Diposkan pada Others

Weekend vibes: Menuju Ibu Kota

Weekend kali ini saya habiskan dengan jalan-jalan ke Ibu Kota. Demi mewujudkan ini seminggu sebelumnya saya harus lembur di kantor, empat hari berturut-turut. Saya mau tak mau harus pulang diatas pukul 20.00 wib. Menyelesaikan semua pekerjaan akhir bulan agar tak disuruh lemburan di hari Sabtu. Maklum, tiket sudah saya pesan dan sangat sangat tidak menguntungkan jika perjalanan ini saya tunda. Berangkat dari stasiun Purwokerto bersama mbak kembar dengan diantar Bapak dan Ibu tercinta. Seperti biasa sebelum berangkat ibu terus mengingatkan, “sudah bawa minum?”, “minyak anginnya jangan lupa,” “kabar-kabar kalau sudah sampai Jakarta,”. Ibu masih menganggap saya dan mbak kembar seperti putri kecilnya. Padahal sebentar lagi usia kami genap seperempat abad 😂😂😂. Ya sudah gapapa, namanya juga orang tua, pasti selalu mematiskan semua akan baik-baik saja. 
Kami berangkat dari stasiun Purwokerto menuju Gambir. Kereta Taksaka malam itu lumayan penuh. Saya memilih duduk di samping jendela agar bisa melihat pemandangan (meski hanya kerlip lampu perumahan atau kendaraan bermotor 😂😂😂) dan mbak kembar harus mengalah dengan duduk di samping lorong. 

Perjalanan ke Ibu Kota kali ini memang kami rencanakan cukup lama. Hanya saja pelaksanannya menunggu mbak ipar saya lahiran. Alhamdulillah tanggal 23 September 2017 keponakan pertama saya lahir. Its a baby girl! Saat itu hari sabtu, Bapak dan ibu serta dua saudara segera meluncur ke Depok demi melihat cucu pertamanya. Pokoknya so sweet deh, ibu bahagia banget melihat cucu perempuan pertamanya 😊😊😊. Dan saya memutuskan untuk menengoknya seminggu kemudian. Maka dipilihnya weekend ini. Hore akhirnya liburan! Melupakan sejenak semua kenyataan perih di kantor karena baru ditinggal 2 rekan kerja sekaligus karena habis kontrak (bye mas Jhon dan mas adit, i’ll miss you 😭). 

Pukul 04.19 WIB tibalah kami di stasiun Gambir. Keretanya telat kurang lebih 30 menit dari jadwal sebenarnya yaitu pukul 03.45 wib. Capek deh. Tapi gapapa juga sih, lagian saya juga harus menunggu sampai jam 6 karena akan naik KRL menuju Depok. Setelah bersih-bersih (baca: cuci muka dan sikat gigi)dan shalat subuh, mbak kembar segera memesan transportasi online untuk membawa kami ke stasiun Juanda. Kakak saya mengatakan akan menjemput di Juanda. 

Alhamdulillah pukul 07.30. Wib sampailah kami di stasiun Depok Baru. Saya dan Kakak segera menuju RS karena akan menemani mbak ipar kontrol pasca lahiran. Sedangkan mbak kembar kembali menggunakan jasa layanan transportasi online menuju rumah kakak. 

Capek juga ternyata setelah perjalanan kurleb 5 jam di atas kereta masih harus dilanjut nemenin mbak kontrol di RS. Namun rasa lelah itu terbayar saat melihat keponakan pertama saya. Terharu, akhirnya  mas dan mbak diamanahi buah hati juga 😊😊😊 semoga jadi anak yang shalihah ya dedek, menghormati orang tua dan selalu menjadi pribadi yang baik. Aamiiin. 

