Diposkan pada Rumah Kata :)

[Fiksi] Kita yang Bertemu Sore Itu

Kala itu adalah senja. Di sebuah toko buku, seseorang menepuk pundakku pelan. Aku berbalik dan kulihat laki-laki itu berdiri di depanku. Tersenyum dan mengulurkan tangannya seraya bertanya, “Apa kabar Rayya?” 

Dan memory sepuluh tahun yang lalu kembali bermunculan. Hujan, terik, mendung dan dingin pernah aku habiskan bersama laki-laki di depanku ini. Sekali lagi, aku mencoba menghilangkan gemuruh yang muncul di dalam dada. Perasaan apa lagi ini? 

“Hai, kabarku baik,” itulah kata yang berhasil aku ucapkan.

Laki-laki itu kembali tersenyum. 

“Kau kaget ya?” 

“Iya. Ku kira kamu masih di Jakarta, lagi mudik?” 

“Ya begitulah, ada hari cuti yang belum kuambil. Ya sudah deh sekalian saja aku pulang kampung,” 

Aku terdiam. Susah sekali mencari topik pembicaraan di situasi seperti ini. 

“Senggang? Ngopi yuk, di lantai 1 katanya ada kopi enak loh,” ajaknya. 

“Kok kamu bisa tahu sih? Aku merasa gagal sebagai produk lokal,” 

Ia terbahak. 

“Rayya kamu ternyata masih sama,” 

Segelas machiato dan kopi hitam tersaji di meja. Masing-masing dari kami mulai menyesap minuman berkafein yang selalu penuh kejutan ini.

“So, how’s life?” Tanya laki-laki ini. 

“Beginilah,” 

“Kudengar sekarang ngajar ya? Jadi dosen?” Tanyanya. 

Aku mengangguk. 

“Ngajar apa?” 

“Coba tebak,” 

“Yang jelas kamu nggak jadi dosen matematika kan?hahaha,” 

Aku terbahak. Ah, ternyata ia masih mengingat mata pelajaran SMA yang tak kusukai. Sampai aku kuliah pun aku memilih jurusan yang tak bersentuhan dengan matematika. 

“Inget ga Ya, dulu waktu SMA kamu itu tomboi banget kan? Rambut dipotong pendek, kalau les pakenya jeans sama kaos, ga pernah mau pake baju model dress gitu. But, look at you now! Kamu berubah!” 

Ia memandangku heran. 

“Nggak usah lebay gitu deh. Life’s change, right? Kamu juga dulu cupu sekarang…Yah, okelah naik dikit levelnya” 

“Enak aja! Dulu aku nggak cupu kali! Buktinya fansku banyak,” belanya. 

 “Karena dulu mereka kagum dengan kemampuan matematikamu kan? Itu nggak mempan buat aku,” 

“Hahaha sudah lah, itu hanya masa lalu. Omong-omong aku lebih suka kamu berhijab begini, kamu berubah jadi cewe sejati,” 

Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. 

Ternyata dia tidak berubah. Suaranya, tatapan matanya, cara dia mengajakku berbincang. Dia masing sama seperti Nanda sepuluh tahun yang lalu. Nanda yang selalu kukagumi karena kecerdasannya, keramahannya, kesabarannya dan semuanya yang ada pada dirinya selalu terlihat hebat di mataku. Hanya saja dulu aku terlalu bodoh untuk mengakui jika jauh di lubuk hati yang paling dalam aku menaruh rasa padanya. Hingga kini semuanya berubah. 

“Kamu datang bareng siapa? Sendiri?” Tanyaku. 

“Enggak. Aku dateng berdua. Sebentar lagi juga kesini. Aku udah bilang mau aku kenalin ke Rayya, sahabatku di SMA yang paling keren,” 

Aku tersenyum. Kau masih saja memujiku Nan… 

“Eh itu dia,” 

Seorang perempuan berjalan ke arah kami. Ia terlihat kewalahan membawa beberapa tas belanjaan dan juga pengaruh janin yang ada di kandungannya. Ya, perempuan ini tengah hamil. 

