta bala bantuan. Bapak kos menawarkan diri untuk membantu mengantar ke bengkel. Alhamdulillah… sampai akhirnya tetangga kosan saya (kamarnya persis di sebelah kamar saya) keluar hendak berangkat kantor. Si masnya tanya kenapa saya panik dsb dan saya pun menjelaskan jika motor mogok. Si mas manggut manggut dan ikut mencoba menyalakan motor tapi sayangnya gagal juga. Si merah matic-ku kenapaaa? Hiks. 

“Sepertinya ada kabel yang putus mba, dibengkelin aja. Mbaknya berangkat bareng saya aja,” tawar si Mas baik hati ini. 

“Beneran Mas? Wah alhamdulillah… makasih ya Mas,” saya pun tersenyum lega. Alhamdulillah…. betapa Allah Maha Baik, Ia menurunkan pertolonganNya  melalui si Mas baik hati dan Bapak kos yang super perhatian. 

“Sudah mbak berangkat aja, biar motor saya antar ke bengkel, nanti saya ambil sekalian,” 

KURANG ROCK N ROLL APA LAGI COBA BAPAK KOS SAYA? pengin deh saat itu juga pelu ibuk Kos wkwkw. Habisnya baik banget sih โค๏ธ saya serahkan kunci motor dan berangkat ke kantor dengan senyum sumringah eh dengan keringetan karena ngeslah motor gagal terus. 

Dan bisa ditebak kan? Nyampe kantor sudah hampir jam 8. Saya telat banyak menit ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

Hari ini mengajarkan betapa orang baik itu masih ada di sekitar kita. Saya jadi inget film Pay It Forward. Filmnya jadul banget, mungkin keluaran tahun 2003-2003. Menceritakan seorang anak kecil yang memiliki gagasan untuk menyebarkan kebaikan. Prinsipnya, jika hari ini kita menerima kebaikan/pertolongan dari orang lain, maka kita wajib membayarnya dengan menolong orang lain juga (tentunya orang yang berbeda). Nah si anak kecil yang punya ide itu mempraktekannya ke komunitas terkecil lingkungannya. Mulai dari keluarga, teman bermainnya, geng anak jalanan di sekitar rumahnya dan hasilnya keren banget! Semuanya berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan. Kalau dalam islam dikenal dengan Fastabikulkhairat.  Jika itu benar-benar dilakukan di dunia nyata, ah indahnya…….. 

Dan karena saya berangkat tidak membawa sepeda motor, pulangnya pun saya masih harus merepotkan orang lain. Terima kasih mba Monic sudah mau mengantar sampai kosan ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰ ๐Ÿ˜˜

Rasanya hari ini itu…… lelah tapi semoga lelah ini Lillah…. Aamiiin. Selamat malam, selamat istirahat. 

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Menikmati Sabtu Pagi di Dream Land Park

Hallo Sabtu ๐Ÿ™‚

Alhamdulillah akhirnya bertemu hari Sabtu juga. Hari yang sudah dinanti nanti sejak hari Senin. Biasalah..buat orang macam saya yang kerjanya di kantor, di ruang berAC dan mostly of my time dihabiskan di depan komputer. Rasa-rasanya bertemu hari Sabtu adalah suatu kebahagiaan yang hqq ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Sabtu yang tak perlu bangun pagi (tapi akhirnya tetep bangun pagi juga), tak perlu buru-buru sarapan dan berangkat kantor, finally bisa dihabiskan leyeh leyeh seharian di kasur sambil nonton film di laptop. Ah, indahnya Sabtu…โคโคโค

Oke. Namun Sabtu kali ini ternyata tidak bisa saya habiskan dengan sekedar leyeh-leyeh di kasur layaknya Sabtu Sabtu saya yang lain. Sabtu pagi ini saya habiskan dengan…..berenang! Eh tepatnya nonton orang berenang sih hihihi. Jadi, mbak kembar semalam ngajakin renang di sebuah kolam renang hits di deket rumah. Tempat wisata air tersebut adalah Dream Land Park Spring Water. Letaknya di kec. Ajibarang kab. Banyumas, kurang lebih 15 km dari kota Purwokerto. Mungkin mbak kembar kasihan lihat wajah adeknya yang udah pingin piknik tapi nggak ada yang ngajakin. Jadilah untuk menghibur saya, dia pun inisiatif ngajakin saya renang. Makasih loh mbak. Kau baik hati sekali. Ehem.

