Diposkan pada Cerita Sehari-hari, Others

“Tukar Baju” untuk Menyelamatkan Bumi

Tanggal 8 Desember 2019 kemarin saya mengikuti acara Tukar Baju yang diselenggarakan oleh Zero Waste Indonesia bekerja sama dengan Green Peace Indonesia. Tukar Baju (IG: @tukarbaju_) merupakan salah satu kampanye dari komunitas Zero Waste Indonesia (IG: zerowaste.id_official) yang bertujuan untuk meminimalisasi limbah atau sampah tekstil. Kampanye yang mereka fokuskan adalah sustainable fashion.

Untuk mekanisme acara Tukar Baju sendiri adalah kita sebagai penukar atau yang disebut #TemanTukar membawa baju layak pakai kita yang ingin ditukar sebanyak maksimal 5 baju. Baju-baju ini harus melewati sesi kurasi untuk bisa lolos dari para kurator. Beberapa syarat baju yang ingin kita tukar adalah layak pakai, tidak ada cacat di baju, tidak bernoda atau kancing/resleting dalam kondisi baik (tidak rusak).

Sehari sebelum acara, saya mulai memilah baju-baju di lemari. Kebetulan memang saya mulai proses decluttering dimulai dari lemari pakaian. Dan taraaa ternyata hasil declutter pakaian mencapai dua box. Hadeuh, baru juga dua tahun di Jakarta ๐Ÿ˜‚ kebiasaan ini karena sering beli baju karena lapar mata atau tergoda harga murah.

Setelah memilah, akhirnya ada 4 baju yang saya yakin masih layak pakai dan minim cacat. Semoga aja lolos kurasi hehe.

Esoknya, selepas dinas malam saya menuju ke tempat dimana acara Tukar Baju diadakan. Yaitu ke Museum Nasional. Ini juga pertama kalinya saya menginjakan kaki di Museum Nasional. Asyik deh, jadi nambah pengalaman jalan-jalan ke Museum. Tiket masuk Museum sendiri adalah 5.000 rupiah. Selanjutnya saya membayar biaya registrasi sebesar 10.000 rupiah.

Saat itu waktu menunjukan pukul 9.30 WIB dan ternyata antrian di depan booth Tukar Baju sudah panjang. Mereka pada datang jam berapa sih? ๐Ÿ˜‚ saya kira jam 9.30 tuh masih pagi loh hehe.

Setelah proses registrasi, saya diberi nomor antrian dan dicap tangan sebagai tanda sudah terdaftar sebagai #TemanTukar. Saya mendapat antrian no. 24. Proses setelah ini adalah proses yang membuat hati resah dan gelisah. Yaitu proses kurasi! Yup, sebelum ditukarkan, baju-baju yang kita tukarkan harus melewati proses kurasi dulu. Saat nomor saya dipanggil, saya mendapat meja kurasi nomor 1. Kuratornya masih muda, mungkin usianya lebih muda dari saya. Satu persatu baju saya dilihat dan diperiksa secara detail. Perasaan lega saat baju nomor satu lolos kurasi. Baju ini adalah baju kenangan saat beli dengan gaji kerja pertama kali ๐Ÿ™‚ kondisinya memang masih bagus karena jarang saya pakai dan selalu saya gantung. Baju nomor dua ternyata tidak lolos kurasi karena ada bagian baju yang serat kainnya menonjol. Wah padahal saya sendiri tidak sadar ๐Ÿ˜‚. Baju nomor 3 yang saya donasikan adalah jenis outer. Warnanya tosca cantik. Salah satu kesayangan juga. Alhamdulillah lolos kurasi. Dan yang keempat adalah celana jeans. Karena saya memang sudah tidak memakai celana berbahan jeans lagi, daripada menggantung memenuhi lemari lebih baik saya tukarkan saja. Dan ternyata tidak lolos kurasi. Hiks sedihh. Alasannya karena ada benang yang menjuntai wkwk. See? Detail bangettt kuratornya. Dari 4 baju, yang lolos kurasi hanya 2 baju. Saya pun diberi koin kayu sebagai alat tukar. Oh maaf, terbuat dari batok kelapa ding, bukan dari kayu.

Ini adalah koin dari batok kelapa yang digunakan sebagai alat tukar

Saya pun masuk ke venue dan mulai memilih dua baju. Ada banyak baju-baju dengan kondisi yang masih baik. Baju-baju tersebut ditata sesuai dengan warna. Jadi gampang untuk memilih baju yang sedang dicari. Kami para #TemanTukar diberi waktu maksimal 20 menit di booth untuk mencari baju yang kita inginkan. Saya mulai berkeliling. Pilih celana, kemeja, outer, gamis dll. Ada banyak, jadi bingung sendiri hehe.

