Diposkan pada Rumah Kata :)

Rasa

Aku hanya sementara bagimu. Jangan jatuh cinta padaku. Kau harus mulai belajar tentang kehilangan. Tak semua yang kau suka lantas balas mencintaimu. Tak semua perasaan berbalas secara selaras. Seringnya, ia berbalik dan pergi.

Aku, sok tahu ya?

Ah, kamu hanya belum menyadarinya. Aku pun pernah merasakannya. Rasanya… sakit dan sulit disembuhkan.

Iklan
Diposkan pada Rumah Kata :)

[Fiksi] Kita yang Bertemu Sore Itu

Kala itu adalah senja. Di sebuah toko buku, seseorang menepuk pundakku pelan. Aku berbalik dan kulihat laki-laki itu berdiri di depanku. Tersenyum dan mengulurkan tangannya seraya bertanya, “Apa kabar Rayya?” 

Dan memory sepuluh tahun yang lalu kembali bermunculan. Hujan, terik, mendung dan dingin pernah aku habiskan bersama laki-laki di depanku ini. Sekali lagi, aku mencoba menghilangkan gemuruh yang muncul di dalam dada. Perasaan apa lagi ini? 

“Hai, kabarku baik,” itulah kata yang berhasil aku ucapkan.

Laki-laki itu kembali tersenyum. 

“Kau kaget ya?” 

“Iya. Ku kira kamu masih di Jakarta, lagi mudik?” 

“Ya begitulah, ada hari cuti yang belum kuambil. Ya sudah deh sekalian saja aku pulang kampung,” 

Aku terdiam. Susah sekali mencari topik pembicaraan di situasi seperti ini. 

“Senggang? Ngopi yuk, di lantai 1 katanya ada kopi enak loh,” ajaknya. 

“Kok kamu bisa tahu sih? Aku merasa gagal sebagai produk lokal,” 

Ia terbahak. 

“Rayya kamu ternyata masih sama,” 

Segelas machiato dan kopi hitam tersaji di meja. Masing-masing dari kami mulai menyesap minuman berkafein yang selalu penuh kejutan ini.

“So, how’s life?” Tanya laki-laki ini. 

“Beginilah,” 

“Kudengar sekarang ngajar ya? Jadi dosen?” Tanyanya. 

Aku mengangguk. 

“Ngajar apa?” 

“Coba tebak,” 

“Yang jelas kamu nggak jadi dosen matematika kan?hahaha,” 

Aku terbahak. Ah, ternyata ia masih mengingat mata pelajaran SMA yang tak kusukai. Sampai aku kuliah pun aku memilih jurusan yang tak bersentuhan dengan matematika. 

“Inget ga Ya, dulu waktu SMA kamu itu tomboi banget kan? Rambut dipotong pendek, kalau les pakenya jeans sama kaos, ga pernah mau pake baju model dress gitu. But, look at you now! Kamu berubah!” 

Ia memandangku heran. 

“Nggak usah lebay gitu deh. Life’s change, right? Kamu juga dulu cupu sekarang…Yah, okelah naik dikit levelnya” 

“Enak aja! Dulu aku nggak cupu kali! Buktinya fansku banyak,” belanya. 

 “Karena dulu mereka kagum dengan kemampuan matematikamu kan? Itu nggak mempan buat aku,” 

“Hahaha sudah lah, itu hanya masa lalu. Omong-omong aku lebih suka kamu berhijab begini, kamu berubah jadi cewe sejati,” 

Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. 

Ternyata dia tidak berubah. Suaranya, tatapan matanya, cara dia mengajakku berbincang. Dia masing sama seperti Nanda sepuluh tahun yang lalu. Nanda yang selalu kukagumi karena kecerdasannya, keramahannya, kesabarannya dan semuanya yang ada pada dirinya selalu terlihat hebat di mataku. Hanya saja dulu aku terlalu bodoh untuk mengakui jika jauh di lubuk hati yang paling dalam aku menaruh rasa padanya. Hingga kini semuanya berubah. 

“Kamu datang bareng siapa? Sendiri?” Tanyaku. 

“Enggak. Aku dateng berdua. Sebentar lagi juga kesini. Aku udah bilang mau aku kenalin ke Rayya, sahabatku di SMA yang paling keren,” 

Aku tersenyum. Kau masih saja memujiku Nan… 

“Eh itu dia,” 

Seorang perempuan berjalan ke arah kami. Ia terlihat kewalahan membawa beberapa tas belanjaan dan juga pengaruh janin yang ada di kandungannya. Ya, perempuan ini tengah hamil. 

“Kenalin, ini Rayya. Rayya, ini istriku, Hani,” 

Hani mengajakku bersalaman.

“Nanda banyak cerita tentang kamu,” katanya. 

” Benarkah? Pasti cerita tentang kejelekanku kan? Haha,” 

Perempun berjilbab merah maroon itu tersenyum. 

“Kalau Nanda cerita tentang kamu, dan betapa masa SMA nya berwarna karena adanya kamu, kadang aku cemburu. Tapi setelah bertemu langsung, aku percaya apa yang Nanda katakan. Rayya memang wanita yang luar biasa,” 

Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Apa benar Nanda memujiku di depan istrinya? Untuk apa? Lagian dulu aku dan Nanda hanya sebatas teman. Emm, bukan juga sih. Kalau bisa dibilang TTMan yang hubungannya harus kandas di tengah jalan demi mewujudkan cita-cita. 

“Ehm, selamat ya atas kehamilannya! Semoga lancar sampai lahiran ya. Selamat Nan kamu bakal jadi ayah!” Kataku berusaha mencairkan suasana. 

Nanda tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Kami bertiga mengobrol sebentar sampai akhirnya aku pamit pulang karena sebentar lagi sepertinya hujan akan turun. Aku tak membawa jas hujan dan aku tak ingin basah kuyup di atas sepeda motor. 

“Hati-hati di jalan,” pesan Hani dan Nanda untukku. 

Sore itu mungkin menjadi sore paling kelabu di hidupku. Laki-laki yang selama ini aku harapkan ternyata telah menjadi harapan orang lain. Aku kalah. Aku patah. 

Dua hari kemudian aku mendapatkan sebuah pesan di emailku. 

Sahabatku, Rayya

Hai, senang rasanya bisa ketemu kamu. Rayya masih saja keren seperti dulu ya!  Hani senang akhirnya bisa ketemu langsung sama kamu. Ia titip salam. Oh ya  boleh minta izin? jika anak kami lahir, akan kami beri nama ia Rayya. Inginku agar ia kuat sepertimu. 

Rayya, 

Apakah sampai saat ini kamu masih sendiri? 