Nah pertanyaannya kenapa saya nggak ikut nyebur? Percuma kan datang ke kolam renang tapi ujung-ujungnya baju nggak basah? Hayooo kira-kira kenapa coba????

Bukan, bukan saya nggak bisa renang. Gini gini saya bisa renang meski pakai gaya alakadarnya alias yang penting bisa *ngambang* atau berpindah dari titik satu ke titik lain ๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ mengingat saya bukan perenang pro dan nggak pernah ikutan les atau semacamnya. Bisa renang pun karena tuntutan mata pelajaran saat SMP dan SMA yang salah satu penilaiannya adalah: bisa renang minimal meluncur wkwkwk. Saya memutuskan nggak ikut renang karena takut gosong, eh nggak deng. Yap, Karena saya sedang PILEK! Huhuhu sedih banget padahal kan hasrat renang sudah tak tertahankan ๐Ÿ˜ข tapi daripada pilek makin parah maka saya putuskan untuk jadi penonton saja. Ngetawain mbak kembar dan Mega yang renang tapi malah ngobrol berdua di bawah pancuran. Alesan mereka sih neduh biar gak gosong. Lah? Maksud lau ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Meski tergolong dekat dari rumah (hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk mencapai lokasi), saya baru pertama kali main ke Dream Land. Selain karena saya jarang di rumah, kalau ke Dream Land seringnya saya mikir dua kali karena selalu ramai. Objek wisata ini sudah cukup terkenal sampai kabupaten tetangga soalnya. Sebagai orang dengan kepribadian yang katanya introvert (btw menurut hasil test di suatu web psikologi saya ini berkpribadian introvert) saya memang tak terlalu suka keramaian. Saya lebih suka menyendiri di pojokan (lah emang cicak?). Nggak kok, nggak segitunya. Kalau kata temen saya sih saya introvert hanya diawal-awal saja. Alias sama orang baru saja. Kalau udah kenal sih akhirnya bisa berisik juga ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Oke balik ke topik awal…..

Dream Land Park sendiri memberikan beberapa fasilitas kolam renang yang menurut saya lumayan lah untuk dicoba. Ada 3 kolam dewasa dengan slide yang cukup menantang, lebih dari 5 untuk kolam anak, ada kolam ombak, terapi ikan dan wahana bermain anak lainnya

โ€‹
Bagi saya cukup menghibur juga main main disini. Meski gak main air dan cuma jalan jalan saja sih hehe. Cukuplah untuk olahraga bagi saya yang kebanyakan duduk ini. Oke sembari menunggu mbak kembar dan Mega berenang, saya update cerita di blog alakadarnya ini. Updatenya sambil mengamati anak-anak yang asyik berenang di kolam renang Sambil pasang wajah mupeng. Oh ya slide di Dream Land ini sepertinya cukup menantang. Lain waktu jika pilek saya sudah sembuh bolehlah icip icip renang disini 

๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ

โ€‹

โ€‹

โ€‹
โ€‹โ€‹

Tiket masuk: dewasa 30k idr. Anak-anak 15k idr. 

Minus: karena ruang terbuka jadi pengunjung bebas merokok :((((( sediiih deeh sediiih

ps: Nungguin mbak kembar selesai renang. Katanya setelah ini mau ditraktir sosis bakar hihihi

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Lebaran atau Lebar-an?

Hello!

Welcome back to my #acakacakan blog ๐Ÿ˜‚ gimana kabar perut? Semakin membuncit kah? Gimana kadar LDL, HDL, Kolesterol? Masih aman kah? Hahaha meski lebaran makanan melimpah ruah, please jangan kalap ya teman-teman. Kasian tuh perut kaget ๐Ÿ˜… ini lebaran bukan lebar-an? *nengok lingkar perut sendiri*

Gais..nggak kerasa yaa lebaran yang dinanti sudah lewat saja. First time saya mengucapkan:

“Taqobalallahu minna wa minkum. Selamat hari raya idul fitri 1438 H teman-teman blogger semua ๐Ÿ˜Š maafkan semua salah saya yaa baik yang disengaja atau tidak. Mungkin pernah komen nyelekit di blog kalian, atau kalian komen terus lupa gak saya balas ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ maafin segala salah dan khilaf saya yaa. Semoga tahun depan masih bisa bertemu dengan ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat. Aamiin”

