Diposkan pada Others

Jalan Pulang

Ada yang datang, lantas ia menghilang
Ada yang datang, hanya untuk singgah sejenak
Ada yang datang, memberi warna
Ada yang datang, membawa luka
Ia datang, lantas ia bilang ingin menetap
Ia seringkali tak dianggap
Ia seringkali berjuang sendiri
Ia seringkali terlukai
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi
Dan tak pernah berbalik lagi
“Kau harus belajar mencintai. Kau juga layak untuk dicintai,” katanya untuk yang terkahir kali
Ada yang sedang berjuang memaknai semua ini
Setiap yang datang akan membawa harapan
Dan yang pergi meninggalkan pelajaran
Ia sekarang pergi
Benar-benar pergi

Dan mari terus berjalan, jangan takut tersesat
Sejatinya diperjalanan nanti akan banyak rahasia rahasia yang terungkap
Menemukan jalan pulangmu, salah satunya

Iklan
Diposkan pada Others

A Light in A Morning

“Suster, nama suster hampir sama loh kayak nama aku,” kata pasien saya pagi tadi saat saya masuk ke kamarnya untuk menawarkan sibin pagi.

“Oh ya? Cuma beda huruf a dan i saja ya,” kata saya.

Dia mengangguk.

“Sust, aku bosan.. udah pengin pulang. Aku pengin ke salon, pengin creambath,” kata pasien saya yang masih remaja ini. Sepertinya dia mulai jenuh dengan seabrek pengobatan untuk kankernya yang terlihat tidak kunjung usai.

“Boleh, nanti ke salon, creambath, spa… boleh banget. Tapi… nanti kalau pengobatannya udah selesai yaa,” kata saya disertai senyuman.

“Sust, saya pengin nonton di bioskop,”

“Bisaa, tuh depan ada CGV,” kata saya sambil menunjuk mall di seberang RS.

Dia tertawa.

“Sambil bawa-bawa ini semua sust?” Katanya menunjuk alat-alat medis segambreng yang terpasang di badannya.

“Eh ada loh, film yang tokoh utamanya sakit,terus dia kemana-mana harus bawa oksigen,” kata saya.

“Aku tahu sus! FIVE FEET APART khan???” Jawabnya penuh semangat. Sayangnya, bukan itu jawabannya.

“Bukaan, nama judulnya apa yah, pokoknya adaptasi dari sebuah buku gitu,” kata saya sambil berusaha mengingat judul film itu. Saya ingat tokoh cewek yang memerankannya tapi lupa nama dan judul filmnya.

Akhirnya kami berdua sama-sama mikir. Kocak juga membayangkan adegan tadi pagi. Saya sampai berhenti di tengah-tengah merapikan tempat tidurnya.

Hingga akhirnya….

“The Fault in Our Stars! Ya ya benar itu judulnya,” kata saya penuh semangat. Berharap dia membalas tatapan saya dengan penuh semangat juga.

“Aku gak tahu sust,” katanya cemberut.

“Masa siiih? Ini film terkenal loooh,”

Dia menggeleng. “Emangnya keluaran tahun berapa tuh film?”

Terus saya mengingat-ingat lagi. Oh iya, ini film keluar sekitar 5-6 tahun yang lalu saat saya masih kuliah.

“Yaa mungkin 2013-2014. Sekitar itu,”

“Suster gimana siiih? Udah lama banget ituu, aku kan di tahun itu masih anak-anak!”

Kemudian saya terbahak. Pasien saya inj baru menginjak 17 tahun. Kalau 5-6 tahun yang lalu berarti dia usia 11-12 tahun, masih SD. Masih anak kecil. Mungkin tontonnya masih barbie fairy tale gitu yak ๐Ÿ˜†

“Iya ya deh, maafin yak. Suster nonton film jadul berarti ya?”

Terus dia tertawa.

“Udah yaaa, dah beres, kamu dah mandi, udah suster gantiin baju, gantiin sprei, sekarang suster mau operan jaga dulu sama teman suster yang jaga pagi. Udah jam 8, saatnya suster istirahat,”

Dia melambaikan tangan kepada saya. “Daah suster,” katanya.

“Semangat terus ya. Nanti kalau sudah boleh pulang, kamu boleh pergi ke bioskop, nonton film yang kamu suka, pergi ngemall, hang out sama teman-teman kamu. Lakukanlah hal-hal yang kamu suka. Nanti saat waktu pengobatan datang, kamu tidak akan terlalu bosan dan bayangkan hal hal menarik lainnya yang bisa kamu lakukan setelah pengobatanmu selesai. Tetap semangat!”

Dia tersenyum kemudian bilang terima kasih.

Saya mengambil laundry kotornya, berpamitan dan keluar dari kamarnya.

Selalu ada cerita yang berbeda dari setiap pasien tiap harinya. Entah itu duka maupun suka. Saya banyaaak sekali belajar dari mereka. Belajar untuk sabar, belajar memahami, dan juga belajar berempati.

Lelah memang bekerja di pelayanan itu. Namun, semoga lelah ini menjadi Lillah… Aamiin.

Diposkan pada Others

Trip Solo-Joga dan Pengalaman Menginap lewat Aplikasi RedDoorz

Sedari tahun lalu saya ingin sekali liburan ke Jogja. Seingat saya, terakhir saya mengunjungi kota itu adalah di semester akhir kuliah, sekitar tahun 2015. Sudah empat tahun berlalu, rasanya saya kangen untuk menjelajah kota budaya ini.

Sepertinya memang sudah menjadi rezeki. Akhir ramadhan kemarin saya mendapat kabar jika sahabat saya, Rahma akan menikah di akhir bulan Juni dan melangsungkan resepsi seminggu setelahnya. Langsung dong saya siapkan budget, permintaan libur ke ibu kepala ruang, dan beli tiket ke Solo. Saya memilih menggunakan moda transportasi kereta api yaitu kereta Argo Lawu. Waktu tempuh perjalanannya dari Gambir hingga Solobalapan kurang lebih selama 9 jam.

Tepat pukul 20.15 WIB kereta berangkat dari Gambir menuju Solo. Alhamdulillah bertepatan dengan weekend sehingga stasiun Gambir serasa lautan manusia. Maklum ya, Jumat malam waktunya penduduk Jakarta menghilang sejenak dari hiruk-pikuk ibu kota. Saya duduk di gerbong 5 kursi 6C. Agak sedih sih, nggak bisa duduk samping jendela. Tapi ternyata setelah terlewati ya nyaman-nyaman aja tuh, lagian kalau malam hari mau lihat pemandangan apa? Sepanjang perjalanan hanya terlihat kerlap kerlip lampu. Saya juga memutuskan untuk tidur karena hari itu saya baru selesai jaga malam.