Jangan kamu terlalu asyik dengan diri kamu sendiri ya. Kamu butuh orang lain untuk melengkapimu. Kamu perlu bahagia. Hidup harus seimbang kan? Memberi dan menerima. Untuk melakukan itu kau butuh partner. Pendamping. Pasangan. 

Aku tahu suatu hari, tak lama lagi aku dan Hani akan datang ke pesta pernikahanmu. Kau pasti akan cantik sekali di hari itu. Bersanding dengan Pangeran yang berhasil memenangkan hatimu. 

Rayya yang baik. Pasti akan ada laki-laki yang datang untukmu. Dulu memang sempat ada dipikirku, jika laki-laki itu adalah aku. Tapi sepertinya tipe laki-laki idamanmu tidak ada pada diriku. Kau selalu mengatakan, jika laki-laki yang tampan itu seperti Chris Martin, sang vokalis band legendaris Coldplay kan? Jelas sekali aku tak bisa bersaing dengannya 😂

Rayya, 

Aku dan Hani selalu berdoa yang terbaik untuk kamu. Semoga kamu sehat dan bahagia selalu. 

Oh ya, saat anak kami lahir, boleh ya ia memanggilmu Onti Yaya? 

ps:kutulis ini karena tak kulihat cincin di jari manismu

Tangisku pecah bersamaan dengan turunnya hujan pertama di bulan Oktober. 

Saat ini yang bisa membuatku merasa lebih baik adalah aku pernah berada di suatu sore saat kami bertemu kembali. 

End

Diposkan pada Rumah Kata :)

[FF] Di Penghujung Agustus

Namanya Ge. Lengkapnya Geribaldi Witjaksono. Lelaki yang kali ini mampu mencuri malam-malam panjangku hanya untuk berbincang bersama. Lelaki yang hanya karena senyum dan tingkah lakunya membuatku merasa lebih bahagia. Lelaki ini…..dia yang pertama kali kutemui di atas Taksaka.

***

“Din! Belum pulang? Mau bareng?” Sapa Ben, teman sekantorku. Ia menurunkan kaca mobilnya dan bisa kulihat lagi tatapan cemasnya.

“Sorry Ben, duluan aja,” jawabku.

“Masih nunggu Ge?”

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Ya sudah, tunggu di lobi aja Din, kasian kamu ntar kedinginan,”

Aku mengangguk. Ben melambaikan tangannya lantas pergi memacu mobilnya.

Lima belas menit berlalu. Dan seorang Ge belum juga menampakan dirinya. Rupanya aku mulai lelah menunggu.

Kemana sih Ge ini? Satu jam yang lalu dia kirim pesan akan pulang cepat demi memberiku surprise. Berkali-kali kuyakinkan dia kalau hari ini bukan hari ulang tahunku, bukan juga hari anniversary kita. Lagian, Ge ini gimana sih? Katanya mau surprise kok bilang-bilang sih?

“Supaya kamu dandan cantik. Biasanya kalau aku bilang langsung pulang, kamu abai dengan penampilanmu,”

Tulis Ge. Aku hanya tersenyum saat membaca pesannya. Dan kali ini demi menjawab permintaannya aku melakukan touch up sederhana. Mungkin, bedak dan gincu favoritku ini bisa membuat lelakiku ini senang.

Sepuluh menit kemudian datanglah dia yang kunanti. Kupasang wajah cemberut saat laki-laki itu melepas helmnya.

“Maafin aku Din, ada rapat mendadak,” Ge menggaruk rambutnya yang kukira tidak gatal. 

Aku masih diam saja demi menunjukkan kekesalanku.

“Kamu marah ya Din?”

“Enggak,”

“Ya sudah kalau kamu nggak marah, sini kubantu pasang helmnya,”

Ge meraih helm berwarna merah maroon, helm khusus yang ia berikan kepadaku karena hampir tiap hari aku menjadi pengojek setianya. Aku pasrah saja saat ia memakaian helm di kepalaku.

Ge menyalakan mesin motornya dan kami pun membelah jalanan kota Jakarta bersama.

“Katanya kamu mau kasih aku surprise, ayo dong apaan, udah gak sabar nih,” tanyaku disela-sela deru motor dan angin.

“Emang kamu penginnya dapet kejutan apaan Din?”

“Mmm…tiket pesawat buat liburan ke Jepang?”

“Hahahaha becanda ah Din,”

“Oh iya, mungkin kamu mau kasih aku seekor Panda?”

Ge menurunkan kecepatan sepeda motornya.

“Panda?? Bukannya di kamarmu udah banyak Panda ya. Bisa dijadiin bantal pula,”

“Idiiih itu mah boneka Ge. Aku penginnya yang asli, bisa dipeluk-peluk lucu gitu,”

“Ya udah kamu peluk aku saja, anggap saja aku ini Panda yang punya perut sixpack,”

Aku tertawa mendengar jawaban Ge. Kamu, Ge, memang selalu bisa membuatku tertawa seperti ini.

“Ge kita mau kemana?” Tanyaku saat Ge mengarahkan motornya di sebuah parkiran.

“Lihat aja,” jawabnya sok penuh teka-teki.

“Eh ini kan stasiun Gambir. Ngapain kita kesini Ge?”

“Udah, ikut aja yuk,” Ge mengamit tanganku. Dan aku hanya pasrah mengikuti langkah-langkah panjang laki-laki ini.

Ge mengajakku duduk di sebuah bangku panjang tempat para calon penumpang kereta biasa menunggu.

“Ge…kita ngapain sih disini? Atau…jangan-jangan kamu mau pergi? Kamu mau kemana Ge?”

Ge tersenyum mendengar pertanyaanku.

“Tenang Dina, aku nggak kemana-mana kok, aku kan selalu ada untuk kamu,”

“Kamu diajarin siapa ngegombal begitu?”

Ge terkekeh.

“Btw kamu malam ini cantik banget, Din”

Aku merasakan jantungku berdebar dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Kucoba kuatur napasku dan berusaha menyembunyikan bahagia yang luar biasa ini.

“Kamu laper ya Din? Kok diem aja,”

“Aku kaget aja, nggak biasanya kamu memuji aku cantik. Tapi, terimakasih, aku senang,”

“Sama-sama,”

Rasanya pengin ketawa melihat sikap Ge yang aneh begini. Ya, karena Ge tak pernah bersikap setegang ini.

“Din, masih ingat setahun yang lalu? Kereta Taksaka dan novel ini?” Ge tiba-tiba mengeluarkan sebuah novel yang halaman  covernya sudah lusuh dari dalam backpacknya.

“Critical eleven nya Ika Natassa,”

Ge mengangguk.