Kegiatan lebaran saya sepertinya hampir sama dengan orang-orang kebanyakan. Bangun subuh, Mandi, shalat subuh, sarapan (it’s sunnah), siap-siap ke masjid, shalat id dan salam-salaman. Jika lebaran masjid deket rumah jadi berasa keciiiil banget karena membludaknya jamaah. Terus seperti biasa saya banyak nggak kenal sama muka-muka baru yang ternyata mereka adalah para perantau yang lagi pada mudik. Si A yang ternyata istrinya mas B. Anak Y yang ternyata anaknya mas C. Hadeuh, pusing sayanya. Dan lagi! Kawan SD saya terkhusus yang cewek-cewek udah pada gendong baby! ๐Ÿ˜ฑ oemji, baper he eh? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ ย #nggakusahnanya!

Lebaran kali ini rumah cukup sepi karena ini pertama kalinya lebaran tanpa mbah kakung dan Mbah putri ๐Ÿ˜ข sedih emang, biasanya kan habis minta maaf sama ibu Bapak kita langsung cus ke rumah mbah untuk maaf-maafan. Sekarang nggak lagi. Tapi ga papa, inshaa Allah mbah sudah tenang disisiNya. Aamiin.

Lebaran kali ini pun tanpa kehadiran mas dan mbak karena lebaran di orangtua mbak ipar di Surabaya sana. Jadi lah ibu, Bapak, saya dan mbak kembar, berempat ย keliling ke rumah sanak saudara. Mulai keliling jam 9 pagi nyampe rumah jam 4 sore. Ya ampun rasanya capek kuadrat! Keluarga saya memang nggak mengenal istilah mudik karena saudara ibu dan Bapak masih satu kecamatan ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ mudik bisa ditempuh dalam waktu 15 menit hahaha. Hemat waktu dan duit euy! :p :p Cuma paling lusa kalau jadi mau ke Slawi, ke rumah saudara Bapak. Itu yang paling jauh haha.

Oya, biasanya kalau lebaran gini, keluarga ngumpul di tempat pakde selaku saudara tertua dari ibuk. Enaknya, kalau di tempat pakde itu banyak makanan dan rame! Secara anaknya pakde banyak dan saudara dari ibuk juga pada ngumpul disitu. Menu lebaran kemarin bude dan mbak mbak masak bakso ikan patin. Hmm..sedaaap! Saya sampai habis dua mangkok hahaha #kalap maaaak.

Alhamdulillah lebaran day 1 and day 2 terlewati dengan lancar jaya meski diwarnai dengan pertanyaan serba “kapan?” “Siapa calonnya?” “Siapa duluan? Atau mau barengan?” Deuuuuw. Semua sudah bisa kujawab dengan….“MINTA DOANYA AJA BUDHE, BULIK, PAKDE, PAKLIK,” ย kemudian kasih bonus senyuman paling manis. #eaaaak

Lebaran oh lebaran, ternyata dikau cepat sekali berlalu. Segala euforia akan terganti dengan rutinitas seperti biasa. Ngantor lagi, nyari recehan lagi. Ah, gapapa, nggak usah dipikirin, semua itu masih minggu depan juga! ๐Ÿ˜‚ sisa liburan kali ini harus dimanfaatkan dengan baik! Yosh!

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Kawan Lama yang Tiba-Tiba Datang Menjemput

Malam tadi selepas isha saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Sisa-sisa berkas lemburan masih bertebaran di meja. Rasanya jenuh dan muak sekali melihat tumpukan berkas yang tak kunjung mengikis ini.

Jam menunjukan pukul 19.40 WIB. Setelah mampir bentar ke kos untuk mengambil baju kotor, lekas saya memacu kendaraan menuju rumah. Sepanjang jalan pulang suasana cukup ramai. Suara kajian di masjid-masjid pinggir jalan pun samar-samar terdengar. Lebih banyak lagi orang-orang yang berkendara memenuhi jalan raya untuk tujuan bertemu keluarga atau memang hanya sekedar melepas penat semata.