Perjalanan kali ini saya dan mbak kembar banyak menggunakan jasa transportasi online. Ternyata di kota besar seperti Jakarta, layanan transportasi online cukup bermanfaat yha. Dan saya melihat banyak dari mereka sliwar sliwer menggunakan jaket dan helm kebanggannya masing-masing. Terlepas beberapa orang yang mungkin pernah dikecewakan, saya malah alhamdulillah nggak pernah dikecewakan oleh jasa tranportasi online ini 😉 

Oke deh, sekian cerita weekend saya kali ini. Semoga besok bersemangat lagi mengumpulkan recehan demi recehan agar bisa ke Depok lagi dan melihat keponakan tercinta ❤️. 


(Muka kucel setelah naik krl depok-juanda) 

Perjalanan Gambir-Purwokerto, ditengah mendungnya langit sore Jakarta. 

Iklan
Diposkan pada Others

Hai

Hai.

Sepertinya hampir satu bulan rumah ini tak berpenghuni. Apa kabar Layang-Layang Sore? Apakah kamu masih bertahan mengudara di atas sana? Atau malah limbung tertiup angin? 😄 sepertinya rumah ini harus dibersihkan dari debu-debu yang berterbangan terlebih dahulu #siapin sapu dan sulak. Btw, untuk yang nungguin postingan saya (emang ada yang nungguin? 😳) saya mau minta maaf : sorry fans sudah bikin kalian penasaran. Sini peluk satu-satu dulu 😂😂😂 #dih sok sokan punya fans. Geli banget bacanya wkwk.

So, what’s up Destini? Selama sebulan ngilang dari peredaran kamu ngapain aja siii?

—> first, saya ini nggak sengaja ngilang dari peredaran kok. Bolehlah di dunia maya saya sepi-sepi aja, tapi di kehidupan nyata saya hidup normal kayak biasanya. Senin-jumat ngantor. Sabtu-minggu jadi manusia gua. Sebenarnya di hari-hari vakum ngeblog saya banyak mengalami hal-hal menarik tapi entah mengapa saat akan dituangkan dalam bentuk tulisan kok yo rasane piyee ngunu. Kurang ‘sreg’. Dibaca kok rasanya kurang ‘ngena’. Hmmm mungkin ini yang dinamakan writter’s block kali yah *ceilah gaya beneeer, udah kayak penulis penulis tenar aja mengalami writers block wkwk*

—> poin kedua, HP saya mulai ngambek. My siaomay sepertinya sudah terlalu tua untuk diajak eksis. Karena ‘lola’nya dia, saya terpaksa harus keluar dari beberapa group whatsapp salah satunya grup blogger kece #Obrolin (Maaf teman-teman, HP saya lagi ngambek, terpaksa saya hilang dari peredaran dulu yaaa). Saya juga harus uninstall Line, Dictionary, Photogrid dan beberapa aplikasi lainnya. Sedih? Iyaa jelas dong. Biasanya kan wa saya ramai sama diskusi dari teman-teman #Obrolin. Semoga saja si siaomay ini lekas dapat ganti yang baru. Aamiiin #bukankodekok wkwkw 😂😂😂 nabung cyin.

Terus, kenapa akhirnya update blog juga?

——> hahahaha ini sih karena saya merasa blog udah kelamaan mati suri. Yaaah daripada jadi sarang laba-laba mending saya coba Isi lagi. Lagian kemarin dapet wa (sebut saja fans 😝) yang minta cerita horror yang pernah saya tulis dilanjutin lagi. 

Untuk pertanyaan itu….emmm….maaf….saya belum minat nerusin…hehe. Mungkin lain waktu kali yah saat feel horornya dapet wkwkwk 😱😱😱*btw gimana sih caranya dapet feel horor?

Sebentar lagi Agustus berakhir. Hmm..2017 tinggal sisa 4 bulan lagi. Resolusi resolusi di awal tahun mulai saya ditengok kembali. Dari 3 resolusi hanya satu yang sepertinya masih belum ada tanda-tandanya. Apa itu?

Hmm..nanti sajalah…kapan-kapan saya ceritakan.