#TemanTukar yang asyik memilah baju

Selepas memilih, saya menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Dan koin tadi yang saya gunakan untuk membeli baju-baju yang saya pilih. Mudah bukan? Dapat baju baru, gratis pula ๐Ÿ™‚ senaaang rasanya bisa ikutan acara ini. Selain lega karena bisa mengurangi isi lemari, dengan berpartisipasi di acara ini kita juga bisa mengurangi penumpukan limbah fashion lho. Oiya, baju-baju yang tidak lolos kurasi tetap bisa didonasikan di drop box dari Setali (IG: @setali.id) sebuah komunitas yang digagas oleh mbak Andien Aisyah untuk mengurangi limbah fashion.

Saya berjodoh dengan dua baju ini. Jenis knitwear dan tunic

Acara tukar baju ini berlangsung dari tanggal 7-8 Desember 2019 di Monumen Nasional. Komunitas Tukar Baju cukup sering melakukan kegiatan Tukar Baju, tidak hanya di Jakarta, namun juga pernah berlangsung di Jogja atau Bali.

Kuy, kalau ada waktu bisa ikutan ๐Ÿ™‚

Diposkan pada Others

Jalan Pulang

Ada yang datang, lantas ia menghilang
Ada yang datang, hanya untuk singgah sejenak
Ada yang datang, memberi warna
Ada yang datang, membawa luka
Ia datang, lantas ia bilang ingin menetap
Ia seringkali tak dianggap
Ia seringkali berjuang sendiri
Ia seringkali terlukai
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi
Dan tak pernah berbalik lagi
“Kau harus belajar mencintai. Kau juga layak untuk dicintai,” katanya untuk yang terkahir kali
Ada yang sedang berjuang memaknai semua ini
Setiap yang datang akan membawa harapan
Dan yang pergi meninggalkan pelajaran
Ia sekarang pergi
Benar-benar pergi

Dan mari terus berjalan, jangan takut tersesat
Sejatinya diperjalanan nanti akan banyak rahasia rahasia yang terungkap
Menemukan jalan pulangmu, salah satunya

Diposkan pada Others

A Light in A Morning

“Suster, nama suster hampir sama loh kayak nama aku,” kata pasien saya pagi tadi saat saya masuk ke kamarnya untuk menawarkan sibin pagi.

“Oh ya? Cuma beda huruf a dan i saja ya,” kata saya.

Dia mengangguk.

“Sust, aku bosan.. udah pengin pulang. Aku pengin ke salon, pengin creambath,” kata pasien saya yang masih remaja ini. Sepertinya dia mulai jenuh dengan seabrek pengobatan untuk kankernya yang terlihat tidak kunjung usai.

“Boleh, nanti ke salon, creambath, spa… boleh banget. Tapi… nanti kalau pengobatannya udah selesai yaa,” kata saya disertai senyuman.

“Sust, saya pengin nonton di bioskop,”

“Bisaa, tuh depan ada CGV,” kata saya sambil menunjuk mall di seberang RS.

Dia tertawa.

“Sambil bawa-bawa ini semua sust?” Katanya menunjuk alat-alat medis segambreng yang terpasang di badannya.

“Eh ada loh, film yang tokoh utamanya sakit,terus dia kemana-mana harus bawa oksigen,” kata saya.

“Aku tahu sus! FIVE FEET APART khan???” Jawabnya penuh semangat. Sayangnya, bukan itu jawabannya.

“Bukaan, nama judulnya apa yah, pokoknya adaptasi dari sebuah buku gitu,” kata saya sambil berusaha mengingat judul film itu. Saya ingat tokoh cewek yang memerankannya tapi lupa nama dan judul filmnya.

Akhirnya kami berdua sama-sama mikir. Kocak juga membayangkan adegan tadi pagi. Saya sampai berhenti di tengah-tengah merapikan tempat tidurnya.

Hingga akhirnya….

“The Fault in Our Stars! Ya ya benar itu judulnya,” kata saya penuh semangat. Berharap dia membalas tatapan saya dengan penuh semangat juga.

“Aku gak tahu sust,” katanya cemberut.

“Masa siiih? Ini film terkenal loooh,”

Dia menggeleng. “Emangnya keluaran tahun berapa tuh film?”

Terus saya mengingat-ingat lagi. Oh iya, ini film keluar sekitar 5-6 tahun yang lalu saat saya masih kuliah.

“Yaa mungkin 2013-2014. Sekitar itu,”

“Suster gimana siiih? Udah lama banget ituu, aku kan di tahun itu masih anak-anak!”

Kemudian saya terbahak. Pasien saya inj baru menginjak 17 tahun. Kalau 5-6 tahun yang lalu berarti dia usia 11-12 tahun, masih SD. Masih anak kecil. Mungkin tontonnya masih barbie fairy tale gitu yak ๐Ÿ˜†

“Iya ya deh, maafin yak. Suster nonton film jadul berarti ya?”

Terus dia tertawa.