Keluar dari wilayah kota Cilacap, volume kendaraan mulai berkurang dan sepi mulai menggelayut. Sebelumnya saya tak pernah pulang selarut ini. ย Jika ingin mudik ke rumah maksimal pukul 18.00 WIB saya sudah harus keluar kantor. Malam ini pun awalnya saya tak ingin pulang ke rumah karena besok di hari Sabtu masih ada jadwal lembur lagi ๐Ÿ˜ฉ namun, sepertinya batin ini sedang membutuhkan asupan kasih sayang dari keluarga tercinta. Hingga akhirnya saya nekat untuk pulang saja.

Memasuki kawasan Jeruklegi (arah Cilacap-Wangon) volume kendaraan semakin menurun drastis. Hanya ada satu dua sepeda motor dari arah berlawanan. Saya pacu si merah dikisaran 60 km/jam. Tak boleh lebih, janji saya terhadap diri sendiri. Jujur, saya masih trauma memacu kendaraan terlalu kencang karena dulu akibat saya naik motor dengan kecepatan ala ala Valentino Rossi, saya pun jatuh dan lukanya masih membekas hingga sekarang ๐Ÿ˜ข. Sepanjang jalan saya banyak berdoa. Selain suasana sepi, hujan juga mulai turun cukup deras. Ini menambah penderitaan saya karena kacamata menjadi berembun dan jarak pandang menipis. Kalau kalian para pengguna kacamata pasti tahu lah bagaimana rasanya. Epic sekali. Hingga akhirnya peristiwa itu pun terjadi.

Di sebuah tikungan di depan saya ada truck tronton gandeng yang membawa muatan entah apalah itu. Karena saya pikir suasana sepi, jadilah saya mencoba mendahului/nyalip truck tersebut. Bodohnya, saya mencoba mendahului di tikungan. Dan saat mencoba mendahului truck ini, di depan saya dari arah berlawanan datang Bus PATAS. Allahurabbi! Saya kaget. Saat itu kondisi jalan sempit, hujan dan saya terjebak di dua kendaraan super besar. Sambil berusaha tetap tenang, saya pencet klakson mencoba memberi tahu si sopir tronton jika saya berada di sampingnya. Alhamdulillah, Bus PATAS tidak sedang melaju dengan kecepatan penuh sehingga semuanya bisa dikondisikan. Sopir truck tronton pun bahkan mau menghentikan kendaraannya. Can you imagine that? Saya persis berada di tengah-tengah dua kendaraan raksasa ini. Saat truck tronton berhenti, bus melaju perlahan. Ya Allah…saya mengucap syukur berulang-ulang. Saya ucapkan terima kasih kepada supir truck dengan membunyikan klakson. Semoga Pak supir nan baik hati ini mengerti sinyal sinyal yang saya berikan. Saya tidak bisa membayangkan jika Supir truck ini egois dan tetap melajukan kendaraannya. Akankah saya sekarang masih bisa menulis catatan ini? Saya pikir tidak.

Sepanjang sisa perjalanan pulang saya istighfar berkali-kali. Saya banyak baca doa sampai saya menangis. Kacamata yang sudah buram karena air hujan akhirnya tambah buram lagi oleh airmata sendiri. Duh, sedih.

See?

Kematian adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kita. Dan kapan pun bisa datang menjemput. Jika Allah sudah mengutus malaikat maut untuk menjemput umatNya, lantas kita bisa apa? Karena Allah sudah mengabadikannya dalam firmanNya jika setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Termasuk saya, kamu, kita.

Jika kawan lama ini menjemput saya suatu hari nanti apakah amalan saya telah cukup?

Apakah saya dijemput dalam keadaan baik?

Apakah kesalahan yang pernah saya perbuat pada teman, keluarga, rekan kerja yang kiranya luput dari ingatan saya dan saya belum sempat mengucap kata maaf?

Pertanyaan-pertanyaan itu senantiasa berputar sepanjang saya menghabiskan sisa perjalanan. Ah, saya jadi ingat ibadah saya selama ini kurang maksimal. Shalat tidak semua dilakukan di awal waktu, amalan sunnah yang masih minimal sekali, dan semenjak saya bekerja susah sekali membiasakan shalat tahajjud dan puasa sunnah. Sedih juga rasanya melihat targetan ramadhan yang belum berubah warna menjadi checklist hijau.

Kejadian malam tadi seolah menjadi pertanda jika suatu hari si Kawan Lama kita ini pasti akan datang. Entah nantinya ia akan datang dengan mengetuk pintu dulu atau tidak. Tinggal bagaimana saya akan menyambutnya nanti, maka mulai hari ini harus mulai dipersiapkan.