Lagi-lagi, sebenarnya malam ini pun banyak banget yang pengin saya tulis. Namun apadaya mata sudah mengantuk. Ingin rasanya segera berwisata ke pulau kapuk. Okedeh sekian dulu update-an dari saya. Siapa tau di updatean berikutnya saya udah nggak galau lagi wkwk (curhat bu?)

Bye-bye.

Gud nite ❤💋

Diposkan pada Others

Sekilas #Catatan di Libur Lebaran

Jalan-jalan saat libur lebaran, it’s a wrong decision! Dimana-mana macet, dimana-mana ramai.

Lebaran memang menjadi moment yang cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Mudik dan sekalian silaturahmi. Hari kamis kemarin saya dan keluarga memilih menghabiskan waktu liburan dengan nonton film.  Dasar hobi nonton, waktu libur pun tak boleh lepas dari nonton! 😂😂😂 dan film yang kami tonton adalah…Transformers The Last Knight. Jujur aja sih, saya sebenarnya nggak ngikutin serial Transformers. Pernah nonton seri 1 yang bintangnya Shia LaBeouf itu…mas Shianya masih muda belia dan ganteng luar biasa. Sayangnya waktu itu saya nontonnya nggak sampai selesai karena bosan di tengah jalan hahah payah. Lagian dulu pas transformers satu keluar saya masih SMP, genre film yang saya tonton masih sekelas film-film Indonesia macam Me vs High Heels getooo 😂😂😂 Wkwk.

Filmnya sih menarik. Cukup menghibur lah karena banyak jokes yang sukses bikin ngakak. Saya juga jatuh cinta sama autobotnya yang keren keren banget. Ini saya nontonnya masih versi 2 D loh. Coba kalau 3D, mungkin tambah mesmerized hihihi. Di seri ini tampilan Optimus Prime tambah keren! Ada juga si kecil cabe rawit Bumblebee! Terus Megatron juga jadi keliatan perkasa. Mungkin karena efek sinematografi yang lebih canggih juga ya *dan efek saya nonton loncat dari seri 1 langsung ke seri ini 🙈

Minusnya sih karena saya nontonnya di libur lebaran jadi bisokopnya ramai bangetttt! Untungnya kakak saya booking tiket H-2 nonton jadinya nggak perlu ngantri panjang. Cumaa yaa tetep aja harus nunggu sebelum studio 1 tempat kita nonton buka dan nunggunya sambil pusing liat orang-orang yang ngantri tiket. Kasian juga liat banyak anak kecil yang ngikut antri dan mukanya pada capek gitu :(.


Suasana di dalam CGV cinema Rita Mall Purwokerto


suasana di Rita Mall Purwokerto menjelang maghrib. Taken by Kakak pertama.

Padahal ya di Purwokerto sendiri sudah ada 2 bioskop loh. Tapi sepertinya bertambahnya bioskop diikuti juga dengan bertambahnya penikmat film. Saya melihat banyak anak seusisa SD-SMP mereka datang rombongan bareng teman-temannya, booking ticket untuk geng mereka, terus merasa jadi anak gaul sedunia wkwk. Duh, jadi inget pengalaman nonton bioskop pertama kali pas kelas 1 SMA. Rasanya tuh seneng banget! Pulang sekolah di hari sabtu, naik angkot bareng temen-temen buat nonton Laskar Pelangi di Bioskop hahaa. Langsung merasa jadi anak gaul seduniaaah pemirsah! #alay.

Selepas nonton, karena lapar saya dan kakak-kakak pun melipir ke gerai makanan. Dan lagi-lagi ngantri panjang banget! Untuk pesan sekotak pizza take away harus nunggu kurleb 45 menit. Wah wah, hati-hati nih di jam lapar seperti ini adalah jamnya orang berubah menjadi sensitif. Udah laper, capek dan masih harus ngantri pulak.  Hati-hati senggol bacok 😂😂😂. Karena nunggu yang terlalu lama ini akhirnya kami melipir ke Mushala untuk shalat maghrib dulu (dan lagi-lagi mushalanya penuh juga, wudlu nya harus ngantri panjang kayak ular). Maklumin aja lah, namanya juga lagi liburan. Ye kan? Lagian syukuri juga tuh jika mushala penuh berarti masih banyak orang yang inget akhirat di saat kenikmatan dunia terhampar di depan mata #ceilah #tobat.