“Kau tahu Din, saat pertama kali kita bertemu setahun yang lalu aku tak pernah ada pikiran untuk bisa mengenalmu lebih dalam. Aku pikir kamu hanya penumpang biasa yang kebetulan cantik dan baik. Cewek yang kebetulan asyik untuk diajak ngobrol selama perjalanan. Tapi ternyata takdir membawa kita untuk bertemu lagi. Dan kupikir dari hari itu sampai sekarang aku semakin jatuh cinta padamu,”

Ge memandangku lekat. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.

“Ge, please, kamu mau melamar aku disini?”

“Kok tebakanmu selalu bener sih Din?”

“I know you well, Ge,”

Ge kembali tersenyum. Kuraih jemarinya yang dingin, kukira karena saking nervousnya dia.

“Ge, makasih ya. Aku senang malam ini,”

“Din, bentar ini belum selesai. Kejutan utamanya baru ini,”

Ge memberi kode berupa tepukan. Dan sekelompok orang yang biasa bernyanyi di stasiun Gambir mendekat.

Dan….mengalunlah lagu kesukaanku itu…..

//…..Bila nanti saatnya ‘tlah tiba. Kuingin kau menjadi istriku….berdua bersamamu dalam terik dan hujan, berjalan kesana kemari dan tertawa~ //

“Kalau kau mau, minggu depan aku akan ke rumahmu untuk minta ijin ke Bapak,”

“Untuk?”

“Untuk meminang anak perempuannya yang paling cantik,”

Ge memandangku lagi.

Kupejamkan mataku sejenak. Memori setahun lalu kembali bergerak. Statsiun Gambir, Taksaka, aku dan Ge, juga novel Critical Eleven yang menjadi awal perbincangan kami. Semuanya tertata rapi kembali. Kuingat senyum hangat Ge saat menawarkan minum. Sampai pertemuan tak disengajaku dengan Ge di lobi kantor. Kali kedua itu lah yang akhirnya mendekatkan kita.

Kali ini kutatap lagi mata laki-laki ini. Kulihat ada kesungguhan didalamnya.

Akhirnya aku mengangguk dan kugenggam tangannya lebih erat lagi.

“Ge, aku mau hidup bersamamu,”

End.

***

Ehm.

Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari lagu Akad-nya Payung Teduh. Yuhuuuu, kalian pasti tahu dong lagu ini yang lagi ngehitsnyaaa dan sungguh sangat romantis sekali liriknya. Cucok meong lah buat dinyanyikan di hari pernikahan. Ecie. 

Jadi, karena suka banget sama lagu ini. Bingung mau diapain (?), akhirnya saya tuangkan dalam bentuk flash fiction saja. Oh iya, FYI ini saya nulisnya di HP, maap aja kalau acakadut. Besok kalau ada waktu dan sedang online di PC saya percantik lagi deh. Dan lagi ini kali pertama saya nulis fiksi dan cecintaan setelah kurang lebih setahun vakum tidak menulis fiksi 😂😂😂.

Diposkan pada Rumah Kata :)

Love Actually (Part 2)

Duh, kawan-kawanku maaf ya saya lagi hobi banget nulis fiksi. Entah kesambet jin apaan, semangat curhat nulis fiksi lagi meningkat pesat. Mungkin karena udah overdosis tugas profesi ya jadinya gini T.T. Nulis fiksi jadi salah satu koping yang ampuh banget. Daan kali ini saya posting kelanjutan dari Love Actually Part 1. Iya, jadi cerita saya kali ini bakalan ditulis dalam beberapa part (Rencana awal 3 part, tapi nggak tahu deh kalau tiba-tiba part nya nambah :p #nggakonsisten). Sayanya suka jatuh cinta sama tokoh fiksi sendiri sih huehehe. Maapkeun ya, diumur menjelang seperempat abad masih juga ababil.

Yasud deh, monggo yang mau baca. Yang minat aja loh ya, yang nggak minat silahkan scroll ke bawah, kali aja ada yang cocok sis! *kok malah jadi jualan macam online shop >,<*


train mates

Aku merapikan jilbab yang sudah miring kanan dan kiri. Setelah perjalanan panjang hampir 6 jam menggunakan kereta api, dilanjutkan 1 jam naik bus akhirnya sampai juga di rumah tercinta.

Home sweet home! Yeay!

“Assalamualaikum,”

Kudengar langkah kaki menuju pintu.

“Waalaikumsalam, Ya Allah Dina, kok nggak ngabarin kalau udah sampai nduk? Kan bisa bapak jemput di stasiun,” Bapak menyambutku dengan senyuman hangat seperti biasa.

“Dina lagi pengin ngerasain naik bus Pak, nostalgia jaman kuliah,”

Yowes, sana ganti baju terus makan ya. Ibu lagi ke warung bentar, beli kerupuk kesukaanmu,”

Setelah mengecup punggung tangan Bapak, aku segera menuju kamarku. Ruangan berukuran 4×5 meter ini adalah kamar kesukaanku. Awalnya kamar ini adalah kamarku dan Naya, hingga akhirnya saat kita beranjak remaja, Bapak membuatkan kamar baru untuk Naya. Lebih tepatnya karena ulahku sih, aku minta kamar terpisah dari Naya karena malas sekali diganggu Naya saat asyik telponan dengan Gilang, mantan pacarku jaman SMA. Duh, kalau ingat itu suka tertawa sendiri. Apalagi teringat hobiku suka telponan malam-malam karena dapet gratisan. Maklum ya, pacaran kurang modal.

Aku menghempaskan badan di atas kasur dengan sprei motif bunga hydrangea kesukaanku. Ah, ibu pasti yang melakukan ini semua. Kuamati semua sudut kamar yang hampir satu tahun kutinggalkan. Foto-foto saat aku SMP dan SMA masih tergantung di dinding. Potongan cerpenku yang berhasil lolos di media cetak juga sudah terpajang rapi bersanding dengan fotoku yang lainnya. Aku tersenyum mengingat memori masa remajaku. Cerpen-cerpen yang kutulis itu, saat kubaca ulang rasanya ingin tertawa sekerasnya. Tulisan yang masih ababil tapi berhasil lolos masuk media cetak. Tulisan yang sebagian besar berisi curhatan nggak jelas dan sebagian lain berisi karyaku yang mejeng di majalah sekolah. Dan sebagian besar memang merupakan cerita pendek.

“Apa kabar anak ibu?” Ibu duduk di sampingku seraya membawa segelas air putih. Kebiasaan ibu setiap aku sampai di rumah adalah menyuruhku minum air putih.