“Kenalin, ini Rayya. Rayya, ini istriku, Hani,” 

Hani mengajakku bersalaman.

“Nanda banyak cerita tentang kamu,” katanya. 

” Benarkah? Pasti cerita tentang kejelekanku kan? Haha,” 

Perempun berjilbab merah maroon itu tersenyum. 

“Kalau Nanda cerita tentang kamu, dan betapa masa SMA nya berwarna karena adanya kamu, kadang aku cemburu. Tapi setelah bertemu langsung, aku percaya apa yang Nanda katakan. Rayya memang wanita yang luar biasa,” 

Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Apa benar Nanda memujiku di depan istrinya? Untuk apa? Lagian dulu aku dan Nanda hanya sebatas teman. Emm, bukan juga sih. Kalau bisa dibilang TTMan yang hubungannya harus kandas di tengah jalan demi mewujudkan cita-cita. 

“Ehm, selamat ya atas kehamilannya! Semoga lancar sampai lahiran ya. Selamat Nan kamu bakal jadi ayah!” Kataku berusaha mencairkan suasana. 

Nanda tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Kami bertiga mengobrol sebentar sampai akhirnya aku pamit pulang karena sebentar lagi sepertinya hujan akan turun. Aku tak membawa jas hujan dan aku tak ingin basah kuyup di atas sepeda motor. 

“Hati-hati di jalan,” pesan Hani dan Nanda untukku. 

Sore itu mungkin menjadi sore paling kelabu di hidupku. Laki-laki yang selama ini aku harapkan ternyata telah menjadi harapan orang lain. Aku kalah. Aku patah. 

Dua hari kemudian aku mendapatkan sebuah pesan di emailku. 

Sahabatku, Rayya

Hai, senang rasanya bisa ketemu kamu. Rayya masih saja keren seperti dulu ya!  Hani senang akhirnya bisa ketemu langsung sama kamu. Ia titip salam. Oh ya  boleh minta izin? jika anak kami lahir, akan kami beri nama ia Rayya. Inginku agar ia kuat sepertimu. 

Rayya, 

Apakah sampai saat ini kamu masih sendiri? 

Jangan kamu terlalu asyik dengan diri kamu sendiri ya. Kamu butuh orang lain untuk melengkapimu. Kamu perlu bahagia. Hidup harus seimbang kan? Memberi dan menerima. Untuk melakukan itu kau butuh partner. Pendamping. Pasangan. 

Aku tahu suatu hari, tak lama lagi aku dan Hani akan datang ke pesta pernikahanmu. Kau pasti akan cantik sekali di hari itu. Bersanding dengan Pangeran yang berhasil memenangkan hatimu. 

Rayya yang baik. Pasti akan ada laki-laki yang datang untukmu. Dulu memang sempat ada dipikirku, jika laki-laki itu adalah aku. Tapi sepertinya tipe laki-laki idamanmu tidak ada pada diriku. Kau selalu mengatakan, jika laki-laki yang tampan itu seperti Chris Martin, sang vokalis band legendaris Coldplay kan? Jelas sekali aku tak bisa bersaing dengannya 😂

Rayya, 

Aku dan Hani selalu berdoa yang terbaik untuk kamu. Semoga kamu sehat dan bahagia selalu. 

Oh ya, saat anak kami lahir, boleh ya ia memanggilmu Onti Yaya? 

ps:kutulis ini karena tak kulihat cincin di jari manismu

Tangisku pecah bersamaan dengan turunnya hujan pertama di bulan Oktober. 

Saat ini yang bisa membuatku merasa lebih baik adalah aku pernah berada di suatu sore saat kami bertemu kembali. 