Kelar shalat dan pesanan udah jadi kami pun pulang. Dan lagi-lagi jalanan sekitar mall macet. Hmm..dimana-mana ramai. Padahal ini sekelas kota kecil Purwokerto loh. Gimana Jakarta coba? 😂 menghadapi kemacetan yang kelasnya masih remahan rengginang saja saya sudah pusing apalagi macetnya Jakarta yang sudah kelas kakap 😖😖😖. Ternyata saya nggak cocok jadi anak metropolitan.

Beginilah magnet libur lebaran. Meski macet-macetan, meski ramai, meski bikin pusing tetap saja dilakukan. Yah, karena kalau melakukannya dengan orang-orang tercinta apalagi keluarga semuanya tetap menyenangkan. Begitu.

Hari ini sudah masuk bulan Juli. Kok cepet ya? Bentar lagi 2017 habis dong? Kok masih jomblo? Wkwk 😂😂😂 yaa sudah lah, dinikmati saja 2017 yang sudah habis setengahnya ini. Semoga dikuatkan untuk menghadapi sisa 2017 yang akan datang. Aih, aih, semangat cyin!!!!

Diposkan pada Others

Random banget!

Berhubung hari minggu saya berniat untuk nyalon. Bukan nyalon gubernur macam pak Anis, Agus atau Ahok ya. Nyalon yang ini adalah nyalon khas wanita-wanita jaman sekarang heheu. Gayaa benerr, padahal ya ke salonnya cuma pengin potong rambut, bukan facial, rebounding, luluran apalagi meni pedi. Deuuh bukan saya banget lah itu semua. Nggak mudeng! Maap ya.
Jam sembilan nyampe di salon dan doeng! Salonnya masih sepi. Saya dan my twin ternyata pelanggan pertama dan kedua. Cieee! Harusnya dapet diskon nih ya, minimal dikasih bonus vitamin rambut gitu 😁 (ngarep). 

Karena cuma potong rambut ya bentar banget udah selese. Cuma makan waktu setengah jam. Dan waktu membayar saya kaget ternyata untuk sekedar potong rambut saya harus merogoh kocek 30rb! Omaigat! Mahal ya ternyata. Padahal cuma keramas sama potong rambut model biasa dan juga nggak ditambah vitamin rambut etc. Eweew, di kota kecamatan nan mungil ini aja potong rambut sudah mencapai 30rb ya. Apa kabar di kota? Haih, mungkin sayanya aja yang lebai gara-gara lama gak potong rambut (terakhir setahun yang lalu dan harganya masih 20rb). Sebelnya, my twin berbisik ke saya,

“Tuh makanya cepet dapet kerja ya, potong rambut aja 30rb loh, belum kebutuhan yang lain,”

Seketika saya termenung. Galau. Waaah sebulan pasca wisuda hanya bisa menunggu dan menunggu. Iya menunggu STR, menunggu panggilan kerja, dan menunggu dilamar kamuu. Hee kok malah curhat wkwk #maap. Intinya, hidup ini nggak ada yang gratis tjoy. Apalagi jadi cewek, biaya meap mahaaaal (lagi ngebayangin harga gincu nyx atau kyle yang mehong itu hmm). Kalau pengen duit ya kerja laah~ saya ngomong ke diri saya sendiri.

Habis nyalon yang nggak nyantai ini, saya dan twin ke ATM. Mau ambil uang (ya iyalah masa mau beli bawang sih). Nah di gallery ATM ini kebetulan ada dua mbak-mbak. Dimana saat itu saya kebetulan berada diantara mereka. Dua mbak-mbak itu (yang ternyata saling kenal) pun mengobrol dengan bahasa jawa ngapak yang sudah saya translate ke bahasa Indonesia.