Pukul 05.05 WIB saya tiba di stasiun Solo Balapan. Kereta telat 20 menit dari jadwal seharusnya. Saya segera mencari mushala untuk bersih-bersih dan shalat subuh. Pagi itu stasiun Solobalapan tidak begitu ramai. Saya segera menuju ke penginapan dimana teman-teman saya menginap.

Oh iya, berhubung saya kondangan ramai-ramai, jadi lah kami booking penginapan. Teman-teman saya yang lain sih sudah sampai di Solo sejak Jumat sore, sehingga mereka sempat menginap. Saya yang paling terakhir sampai di penginapan. Karena saya mendapat mandat untuk urusan booking kamar maka pilihan saya jatuh pada aplikasi Reddoorz.

Ini adalah kali pertama saya menginap di Reddoorz. Saya pesan kamarnya seminggu sebelum kedatangan, mengingat weekend jadi takut saja kamar penuh. Kami semua menginap di Reddoorz di dekat Taman Balaikambang, tepatnya di Jalan Majapahit III karena acara resepsi Rahma berada di Taman Balaikambang. Biar tidak terlalu jauh gitu lho.

Area depan kamar penginapan yang instagramable

Setelah melepas lelah dan kangen kangenan dengan geng bul (sebutan kami karena dulu saat kuliah kami berada dalam naungan satu kosan yang sama di daerah Bulusan, Tembalang ๐Ÿ˜‚), saya pun segera bersiap kondangan. Mandi, ganti baju, make up. Ini sih make up time yang paling rempong yhaaa. Mana saya ini anaknya nggak bisa make up yaa. Yha palingan make up dasar saja. Untuk urusan eyeshadow, highlight, dll ituu saya nggak mudeng. Alhamdulillah geng bul ini semuanya jago make up (kecuali aku) wkwk beda jauh kemampuannya dari jaman kuliah dahulu kala ๐Ÿ˜‚ tepuk salut deh untuk progress mereka semua ๐Ÿ‘. Dengan saling gotong royong akhirnya make up time selesai dan kami segera menuju ke lokasi acara.

Saya happy banget waktu tahu ternyata konsep resepsinya rahma itu garden party! Keren deh, saya kira bakal dilaksanakan di gedung.

Pukul 10 acara dimulai. Saya dan para bridesmaid (ceilah) bersiap mengikuti prosesi adat manten. Dan kaget yang kedua, prosesi adatnya nggak ribet say! Biasanya kan kalau nikah adat Jawa tuh ritualnya banyak banget yaa. Tapi khusus di resepsinya Rahma banyak ritual yang diskip. Saya jadi terinspirasi heheu, soalnya bener-bener menyingkat waktu. Dan menurut saya ini efektif karena lebih diperbanyak waktunya untuk acara lain (salam-salaman dan foto bersama pengantin, santap hidangan kawinan).

Namanya Selat Solo

Alhamdulillah acara selesai sebelum adzan dzuhur. Para tamu undangan sudah kenyang dan saatnya para bridesmaid ala ala ini berfoto. Dilanjutkan dengan acara reuni bersama alumni PSIK Undip 2011. Senaaang rasanya bertemu teman-teman. Ada yang sudah bawa anak, bawa suami/istri, bawa calon suami/istri. Ternyata teman-teman saya sudah meniti fase baru lagi. Terharu saya tuh ๐Ÿ˜ญ.

Kondangan sekaligus reuni

Geng Bul reunited

Setelah melepas kangen dengan pengantin dan teman-teman yang lain, saya dan geng bul (ini ada 7 orang, terlalu banyak, jadi nggak dijabarin satu persatu ๐Ÿ˜‚) segera berpindah lokasi ke kosan Niken untuk ganti baju dll. Saya, Intan dan Nunung segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju Jogja.

Saya pikir, “wah sudah jauh-jauh ke Solo, kenapa nggak ke Jogja sekalian?”. Akhirnya saya mengajak Intan yang kerja di Magelang untuk menemani main di Jogja. Awalnya Nunung mau ikutan tapi mendadak membatalkan karena ada ujian kredensial di RSnya.

Perjalanan menuju Jogja diawali dengan kereta prameks. Ini kali pertama saya merasakan naik prameks (singkatan dari Prambanan Ekspress). Kereta lokal yang melayani rute Solo-Purworejo.

“Nung, ini kita mesti kebagian tempat duduk gak to?” Tanya saya.

“Yo nggak Des, disik-disikan ngko sopo sing olih kursi. Tapi biasane ndek jam semene ki rame,”

Dan benar kata Nunung, kita bertiga nggak kebagian tempat duduk. Akhirnya ngemper deh haha saking capeknya kita. Sebenarnya ada peraturan kalau nggak boleh duduk di lantai kereta.

“Santai wae Des, asal orak kethok nang petugase, dewek aman,” kata Intan. Saya pun mengikuti mereka berdua duduk di lantai kereta. Saking capeknya, saya pun tertidur hingga tiba di stasiun Maguwo. Penumpang banyak yang turun, dan kami pun bisa duduk di kursi sesungguhnya. Selanjutnya adalah stasiun Lempuyangan, tandaya Saya dan Intan harus turun. Sedang Nunung melanjutkan perjalanan pulang menuju Kutoarjo.

Karena nggak kebagian tempat duduk

Dari stasiun Lempuyangan, saya dan Intan menuju penginapan menggunakan pinkiana, sepeda motor kesayangan Intan yang ia tinggal di stasiun Lempuyangan.

“Des, aku nggak tahu Jogja loh yaa, kita modal gmaps, oke?”

Aku tertawa dan berdoa semoga bisa sampai penginapan dengan selamat ๐Ÿ˜.

Di Jogja kami menginap di Reddoorz lagi. Yaitu penginapan syariah di jalan Sisingamangaraja. Lokasinya tidak jauh dari alun-alun kidul atau alkid. Dan saat sampai disana, sudah ada mas resepsionisnya yang langsung membantu proses check in. Kenapa namanya syariah? Nah ini saya nggak nanya sih. Cuma dari pengamatan sih mungkin karena lokasinya persis di seberang mushola sehingga bisa mendengat adzan 5x sehari ๐Ÿ˜. Alhamdulillah check in berjalan lancar dan kami diantar menuju kamar. Kesan pertama saat saya sampai di penginapan ini adalah bentuk penampakan luar rumahnya adalah rumah kuno khas Jogja. Namun saat sudah di dalam kamar desainnya sama seperti kamar penginapan modern lainnya. Kamarnya yang kami tempati menyenangkan karena bersih, rapi, dan kamar mandinya luas. Bertolak belakang dengan penginapan sebelumnya yang lebih menekankan ke luas kamar yang lebih luas dan kamar mandi yang mungil.

Saya dan Intan pun bersih-bersih dilanjutkan shalat maghrib dan Isha. Seperti biasa cewek ya, kita curhat ini dan itu hingga tak terasa sudah mau pukul 20.00.