“Udah yaaa, dah beres, kamu dah mandi, udah suster gantiin baju, gantiin sprei, sekarang suster mau operan jaga dulu sama teman suster yang jaga pagi. Udah jam 8, saatnya suster istirahat,”

Dia melambaikan tangan kepada saya. “Daah suster,” katanya.

“Semangat terus ya. Nanti kalau sudah boleh pulang, kamu boleh pergi ke bioskop, nonton film yang kamu suka, pergi ngemall, hang out sama teman-teman kamu. Lakukanlah hal-hal yang kamu suka. Nanti saat waktu pengobatan datang, kamu tidak akan terlalu bosan dan bayangkan hal hal menarik lainnya yang bisa kamu lakukan setelah pengobatanmu selesai. Tetap semangat!”

Dia tersenyum kemudian bilang terima kasih.

Saya mengambil laundry kotornya, berpamitan dan keluar dari kamarnya.

Selalu ada cerita yang berbeda dari setiap pasien tiap harinya. Entah itu duka maupun suka. Saya banyaaak sekali belajar dari mereka. Belajar untuk sabar, belajar memahami, dan juga belajar berempati.

Lelah memang bekerja di pelayanan itu. Namun, semoga lelah ini menjadi Lillah… Aamiin.

Diposkan pada Others

Weekend vibes: Menuju Ibu Kota

Weekend kali ini saya habiskan dengan jalan-jalan ke Ibu Kota. Demi mewujudkan ini seminggu sebelumnya saya harus lembur di kantor, empat hari berturut-turut. Saya mau tak mau harus pulang diatas pukul 20.00 wib. Menyelesaikan semua pekerjaan akhir bulan agar tak disuruh lemburan di hari Sabtu. Maklum, tiket sudah saya pesan dan sangat sangat tidak menguntungkan jika perjalanan ini saya tunda. Berangkat dari stasiun Purwokerto bersama mbak kembar dengan diantar Bapak dan Ibu tercinta. Seperti biasa sebelum berangkat ibu terus mengingatkan, “sudah bawa minum?”, “minyak anginnya jangan lupa,” “kabar-kabar kalau sudah sampai Jakarta,”. Ibu masih menganggap saya dan mbak kembar seperti putri kecilnya. Padahal sebentar lagi usia kami genap seperempat abad ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Ya sudah gapapa, namanya juga orang tua, pasti selalu mematiskan semua akan baik-baik saja. 
Kami berangkat dari stasiun Purwokerto menuju Gambir. Kereta Taksaka malam itu lumayan penuh. Saya memilih duduk di samping jendela agar bisa melihat pemandangan (meski hanya kerlip lampu perumahan atau kendaraan bermotor ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚) dan mbak kembar harus mengalah dengan duduk di samping lorong. 

Perjalanan ke Ibu Kota kali ini memang kami rencanakan cukup lama. Hanya saja pelaksanannya menunggu mbak ipar saya lahiran. Alhamdulillah tanggal 23 September 2017 keponakan pertama saya lahir. Its a baby girl! Saat itu hari sabtu, Bapak dan ibu serta dua saudara segera meluncur ke Depok demi melihat cucu pertamanya. Pokoknya so sweet deh, ibu bahagia banget melihat cucu perempuan pertamanya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š. Dan saya memutuskan untuk menengoknya seminggu kemudian. Maka dipilihnya weekend ini. Hore akhirnya liburan! Melupakan sejenak semua kenyataan perih di kantor karena baru ditinggal 2 rekan kerja sekaligus karena habis kontrak (bye mas Jhon dan mas adit, i’ll miss you ๐Ÿ˜ญ). 

Pukul 04.19 WIB tibalah kami di stasiun Gambir. Keretanya telat kurang lebih 30 menit dari jadwal sebenarnya yaitu pukul 03.45 wib. Capek deh. Tapi gapapa juga sih, lagian saya juga harus menunggu sampai jam 6 karena akan naik KRL menuju Depok. Setelah bersih-bersih (baca: cuci muka dan sikat gigi)dan shalat subuh, mbak kembar segera memesan transportasi online untuk membawa kami ke stasiun Juanda. Kakak saya mengatakan akan menjemput di Juanda. 

Alhamdulillah pukul 07.30. Wib sampailah kami di stasiun Depok Baru. Saya dan Kakak segera menuju RS karena akan menemani mbak ipar kontrol pasca lahiran. Sedangkan mbak kembar kembali menggunakan jasa layanan transportasi online menuju rumah kakak. 

Capek juga ternyata setelah perjalanan kurleb 5 jam di atas kereta masih harus dilanjut nemenin mbak kontrol di RS. Namun rasa lelah itu terbayar saat melihat keponakan pertama saya. Terharu, akhirnya  mas dan mbak diamanahi buah hati juga ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š semoga jadi anak yang shalihah ya dedek, menghormati orang tua dan selalu menjadi pribadi yang baik. Aamiiin. 