Mbak 1: wih, kayaknya lagi isi lagi ya. Udah berapa bulan neng?

Mbak 2: hehe iya nih, masuk 5 bulan

Mbak 1: yaa sebelas dua belas sama aku lah

Mbak 2: kamu udah berapa bulan?

Mbak 1: mau masuk 4 bulan

Saya: “……….”

Mereka pun asik berbalas pantun eh maksudnya asik ngobrol tentang kehamilannya. Deuuh, saya sekilas memperhatikan dua mbak-mbak itu. Hmm tipikal mamah mamah muda. Palingan usianya sebelas dua belas sama saya nih. Kisaran 23-25 tahunan gitu. Terus saya keluar gallery ATM dan menghampiri kembaran saya yang lagi nungguin di motor. Dan curhat tentang obrolan mbak-mbak tadi.

“Ceilah ada yang baper masih jomblo”

Hahaha. Saya ketawa garing. Kok malah diledekin yah. Nggak bolo! Ora konco! Hmm.

Terik panas matahari kecamatan Wangon tercinta sedang nggak bersahabat dengan kulit para wanita muda tukang galau. Saya pun bergegas menuju next destination yaitu membeli ticket kereta. Yhaaa besok saya mau ke semaraang! Wiiiw katanya udah jadi kenangan? Hihihi gapapa kali yaaa, kan komunikasi sama mantan nggak dilarang to. Mantan kota perantauan maksudnya.

Dan dan dan saya baru sadar kalau tulisan ini geje banget ya? 

Halah gapapa deh, yang penting sayanya hepi. Iya, hepi. Kalau kamu enggak, ya gapapa terserah kamu. Kalau kata pidibaiq mah:

“Hatimu milikmu, mau senang atau sedih kamu lah yang menentukan,”

#tsadest setuju lah sama ketua geng paling gahoel ini. Intinya sih bersyukur aja. Iyaaa, bersyukur udah dikasih banyak banget nikmat sama Allah (yang kalau dijabarin satu persatu nih jempol tangan bakalan gempor karena saking banyaknya). Sebelum mengakhiri tulisan gaje ini, yuk sama-sama ngucapin ‘alhamdulillah….’

Oke bhay! mama dedeh mau maem siang dulu ya~

Diposkan pada Others

Love Actually (Part 3)

train mates

Apakah ada yang lebih buruk dari patah hati?

Aku memutar kenop pintu kamar. Setitik cahaya dari jam wekerku menerangi kamar yang hampir 10 jam tak berpenghuni ini. Kunyalakan lampu dan segera mungkin kurebahkan badanku di atas kasur bercover bunga lily. Bunga kesukaanku.

Jadi, benar yang kamu lihat tadi Ge kan Din?

Aku mengambil ponsel. Kuketik sebuah nomor namun aku urung memencet tombol call.

Geribaldi Witjaksono

Kenapa sih dunia bisa sesempit ini? Kenapa Geribaldi ada di City? Kenapa ia tak mengenaliku? Dan kenapa ia malah asyik ngobrol dengan Wieke anak gadis pak direktur yang belum juga sebulan kerja disini.

Oh, Hello Dina. Apa sih yang kamu harapkan dari seorang Ge? Yap, Ge hanya salah seorang kan? Seseorang yang kebetulan bertemu di kereta jurusan Jogja. Seseorang yang kebetulan enak diajak ngobrol, seseorang yang kebetulan seumuran dan kebetulan seseorang itu baik.

Ge dan Ge. Hampir satu tahun nama itu terus berputar di kepalaku. Memenuhi hampir seluruh lobus frontalisku dengan dua kata yang jika aku mengingatnya ribuan kupu-kupu serasa melayang di perutku.

Huh, payah kau Din!