Malam ini kami pun mengunjungi Tempo Gelato di Jalan Prawirotaman. Wishliat saya ke Jogja ya kepingin banget ke Tempo Gelato. Dengan bermodal gmaps, saya dan Intan akhirnya sampai di lokasi. Daan ternyata ramai sekali sodara. Awalnya saya pasrah, ya udah deh kalau nggak jadi masuk, tapi Intan tetap memaksa untuk masuk.

“Dah jauh-jauh kesini masa mau mundur? Itu palingan bule bule pada take away,”

Thanks to Intan akhirnya saya bisa mencicipi enaknya Tempo Gelato Jogja yang hits itu. Saya pesan rasa Kiwi dan Cappucino, sedangkan Intan kalau nggak salah rasa Matcha dan cokelat.

Perjalanan dilanjutkan dengan menuju jalan Malioboro. Bayangkan, kemarin itu malam minggu dan Jogja sedang macet-macetnya. Dari jalan Prawirotaman menuju Malioboro kita tempuh kurang lebih satu jam an dengan bermacet-macet ria. Ngerii sih macetnya luar biasa. Tapi ntah kenapa, meski macet saya tuh fine fine aja. Apa mungkin sudah kebal dengan kemacetan di Jakarta? ๐Ÿ˜‚

Dan memang bener yaa, seramai itu Malioboro di malam minggu. Pukul 22.30 WIB kami pulang ke penginapan karena badan rasanya kayak habis nguli๐Ÿ˜‚ alhamdulilah malam ini capek tapi senang.

Esok paginya kami checkout dari penginapan pukul 07.45 wib. Saya harus naik kereta dari stasiun Tugu. Dan pulang kali ini saya menggunakan Argo Lawu kembali dengab keberangkatan dari stasiun Tugu menuju Gambir. Estimasti perjalanan adalah 8 jam.

Saat sampai di stasiun, saya berniat ingin membeli oleh oleh bakpia kukus Tugu yang lagi hits itu. Dan gimana saudara? Apakah saya berhasil membelinta? Oo tentu tidak sodara. Antrinya itu loh bok, kagak kuat.

Mana sebentar lagi kereta saya akan tiba. Saya pun nyerah ngantri dan memilih membeli oleh-oleh di dalam stasiun saja. Mungkin lain waktu, saat saya kembali lagi ke kota ini bisa berkesempatan mencicipi rasa bakpia ini.

At least, terima kasih untuk dua hari menyenangkan ini. Terima kasih geng bul sudah meluangkan waktu untuk bertemu. Terima kasih Rahma yang menikah sehingga kami, geng Bul bisa reuni kembali: “). Terima kasih juga Reddoorz untuk penginapan yang baik.

Semoga dilain kesempatan bisa bertemu lagi ๐Ÿ˜˜

Diposkan pada Others

Pantai Laguna

Waktu itu ditengah kejenuhan dengan rutinitas kerja, saya memutuskan untuk jalan-jalan. Seperti biasa, saya kontak Nada, apakah dia bersedia menemani saya JJS di dalam kota. Dan jadilah saya dan Nada bertemu dan memutuskan untuk ke Pantai Ancol. Sebenarnya ini idenya Nada sih, secara impulsive gitu tiba-tiba pengin sepedaan di pinggir pantai. Ya sudah, toh saya juga ingin jalan-jalan, akhirnya saya iya kan saja usulnya untuk ke Pantai Ancol.

Saat itu kami memulai perjalanan ke Ancol pukul 16.30 WIB. Kami berniat hunting foto saat senja. Apalagi saat itu kondisi senja di langit Jakarta sedang cantik-cantiknya.

Kami berangkat menggunakan Trans Jakarta. Berhenti di pemberhentian terkahir yaitu di halte Ancol. Untuk masuk kawasan Ancol kami harus membayar tiket masuk. Masing-masing 25.000 rupiah.

“Mau kemana kak?” Tanya petugas loket.

“Ke Pantai Laguna pak,” jawab Nada.

“Naik bis wara wiri aja, gratis,”

Kami pun segera menuju lokasi tempat menunggu bus wara wiri. Saat itu sekitar pukul 17. Sepuluh menit menunggu, ternyata bisnya belum datang juga. Lama yak ternyata, bisa bisa kita gagal berburu sunset nih, pikir saya. Saat kami berdua sudah tak sabar dengan kedatangan bus, datang lah bapak supir taksi menawarkan tumpangan.

“Busnya masih lama mbak, naik taksi aja 25rb langsung sampai pantai Laguna, kalau kelamaan nunggu bis, ntar sunsetnya keburu habis loh,” kata si bapak supir.

Ah, bisa aja nih si bapak membaca pikiran kami berdua. Akhirnya saya dan Nada luluh dengan bujuk rayu pak Supir dan memutuskan menggunakan taksi menuju pantai Laguna.

Nggak ada 10 menit sampailah kami di Pantai Lagoon. Begitu tiba langsung disambut semilir angin pantai yang menyejukkan. Di sebelah barat sudah mulai semburat merah pertanda senja akan datang.

Rasanya…. satu per satu kejenuhan dalam pekerjaan perlahan runtuh. Hahaha lebay yaaa ๐Ÿ˜‚ tapi menyenangkan loh berjalan di pinggir pantai sambil menikmati semilir angin pantai. Sedikit bisa mengurangi beban pikiran. Apalagi ditambah pemandangan indah yang tercipta saat senja.

Yhaa meski saat itu suasana cukup ramai, saya masih bisa menikmatinya. Maklum ya, setelah satu tahun di Jakarta ini kali pertama saya mengunjungi Pantai Ancol. Dulu saat saya masih kerja kantoran di Cilacap, rasanya bosen banget sama Pantai. Ya iya lah, Cilacap kan ada di ujung selatan pulau Jawa ๐Ÿ˜‚ jarak kantor dengan pantai cukup dekat. Sampai bosan sih kalau main ke pantai terus.

Menjelang senja berakhir, saya dan Nada pun mulai disibukan dengan acara foto-foto.

Ini semua saya ambil pakai kamera hape (si mimi) yang hampir dua tahun menemani. Penginnya sih punya kamera mirrorless yhaa, tapi apadaya tabungannya belum cukup ๐Ÿ˜†. Doakan yaa teman-teman semoga kamera mirrorless nya segera terbeli hehehe.

Difotoin Nada. Maafkan, nggak bisa bergaya ala ala selebgram. Hahahahaha.

Oh iya, karena nabrak waktu maghrib, kami pun shalat di kawasan pantai Ancol. Sempat khawatir susah nemu tempat shalat, tapi alhamdulillah ada mushola di dekat pantai. Yha meskipun sederhana setidaknya bisa shalat dengan nyaman. Minusnya sih tempat wudu ceweknya agak terbuka yaa, jadi agak risih gimana gituu. Huhuhu sedih. Semoga ke depannya bisa ditingkatkan.