Perjalanan kali ini saya dan mbak kembar banyak menggunakan jasa transportasi online. Ternyata di kota besar seperti Jakarta, layanan transportasi online cukup bermanfaat yha. Dan saya melihat banyak dari mereka sliwar sliwer menggunakan jaket dan helm kebanggannya masing-masing. Terlepas beberapa orang yang mungkin pernah dikecewakan, saya malah alhamdulillah nggak pernah dikecewakan oleh jasa tranportasi online ini ๐Ÿ˜‰ 

Oke deh, sekian cerita weekend saya kali ini. Semoga besok bersemangat lagi mengumpulkan recehan demi recehan agar bisa ke Depok lagi dan melihat keponakan tercinta โค๏ธ. 


(Muka kucel setelah naik krl depok-juanda) 

Perjalanan Gambir-Purwokerto, ditengah mendungnya langit sore Jakarta. 

Diposkan pada Others

Hai

Hai.

Sepertinya hampir satu bulan rumah ini tak berpenghuni. Apa kabar Layang-Layang Sore? Apakah kamu masih bertahan mengudara di atas sana? Atau malah limbung tertiup angin? ๐Ÿ˜„ sepertinya rumah ini harus dibersihkan dari debu-debu yang berterbangan terlebih dahulu #siapin sapu dan sulak. Btw, untuk yang nungguin postingan saya (emang ada yang nungguin? ๐Ÿ˜ณ) saya mau minta maaf : sorry fans sudah bikin kalian penasaran. Sini peluk satu-satu dulu ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ #dih sok sokan punya fans. Geli banget bacanya wkwk.

So, what’s up Destini? Selama sebulan ngilang dari peredaran kamu ngapain aja siii?

—> first, saya ini nggak sengaja ngilang dari peredaran kok. Bolehlah di dunia maya saya sepi-sepi aja, tapi di kehidupan nyata saya hidup normal kayak biasanya. Senin-jumat ngantor. Sabtu-minggu jadi manusia gua. Sebenarnya di hari-hari vakum ngeblog saya banyak mengalami hal-hal menarik tapi entah mengapa saat akan dituangkan dalam bentuk tulisan kok yo rasane piyee ngunu. Kurang ‘sreg’. Dibaca kok rasanya kurang ‘ngena’. Hmmm mungkin ini yang dinamakan writter’s block kali yah *ceilah gaya beneeer, udah kayak penulis penulis tenar aja mengalami writers block wkwk*

—> poin kedua, HP saya mulai ngambek. My siaomay sepertinya sudah terlalu tua untuk diajak eksis. Karena ‘lola’nya dia, saya terpaksa harus keluar dari beberapa group whatsapp salah satunya grup blogger kece #Obrolin (Maaf teman-teman, HP saya lagi ngambek, terpaksa saya hilang dari peredaran dulu yaaa). Saya juga harus uninstall Line, Dictionary, Photogrid dan beberapa aplikasi lainnya. Sedih? Iyaa jelas dong. Biasanya kan wa saya ramai sama diskusi dari teman-teman #Obrolin. Semoga saja si siaomay ini lekas dapat ganti yang baru. Aamiiin #bukankodekok wkwkw ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ nabung cyin.

Terus, kenapa akhirnya update blog juga?

——> hahahaha ini sih karena saya merasa blog udah kelamaan mati suri. Yaaah daripada jadi sarang laba-laba mending saya coba Isi lagi. Lagian kemarin dapet wa (sebut saja fans ๐Ÿ˜) yang minta cerita horror yang pernah saya tulis dilanjutin lagi. 

Untuk pertanyaan itu….emmm….maaf….saya belum minat nerusin…hehe. Mungkin lain waktu kali yah saat feel horornya dapet wkwkwk ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ*btw gimana sih caranya dapet feel horor?

Sebentar lagi Agustus berakhir. Hmm..2017 tinggal sisa 4 bulan lagi. Resolusi resolusi di awal tahun mulai saya ditengok kembali. Dari 3 resolusi hanya satu yang sepertinya masih belum ada tanda-tandanya. Apa itu?

Hmm..nanti sajalah…kapan-kapan saya ceritakan.

Lagi-lagi, sebenarnya malam ini pun banyak banget yang pengin saya tulis. Namun apadaya mata sudah mengantuk. Ingin rasanya segera berwisata ke pulau kapuk. Okedeh sekian dulu update-an dari saya. Siapa tau di updatean berikutnya saya udah nggak galau lagi wkwk (curhat bu?)

Bye-bye.

Gud nite โค๐Ÿ’‹

Diposkan pada Others

Sekilas #Catatan di Libur Lebaran

Jalan-jalan saat libur lebaran, it’s a wrong decision! Dimana-mana macet, dimana-mana ramai.