Kamu ini telah dibuai oleh harapan yang terlalu tinggi. Harapan yang seolah-olah bisa kamu raih tapi nyatanya berbalik seratus delapan puluh derajat. Harapan itu telah menyerangmu, menikammu dari belakang. Bahkan mengingatmu saja, laki-laki itu tidak bisa kan? Payah.

Saat ini yang bisa kulakukan adalah….menelpon Naya. Aku nggak mau tau saat ini ia sedang asyik bulan madu entah di pulau mana yang jelas I need her now!

Maaf nomor yang anda tuju berada di luar jangakuan.

Arrrgh! Bahkan harapan terakhir, seorang Naya yang hampir setiap kutelepon selalu menyambut dengan keceriaannya kini harus tergantikan dengan suara mbak-mbak operator nan merdu. Sial! Hari ini benar-benar sial. Dan malam ini kupilih tidur meringkuk seperti anak kucing merindukan induknya.

Oh, kukira sakit hati terakhir yang pernah kurasakan saat dulu Gilang bilang putus. Dan bahkan sekarang, jadian pun belum, hatiku sudah lebih dulu patah. You sucks Din!

***

“Din, kau sibuk?” suara mbak Mayang membangunkan lamunanku.

“Oh eh, lagi ini mbak, coba menghubungi Mbak Devina buat wawancara nanti siang,”

“Bagus deh. Aku minta tolong sekalian ya Din, antar ini ke Pak Tama, beliau ingin kamu yang lapor,”

“Hah? Kok saya sih mbak?”

“Hmm…sebenernya beliau nyuruh aku sih, tapi ngertiin aku dong Din,” mbak Mayang memperlihatkan tumpukan naskah yang harus diedit. Deadline sudah di depan mata. Aku mengangguk lemah mengiyakan permintaan atasanku ini.

Oke, jam 10 am. Ketemu Pak Tama. Laporan mingguan. Aku menuliskannya di sticky note yang kutempel di meja kerjaku.

“Pssst Din!” Tita, tetangga kubikelku mendekat.

“Sudah tau gosip paling hot?”

“Nggak usah, palingan nggak penting kayak yang udah-udah,”

“Eiiits! Yakin lu nggak mau denger? Yakin nih? Rugi looh,” Tita melirik-lirik genit.

Aku menggeleng. Mantap.

“Ah lu nggak asik Din! Aaah! Tapi gue pengin cerita ke elu!” Tita beranjak dari kursinya dan berbisik di telingaku.

“Lu tahu kantor baru di lantai 2? Itu katanya dijadiin kantor perusahaan aviasi,”

Aku ternganga.

“Ha? Kok bisa? Ngapain sih mereka? Bukanya mereka kerjanya di airport gitu ya?”

“Yeey, tadi katanya nggak mau denger, kok jadi semangat gini sih? Soal itu mana ijk tau yes,”

Aku manyun. Dasar si Tita biang gosip paling nyebelin.

By the way, techniciannya ya ampuuun guanteng guanteng banget loh Din! Kita bisa gaet satu tuh, hmmm,” Tita lagi-lagi melirik genit. Senyum-senyum tak jelas seraya kembali ke kubikelnya.

Aku merasakan hawa-hawa jahat mulai berkeliaran saat mataku beradu pandang dengan mbak Mayang. Kulirik jam mejaku, ya ampun! Aku harus segera ke Pak Tama!

Ting!

Pintu lift terbuka. Lantai 2.

Aku merapikan rok dan tatanan jilbabku saat tiba-tiba serombongan karyawan menyerbuku. Mereka hendak masuk lift. Oh god! Mereka tampan semuanya! Salah satu dari mereka tak sengaja menabrak bahuku dan bros bunga lily yang kupakai di jilbabku entah kenapa bisa terjatuh.

“Bros yang bagus,” seseorang memungutnya.