Pukul 20.00, saya dan Nada memutuskan untuk pulang. Kami akhirnya mencoba naik bus wara wiri. Sampai lari-lari loh kami mengejar busnya ๐Ÿ˜‚ mental mental gratisan nih yhaa hahaha eh bukan ding, kami tuh mental memanfaatkan fasilitas yang ada secara maksimal wehehehehe. Nggak lama setelahnya, kami pun sampai di halte Ancol dan dilanjutkan naik TransJakarta menuju kosan kami masing-masing.

Ini sedikit cerita jadi wisatawan lokal di Ibu Kota. Alhamdulillah ya, jalan-jalan murah meriah yang bisa memperbaiki suasana hati. Ternyata masih banyak tempat di Ibu Kota yang belum sempat saya kunjungi dan masih jadi wishlist saya tahun ini ๐Ÿ˜.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari, Others

Acaraki Jamu, Menikmati Jamu Tradisional dengan Sentuhan Modern

Apa yang pertama kali terpikirkan di benak kawan-kawan semua saat mendengar kata ‘Jamu’? Kalau saya sih langsung terbawa pada sosok mbok mbok Jamu gendong dengan sapaan khasnya “Jamuuuu mu jamuuu,”. Nostalgia banget ya. Berawal dari salah satu postingan teman di Instagram yang mengenalkan sebuah kafe unik bernama Acaraki Jamu, saya pun penasaran ingin menilik langsung bagaimana sebenarnya konsep sebuah kafe Jamu ini.

Sabtu, 2 Februari kebetulan saya mendapat jatah libur shift di weekend. Saya pun segera menghubungi teman jalan-jalan paling the best, Nada. Kami sepakat untuk bertemu di stasiun Jakarta Kota pukul 13 WIB karena paginya Nada ada agenda tes TOEFL.

Tepat pukul 13.30 WIB akhirnya kami berdua bertemu dan kami pun langsung menuju lokasi di kawasan Kota Tua. Suasana siang hari di sekitar Kota Tua ini memang luar biasa panasnya. Fiuh, untung saja saya bawa bucket hat merah andalan hehe. Bisa mengurangi teriknya matahari Jakarta.

Dari depan museum Fatahillah kami berjalan menuju gedung Kerta Niaga. Ini kali kedua saya menginjakan kaki di gedung Kerta Niaga setelah Maret, 2018 saat ikut acara Jakarta Walking Tour bersama Jakarta Good Guide. Kafe Acaraki ini ternyata mudah sekali dicari. Nuansa Coffe shop sangat kentara saat pertama kali saya masuk. Kami juga disambut lantunan Adelaide Skyline nya Adhitia Sofyan yang langsung menambah betah suasana.

Kami memilih untuk duduk di bar, tepat di depan alat alat peracik jamu ini berjajar. Menurut pengamatan saya, konsep dari Acaraki jamu sendiri adalah membawa jamu yang begitu tradisional ke dalam sebuah kafe yang modern. Mungkin, kalau saja belum pernah mendengar tentang kafe ini saya pasti mengiranya bangunan berarsitektur nyentrik ini adalah coffee shop. Dan uniknya proses pembuatan jamunya mirip dengan pembuatan kopi. Ada sistem roasting, mesin grinder, ada juga teknik brewing demi menciptakan jamu dengan suasana baru. Mereka menyebutnya #JamuNewWave.

Saya memesan menu jamu dengan nama Saranti yaitu campuran beras kencur, gula, susu dan kreamer. Rasanya unik sekali. Kalau kata Nada mirip wafer yang dicelup ke susu. Kalau menurut saya sih rasanya gurih dan manis. Selain itu saya juga memesan beras kencur pekat. Rasanya otentik, mirip kencur parut buatan ibu kalau saya sedang sakit tenggorokan.

Saya juga sempat mencicip pesanan Nada yaitu Golden Sparkling, campuran dari kunyit asam, gula dan soda. Rasanya enak! Apalagi yang disajikan bersama es batu. Dingin- dingin sedap. Serasa panasnya kota tua lenyap seketika. Next time jika ke Acaraki Jamu lagi saya ingin pesan menu yang ini.

Asyik sekali ya minum jamu cantik sembari disuguhi suasana kafe yang Instagramable. Bonus foto-foto cantik pula hehe.

Oya, saya dan Nada memang memilih tempat duduk di Bar karena disini kami bisa melihat langsung cara mengolah jamu. Mulai dari menyiapkan bahan dasarnya. Yaitu bubuk kunyit dan kencur yang sudah disangrai. Kemudian menyiapkan grinder dan teman-temannya. Maaf sekali tidak bisa menjelaskan dengan detail karena saya tidak hafal nama mesinnya satu persatu ๐Ÿ˜‚. Pokoknya menarik banget melihat proses pembuatan jamu a la Coffee shop ini. Oya katanya sih nama Acaraki diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya “Pembuat Jamu”. Karena masih tergolong baru, menu jamu di Acaraki baru sebatas beras kencur dan kunyit asam. Belum ada jenis jamu yang lainnya. Jadi, kalau yang mau nyari jamu ‘brotowali’ belum ada disini yaa ๐Ÿ˜†. Mungkin sembari berjalannya waktu, menu jamu disini akan berkembang karena pasti lah perlu riset yang tidak singkat.

Bagi saya nilai plus dari Acaraki Kafe ini adalah mbak dan mas baristanya super ramah. Mereka sabar sekali melayani pertanyaan dari pengunjung meski kedua tangan mereka sibuk meracik jamu.

Satu jam berada di Acaraki rasanya tak begitu terasa. Saya asyik terbawa pada suasana kafe yang hangat. Apalagi playlist musiknya cocok dengan selera saya ๐Ÿ˜Š. Tiba-tiba saja sebentar lagi adzan Ashar berkumandang. Saya dan Nada pun beranjak meninggalkan Acaraki demi melanjutkan agenda jalan-jalan berikutnya. Sampai berjumpa di lain waktu, Acaraki โค๏ธ.