Lebaran memang menjadi moment yang cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Mudik dan sekalian silaturahmi. Hari kamis kemarin saya dan keluarga memilih menghabiskan waktu liburan dengan nonton film. ย Dasar hobi nonton, waktu libur pun tak boleh lepas dari nonton! ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ dan film yang kami tonton adalah…Transformers The Last Knight. Jujur aja sih, saya sebenarnya nggak ngikutin serial Transformers. Pernah nonton seri 1 yang bintangnya Shia LaBeouf itu…mas Shianya masih muda belia dan ganteng luar biasa. Sayangnya waktu itu saya nontonnya nggak sampai selesai karena bosan di tengah jalan hahah payah. Lagian dulu pas transformers satu keluar saya masih SMP, genre film yang saya tonton masih sekelas film-film Indonesia macam Me vs High Heels getooo ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Wkwk.

Filmnya sih menarik. Cukup menghibur lah karena banyak jokes yang sukses bikin ngakak. Saya juga jatuh cinta sama autobotnya yang keren keren banget. Ini saya nontonnya masih versi 2 D loh. Coba kalau 3D, mungkin tambah mesmerized hihihi. Di seri ini tampilan Optimus Prime tambah keren! Ada juga si kecil cabe rawit Bumblebee! Terus Megatron juga jadi keliatan perkasa. Mungkin karena efek sinematografi yang lebih canggih juga ya *dan efek saya nonton loncat dari seri 1 langsung ke seri ini ๐Ÿ™ˆ

Minusnya sih karena saya nontonnya di libur lebaran jadi bisokopnya ramai bangetttt! Untungnya kakak saya booking tiket H-2 nonton jadinya nggak perlu ngantri panjang. Cumaa yaa tetep aja harus nunggu sebelum studio 1 tempat kita nonton buka dan nunggunya sambil pusing liat orang-orang yang ngantri tiket. Kasian juga liat banyak anak kecil yang ngikut antri dan mukanya pada capek gitu :(.

โ€‹
Suasana di dalam CGV cinema Rita Mall Purwokerto

โ€‹
suasana di Rita Mall Purwokerto menjelang maghrib. Taken by Kakak pertama.

Padahal ya di Purwokerto sendiri sudah ada 2 bioskop loh. Tapi sepertinya bertambahnya bioskop diikuti juga dengan bertambahnya penikmat film. Saya melihat banyak anak seusisa SD-SMP mereka datang rombongan bareng teman-temannya, booking ticket untuk geng mereka, terus merasa jadi anak gaul sedunia wkwk. Duh, jadi inget pengalaman nonton bioskop pertama kali pas kelas 1 SMA. Rasanya tuh seneng banget! Pulang sekolah di hari sabtu, naik angkot bareng temen-temen buat nonton Laskar Pelangi di Bioskop hahaa. Langsung merasa jadi anak gaul seduniaaah pemirsah! #alay.

Selepas nonton, karena lapar saya dan kakak-kakak pun melipir ke gerai makanan. Dan lagi-lagi ngantri panjang banget! Untuk pesan sekotak pizza take away harus nunggu kurleb 45 menit. Wah wah, hati-hati nih di jam lapar seperti ini adalah jamnya orang berubah menjadi sensitif. Udah laper, capek dan masih harus ngantri pulak. ย Hati-hati senggol bacok ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Karena nunggu yang terlalu lama ini akhirnya kami melipir ke Mushala untukย shalat maghrib dulu (dan lagi-lagi mushalanya penuh juga, wudlu nya harus ngantri panjang kayak ular). Maklumin aja lah, namanya juga lagi liburan. Ye kan? Lagian syukuri juga tuh jika mushala penuh berarti masih banyak orang yang inget akhirat di saat kenikmatan dunia terhampar di depan mata #ceilah #tobat.

Kelar shalat dan pesanan udah jadi kami pun pulang. Dan lagi-lagi jalanan sekitar mall macet. Hmm..dimana-mana ramai. Padahal ini sekelas kota kecil Purwokerto loh. Gimana Jakarta coba? ๐Ÿ˜‚ menghadapi kemacetan yang kelasnya masih remahan rengginang saja saya sudah pusing apalagi macetnya Jakarta yang sudah kelas kakap ๐Ÿ˜–๐Ÿ˜–๐Ÿ˜–. Ternyata saya nggak cocok jadi anak metropolitan.

Beginilah magnet libur lebaran. Meski macet-macetan, meski ramai, meski bikin pusing tetap saja dilakukan. Yah, karena kalau melakukannya dengan orang-orang tercinta apalagi keluarga semuanya tetap menyenangkan. Begitu.

Hari ini sudah masuk bulan Juli. Kok cepet ya? Bentar lagi 2017 habis dong? Kok masih jomblo? Wkwk ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ yaa sudah lah, dinikmati saja 2017 yang sudah habis setengahnya ini. Semoga dikuatkan untuk menghadapi sisa 2017 yang akan datang. Aih, aih, semangat cyin!!!!