Selamat berjumpa dengan 10 hari ramadhan terkahir. #selfreminder banyakin amalan biar diberi nikmat sehat sehingga bisa melakukan kegiatan yang akan menambah pundi-pundi amal kita nantinya. Aamiin.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Adakah yang Tahu?

So, how’s your Monday fellas? ๐Ÿ˜„ *sok keminggris banget siiiy*

Senin saya kali ini sungguh luar biasa. Baru juga hari Senin, eh tiba-tiba dapat pengumuman dari pak bos jika terhitung mulai hari ini sampai seminggu ke depan bakalan ada lemburan di kantor. Yang biasanya pulang jam empat sore, mundur lamaan dikit menjadi jam setengah tujuh malam. So, its mean….bakalan buka puasa di kantor terus dong ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ hiks, padahal kangen masakan emak. Mamam tuh nasi kotak wkwk.

Oya, kali ini saya nggak nulis panjang x lebar seperti postingan sebelumnya. Di postingan kali ini saya cuma pengin nanya, diantara teman-teman Blogger adakah yang suka koleksi action figure? Terutama tokoh tokoh manga seperti Detective Conan, Naruto, Dragon Ball de el el? Karena saya sedang mencari toko online yang menjual action figure. Kalau bisa yang kualitasnya bagus ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ yang saya cari sih sebenarnya Action Figure tokoh karya-karya Studio Ghibli. Terutama Tottoro atau Ponyo. Saya udah lama kesengsem sama film-filmnya Ghibli and one of my favorite ya My Neighbour Tottoro ini. Mau nonton beberapa kali pun nggak pernah ada bosannya ๐Ÿ’ƒ

Sebenarnya saya sudah searching online shop di Instagram, namun karena banyaknya pilihan jadi bingung toko mana yang trusted. Ada yang bagus, ternyata shipping dari mancanegara. Duh, saya kan penginnya pengiriman dari Indonesia aja biar kagak ribet xixixi ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Jadi, tak ada salahnya kan saya nanya di blog, siapa tau ada yang tahu toko online recommended yang menjual macam macam action figure ini ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ yang tau, minta tolong share yaaaa ๐Ÿ™๐Ÿ™‡ maaciw โค

โ€‹

0562720163dd80dfd2acf2f51b19178a

6befa725e43c3a537c76b05eba89eeeb

6f783cebb43193e70dbfaa93746c019d

ini cutee bangeeet!!!!

Gambar ambil dari Pinterest ๐Ÿ™‚

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Siapa Mereka? (Part 2)

Malam itu bulan bersinar cukup terang. Sepertinya sebentar lagi memasuki pertengahan bulan. Pukul 20.45 WIB aku memastikan semuanya telah siap. Yap! Ini adalah kali pertama aku melakukan shift malam. Tas berisi kamus keperawatan, diagnosa penyakit dan kumpulan-kumpulan tugasku siap kubawa. Rencananya malam ini, jika ada waktu aku ingin menyelesaikan tugas-tugasku yang menggunung.

Aku keluar kamar. Belum ada jam sembilan malam tapi suasananya lumayan sepi. Hari ini Bunga, Laras, Ina dan Dani shift siang. Jadi mereka masih ada di RS. Sedangkan Yuni, Nita dan Kiki sepertinya mereka tengah keluar beli makan malam. Jadi tinggal aku yang tersisa di lantai 2. “Payah deh, nggak ada orang gini berarti nggak ada yang bisa dipinjami motor,” gumamku. Jadilah malam itu aku jalan kaki dari kosan menuju RS. Hmm..dinikmati saja deh, itung-itung olahraga.

Setelah handover/operan shift dan melihat kondisi serta catatan medis pasien, aku pun segera ke ruang obat untuk membantu perawat senior meracik obat. Oh iya, sebelumnya aku akan menjelaskan ruangan rawat dimana aku praktik. Jadi, di dua minggu pertama aku dan Ina mendapat jatah praktik di ruang Wijayakusuma yang merupakan ruang bedah pria. Ruangan ini terdiri dari ruang kelas 1, kelas 2 dan kelas 3. Total bed nya sekitar 24 bed. Karena aku masih mahasiswa jadi aku diberi tanggungjawab untuk mengurus pasien kelas 3 karena kebetulan pasien kelas 1 dan 2 nya sedang kosong sih hehe.