Salam dari Dua manusia random

Acaraki Jamu

Gedung Kerta Niaga 3

Kota Tua-Jakarta

Instagram: @acaraki.jamu

Diposkan pada Others

Weekend vibes: Menuju Ibu Kota

Weekend kali ini saya habiskan dengan jalan-jalan ke Ibu Kota. Demi mewujudkan ini seminggu sebelumnya saya harus lembur di kantor, empat hari berturut-turut. Saya mau tak mau harus pulang diatas pukul 20.00 wib. Menyelesaikan semua pekerjaan akhir bulan agar tak disuruh lemburan di hari Sabtu. Maklum, tiket sudah saya pesan dan sangat sangat tidak menguntungkan jika perjalanan ini saya tunda. Berangkat dari stasiun Purwokerto bersama mbak kembar dengan diantar Bapak dan Ibu tercinta. Seperti biasa sebelum berangkat ibu terus mengingatkan, “sudah bawa minum?”, “minyak anginnya jangan lupa,” “kabar-kabar kalau sudah sampai Jakarta,”. Ibu masih menganggap saya dan mbak kembar seperti putri kecilnya. Padahal sebentar lagi usia kami genap seperempat abad ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Ya sudah gapapa, namanya juga orang tua, pasti selalu mematiskan semua akan baik-baik saja. 
Kami berangkat dari stasiun Purwokerto menuju Gambir. Kereta Taksaka malam itu lumayan penuh. Saya memilih duduk di samping jendela agar bisa melihat pemandangan (meski hanya kerlip lampu perumahan atau kendaraan bermotor ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚) dan mbak kembar harus mengalah dengan duduk di samping lorong. 

Perjalanan ke Ibu Kota kali ini memang kami rencanakan cukup lama. Hanya saja pelaksanannya menunggu mbak ipar saya lahiran. Alhamdulillah tanggal 23 September 2017 keponakan pertama saya lahir. Its a baby girl! Saat itu hari sabtu, Bapak dan ibu serta dua saudara segera meluncur ke Depok demi melihat cucu pertamanya. Pokoknya so sweet deh, ibu bahagia banget melihat cucu perempuan pertamanya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š. Dan saya memutuskan untuk menengoknya seminggu kemudian. Maka dipilihnya weekend ini. Hore akhirnya liburan! Melupakan sejenak semua kenyataan perih di kantor karena baru ditinggal 2 rekan kerja sekaligus karena habis kontrak (bye mas Jhon dan mas adit, i’ll miss you ๐Ÿ˜ญ). 

Pukul 04.19 WIB tibalah kami di stasiun Gambir. Keretanya telat kurang lebih 30 menit dari jadwal sebenarnya yaitu pukul 03.45 wib. Capek deh. Tapi gapapa juga sih, lagian saya juga harus menunggu sampai jam 6 karena akan naik KRL menuju Depok. Setelah bersih-bersih (baca: cuci muka dan sikat gigi)dan shalat subuh, mbak kembar segera memesan transportasi online untuk membawa kami ke stasiun Juanda. Kakak saya mengatakan akan menjemput di Juanda. 

Alhamdulillah pukul 07.30. Wib sampailah kami di stasiun Depok Baru. Saya dan Kakak segera menuju RS karena akan menemani mbak ipar kontrol pasca lahiran. Sedangkan mbak kembar kembali menggunakan jasa layanan transportasi online menuju rumah kakak. 

Capek juga ternyata setelah perjalanan kurleb 5 jam di atas kereta masih harus dilanjut nemenin mbak kontrol di RS. Namun rasa lelah itu terbayar saat melihat keponakan pertama saya. Terharu, akhirnya  mas dan mbak diamanahi buah hati juga ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š semoga jadi anak yang shalihah ya dedek, menghormati orang tua dan selalu menjadi pribadi yang baik. Aamiiin. 

Perjalanan kali ini saya dan mbak kembar banyak menggunakan jasa transportasi online. Ternyata di kota besar seperti Jakarta, layanan transportasi online cukup bermanfaat yha. Dan saya melihat banyak dari mereka sliwar sliwer menggunakan jaket dan helm kebanggannya masing-masing. Terlepas beberapa orang yang mungkin pernah dikecewakan, saya malah alhamdulillah nggak pernah dikecewakan oleh jasa tranportasi online ini ๐Ÿ˜‰ 

Oke deh, sekian cerita weekend saya kali ini. Semoga besok bersemangat lagi mengumpulkan recehan demi recehan agar bisa ke Depok lagi dan melihat keponakan tercinta โค๏ธ. 


(Muka kucel setelah naik krl depok-juanda) 

Perjalanan Gambir-Purwokerto, ditengah mendungnya langit sore Jakarta. 

Diposkan pada Others

Hai

Hai.

Sepertinya hampir satu bulan rumah ini tak berpenghuni. Apa kabar Layang-Layang Sore? Apakah kamu masih bertahan mengudara di atas sana? Atau malah limbung tertiup angin? ๐Ÿ˜„ sepertinya rumah ini harus dibersihkan dari debu-debu yang berterbangan terlebih dahulu #siapin sapu dan sulak. Btw, untuk yang nungguin postingan saya (emang ada yang nungguin? ๐Ÿ˜ณ) saya mau minta maaf : sorry fans sudah bikin kalian penasaran. Sini peluk satu-satu dulu ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ #dih sok sokan punya fans. Geli banget bacanya wkwk.

So, what’s up Destini? Selama sebulan ngilang dari peredaran kamu ngapain aja siii?

—> first, saya ini nggak sengaja ngilang dari peredaran kok. Bolehlah di dunia maya saya sepi-sepi aja, tapi di kehidupan nyata saya hidup normal kayak biasanya. Senin-jumat ngantor. Sabtu-minggu jadi manusia gua. Sebenarnya di hari-hari vakum ngeblog saya banyak mengalami hal-hal menarik tapi entah mengapa saat akan dituangkan dalam bentuk tulisan kok yo rasane piyee ngunu. Kurang ‘sreg’. Dibaca kok rasanya kurang ‘ngena’. Hmmm mungkin ini yang dinamakan writter’s block kali yah *ceilah gaya beneeer, udah kayak penulis penulis tenar aja mengalami writers block wkwk*

—> poin kedua, HP saya mulai ngambek. My siaomay sepertinya sudah terlalu tua untuk diajak eksis. Karena ‘lola’nya dia, saya terpaksa harus keluar dari beberapa group whatsapp salah satunya grup blogger kece #Obrolin (Maaf teman-teman, HP saya lagi ngambek, terpaksa saya hilang dari peredaran dulu yaaa). Saya juga harus uninstall Line, Dictionary, Photogrid dan beberapa aplikasi lainnya. Sedih? Iyaa jelas dong. Biasanya kan wa saya ramai sama diskusi dari teman-teman #Obrolin. Semoga saja si siaomay ini lekas dapat ganti yang baru. Aamiiin #bukankodekok wkwkw ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ nabung cyin.

Terus, kenapa akhirnya update blog juga?

——> hahahaha ini sih karena saya merasa blog udah kelamaan mati suri. Yaaah daripada jadi sarang laba-laba mending saya coba Isi lagi. Lagian kemarin dapet wa (sebut saja fans ๐Ÿ˜) yang minta cerita horror yang pernah saya tulis dilanjutin lagi. 

Untuk pertanyaan itu….emmm….maaf….saya belum minat nerusin…hehe. Mungkin lain waktu kali yah saat feel horornya dapet wkwkwk ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ*btw gimana sih caranya dapet feel horor?