“Oh terimakasih,”

Laki-laki itu tersenyum. Siapa sih mereka ini? Berjalan rombongan, laki-laki semua lagi. Kan aku jadi grogi. Huft, alhamdulillah bros kesayangan ini utuh tanpa lecet sedikitpun. Bros yang aneh, biasanya dia melekat kuat di dadaku, kenapa kali ini begitu rapuh? Hmm..mungkin ia mengikuti si empunya yang hatinya sedang porak poranda ini. Lebay.

***

Jam makan siang. Okay, aku masih punya waktu satu jam lagi sebelum bersiap menuju kediaman mbak Devina, seorang artis terkenal yang memutuskan masuk ke dunia politik. Sebenernya aku tak begitu suka jika harus bertemu atau mewawancari artis. Suka repot aja mengatur jadwalnya. Secara para artis itu kan sibuknya pake banget. Jadi seperti double job.

“Din, kamu berangkat bareng Bima ya,” Mbak Mayang menyebutkan fotografer yang akan menjadi partnerku kali ini. Aku menepuk dahi. Tita terkikik. Kami sama-sama tahu jika pergi bareng Bima siap-siap rempong karena dia orangnya lelet dan gampang lapar. Memang ya, kali ini aku harus berjuang keras lagi.

Tita mengepalkan tangan dan mengucap ganbate! Memberiku semangat yang sayangnya nggak mempan dan semangatku juga gini-gini aja.

“Oh ya Din, selesai wawancara jangan langsung balik ya. Ingat deadline artikel yang aku kasih ke kamu, malam ini harus beres oke?” ucap Mbak Mayang dengan senyumnya yang sama sekali nggak ada manis-manisnya. Oh, dunia kenapa engkau begitu kejam? Saat kubayangkan bisa tidur di atas kasur empuk bermotif bunga lily kenapa malah harus balik ke kantor dan lembur bareng nenek lampir?

***

10 p.m

Aku menguap. Kulirik mbak Mayang. Oke kelihatannya dia juga sudah lelah. Hmm..sebentar lagi pasti disuruh pulang nih. Asik.

“Din, pulanglah dulu sana, aku nggak mau besok kamu masuk telat,”

Bingo!

Setelah mengucapkan terima kasih dan mengirim semua deadline artikel ke email mbak Mayang, aku segera melesat turun ke lobi.

Aku mengeluarkan hape dan ternyata sudah ada 50 unread messages di whats app. Alah, palingan ya pesan di grup alumni kampus. Aku mah apa sih, cuma silent reader. Eh, kok ada pesan dari nomer tak dikenal. Belum masuk di friendlistku.

Hai Dina, senang bisa bertemu lagi. Nanti sore sepulang dari kantor ketemu yuk

Badanku seketika membeku. Pulang kantor? Ketemuan? Ini kan sudah lewat 3 jam dari jam pulang kantor yang normal. Siapa dia? Siapa? Aku membuka profile picture yang tertera di nomer whats appnya. Oh Tuhan jadi benar dia….

“Hai Din!”

Seseorang menepuk punggungku. Aku tersentak kaget. Dan saat kubalikan badan aku pikir dunia ini memang benar-benar sempit.

Laki-laki itu ada di depanku. Laki-laki itu ada tersenyum padaku. Laki-laki itu bernama……

Geribaldi Witjaksono.

Dan aku merasakan waktu berhenti untuk beberapa saat.

bersambung~

 

p.s:

Huaaaa akhirnya part 3 saya posting juga yaa. Huft. Emang sih nggak ada yang request tapi seneng aja akhirnya janji pada diri sendiri bisa ditepati. Di awal nulis series ini saya bilang kalau bakalan jadi 3 part tapi eng ing eng….saya nya jatuh cinta sama tokoh-tokoh cerita bikinan sendiri (ahaahak! lebay deh). Jadi, Inshaa Allah mau saya terusin. Partnya nggak lebih dari 5 part sih, bisa juga kurang tergantung mood saya (kalau lagi galau mungkin bisa nyampe part 10). So, selamat membaca. Terimakasih yang udah mampir dan membuang almost 5 minutes of your precious time ehehehe.

Love Actually part 2

Love Actually part 1