“Makasih bu. Kabar Dina alhamdulillah baik,”

“Gimana? Kamu suka kan? Ini ide ibu untuk mempigura semua karyamu yang dimuat di majalah. Biar nggak kececer, sayang banget kan karya bagus kalau nggak dipelihara dengan baik jadinya mati, hilang,”

“Dina suka banget bu! Nggak nyangka ini semua ibu yang bikin,”

“Kamu pikir Naya yang melakukannya? Anak itu kerjaannya main melulu,”

Aku terkekeh mendengar ucapan ibu. Ah, jadi kangen Naya.

“Makan yuk, ibu sudah masakin makanan kesukaanmu,”

Aku mengangguk. Oh Dina, selamat menikmati liburanmu di rumah!

***

“Ini bagus nggak Din?” Naya mengeluarkan blus berwarna toscanya.

Aku mengangguk.

“Din! Lihat dong! Malah baca komik,”

Kuletakkan komik detective conanku dengan sebal. Naya, ganggu banget acara bersantaiku.

“Naya, kamu mau pake baju yang manapun semuanya sama aja. Kamu nggak bakalan berubah cantik kayak Pevita,” ucapku sebal.

“Jahat banget!” Naya melemparku dengan bantal.

“Lagian kamu ribet banget sih Nay, tamunya ibu kan baru dateng nanti siang habis dhuhur. Ini baru jam 9 pagi Naya, mending baca komik atau nonton tv dulu kaya aku,”

“Din, ini acara penting loh! Kita bakal dikenalin sama anaknya tante Dewi. Kamu udah liat fotonya? Wiiih anaknya ganteng banget. Artis cowok kesukaan kamu, si Arifin Putra, hmm..dia mah lewaaat,” Naya menjelaskan dengan penuh antusias. Aku sih biasa aja. Semalam ibu menunjukkan fotonya padaku dan Naya, tapi aku malah pura-pura tidur. Sumpah, aku malas banget melakukan ini semua.

“Namanya Dion, catet ya Din! Eh, kok kamu nggak semangat gitu sih? Jangan-jangan kamu…,”

“Apa?”

“Kamu udah punya pacar yaa?”

Aku terkekeh mendengar ucapan Naya. Duh, anak ini kesambet setan apaan sih bisa heboh gini.

“Kalau dia ganteng mending buat kamu Nay, kalau dia ternyata suka baca buku mending buat aku,”

“Huuu..dari dulu seleranya yang suka baca buku,”

“Biarin! Nerd is sexy tauk!”

“Beneran ya kalau dia ganteng kayak di foto, kamu harus minggirrr,”

“Silahkan nona Naya, yang penting tuh dianya mau nggak sama kamu? Kalau orang ganteng mah biasanya dapet cewek cantik. Seimbang. Aku sih nggak suka aja punya cowok terlalu ganteng, yang ada setiap jalan sama tuh cowok aku bakalan terintimidasi sama kegantengannya. Dih, bikin hidup nggak tenang aja,”

“Alesan banget sih Din. Kayak mantan pacarmu, si Gilang nggak ganteng aja,”

Dan kutimpuk Dina dengan gulingku karena ia berani bawa-bawa si Gilang ganteng. Ups. Lanjutkan membaca “Love Actually (Part 2)”

Diposkan pada Rumah Kata :)

[FF] : Love Actually

train mates

Aku memandang langit yang semakin terang.  Dari pengeras suara terdengar pemberitahuan bahwa sebentar lagi kereta yang aku tunggu akan datang. Aku menghela napas, memantapkan hati jika kali ini aku memang harus pulang.

Satu minggu yang lalu telepon dari ibu datang. Telepon inilah yang membuat sepagi ini aku harus sarapan di stasiun Gambir.

“Ada teman ibu yang mau datang. Dia bawa anak sulungnya, sarjana teknik. Dia kerja di Jakarta juga. Pulang ya, ibu mau ngenalin ke kalian berdua,”

“Naya juga pulang bu?”

“Jelas dong, kamu aja ibu suruh pulang, apalagi Naya yang tinggal sekota. Udah dulu ya, ibu lagi masak kue takut gosong,”

Aku memang sudah tak asing lagi dengan sikap dan usaha ibu perihal mencarikan jodoh untukku, dan juga saudariku. Aku tak habis pikir, begitu anehkah di usia kami yang masih belum mencapai 25 tahun ini masih single? Being single is not that bad. Aku terbiasa mandiri dari kecil, tumbuh menjadi remaja bahkan sampai kuliah. Bagiku pacaran itu buang waktu, tenaga dan perasaan. Cukuplah pengalaman pacaran jaman SMA yang akhirnya membuatku kapok untuk membuang waktu dengan hal remeh temeh bernama ‘pacaran’. Jaman kuliah? hmm apalagi pacaran saat kuliah, masihan juga uang jajan minta orang tua, eh sudah berani traktir pacarnya makan di restoran mewah. Kurang gaul itu namanya.

Aku memasang earphone dan mencoba tenggelam dalam playlist favoritku. Seperti biasa, yellow nya Coldplay selalu  berada di nomor urut satu. Aku membuka novel yang sempat tertunda untuk dibaca karena sederetan deadline kerjaan yang bikin perut mual.

Kereta Taksaka akan segera membawaku kembali pulang ke kota Satria. Kali ini doaku sederhana saja, semoga aku terhindar dari duduk sebelahan dengan ibu-ibu rempong, om-om galak, atau anak kecil yang rewel. Kali ini aku hanya ingin perjalanan pulang ku lebih tenang.

“Permisi, seat 13 B,”

Aku mengangguk. Ya Tuhan, ternyata kali ini doaku terkabul.

“Turun mana mbak?” tanyanya serasa merapikan pocket bagnya.

“Purwokerto,” jawabku sedikit terbata. Oh Tuhan, mimpi apa aku semalam? Ternyata kali ini aku mendapat bonus dari doa-doaku selama ini. Orang yang duduk di sampingku adalah cowok dan bonusnya, dia ganteng!

Oke, aku mencoba berpikir realistis. Hello Dina, he’s just a passenger like you, dan nggak usah expect more, perjalanan pulang kamu tenang aja udah bersyukur banget kan? Cowok ganteng ini anggap saja sebagai bonus THR yang lebih dari UMR.

“Mas nya turun mana?” tanyaku mencoba basa-basi biasa.

“Saya turun Jogja,”

“Mudik?”

“Iya,”

Dan dia tersenyum. Manis banget.

“Nyampai halaman berapa?” tanyanya.

Aku kaget ternyata ia memang sedang bertanya kepadaku. Pandangannya tertuju pada buku yang sedang kupegang, Critical Elevennya Ika Natassa.