Sebentar lagi Agustus berakhir. Hmm..2017 tinggal sisa 4 bulan lagi. Resolusi resolusi di awal tahun mulai saya ditengok kembali. Dari 3 resolusi hanya satu yang sepertinya masih belum ada tanda-tandanya. Apa itu?

Hmm..nanti sajalah…kapan-kapan saya ceritakan.

Lagi-lagi, sebenarnya malam ini pun banyak banget yang pengin saya tulis. Namun apadaya mata sudah mengantuk. Ingin rasanya segera berwisata ke pulau kapuk. Okedeh sekian dulu update-an dari saya. Siapa tau di updatean berikutnya saya udah nggak galau lagi wkwk (curhat bu?)

Bye-bye.

Gud nite โค๐Ÿ’‹

Diposkan pada Others

Sekilas #Catatan di Libur Lebaran

Jalan-jalan saat libur lebaran, it’s a wrong decision! Dimana-mana macet, dimana-mana ramai.

Lebaran memang menjadi moment yang cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Mudik dan sekalian silaturahmi. Hari kamis kemarin saya dan keluarga memilih menghabiskan waktu liburan dengan nonton film. ย Dasar hobi nonton, waktu libur pun tak boleh lepas dari nonton! ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ dan film yang kami tonton adalah…Transformers The Last Knight. Jujur aja sih, saya sebenarnya nggak ngikutin serial Transformers. Pernah nonton seri 1 yang bintangnya Shia LaBeouf itu…mas Shianya masih muda belia dan ganteng luar biasa. Sayangnya waktu itu saya nontonnya nggak sampai selesai karena bosan di tengah jalan hahah payah. Lagian dulu pas transformers satu keluar saya masih SMP, genre film yang saya tonton masih sekelas film-film Indonesia macam Me vs High Heels getooo ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Wkwk.

Filmnya sih menarik. Cukup menghibur lah karena banyak jokes yang sukses bikin ngakak. Saya juga jatuh cinta sama autobotnya yang keren keren banget. Ini saya nontonnya masih versi 2 D loh. Coba kalau 3D, mungkin tambah mesmerized hihihi. Di seri ini tampilan Optimus Prime tambah keren! Ada juga si kecil cabe rawit Bumblebee! Terus Megatron juga jadi keliatan perkasa. Mungkin karena efek sinematografi yang lebih canggih juga ya *dan efek saya nonton loncat dari seri 1 langsung ke seri ini ๐Ÿ™ˆ

Minusnya sih karena saya nontonnya di libur lebaran jadi bisokopnya ramai bangetttt! Untungnya kakak saya booking tiket H-2 nonton jadinya nggak perlu ngantri panjang. Cumaa yaa tetep aja harus nunggu sebelum studio 1 tempat kita nonton buka dan nunggunya sambil pusing liat orang-orang yang ngantri tiket. Kasian juga liat banyak anak kecil yang ngikut antri dan mukanya pada capek gitu :(.

โ€‹
Suasana di dalam CGV cinema Rita Mall Purwokerto

โ€‹
suasana di Rita Mall Purwokerto menjelang maghrib. Taken by Kakak pertama.

Padahal ya di Purwokerto sendiri sudah ada 2 bioskop loh. Tapi sepertinya bertambahnya bioskop diikuti juga dengan bertambahnya penikmat film. Saya melihat banyak anak seusisa SD-SMP mereka datang rombongan bareng teman-temannya, booking ticket untuk geng mereka, terus merasa jadi anak gaul sedunia wkwk. Duh, jadi inget pengalaman nonton bioskop pertama kali pas kelas 1 SMA. Rasanya tuh seneng banget! Pulang sekolah di hari sabtu, naik angkot bareng temen-temen buat nonton Laskar Pelangi di Bioskop hahaa. Langsung merasa jadi anak gaul seduniaaah pemirsah! #alay.

Selepas nonton, karena lapar saya dan kakak-kakak pun melipir ke gerai makanan. Dan lagi-lagi ngantri panjang banget! Untuk pesan sekotak pizza take away harus nunggu kurleb 45 menit. Wah wah, hati-hati nih di jam lapar seperti ini adalah jamnya orang berubah menjadi sensitif. Udah laper, capek dan masih harus ngantri pulak. ย Hati-hati senggol bacok ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Karena nunggu yang terlalu lama ini akhirnya kami melipir ke Mushala untukย shalat maghrib dulu (dan lagi-lagi mushalanya penuh juga, wudlu nya harus ngantri panjang kayak ular). Maklumin aja lah, namanya juga lagi liburan. Ye kan? Lagian syukuri juga tuh jika mushala penuh berarti masih banyak orang yang inget akhirat di saat kenikmatan dunia terhampar di depan mata #ceilah #tobat.

Kelar shalat dan pesanan udah jadi kami pun pulang. Dan lagi-lagi jalanan sekitar mall macet. Hmm..dimana-mana ramai. Padahal ini sekelas kota kecil Purwokerto loh. Gimana Jakarta coba? ๐Ÿ˜‚ menghadapi kemacetan yang kelasnya masih remahan rengginang saja saya sudah pusing apalagi macetnya Jakarta yang sudah kelas kakap ๐Ÿ˜–๐Ÿ˜–๐Ÿ˜–. Ternyata saya nggak cocok jadi anak metropolitan.

Beginilah magnet libur lebaran. Meski macet-macetan, meski ramai, meski bikin pusing tetap saja dilakukan. Yah, karena kalau melakukannya dengan orang-orang tercinta apalagi keluarga semuanya tetap menyenangkan. Begitu.

Hari ini sudah masuk bulan Juli. Kok cepet ya? Bentar lagi 2017 habis dong? Kok masih jomblo? Wkwk ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ yaa sudah lah, dinikmati saja 2017 yang sudah habis setengahnya ini. Semoga dikuatkan untuk menghadapi sisa 2017 yang akan datang. Aih, aih, semangat cyin!!!!

Diposkan pada Others

Random banget!

Berhubung hari minggu saya berniat untuk nyalon. Bukan nyalon gubernur macam pak Anis, Agus atau Ahok ya. Nyalon yang ini adalah nyalon khas wanita-wanita jaman sekarang heheu. Gayaa benerr, padahal ya ke salonnya cuma pengin potong rambut, bukan facial, rebounding, luluran apalagi meni pedi. Deuuh bukan saya banget lah itu semua. Nggak mudeng! Maap ya.
Jam sembilan nyampe di salon dan doeng! Salonnya masih sepi. Saya dan my twin ternyata pelanggan pertama dan kedua. Cieee! Harusnya dapet diskon nih ya, minimal dikasih bonus vitamin rambut gitu 😁 (ngarep). 