Diposkan pada Others

Random banget!

Berhubung hari minggu saya berniat untuk nyalon. Bukan nyalon gubernur macam pak Anis, Agus atau Ahok ya. Nyalon yang ini adalah nyalon khas wanita-wanita jaman sekarang heheu. Gayaa benerr, padahal ya ke salonnya cuma pengin potong rambut, bukan facial, rebounding, luluran apalagi meni pedi. Deuuh bukan saya banget lah itu semua. Nggak mudeng! Maap ya.
Jam sembilan nyampe di salon dan doeng! Salonnya masih sepi. Saya dan my twin ternyata pelanggan pertama dan kedua. Cieee! Harusnya dapet diskon nih ya, minimal dikasih bonus vitamin rambut gitu 😁 (ngarep). 

Karena cuma potong rambut ya bentar banget udah selese. Cuma makan waktu setengah jam. Dan waktu membayar saya kaget ternyata untuk sekedar potong rambut saya harus merogoh kocek 30rb! Omaigat! Mahal ya ternyata. Padahal cuma keramas sama potong rambut model biasa dan juga nggak ditambah vitamin rambut etc. Eweew, di kota kecamatan nan mungil ini aja potong rambut sudah mencapai 30rb ya. Apa kabar di kota? Haih, mungkin sayanya aja yang lebai gara-gara lama gak potong rambut (terakhir setahun yang lalu dan harganya masih 20rb). Sebelnya, my twin berbisik ke saya,

“Tuh makanya cepet dapet kerja ya, potong rambut aja 30rb loh, belum kebutuhan yang lain,”

Seketika saya termenung. Galau. Waaah sebulan pasca wisuda hanya bisa menunggu dan menunggu. Iya menunggu STR, menunggu panggilan kerja, dan menunggu dilamar kamuu. Hee kok malah curhat wkwk #maap. Intinya, hidup ini nggak ada yang gratis tjoy. Apalagi jadi cewek, biaya meap mahaaaal (lagi ngebayangin harga gincu nyx atau kyle yang mehong itu hmm). Kalau pengen duit ya kerja laah~ saya ngomong ke diri saya sendiri.

Habis nyalon yang nggak nyantai ini, saya dan twin ke ATM. Mau ambil uang (ya iyalah masa mau beli bawang sih). Nah di gallery ATM ini kebetulan ada dua mbak-mbak. Dimana saat itu saya kebetulan berada diantara mereka. Dua mbak-mbak itu (yang ternyata saling kenal) pun mengobrol dengan bahasa jawa ngapak yang sudah saya translate ke bahasa Indonesia.

Mbak 1: wih, kayaknya lagi isi lagi ya. Udah berapa bulan neng?

Mbak 2: hehe iya nih, masuk 5 bulan

Mbak 1: yaa sebelas dua belas sama aku lah

Mbak 2: kamu udah berapa bulan?

Mbak 1: mau masuk 4 bulan

Saya: “……….”

Mereka pun asik berbalas pantun eh maksudnya asik ngobrol tentang kehamilannya. Deuuh, saya sekilas memperhatikan dua mbak-mbak itu. Hmm tipikal mamah mamah muda. Palingan usianya sebelas dua belas sama saya nih. Kisaran 23-25 tahunan gitu. Terus saya keluar gallery ATM dan menghampiri kembaran saya yang lagi nungguin di motor. Dan curhat tentang obrolan mbak-mbak tadi.

“Ceilah ada yang baper masih jomblo”

Hahaha. Saya ketawa garing. Kok malah diledekin yah. Nggak bolo! Ora konco! Hmm.

Terik panas matahari kecamatan Wangon tercinta sedang nggak bersahabat dengan kulit para wanita muda tukang galau. Saya pun bergegas menuju next destination yaitu membeli ticket kereta. Yhaaa besok saya mau ke semaraang! Wiiiw katanya udah jadi kenangan? Hihihi gapapa kali yaaa, kan komunikasi sama mantan nggak dilarang to. Mantan kota perantauan maksudnya.

Dan dan dan saya baru sadar kalau tulisan ini geje banget ya? 

Halah gapapa deh, yang penting sayanya hepi. Iya, hepi. Kalau kamu enggak, ya gapapa terserah kamu. Kalau kata pidibaiq mah:

“Hatimu milikmu, mau senang atau sedih kamu lah yang menentukan,”

#tsadest setuju lah sama ketua geng paling gahoel ini. Intinya sih bersyukur aja. Iyaaa, bersyukur udah dikasih banyak banget nikmat sama Allah (yang kalau dijabarin satu persatu nih jempol tangan bakalan gempor karena saking banyaknya). Sebelum mengakhiri tulisan gaje ini, yuk sama-sama ngucapin ‘alhamdulillah….’

Oke bhay! mama dedeh mau maem siang dulu ya~

Diposkan pada Others

Love Actually (Part 3)

train mates

Apakah ada yang lebih buruk dari patah hati?