End

Iklan
Diposkan pada Rumah Kata :)

Love Actually (Part 2)

Duh, kawan-kawanku maaf ya saya lagi hobi banget nulis fiksi. Entah kesambet jin apaan, semangat curhat nulis fiksi lagi meningkat pesat. Mungkin karena udah overdosis tugas profesi ya jadinya gini T.T. Nulis fiksi jadi salah satu koping yang ampuh banget. Daan kali ini saya posting kelanjutan dari Love Actually Part 1. Iya, jadi cerita saya kali ini bakalan ditulis dalam beberapa part (Rencana awal 3 part, tapi nggak tahu deh kalau tiba-tiba part nya nambah :p #nggakonsisten). Sayanya suka jatuh cinta sama tokoh fiksi sendiri sih huehehe. Maapkeun ya, diumur menjelang seperempat abad masih juga ababil.

Yasud deh, monggo yang mau baca. Yang minat aja loh ya, yang nggak minat silahkan scroll ke bawah, kali aja ada yang cocok sis! *kok malah jadi jualan macam online shop >,<*


train mates

Aku merapikan jilbab yang sudah miring kanan dan kiri. Setelah perjalanan panjang hampir 6 jam menggunakan kereta api, dilanjutkan 1 jam naik bus akhirnya sampai juga di rumah tercinta.

Home sweet home! Yeay!

“Assalamualaikum,”

Kudengar langkah kaki menuju pintu.

“Waalaikumsalam, Ya Allah Dina, kok nggak ngabarin kalau udah sampai nduk? Kan bisa bapak jemput di stasiun,” Bapak menyambutku dengan senyuman hangat seperti biasa.

“Dina lagi pengin ngerasain naik bus Pak, nostalgia jaman kuliah,”

Yowes, sana ganti baju terus makan ya. Ibu lagi ke warung bentar, beli kerupuk kesukaanmu,”

Setelah mengecup punggung tangan Bapak, aku segera menuju kamarku. Ruangan berukuran 4×5 meter ini adalah kamar kesukaanku. Awalnya kamar ini adalah kamarku dan Naya, hingga akhirnya saat kita beranjak remaja, Bapak membuatkan kamar baru untuk Naya. Lebih tepatnya karena ulahku sih, aku minta kamar terpisah dari Naya karena malas sekali diganggu Naya saat asyik telponan dengan Gilang, mantan pacarku jaman SMA. Duh, kalau ingat itu suka tertawa sendiri. Apalagi teringat hobiku suka telponan malam-malam karena dapet gratisan. Maklum ya, pacaran kurang modal.

Aku menghempaskan badan di atas kasur dengan sprei motif bunga hydrangea kesukaanku. Ah, ibu pasti yang melakukan ini semua. Kuamati semua sudut kamar yang hampir satu tahun kutinggalkan. Foto-foto saat aku SMP dan SMA masih tergantung di dinding. Potongan cerpenku yang berhasil lolos di media cetak juga sudah terpajang rapi bersanding dengan fotoku yang lainnya. Aku tersenyum mengingat memori masa remajaku. Cerpen-cerpen yang kutulis itu, saat kubaca ulang rasanya ingin tertawa sekerasnya. Tulisan yang masih ababil tapi berhasil lolos masuk media cetak. Tulisan yang sebagian besar berisi curhatan nggak jelas dan sebagian lain berisi karyaku yang mejeng di majalah sekolah. Dan sebagian besar memang merupakan cerita pendek.

“Apa kabar anak ibu?” Ibu duduk di sampingku seraya membawa segelas air putih. Kebiasaan ibu setiap aku sampai di rumah adalah menyuruhku minum air putih.

“Makasih bu. Kabar Dina alhamdulillah baik,”

“Gimana? Kamu suka kan? Ini ide ibu untuk mempigura semua karyamu yang dimuat di majalah. Biar nggak kececer, sayang banget kan karya bagus kalau nggak dipelihara dengan baik jadinya mati, hilang,”

“Dina suka banget bu! Nggak nyangka ini semua ibu yang bikin,”

“Kamu pikir Naya yang melakukannya? Anak itu kerjaannya main melulu,”

Aku terkekeh mendengar ucapan ibu. Ah, jadi kangen Naya.

“Makan yuk, ibu sudah masakin makanan kesukaanmu,”

Aku mengangguk. Oh Dina, selamat menikmati liburanmu di rumah!