“Oh, eh, baru halaman 77. Sudah baca?”

Ia mengangguk. “Baru selesai semalam,”

“Selera kita sama dong ya,”

Ia tertawa. “Itu metropop pertama yang kubaca. Alasannya, get bored nunggu pesawat delay dan adikku nitip beli novel ini, daripada nggak ada bacaan lebih baik kubaca saja. And, its not that bad, bagus malah,”

Aku terpana. Oh God, kenapa cowok disamping aku ini ganteng banget sih? Coba aja ada Arifin Putra lewat, aku biarin aja demi bisa ngobrol sama cowok ini. Dan poin plusnya bertambah terus daritadi, ya dia ternyata suka baca!

“Oh maaf, malah jadi curhat. Aku Geribaldi, panggil aja Ge,”

Aku menerima jabat tangannya. “Andina Tsabita, panggil aja Dina,”

Dan dari sinilah percakapan lainnya mulai mengalir menemani perjalanan kami.

“Jadi kamu punya saudara kembar?” tanya Ge penuh antusias.

Aku mengangguk.

“Lucu banget ya, kok kerjanya nggak sama?”

“Pertanyaan klise,” jawabku sambil tertawa. “Tahu nggak, pertanyaan ini sudah puluhan kali kudengar sejak kami memutuskan jurusan kuliah yang berbeda. Aku di jurnalistik dan dia di pendidikan. Dua jalur yang bersebrangan, dan orang-orang selalu heran mengapa kami memutuskan untuk berpisah. Haha lucu aja sih, mereka begitu perhatian sama kita, tapi emang benar, awal kuliah memang sulit banget LDRan sama saudara kembar sendiri,”

“Mau cokelat?” tawarku seraya menyerahkan sebungkus cokelat Monggo favoritku.

Ge menerimanya. “Chocolate is fun. Tapi kalau kebanyakan suka nek,”

I am  a chocolate lovers! Maniak malah,” kataku.

“Hati-hati diabetes. Kamu udah manis, tambah makan manis-manis jadi favorit semut loh,” ia tertawa. Garing sih, tapi aku suka. Dengar kan? Barusan ia memujiku manis hihi. Melayang deh, payah! Baru dipuji segitu aja sudah kegeeran. Kelamaan jomblo kamu Din!

“Aku anak tunggal, melihat kehidupan kamu kayaknya asyik banget ya. Lima bersaudara dan semuanya perempuan. Ayahmu jadi paling ganteng dong,”

“Asyik? Iya sih, but my mom told me, kamu pengin tahu kenapa ibu begitu cerewet ngomongin tentang jodoh? Kamu baru merasakannya setelah punya 5 orang anak perempuan dan semuanya masih gadis!”

Ge tertawa lagi. “Ibu yang hebat!”

“Yah, untungnya itu pernyataan ibu tiga tahun yang lalu. Ketiga kakakku sudah menikah dua tahun yang lalu, di tahun yang sama. Dan sekarang mereka sudah memberi ibu cucu-cucu yang lucu,”

“Jadi, tinggal kalian berdua yang masih single?”

Aku terbatuk mendengar Ge menyimpulkan sesuatu yang begitu pribadi dengan secepat kilat.

“Ganti topik aja ya Ge, aku tiba-tiba pusing bahas beginian,”

Ge tertawa lagi. Kali ini ia memandangku cukup lama. Aku tak pernah dipandang sebegini lamanya oleh laki-laki. Oh, tolonglah Ge aku salah tingkah gara-gara kamu.

Dan akhirnya keheningan tercipta di antara kami.

Aku berusaha kembali pada novel yang sedari tadi kuacuhkan dan Ge, ya dia tengah berkutat dengan ponselnya. Tapi kenapa aku susah konsentrasi? Kenapa semua huruf di novel ini susah banget dibaca? Kok semuanya malah menjadi wajah Ge ya? Ah, lebay banget sih.

“Nyadar nggak sih? Kita mirip banget sama dua tokoh di novel yang kamu pegang,” celetuk Ge.

“Hah?”

“Ale dan Anya, bedanya mereka ketemu di pesawat dan kita di kereta api,”

“Ale itu kerja di Rig, kamu di Pabrik Pesawat. Anya itu seorang banker dan aku wartawan junior yang kadang masih bingung dengan masa depannya. Ya, jelas beda lah Ge,”

“Kalau di novel, si Ale ini susah tidur saat perjalanan. Seorang Ge gampang banget tidur dimana aja,”

‘Kalau di novel, Anya ini tipe cewek yang gampang tidur saat perjalanan. Seorang Dina susah banget untuk tidur, makanya di sedia buku untuk membunuh waktu,”

“Hahaha kita kebalik ya Din,”

“Aneh ya kita, untung kamu belum sempet tidur dan sandaran di bahu aku Ge, bisa-bisa aku ketawa geli,”

“Wah payah kamu Din, kalau kamu punya suami nanti dan dia pengen senderan di bahumu, kamu tolak gitu?”

“Ya nggak dong Ge, kan masih ada ini,” kutunjukan benda manis bernama bantal. “Ini menyelamatkanku dari kegelian tiada akhir. Sorry ya, aku aneh,”

“Kamu nggak aneh, tapi lucu. Percaya nggak din? Ini perjalanan pertamaku mendapatkan teman ngobrol paling asyik,”

“Ge, hati-hati nanti aku bisa terbang,”

“Tenang Din, aku siap menangkapmu kalau kamu tiba-tiba jatuh,”

“Huuu itu enak di kamu Ge,”

I wish I could do that Din,”

Ge tertawa lagi. Ucapan Ge tadi sebenernya sempat membuat aku “freeze” sejenak. Tapi melihat dia yang cekikikan nggak jelas, membuatku melupakan ekspetasi terlampau tinggiku. Oh Hello Dina, Geribaldi itu hanya sebatas teman perjalanan saja. Cuma kebetulan dia baik, kebetulan dia ganteng dan kebetulan dia masih single. Tunggu? Ge? Single?

“Emang susah ya kalau berpergian buat jomblo macam kita. Semuanya harus serba sendiri,”

Oke, kucatat, barusan Ge bilang kalau dia jomblo? Orang seganteng Ge? Ah, dunia kadang selucu ini.

“Din? Kamu kenapa bengong gitu?”

Aku segera terbangun dari lamunanku saat Ge asyik melambai-lambaikan tangannya di depanku.

“Aku laper Ge, mau ikut makan? Kalau nggak salah gerbonga makannya ada di gerbong 5,”

Dan tanpa menunggu jawabannya, kulihat Ge sudah berdiri dan berjalan menuju gerbong tujuan kami.