Aku memutar kenop pintu kamar. Setitik cahaya dari jam wekerku menerangi kamar yang hampir 10 jam tak berpenghuni ini. Kunyalakan lampu dan segera mungkin kurebahkan badanku di atas kasur bercover bunga lily. Bunga kesukaanku.

Jadi, benar yang kamu lihat tadi Ge kan Din?

Aku mengambil ponsel. Kuketik sebuah nomor namun aku urung memencet tombol call.

Geribaldi Witjaksono

Kenapa sih dunia bisa sesempit ini? Kenapa Geribaldi ada di City? Kenapa ia tak mengenaliku? Dan kenapa ia malah asyik ngobrol dengan Wieke anak gadis pak direktur yang belum juga sebulan kerja disini.

Oh, Hello Dina. Apa sih yang kamu harapkan dari seorang Ge? Yap, Ge hanya salah seorang kan? Seseorang yang kebetulan bertemu di kereta jurusan Jogja. Seseorang yang kebetulan enak diajak ngobrol, seseorang yang kebetulan seumuran dan kebetulan seseorang itu baik.

Ge dan Ge. Hampir satu tahun nama itu terus berputar di kepalaku. Memenuhi hampir seluruh lobus frontalisku dengan dua kata yang jika aku mengingatnya ribuan kupu-kupu serasa melayang di perutku.

Huh, payah kau Din!

Kamu ini telah dibuai oleh harapan yang terlalu tinggi. Harapan yang seolah-olah bisa kamu raih tapi nyatanya berbalik seratus delapan puluh derajat. Harapan itu telah menyerangmu, menikammu dari belakang. Bahkan mengingatmu saja, laki-laki itu tidak bisa kan? Payah.

Saat ini yang bisa kulakukan adalahโ€ฆ.menelpon Naya. Aku nggak mau tau saat ini ia sedang asyik bulan madu entah di pulau mana yang jelas I need her now!

Maaf nomor yang anda tuju berada di luar jangakuan.

Arrrgh! Bahkan harapan terakhir, seorang Naya yang hampir setiap kutelepon selalu menyambut dengan keceriaannya kini harus tergantikan dengan suara mbak-mbak operator nan merdu. Sial! Hari ini benar-benar sial. Dan malam ini kupilih tidur meringkuk seperti anak kucing merindukan induknya.

Oh, kukira sakit hati terakhir yang pernah kurasakan saat dulu Gilang bilang putus. Dan bahkan sekarang, jadian pun belum, hatiku sudah lebih dulu patah. You sucks Din!

***

โ€œDin, kau sibuk?โ€ suara mbak Mayang membangunkan lamunanku.

โ€œOh eh, lagi ini mbak, coba menghubungi Mbak Devina buat wawancara nanti siang,โ€

โ€œBagus deh. Aku minta tolong sekalian ya Din, antar ini ke Pak Tama, beliau ingin kamu yang lapor,โ€

โ€œHah? Kok saya sih mbak?โ€

โ€œHmmโ€ฆsebenernya beliau nyuruh aku sih, tapi ngertiin aku dong Din,โ€ mbak Mayang memperlihatkan tumpukan naskah yang harus diedit. Deadline sudah di depan mata. Aku mengangguk lemah mengiyakan permintaan atasanku ini.

Oke, jam 10 am. Ketemu Pak Tama. Laporan mingguan. Aku menuliskannya di sticky note yang kutempel di meja kerjaku.

โ€œPssst Din!โ€ Tita, tetangga kubikelku mendekat.

โ€œSudah tau gosip paling hot?โ€

โ€œNggak usah, palingan nggak penting kayak yang udah-udah,โ€

โ€œEiiits! Yakin lu nggak mau denger? Yakin nih? Rugi looh,โ€ Tita melirik-lirik genit.

Aku menggeleng. Mantap.

โ€œAh lu nggak asik Din! Aaah! Tapi gue pengin cerita ke elu!โ€ Tita beranjak dari kursinya dan berbisik di telingaku.

โ€œLu tahu kantor baru di lantai 2? Itu katanya dijadiin kantor perusahaan aviasi,โ€

Aku ternganga.

โ€œHa? Kok bisa? Ngapain sih mereka? Bukanya mereka kerjanya di airport gitu ya?โ€

โ€œYeey, tadi katanya nggak mau denger, kok jadi semangat gini sih? Soal itu mana ijk tau yes,โ€

Aku manyun. Dasar si Tita biang gosip paling nyebelin.

โ€œBy the way, techniciannya ya ampuuun guanteng guanteng banget loh Din! Kita bisa gaet satu tuh, hmmm,โ€ Tita lagi-lagi melirik genit. Senyum-senyum tak jelas seraya kembali ke kubikelnya.