Malam itu hanya aku dan dua perawat senior lain yang berjaga. Sekitar pukul 22.30 WIB ada Pasien baru dari IGD. Pasien dengan BPH (benign prostate hyperplasia). Aku pun mendapat tugas untuk mengkaji pasien tersebut. Setelah dikaji dan dimasukan dalam rekam medis, mbak perawat yang jaga denganku memanggil. Rupanya ia baru saja konsul dengan dokter penangungg jawab ruangan.

“Dek siswa, minta tolong ke apotik ya ambil resep Tn. M., pasien baru tadi. Hati-hati ya Dek, kalau malam sepi,” kata mbaknya sambil senyum-senyum gak jelas. Aku mengangguk dan lekas melaksanakan perintahnya.

Benar saja, saat keluar ruangan ternyata selasar RS gak seramai saat aku berangkat shift tadi. Karena baru beberapa hari praktik di RS, aku juga rada rada bego dengan ruangan-ruangan yang ada. Ditambah kemampuan navigasiku yang jelek. Duh! Kalau ke apotik lewat mana ya? ย Biasanya aku pakai jalan pintas di ruang Kenanga. Tapi sepertinya kalau malam hari pintunya dikunci. Mana gak ada orang yang bisa aku tanya pula. Setelah beberapa saat nunggu orang lewat, wkwkwk useless banget deh, akhirnya kuputuskan mengikuti petunjuk arah yang ada di RS. Tapi kok kayak rada ga beres ya. Karena semakin kuikuti jalanan malah tambah sepi. Lorong-lorong pun mulai tampak redup gak ada lampunya. Gawat. Aku kesasar mak! Meski ragu, aku tetap melanjutkan perjalanan sambil tetap baca ayat kursi dalam hati. Ah elah ini kenapa lorong sepi amat sih? Apotiknya juga kenapa gak ketemu-ketemu? Apa aku balik aja ya? Ah udah kepalang basah. Tiba-tiba ada suara langkah dibelakangku.

“Mbak!”

Duh! Hantu sekarang bisa ngomong ya? Jantungku serasa mau copot.

“Mbak ngapain malam-malam kesini?” Tanya mas mas berbaju hitam yang ternyata adalah security.

“Ya Allah Mas ngagetin aja sih! Kirain siapa, ini loh Mas, aku mau ke apotik ngambil obat,” kataku sedikit lega. Ternyata aku ketemu manusia.

“Lah apotik? Kamu berani banget lewat sini,” kata Mas satpam yang ternyata rambutnya cepak itu (info ga penting, btw)

“Emangnya kenapa gitu Mas?” Tanyaku penasaran.

“Tuh liat!” Aku mengikuti arah yang ditunjukan Mamas satpam tadi.

Omegat!!!! Aku berada di depan kamar jenazah. Pantesan sepi pemirsa! Ini di belakang RS bro. Alamak!

“Ni sebelahmu ni kantin. Kalau malam tutup,” kata mas satpam lagi.

Aku memandangi gedung sederhana tak berlampu yang di siang hari jadi tempat nongkrong aku dan mahasiswa mahasiswa lain saat istirahat. Gila, ternyata kalau malam serem amat yak! Gelap gini.

“Sebenernya ke kiri terus apotik, tapi kamu harus lewatin kantin. Berani gak?” Kata Mas satpam lagi. Kali ini mukanya sedikit ngeledek.

“Dih gini aja mah saya berani Mas,” ah elah mulutku enak banget ngomongnya. Padahal dalam hati dag dig dug kayak bedug maghrib. Mau balik lagi tengsin juga sama Mas satpamnya. Minta ditemenin? Idih dah gedhe kok manja.

“Mmm..Mas, saya ke apotik lewat sini aja deh,” kataku.

“Yakin? Nggak mau ditemenin nih?”

Aku menggeleng.

“Saya liat aja dari sini ya Mbak, nanti kalau ada apa-apa tinggal teriak aja,” kata si Mas sambil senyum. Duh, ternyata senyum si Mas Satpam ini manis juga hihihi nyesel deh kenapa tadi nolak ditemeninย #ehsalahfokus #abaikan.