“Sini kugandeng Din, biar kamu nggak tersesat,”

Dan sejak itu, aku tidak akan menganggap sepele doa saat melakukan perjalanan. Life is not that bad, isn’t it?

 

bersambung—-

Diposkan pada Rumah Kata :)

[FF]: Kedai Kopi dan Hujan

couple-friends-road-smile-yellow-Favim.com-117920

Hujan dan kedai kopi. Bagiku ini adalah malapetaka.

***

Aku menatap lamat-lamat tetes embun yang sedari tadi menempel di kaca tepat di depan kursiku duduk. Frapucinno mango yang kupesan sudah kuhabiskan setengahnya. Dan hujan belum juga reda. Hampir pukul sebelas malam dan aku masih asyik mengamati Jakarta yang tak pernah melamban. Semakin malam, semakin sibuk. Kota ini, meskipun telah kutinggalkan hampir 4 tahun lamanya tetap saja mempesona.

***

“Maaf membuatmu menunggu,” lelaki itu tersenyum. Kemudian ia membenarkan letak kacamatanya, menarik kursi di depanku dan duduk.

“Baru dua puluh menit, sisa sepuluh menit sebelum aku benar-benar memutuskan untuk pulang,”

“Maaf,” ucapnya lagi.

“Kau tak memesan makanan?” tanyanya demi memecah keheningan menyakitkan di antara kami.

Aku menggeleng. Kulihat dia memanggil waiterss dan menyebutkan kopi favoritnya.

“Jadi, kamu apa kabar?” ia bertanya kepadaku.

“Tidak cukup baik. Seseorang sepertinya telah membuat kantong mataku semakin besar, timbunan lemak semakin menumpuk, dan aku mulai kecanduan drama korea karena aku bisa menangis dengan bebas,”

Ia membenarkan letak kacamatanya lagi.

“Tentang kita, apa masih bisa kuperbaiki?” ia menatapku. Aku seperti kena setrum 100 joule saat tangannya menyentuh tanganku.

“Rhea, aku janji, aku akan memperjuangkan kamu,”

Aku melemparkan pandanganku ke arah jalanan yang semakin sepi. Hujan juga mulai mereda. Kupejamkan mataku dan secepat kilat semua kenangan tentangku dan dia merasuk dan menghambur menjadi satu. Ada tawa, canda, tangis, rindu, amarah, prasangka, dan juga cinta masa muda yang begitu menggebu.

“Bagaimana dengan ibumu?”

“Aku akan mencoba bicara mengenai ini semua. Aku lelah Rhea, empat tahun berpisah denganmu membuatku sadar jika aku membutuhkanmu. Sangat membutuhkanmu, setiap hari,”

“Ini semua tak mudah seperti yang kamu bayangkan Riyan,”

“Aku masih mencintaimu Rhea, dulu dan sekarang, bahkan semakin bertambah,” perlahan laki-laki itu meraih tanganku. Aku tak sempat menyembunyikannya saat ia menyadari sesuatu di jari manisku.

“Rhea..kamu…,”

Aku mengangguk.

“Siapa?”

Aku terdiam.

“Apa aku mengenalnya?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Kau mengenal baik,”

Riyan menghempaskan badannya ke kursi. Ada tatapan kecewa dari kedua matanya.

“Fabian kan?”

“Dua minggu yang lalu, Riyan. Semuanya baik-baik saja. Aku akan menikah akhir bulan ini,”

“Kenapa harus Fabian?”

“Karena ia menyelamatkan aku dari keterpurukan. Kau pikir ditinggalkan tanpa satu pun pesan dan alasan adalah sesuatu yang mudah? Di saat aku mulai melabuhkan hatiku padamu, kamu malah menghilang entah kemana. Ini hati Riyan, bukan rumah singgah,”

Riyan membenarkan letak kacamatanya.

“Jadi aku terlambat?”

“Tepat sekali,”

“Tapi kenapa kamu mau menemuiku disini? Berdua hanya kamu dan aku di tempat favorit kita saat masih pacaran dulu?”

“ Karena aku ingin belajar berdamai dengan masa lalu,”

Riyan menatapku, lagi. Lama.

“Rhea…please…I need you,”

“Tidak Riyan, kamu tidak boleh begini terus. Kamu mau tahu kenapa aku tak ingin kembali padamu?”

Riyan terdiam.

“Karena aku tidak ingin menjadi alasanmu melawan ibumu. Jika kita menikah, baktimu tidak akan berubah,  ibumu tetap nomor satu. Dan aku tak ingin menjadi perusak hubungan diantara kalian berdua,”

Kami tenggelam dalam diam kami yang cukup lama, hingga akhirnya telepon dari Fabian memecah keheningan kedai kopi yang akan tutup sebentar lagi.

“Aku harus segera pulang,” kataku.

“Akan kuantar kamu pulang,”

“Nggak usah, aku bawa mobil. Terimakasih untuk tawarannya,”

Riyan masih terdiam di kursinya. “Kalau begitu, ijinkan aku mentraktirmu malam ini, untuk yang terkahir kali,”

“Terimakasih,”

***

Aku menyeka air mata yang terus mengalir di pipiku. Sekarang aku hanya bisa menatap punggung laki-laki itu. Riyan masih disana, di kedai kopi favorit kami. Dengan kacamata full frame hitamnya ia masih tampak seperti dulu. Dia adalah laki-laki yang sempat menjadi laki-lakiku dan kini benar-benar harus kulepaskan lagi.

“Bodoh,” Fabian bangun dari tidurnya dan pindah duduk di kursi depan.

“Sini aku aja yang nyetir,” tawarnya.

Aku menggeleng. “Jangan! kamu cukup duduk diam di sampingku, dan nggak usah banyak komentar,”

“Jadi, cincin itu berguna juga ya?”

“Sepertinya iya,”

Bodoh! Kenapa aku menangis lagi? Apa aku benar-benar belum ikhlas untuk melepaskan Riyan? Apakah aku masih mencintainya?

Kurasakan Fabian menggenggam tanganku.

“Rhea, selama ini aku selalu mendukung keputusanmu. Hampir sepuluh tahun bersahabat dengamu aku masih belum mengerti bagaimana kamu. Aku memang bukan teman yang baik, tapi aku tak ingin melihat kamu sedih begini. Jika memang kamu mau membatalkan rencana kita, aku..aku tak keberatan,”

Fabian menatapku dengan tatapan teduh dan hangat.