Aku merasakan hawa-hawa jahat mulai berkeliaran saat mataku beradu pandang dengan mbak Mayang. Kulirik jam mejaku, ya ampun! Aku harus segera ke Pak Tama!

Ting!

Pintu lift terbuka. Lantai 2.

Aku merapikan rok dan tatanan jilbabku saat tiba-tiba serombongan karyawan menyerbuku. Mereka hendak masuk lift. Oh god! Mereka tampan semuanya! Salah satu dari mereka tak sengaja menabrak bahuku dan bros bunga lily yang kupakai di jilbabku entah kenapa bisa terjatuh.

โ€œBros yang bagus,โ€ seseorang memungutnya.

โ€œOh terimakasih,โ€

Laki-laki itu tersenyum. Siapa sih mereka ini? Berjalan rombongan, laki-laki semua lagi. Kan aku jadi grogi. Huft, alhamdulillah bros kesayangan ini utuh tanpa lecet sedikitpun. Bros yang aneh, biasanya dia melekat kuat di dadaku, kenapa kali ini begitu rapuh? Hmm..mungkin ia mengikuti si empunya yang hatinya sedang porak poranda ini. Lebay.

***

Jam makan siang. Okay, aku masih punya waktu satu jam lagi sebelum bersiap menuju kediaman mbak Devina, seorang artis terkenal yang memutuskan masuk ke dunia politik. Sebenernya aku tak begitu suka jika harus bertemu atau mewawancari artis. Suka repot aja mengatur jadwalnya. Secara para artis itu kan sibuknya pake banget. Jadi seperti double job.

โ€œDin, kamu berangkat bareng Bima ya,โ€ Mbak Mayang menyebutkan fotografer yang akan menjadi partnerku kali ini. Aku menepuk dahi. Tita terkikik. Kami sama-sama tahu jika pergi bareng Bima siap-siap rempong karena dia orangnya lelet dan gampang lapar. Memang ya, kali ini aku harus berjuang keras lagi.

Tita mengepalkan tangan dan mengucap ganbate! Memberiku semangat yang sayangnya nggak mempan dan semangatku juga gini-gini aja.

โ€œOh ya Din, selesai wawancara jangan langsung balik ya. Ingat deadline artikel yang aku kasih ke kamu, malam ini harus beres oke?โ€ ucap Mbak Mayang dengan senyumnya yang sama sekali nggak ada manis-manisnya. Oh, dunia kenapa engkau begitu kejam? Saat kubayangkan bisa tidur di atas kasur empuk bermotif bunga lily kenapa malah harus balik ke kantor dan lembur bareng nenek lampir?

***

10 p.m

Aku menguap. Kulirik mbak Mayang. Oke kelihatannya dia juga sudah lelah. Hmm..sebentar lagi pasti disuruh pulang nih. Asik.

โ€œDin, pulanglah dulu sana, aku nggak mau besok kamu masuk telat,โ€

Bingo!

Setelah mengucapkan terima kasih dan mengirim semua deadline artikel ke email mbak Mayang, aku segera melesat turun ke lobi.

Aku mengeluarkan hape dan ternyata sudah ada 50 unread messages di whats app. Alah, palingan ya pesan di grup alumni kampus. Aku mah apa sih, cuma silent reader. Eh, kok ada pesan dari nomer tak dikenal. Belum masuk di friendlistku.

Hai Dina, senang bisa bertemu lagi. Nanti sore sepulang dari kantor ketemu yuk

Badanku seketika membeku. Pulang kantor? Ketemuan? Ini kan sudah lewat 3 jam dari jam pulang kantor yang normal. Siapa dia? Siapa? Aku membuka profile picture yang tertera di nomer whats appnya. Oh Tuhan jadi benar diaโ€ฆ.

โ€œHai Din!โ€

Seseorang menepuk punggungku. Aku tersentak kaget. Dan saat kubalikan badan aku pikir dunia ini memang benar-benar sempit.

Laki-laki itu ada di depanku. Laki-laki itu ada tersenyum padaku. Laki-laki itu bernamaโ€ฆโ€ฆ

Geribaldi Witjaksono.

Dan aku merasakan waktu berhenti untuk beberapa saat.

bersambung~

 

p.s:

Huaaaa akhirnya part 3 saya posting juga yaa. Huft. Emang sih nggak ada yang request tapi seneng aja akhirnya janji pada diri sendiri bisa ditepati. Di awal nulis series ini saya bilang kalau bakalan jadi 3 part tapi eng ing eng….saya nya jatuh cinta sama tokoh-tokoh cerita bikinan sendiri (ahaahak! lebay deh). Jadi, Inshaa Allah mau saya terusin. Partnya nggak lebih dari 5 part sih, bisa juga kurang tergantung mood saya (kalau lagi galau mungkin bisa nyampe part 10). So, selamat membaca. Terimakasih yang udah mampir dan membuang almost 5 minutes of your precious time ehehehe.

Love Actually part 2

Love Actually part 1