Karena cuma potong rambut ya bentar banget udah selese. Cuma makan waktu setengah jam. Dan waktu membayar saya kaget ternyata untuk sekedar potong rambut saya harus merogoh kocek 30rb! Omaigat! Mahal ya ternyata. Padahal cuma keramas sama potong rambut model biasa dan juga nggak ditambah vitamin rambut etc. Eweew, di kota kecamatan nan mungil ini aja potong rambut sudah mencapai 30rb ya. Apa kabar di kota? Haih, mungkin sayanya aja yang lebai gara-gara lama gak potong rambut (terakhir setahun yang lalu dan harganya masih 20rb). Sebelnya, my twin berbisik ke saya,

“Tuh makanya cepet dapet kerja ya, potong rambut aja 30rb loh, belum kebutuhan yang lain,”

Seketika saya termenung. Galau. Waaah sebulan pasca wisuda hanya bisa menunggu dan menunggu. Iya menunggu STR, menunggu panggilan kerja, dan menunggu dilamar kamuu. Hee kok malah curhat wkwk #maap. Intinya, hidup ini nggak ada yang gratis tjoy. Apalagi jadi cewek, biaya meap mahaaaal (lagi ngebayangin harga gincu nyx atau kyle yang mehong itu hmm). Kalau pengen duit ya kerja laah~ saya ngomong ke diri saya sendiri.

Habis nyalon yang nggak nyantai ini, saya dan twin ke ATM. Mau ambil uang (ya iyalah masa mau beli bawang sih). Nah di gallery ATM ini kebetulan ada dua mbak-mbak. Dimana saat itu saya kebetulan berada diantara mereka. Dua mbak-mbak itu (yang ternyata saling kenal) pun mengobrol dengan bahasa jawa ngapak yang sudah saya translate ke bahasa Indonesia.

Mbak 1: wih, kayaknya lagi isi lagi ya. Udah berapa bulan neng?

Mbak 2: hehe iya nih, masuk 5 bulan

Mbak 1: yaa sebelas dua belas sama aku lah

Mbak 2: kamu udah berapa bulan?

Mbak 1: mau masuk 4 bulan

Saya: “……….”

Mereka pun asik berbalas pantun eh maksudnya asik ngobrol tentang kehamilannya. Deuuh, saya sekilas memperhatikan dua mbak-mbak itu. Hmm tipikal mamah mamah muda. Palingan usianya sebelas dua belas sama saya nih. Kisaran 23-25 tahunan gitu. Terus saya keluar gallery ATM dan menghampiri kembaran saya yang lagi nungguin di motor. Dan curhat tentang obrolan mbak-mbak tadi.

“Ceilah ada yang baper masih jomblo”

Hahaha. Saya ketawa garing. Kok malah diledekin yah. Nggak bolo! Ora konco! Hmm.

Terik panas matahari kecamatan Wangon tercinta sedang nggak bersahabat dengan kulit para wanita muda tukang galau. Saya pun bergegas menuju next destination yaitu membeli ticket kereta. Yhaaa besok saya mau ke semaraang! Wiiiw katanya udah jadi kenangan? Hihihi gapapa kali yaaa, kan komunikasi sama mantan nggak dilarang to. Mantan kota perantauan maksudnya.

Dan dan dan saya baru sadar kalau tulisan ini geje banget ya? 

Halah gapapa deh, yang penting sayanya hepi. Iya, hepi. Kalau kamu enggak, ya gapapa terserah kamu. Kalau kata pidibaiq mah:

“Hatimu milikmu, mau senang atau sedih kamu lah yang menentukan,”

#tsadest setuju lah sama ketua geng paling gahoel ini. Intinya sih bersyukur aja. Iyaaa, bersyukur udah dikasih banyak banget nikmat sama Allah (yang kalau dijabarin satu persatu nih jempol tangan bakalan gempor karena saking banyaknya). Sebelum mengakhiri tulisan gaje ini, yuk sama-sama ngucapin ‘alhamdulillah….’

Oke bhay! mama dedeh mau maem siang dulu ya~

Diposkan pada Others

Love Actually (Part 3)

train mates

Apakah ada yang lebih buruk dari patah hati?

Aku memutar kenop pintu kamar. Setitik cahaya dari jam wekerku menerangi kamar yang hampir 10 jam tak berpenghuni ini. Kunyalakan lampu dan segera mungkin kurebahkan badanku di atas kasur bercover bunga lily. Bunga kesukaanku.

Jadi, benar yang kamu lihat tadi Ge kan Din?

Aku mengambil ponsel. Kuketik sebuah nomor namun aku urung memencet tombol call.

Geribaldi Witjaksono

Kenapa sih dunia bisa sesempit ini? Kenapa Geribaldi ada di City? Kenapa ia tak mengenaliku? Dan kenapa ia malah asyik ngobrol dengan Wieke anak gadis pak direktur yang belum juga sebulan kerja disini.

Oh, Hello Dina. Apa sih yang kamu harapkan dari seorang Ge? Yap, Ge hanya salah seorang kan? Seseorang yang kebetulan bertemu di kereta jurusan Jogja. Seseorang yang kebetulan enak diajak ngobrol, seseorang yang kebetulan seumuran dan kebetulan seseorang itu baik.

Ge dan Ge. Hampir satu tahun nama itu terus berputar di kepalaku. Memenuhi hampir seluruh lobus frontalisku dengan dua kata yang jika aku mengingatnya ribuan kupu-kupu serasa melayang di perutku.

Huh, payah kau Din!

Kamu ini telah dibuai oleh harapan yang terlalu tinggi. Harapan yang seolah-olah bisa kamu raih tapi nyatanya berbalik seratus delapan puluh derajat. Harapan itu telah menyerangmu, menikammu dari belakang. Bahkan mengingatmu saja, laki-laki itu tidak bisa kan? Payah.

Saat ini yang bisa kulakukan adalahโ€ฆ.menelpon Naya. Aku nggak mau tau saat ini ia sedang asyik bulan madu entah di pulau mana yang jelas I need her now!

Maaf nomor yang anda tuju berada di luar jangakuan.

Arrrgh! Bahkan harapan terakhir, seorang Naya yang hampir setiap kutelepon selalu menyambut dengan keceriaannya kini harus tergantikan dengan suara mbak-mbak operator nan merdu. Sial! Hari ini benar-benar sial. Dan malam ini kupilih tidur meringkuk seperti anak kucing merindukan induknya.

Oh, kukira sakit hati terakhir yang pernah kurasakan saat dulu Gilang bilang putus. Dan bahkan sekarang, jadian pun belum, hatiku sudah lebih dulu patah. You sucks Din!

***

โ€œDin, kau sibuk?โ€ suara mbak Mayang membangunkan lamunanku.