“Fabian…tolong jangan katakan itu. Aku tak mau merasakan kehilangan lagi,” badanku bergoncang karena tangisanku. Membayangkan ditinggalkan oleh laki-laki bersenyum paling manis ini saja aku tak akan mampu. Persahabatan yang pelan-pelan berubah menjadi kisah cinta ini memang tidak terjadi dalam waktu singkat. Perlu sepuluh tahun lamanya bagi kami untuk saling memendam perasaan. Termasuk aku yang harus singgah di hati Riyan terlebih dahulu.

“Menangislah, dan perlu kamu tahu, Rhea, aku tak akan marah atas semua ini. Aku mencintaimu sejak pertama kita bertemu. Dan kau tahu…aku akan terus mencintaimu sekarang dan seterusnya,” Fabian merengkuhku dalam pelukannya. Aku merasakan debar jantung yang begitu menghangatkan, wangi tubuhnya yang membuatku bisa bernapas normal kembali. Membuyarkan semua kenangan indah masa lalu antara aku dan Riyan.

“Sekarang kita pulang ya? Dan please Rhea, let me to drive. Aku nggak yakin kamu nyetir dengan kondisi begini,”

Aku mengangguk dan kami pun merubah posisi duduk.

“Kamu cantik kalau lagi nangis, lebih cantik lagi kalau senyum,” Fabian mulai menggodaku.

Ah, laki-laki ini, baru malam ini kulihat Fabian terlihat begitu mempesona. Laki-laki ini lah yang kelak akan menjadi imamku, ayah dari anak-anak yang kelak akan lahir dari rahimku.

“Kenapa aku baru sadar kalau kamu ini sebenarnya lebih tampan dari laki-laki manapun?”

Fabian menoleh sejenak.

“Hei, ngapain ngeliatin aku begitu?” ia terkekeh. “Rhea, aku nggak akan konsen nyetir kalau kamu pandangi seperti ini,”

“Kamu ganteng,”

“Memang,”

“Kadang nyebelin, sok pede, keras kepala tapi aku cinta,”

“Hei, kalau begini besok pagi kita ke penghulu saja ya?”

“Hah?”

“Biar kita sah jadi suami istri. Biar aku bebas cium dan peluk kamu,” ucapnya sambil tertawa.

“Dasar laki-laki!” kucubit lengannya sampai ia merintih kesakitan.

“Tunggu! Aku punya sesuatu untukmu,” kulihat Fabian menyalakan mp3 player dan mengalunlah lagu favorit kami berdua.

Come along with me and don’t be scared

I just wanna set you free

C’mon, c’mon, c’mon

You and I make it anywhere

For now, stay here for a while

Cause you know, I just wanna see you smile

Kupejamkan mataku. Ada perasaan hangat yang mulai merasuk ke dalam kalbu setelah aku belajar berdamai dengan masa lalu. Mungkin memang benar, kita harus berani melepaskan untuk bisa saling menemukan. Dan saat ini telah kutemukan dia, my superhero, my favorite superman.

“Rhea kamu masih ingat quotes favoritku?” tanya Fabian tiba-tiba.

“Kamu punya banyak quotes, aku nggak hapal satu persatu,”

Fabian terkekeh.

A guy and a girl can be just friends, but at one point or another, they will fall for each other..maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever,”

“Dave Mathhews Band”

Fabian mengangguk.

“Dan kamu tahu? Aku mengalami yang terakhir. I fall for her forever,”

Fabian memandangku. Ia mengacak rambutku lembut dan berbisik, “Sayang, jangan pergi lagi ya. Tolong yakinlah jika aku bisa menjadi rumah dimana kamu akan selalu pulang. Rumah yang bisa membuat hatimu nyaman. Rumah yang akan membuatmu jatuh cinta setiap hari. Aku janji rumah seperti aku ini pasti akan selalu kamu rindukan,”

Aku menggamit lengannya, kusandarkan kepalaku pada bahunya yang selalu terasa nyaman. Bahu ini adalah bahu yang selama ini selalu menjadi tumpahan tangisku. Ah, Fabian jika seperti ini mungkin aku setuju dengan pernyataanmu. Besok sebaiknya kita ke penghulu saja agar segera dinikahkan. Biar aku bisa mencium dan memelukmu, kapan pun aku mau.

End-

 

 

P.S: ada beberapa kata yang muncul terinspirasi dari tulisan mas Kurniawan Gunadi. Tapi maaf, saya lupa di buku yang mana. Pokoknya kalau nggak di Hujan Matahari ya di Lautan Langit hehe.

Selamat membaca!

 

 

 

Diposkan pada Rumah Kata :)

Jenuh

Hanya jika aku bisa lari, aku pasti akan pergi.

Hanya jika aku bisa bermimpi, aku akan hilang

Tapi…

Ku ini bukan pengecut (atau aku tak ingin menjadi pengecut)

Lari hanya akan membuat kaki-kakiku mati

Hilang hanya akan membuat keberaniaku terbang

Aku ingin mengaduh

Jenuh

Namun,

dengan segala peluh yang sudah terbasuh. masih pantaskah untuk mengeluh?

Diposkan pada Rumah Kata :)

Dialog Dua Cinta

GOODBYE-LOVE-LETTER

@kopihitam @vanillalate datang dan pergi, selalu begitu. Tak bisakah, selamanya kamu ada disisiku?

@vanillate @kopihitam kan, kubilang pasti begini. Aku sudah lelah untuk kamu posisikan seperti ini

@kopihitam @vanillate ah, gadisku. Bisakah kau lepaskan cangkir itu dari tanganmu. Biarkan hatimu tenang sejenak

@vanillate @kopihitam kamu, ah, sudahlah. Aku lelah selalu menjadi si nomor dua bagimu

@kopihitam @vanillate siapa bilang? Kamu tetap nomer satu di hatiku. Percayalah!

@vanillate @kopihitam  percaya? Untuk apa? Lewat angin kau selalu menanyakan kabar dia kan?

@kopihitam @vanillate wanita yang cemburu itu lebih menakutkan dari serigala yang kelaparan

@vanillate @kopihitam memang benar. Tapi lebih menakutkan laki-laki yang mengumbar asmara dimana-mana

@kopihitam @vanillate aku tidak

@vanillate @kopihitam aku juga tidak menyebutmu seperti itu, atau karena kau merasa?

@kopihitam @vanillate kamu lelah kan? Bagaimana kalau kita sudahi saja obrolan aneh ini

@vanillate @kopihitam aku mau tambah gula. Late ini rasanya hambar

@kopihitam @vanillate seperti Late-mu. Hubungan ini sepertinya lebih hambar dari yang kukira

@vanillate @kopihitam benar. Jadi?

@kopihitam @vanillate untuk kehilanganmu aku tak bisa mengatakan ‘ya’.