Akhirnya dengan keberanian kelas remahan rengginang, aku pun berjalan menuju apotik. Tentu saja sambil baca doa-doa. Ya Allah..lindungilah hambaMu ini. Aamiin….dan berhasil! saya akhirnya sampai di apotik dalam keadaan masih jomblo eh maksudnya dalam keadaan utuh tak kekurangan suatu apa. Setelah ketuk-ketuk pintu dan menyerahkan resep obat ke mbak-mbak apotik yang mukanya bantal banget (sepertinya aku menganggu acara tidurnya), aku duduk di ruang tunggu apotik. Kukira bakalan disuruh masuk. Secara ya ini malam-malam loh. Eh, si mbaknya dengan santai nutup pintu apotik dan cuma bilang “tunggu di luar ya,”

What the…abcdzhshsjahukkhsillk!!!!

Tega bener kau mbak membiarkan diriku menjadi sumber makanan para nyamuk nakal! Mentang-mentang aku masih mahasiswa jadi seenaknya kamu perlakukan aku seperti ini mbak? Huhuhu mbak apotik, apa yang kamu lakukan itu…jahat T.T

Setelah nunggu hampir 15 menit. Mbak mbak mak lampir tadi keluar dan menyerahkan seplastik obat, cairan infus DLL sesuai resep yang aku kasih. Dan aku pun kembali ke ruangan semula. Tentu saja aku tak ingin mengulangi kesalahan dua kali. Jadi deh, baliknya lewat depan aja. Meski jaraknya dua kali lipat, tapi gapapa karena suasananya lebih ramai dan lampu-lampu di lorongnya nyala semua. Beda banget kan nggak kayak yang di bagian belakang tadi?

Setelah semua pasien beres. Jadilah kita para perawat shift malam bersiap istirahat.

“Dek tidurnya gantian ya. Sekarang kmu jaga dulu. Aku sm mas Ijan mau istirahat. Nanti kalau ada apa-apa tolong bangunin ya, kita istirahat disitu, pintunya gak dikunci, terus kalau ada telepon diangkat aja. Kalau kamu bingung panggilin aku. Oya yang di meja itu catatan pasien ya, nggak usah panik. Pokoknya kalau butuh bantuan bangunin kita,” kata si mbak perawat. Aku mengangguk. Mbak perawat baik hati itu memberiku selimut. Lumayan bisa untuk bantal hehehe.

Segera setelah dua orang perawat itu istirahat aku mengambil setumpuk tugas. Lumayan ada waktu untuk nyicil. Sambil terkantuk-kantuk aku mulai mengerjakan tugas kuliahku. sesekali aku berkeliling melihat kondisi pasien, sekiranya ada cairan infus yang habis dan harus segera diganti.

Saat itu pukul 01.00 WIB, mataku susah sekali diajak kompromi. Aku pun tak sengaja tertidur dengan posisi duduk dan kepala di atas meja. Aku merasa angin berhembus lumayan kencang dari sebelah kiriku. Aku tahu itu angin dari luar karena pintu di sebelah kiriku yang menghubungkan dengan taman luar belum kututup. Namun, apadaya aku ngantuk sekali dan akhirnya kubiarkan saja pintu itu terbuka. Beberapa saat kemudian aku merasa ada yang menggoyangkan badanku. Meja juga turut bergerak. Aku kaget. Kukira ada pasien atau keluarganya yang butuh bantuan. Ternyata tidak ada. Aku celingukan. Aneh, gak ada siapa-siapa. ย Kulihat bangsal kelas 3. Semua oke oke saja. Pasien juga lumayan tenang. Karena masih ngantuk aku kembali melanjutkan tidurku. Dan apa yang terjadi pemirsa? Aku kembali merasa ada yang menggoyangkan meja dan badanku. Kali ini cukup kencang. Aku kaget dan merinding disko. Apaan nih? Gempa bumi? Tapi saat aku melihat tiang-tiang infus pasien tidak ada yang bergerak heboh. Aku istighfar beberapa kali. Hawa dingin kembali merasuk di kulitku.

“Alamak aku lupa nutup pintu!”