โ€œOh eh, lagi ini mbak, coba menghubungi Mbak Devina buat wawancara nanti siang,โ€

โ€œBagus deh. Aku minta tolong sekalian ya Din, antar ini ke Pak Tama, beliau ingin kamu yang lapor,โ€

โ€œHah? Kok saya sih mbak?โ€

โ€œHmmโ€ฆsebenernya beliau nyuruh aku sih, tapi ngertiin aku dong Din,โ€ mbak Mayang memperlihatkan tumpukan naskah yang harus diedit. Deadline sudah di depan mata. Aku mengangguk lemah mengiyakan permintaan atasanku ini.

Oke, jam 10 am. Ketemu Pak Tama. Laporan mingguan. Aku menuliskannya di sticky note yang kutempel di meja kerjaku.

โ€œPssst Din!โ€ Tita, tetangga kubikelku mendekat.

โ€œSudah tau gosip paling hot?โ€

โ€œNggak usah, palingan nggak penting kayak yang udah-udah,โ€

โ€œEiiits! Yakin lu nggak mau denger? Yakin nih? Rugi looh,โ€ Tita melirik-lirik genit.

Aku menggeleng. Mantap.

โ€œAh lu nggak asik Din! Aaah! Tapi gue pengin cerita ke elu!โ€ Tita beranjak dari kursinya dan berbisik di telingaku.

โ€œLu tahu kantor baru di lantai 2? Itu katanya dijadiin kantor perusahaan aviasi,โ€

Aku ternganga.

โ€œHa? Kok bisa? Ngapain sih mereka? Bukanya mereka kerjanya di airport gitu ya?โ€

โ€œYeey, tadi katanya nggak mau denger, kok jadi semangat gini sih? Soal itu mana ijk tau yes,โ€

Aku manyun. Dasar si Tita biang gosip paling nyebelin.

โ€œBy the way, techniciannya ya ampuuun guanteng guanteng banget loh Din! Kita bisa gaet satu tuh, hmmm,โ€ Tita lagi-lagi melirik genit. Senyum-senyum tak jelas seraya kembali ke kubikelnya.

Aku merasakan hawa-hawa jahat mulai berkeliaran saat mataku beradu pandang dengan mbak Mayang. Kulirik jam mejaku, ya ampun! Aku harus segera ke Pak Tama!

Ting!

Pintu lift terbuka. Lantai 2.

Aku merapikan rok dan tatanan jilbabku saat tiba-tiba serombongan karyawan menyerbuku. Mereka hendak masuk lift. Oh god! Mereka tampan semuanya! Salah satu dari mereka tak sengaja menabrak bahuku dan bros bunga lily yang kupakai di jilbabku entah kenapa bisa terjatuh.

โ€œBros yang bagus,โ€ seseorang memungutnya.

โ€œOh terimakasih,โ€

Laki-laki itu tersenyum. Siapa sih mereka ini? Berjalan rombongan, laki-laki semua lagi. Kan aku jadi grogi. Huft, alhamdulillah bros kesayangan ini utuh tanpa lecet sedikitpun. Bros yang aneh, biasanya dia melekat kuat di dadaku, kenapa kali ini begitu rapuh? Hmm..mungkin ia mengikuti si empunya yang hatinya sedang porak poranda ini. Lebay.

***

Jam makan siang. Okay, aku masih punya waktu satu jam lagi sebelum bersiap menuju kediaman mbak Devina, seorang artis terkenal yang memutuskan masuk ke dunia politik. Sebenernya aku tak begitu suka jika harus bertemu atau mewawancari artis. Suka repot aja mengatur jadwalnya. Secara para artis itu kan sibuknya pake banget. Jadi seperti double job.

โ€œDin, kamu berangkat bareng Bima ya,โ€ Mbak Mayang menyebutkan fotografer yang akan menjadi partnerku kali ini. Aku menepuk dahi. Tita terkikik. Kami sama-sama tahu jika pergi bareng Bima siap-siap rempong karena dia orangnya lelet dan gampang lapar. Memang ya, kali ini aku harus berjuang keras lagi.

Tita mengepalkan tangan dan mengucap ganbate! Memberiku semangat yang sayangnya nggak mempan dan semangatku juga gini-gini aja.

โ€œOh ya Din, selesai wawancara jangan langsung balik ya. Ingat deadline artikel yang aku kasih ke kamu, malam ini harus beres oke?โ€ ucap Mbak Mayang dengan senyumnya yang sama sekali nggak ada manis-manisnya. Oh, dunia kenapa engkau begitu kejam? Saat kubayangkan bisa tidur di atas kasur empuk bermotif bunga lily kenapa malah harus balik ke kantor dan lembur bareng nenek lampir?

***

10 p.m

Aku menguap. Kulirik mbak Mayang. Oke kelihatannya dia juga sudah lelah. Hmm..sebentar lagi pasti disuruh pulang nih. Asik.

โ€œDin, pulanglah dulu sana, aku nggak mau besok kamu masuk telat,โ€

Bingo!

Setelah mengucapkan terima kasih dan mengirim semua deadline artikel ke email mbak Mayang, aku segera melesat turun ke lobi.

Aku mengeluarkan hape dan ternyata sudah ada 50 unread messages di whats app. Alah, palingan ya pesan di grup alumni kampus. Aku mah apa sih, cuma silent reader. Eh, kok ada pesan dari nomer tak dikenal. Belum masuk di friendlistku.

Hai Dina, senang bisa bertemu lagi. Nanti sore sepulang dari kantor ketemu yuk

Badanku seketika membeku. Pulang kantor? Ketemuan? Ini kan sudah lewat 3 jam dari jam pulang kantor yang normal. Siapa dia? Siapa? Aku membuka profile picture yang tertera di nomer whats appnya. Oh Tuhan jadi benar diaโ€ฆ.

โ€œHai Din!โ€

Seseorang menepuk punggungku. Aku tersentak kaget. Dan saat kubalikan badan aku pikir dunia ini memang benar-benar sempit.

Laki-laki itu ada di depanku. Laki-laki itu ada tersenyum padaku. Laki-laki itu bernamaโ€ฆโ€ฆ

Geribaldi Witjaksono.

Dan aku merasakan waktu berhenti untuk beberapa saat.

bersambung~

 

p.s:

Huaaaa akhirnya part 3 saya posting juga yaa. Huft. Emang sih nggak ada yang request tapi seneng aja akhirnya janji pada diri sendiri bisa ditepati. Di awal nulis series ini saya bilang kalau bakalan jadi 3 part tapi eng ing eng….saya nya jatuh cinta sama tokoh-tokoh cerita bikinan sendiri (ahaahak! lebay deh). Jadi, Inshaa Allah mau saya terusin. Partnya nggak lebih dari 5 part sih, bisa juga kurang tergantung mood saya (kalau lagi galau mungkin bisa nyampe part 10). So, selamat membaca. Terimakasih yang udah mampir dan membuang almost 5 minutes of your precious time ehehehe.

Love Actually part 2

Love Actually part 1