@vanillate @kopihitam kenapa?

@kopihitam @vanillate kamu sudah seperti candu untukku

@vanillate @kopihitam jadi kau samakan aku dengan secangkir kopi hitammu?

@kopihitam @vanillate gadisku..ah, kenapa malam ini kau begitu sensitif?

@vanillate @kopihitam terlalu panjang untuk kujelaskan dalam pesan ini. Aku lelah dengan kita

@kopihitam @vanillate jadi?

@vanillate @kopihitam rasanya aku semakin mencintaimu. Itu yang kubenci

@kopihitam @vanillate hahaha kau memang selalu begitu. Itulah, kenapa aku menyayangimu

@vanillate @kopihitam jam berapa disana sekarang? Kita tak mungkin melihat bulan yang sama kan?

@kopihitam @vanillate masih sore. Aku baru selesai mengepak barangku. Besok pagi aku akan menuju London untuk selanjutnya terbang ke Jakarta

@vanillate @kopihitam hati-hati

@kopihitam @vanillate selalu

@vanillate @kopihitam aku mencintaimu

@kopihitam @vanillate aku lebih dari itu

terinspirasi dari twitnya Zarry dan Rahne Putri, waktu lagi ngefans ngefansnya dengan mereka berdua 🙂

Diposkan pada Rumah Kata :)

Terlalu Lama

Flowers-Orange-Rose-Wallpaper

Aku sadar aku sudah terlalu lama berjalan seorang diri. Panas teriknya matari seperti teman bagiku. Dinginnya hujan bak kawan yang mengajakku bercerita. Dan semilirnya angin adalah pengobat rinduku padamu.

Aku berjalan lagi, dan masih juga sendiri. Jam berganti hari berganti minggu berganti bulan dan berganti tahun. Iya, aku masih saja sendiri. Tak sedikit yang bertanya kepadaku.

“Tak bosan kah kau sendiri begini? Lihatlah kawanmu, mereka memiliki pasangan,”

Aku hanya bisa menjawabnya dengan senyuman. Sudah terlalu biasa pertanyaan seperti ini. Aku sampai bosan menanggapinya.

Katanya, aku harus lekas menemukan.

Katanya juga, aku harus lekas ditemukan.

“Kalau kau sendiri terus, kau bisa gila,” seseorang bilang padaku.

Bisa jadi mereka menganggap aku aneh karena masih saja sendiri disaat yang lain saling berpasangan. Bisa jadi mereka menganggapku terlalu ‘berat kriteria’ sampai masih betah sendiri.

Aku berteriak dalam hati, karena aku memang sendiri.

Manusia mana yang menyukai kesendirian? Kesunyian?

Jawabku: tak ada

Aku sendiri membenci sepi.

Sekiranya dia datang menjemputku. Menarikku keluar dari kesunyian, betapa bahagianya hati ini.

Sungguh,

Aku ingin segera menemukan

Dan tentu saja, ditemukan

Saat ini aku hanya bisa memintamu kepada Sang Maha Pembolak-balik hati.

Kiranya esok ia memanggil kamu agar menemaniku, apakah kau mau?

sumber gambar. www.hottytoddy.com

Diposkan pada Rumah Kata :)

Sejatinya Cinta

“Sudah siap?” Dhira tiba-tiba masuk ke dalam kamarku.

“Tunggu sebentar,” aku segera memasang bros bergambar bunga tulip. Warnanya senada dengan jilbabku.

“Sampai kapanpun sepertinya aku nggak bisa ngalahin cantiknya kamu,” Dhira memandangku. “Yuk, berangkat!”

Jujur aku masih ragu. Malam ini tidak seharusnya aku duduk di sebelah Dhira. Duduk di dalam taksi yang membawa kami ke sebuah tempat yang istimewa bagi seseorang.

“Kamu kenapa sih Faz? Daritadi nggak senyum, jangan grogi gitu dong,” Dhira menggodaku.

“Dhir..kamu tahu kan gimana aku? Duh, nanti kalau aku menunjukan tanda-tanda mau pingsan cepat antar aku pulang ya,”

Dhira terbahak mendengar jawabanku.

***

Gedung berwarna hijau pastel berdiri megah dihadapanku. Perutku tiba-tiba saja mulas. Duh…

Ayolah Faza kamu kuat…kamu kuat…

Aku merapikan lagi jilbabku. Gamis berwarna dusty pink ini setidaknya membuatku merasa sedikit nyaman.

Alunan musik bernuansa Arab mengalun merdu dari dalam gedung. Puluhan orang menyemut berjalan menuju pintu masuk gedung.

“Hai Faza, Dhira!” sapa seseorang.

“Kalian udah ditunggu, yuk ikut aku,” Naya menggamit lenganku. Gadis keturunan arab itu membawa kami kepada dua orang yang paling bahagia malam ini.

Aku gugup. Aku yakin Dhira tahu apa yang aku rasakan. Cepat-cepat ia menggenggam tanganku, berbisik kepadaku kalau ini akan segera berakhir.

“Dika! Selamat ya! Kamu pinter banget loh bikin surprise!” Naya mengucapkan selamat seraya memeluk laki-laki itu. Wajah tampannya semakin mempesona saat ia tersenyum manis melihat kedatanganku dan Dhira.

“Faza, Dhira, wah aku kira kalian lupa tanggal pernikahanku. Dari tadi pagi aku nungguin kalian datang, kok nggak bareng teman kantor?” laki-laki itu menatapku.

Aku tergagap.

“Eh..itu…ehm,”

“Aku tadi pagi nggak enak badan Dik, jadinya ngebatalin dateng bareng teman-teman kantor. Daripada sendirian aku maksa Faza buat nemenin aku, maaf ya Dik..,” cepat Dhira mengambil alih percakapan menyebalkan ini.

“Oh iya, happy wedding ya! Semoga sakinah mawwadah warrahmah,” Dhira menyalami kedua mempelai. Perlahan aku mengikuti apa yang Dhira lakukan. Sesi salam-salaman selesai dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

“Za, are you okay?” Dhira menghampiriku yang tengah duduk di pojok ruangan. Entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa mual.

“Pulang aja yuk,” ajak Dhira.

Aku menggeleng. Biarlah Dhira, biarlah aku disini barang sebentar saja. Di sudut ini aku bisa menemukan cintaku bahagia. Laki-laki itu, meskipun aku belum yakin bisa melepasnya, tapi aku akan mencoba. Iya, aku akan mencoba belajar untuk mencintai yang sebenarnya. Merelakan ia bahagia dengan wanita yang menjadi takdirnya.

diikutkan dalam FF2in1 Nulisbuku