Setelah pintu kututup, aku pun duduk kembali di nurse station. Duduk bengong untuk beberapa saat. Dan parahnya saat duduk bengong gini aku baru sadar kalau di belakang ruanganku ini adalah…kamar jenazah! Omg, kenapa harus inget disaat seperi ini sih? Maaak, aku kan jadi kehilangan konsentrasi tidurku huhuhu. Aku kembali baca doa. Pokoknya kalau lagi takut banget aku baca-baca doa. Aku pun kembali mengantuk, namun karena takut diganggu lagi aku sampai bergumam pelan seperti ini, “maaf ya, aku nggak kenal kamu, aku juga nggak pengin kenalan sih. Saat ini aku ngantuuuuk banget. Kalau kamu emang udah lama disini kamu pasti bakalan tahu dong rasanya shift malam, mahasiswa lagi. Ngenes tau! Iya ngenes liat temen2 lain pada enak tidur di kamar masing-masing, eh aku harus tidur berbantalkan meja #ehkokcurhat. Jadi…please…let me free…biarkan aku bisa tidur barang sebentar saja ya. Terima kasih,” dilanjutkan dengan baca DOA sebelum tidur dan ayat kursi.

Percaya nggak percaya aku bisa tidur ayam di nurse station selama kurleb satu jam tanpa goyangan badan atau goyangan meja. Wow! Warbiyasak. Aku terbangun karena ada keluarga pasien yang minta tolong dan aku juga harus menyiapkan air hangat untuk mandi pagi pasien-pasien tercinta.

Alhamdulillah…akhirnya shift malam terlewati juga. Terlepas dari semua kejadian-kejadian aneh ย semalam, aku bersyukur shift malam is over! Ahahaha #ketawasenang #ketawapuas #ketawamenang.

Pukul 07.30 WIB. Aku keluar ruangan dan pulang. Horreee! Aku pun mengatur rencana setelah ini beli sarapan, Mandi, dan bobo cantik deh di kasur kosan yang empuk. Pembalasan dendam karena semalam cuma tidur ayam doang.

Saat membeli sarapan, aku ketemu sama mbak Ika. Mahasiswa perawat kakak tingkatku.

“Habis jaga malam ya? Semalam aku liat kamu di apotik,” kata mbak Ika ramah.

“Iya mbak. Mbak Ika malam juga ternyata,”

“He em aku abis malam ini. Kamu dinas di ruang mana?”

“Wijayakusuma,” jawabku.

Mbak Ika bengong untuk beberapa saat.

“Kenapa gitu mbak? Kok mukanya mbak Ika langsung aneh gitu?”

Mbak Ika tersenyum. “Kamu sudah ketemu dia ya?”

“Ketemu siapa ih mbak?”

“Halah, jangan sok innocent gini deh. Semalam kamu habis ketemu mbak kunti kan?”

Aku melongo. Akhirnya kuceritakan apa yang terjadi semalam. Ternyata dua minggu yang lalu mbak Ika ini pernah jaga malam di ruang Wijayakusuma. Mbak Ika ini punya kemampuan bisa liat mahluk-mahluk astral (setelah kukonfirm ke temennya ternyata emang beneran bisa). Dia pun cerita saat dinas malam pertama di ruang Wijayakusuma, ia sempat bertemu dengan mbak Kunti yang ternyata tempat nongkrongnya di selasar samping pintu yang semalam aku lupa tutup. Omg! Jadi semalam mungkin mbak kuntinya pengin ngingetin aku supaya tutup pintu kali ya…hiii…makanya dia goyang-goyang badanku dan goyang-goyang meja juga. Dasar aku aja yang gak ngeh, malah enak-enak tidur.

“Dia baik kok dan kayaknya pengin kenalan tuh,” kata mbak Ika sembari diiringi senyumnya yang misterius.

Apa?

Cukup.

Kenapa harus denganmu Mbak Kun?

Sejujurnya aku ingin menolak friend request darimu.

Tapi aku tak tega. Kalau kamu marah terus ngikutin aku sampai kosan gimana? Huhuhu sungguh hidupku tak akan setenang dulu mbak Kun T.T

Tapi…

Aku nggak akan mau kenalan sama mbak kunti.

Kalau request kenalan sama mas mas yang masih single aja bisa nggak?

#ehngelunjak

Malam selanjutnya…

“Des! Aku shift malam nih. Gimana shift malammu kemarin?” Tanya Ina yang memang satu ruangan denganku.

Kupandang wajah Ina dengan tatapan penuh iba. Namun aku tak tega untuk bicara yang sejujurnya.

Aku pun hanya bisa menjawab,

“It was perfect!” ๐Ÿ™‚

To be continued…

Sumber gambar: pinterest