***

“Ini bagus nggak Din?” Naya mengeluarkan blus berwarna toscanya.

Aku mengangguk.

“Din! Lihat dong! Malah baca komik,”

Kuletakkan komik detective conanku dengan sebal. Naya, ganggu banget acara bersantaiku.

“Naya, kamu mau pake baju yang manapun semuanya sama aja. Kamu nggak bakalan berubah cantik kayak Pevita,” ucapku sebal.

“Jahat banget!” Naya melemparku dengan bantal.

“Lagian kamu ribet banget sih Nay, tamunya ibu kan baru dateng nanti siang habis dhuhur. Ini baru jam 9 pagi Naya, mending baca komik atau nonton tv dulu kaya aku,”

“Din, ini acara penting loh! Kita bakal dikenalin sama anaknya tante Dewi. Kamu udah liat fotonya? Wiiih anaknya ganteng banget. Artis cowok kesukaan kamu, si Arifin Putra, hmm..dia mah lewaaat,” Naya menjelaskan dengan penuh antusias. Aku sih biasa aja. Semalam ibu menunjukkan fotonya padaku dan Naya, tapi aku malah pura-pura tidur. Sumpah, aku malas banget melakukan ini semua.

“Namanya Dion, catet ya Din! Eh, kok kamu nggak semangat gitu sih? Jangan-jangan kamu…,”

“Apa?”

“Kamu udah punya pacar yaa?”

Aku terkekeh mendengar ucapan Naya. Duh, anak ini kesambet setan apaan sih bisa heboh gini.

“Kalau dia ganteng mending buat kamu Nay, kalau dia ternyata suka baca buku mending buat aku,”

“Huuu..dari dulu seleranya yang suka baca buku,”

“Biarin! Nerd is sexy tauk!”

“Beneran ya kalau dia ganteng kayak di foto, kamu harus minggirrr,”

“Silahkan nona Naya, yang penting tuh dianya mau nggak sama kamu? Kalau orang ganteng mah biasanya dapet cewek cantik. Seimbang. Aku sih nggak suka aja punya cowok terlalu ganteng, yang ada setiap jalan sama tuh cowok aku bakalan terintimidasi sama kegantengannya. Dih, bikin hidup nggak tenang aja,”

“Alesan banget sih Din. Kayak mantan pacarmu, si Gilang nggak ganteng aja,”

Dan kutimpuk Dina dengan gulingku karena ia berani bawa-bawa si Gilang ganteng. Ups. Lanjutkan membaca “Love Actually (Part 2)”

Diposkan pada Rumah Kata :)

[FF]: Kedai Kopi dan Hujan

couple-friends-road-smile-yellow-Favim.com-117920

Hujan dan kedai kopi. Bagiku ini adalah malapetaka.

***

Aku menatap lamat-lamat tetes embun yang sedari tadi menempel di kaca tepat di depan kursiku duduk. Frapucinno mango yang kupesan sudah kuhabiskan setengahnya. Dan hujan belum juga reda. Hampir pukul sebelas malam dan aku masih asyik mengamati Jakarta yang tak pernah melamban. Semakin malam, semakin sibuk. Kota ini, meskipun telah kutinggalkan hampir 4 tahun lamanya tetap saja mempesona.

***

“Maaf membuatmu menunggu,” lelaki itu tersenyum. Kemudian ia membenarkan letak kacamatanya, menarik kursi di depanku dan duduk.

“Baru dua puluh menit, sisa sepuluh menit sebelum aku benar-benar memutuskan untuk pulang,”

“Maaf,” ucapnya lagi.

“Kau tak memesan makanan?” tanyanya demi memecah keheningan menyakitkan di antara kami.

Aku menggeleng. Kulihat dia memanggil waiterss dan menyebutkan kopi favoritnya.

“Jadi, kamu apa kabar?” ia bertanya kepadaku.

“Tidak cukup baik. Seseorang sepertinya telah membuat kantong mataku semakin besar, timbunan lemak semakin menumpuk, dan aku mulai kecanduan drama korea karena aku bisa menangis dengan bebas,”

Ia membenarkan letak kacamatanya lagi.

“Tentang kita, apa masih bisa kuperbaiki?” ia menatapku. Aku seperti kena setrum 100 joule saat tangannya menyentuh tanganku.

“Rhea, aku janji, aku akan memperjuangkan kamu,”

Aku melemparkan pandanganku ke arah jalanan yang semakin sepi. Hujan juga mulai mereda. Kupejamkan mataku dan secepat kilat semua kenangan tentangku dan dia merasuk dan menghambur menjadi satu. Ada tawa, canda, tangis, rindu, amarah, prasangka, dan juga cinta masa muda yang begitu menggebu.

“Bagaimana dengan ibumu?”

“Aku akan mencoba bicara mengenai ini semua. Aku lelah Rhea, empat tahun berpisah denganmu membuatku sadar jika aku membutuhkanmu. Sangat membutuhkanmu, setiap hari,”

“Ini semua tak mudah seperti yang kamu bayangkan Riyan,”

“Aku masih mencintaimu Rhea, dulu dan sekarang, bahkan semakin bertambah,” perlahan laki-laki itu meraih tanganku. Aku tak sempat menyembunyikannya saat ia menyadari sesuatu di jari manisku.

“Rhea..kamu…,”

Aku mengangguk.

“Siapa?”

Aku terdiam.

“Apa aku mengenalnya?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Kau mengenal baik,”

Riyan menghempaskan badannya ke kursi. Ada tatapan kecewa dari kedua matanya.

“Fabian kan?”

“Dua minggu yang lalu, Riyan. Semuanya baik-baik saja. Aku akan menikah akhir bulan ini,”

“Kenapa harus Fabian?”

“Karena ia menyelamatkan aku dari keterpurukan. Kau pikir ditinggalkan tanpa satu pun pesan dan alasan adalah sesuatu yang mudah? Di saat aku mulai melabuhkan hatiku padamu, kamu malah menghilang entah kemana. Ini hati Riyan, bukan rumah singgah,”

Riyan membenarkan letak kacamatanya.

“Jadi aku terlambat?”

“Tepat sekali,”

“Tapi kenapa kamu mau menemuiku disini? Berdua hanya kamu dan aku di tempat favorit kita saat masih pacaran dulu?”

“ Karena aku ingin belajar berdamai dengan masa lalu,”

Riyan menatapku, lagi. Lama.

“Rhea…please…I need you,”

“Tidak Riyan, kamu tidak boleh begini terus. Kamu mau tahu kenapa aku tak ingin kembali padamu?”

Riyan terdiam.

“Karena aku tidak ingin menjadi alasanmu melawan ibumu. Jika kita menikah, baktimu tidak akan berubah,  ibumu tetap nomor satu. Dan aku tak ingin menjadi perusak hubungan diantara kalian berdua,”

Kami tenggelam dalam diam kami yang cukup lama, hingga akhirnya telepon dari Fabian memecah keheningan kedai kopi yang akan tutup sebentar lagi.

“Aku harus segera pulang,” kataku.

“Akan kuantar kamu pulang,”

“Nggak usah, aku bawa mobil. Terimakasih untuk tawarannya,”

Riyan masih terdiam di kursinya. “Kalau begitu, ijinkan aku mentraktirmu malam ini, untuk yang terkahir kali,”

“Terimakasih,”

***

Aku menyeka air mata yang terus mengalir di pipiku. Sekarang aku hanya bisa menatap punggung laki-laki itu. Riyan masih disana, di kedai kopi favorit kami. Dengan kacamata full frame hitamnya ia masih tampak seperti dulu. Dia adalah laki-laki yang sempat menjadi laki-lakiku dan kini benar-benar harus kulepaskan lagi.

“Bodoh,” Fabian bangun dari tidurnya dan pindah duduk di kursi depan.

“Sini aku aja yang nyetir,” tawarnya.

Aku menggeleng. “Jangan! kamu cukup duduk diam di sampingku, dan nggak usah banyak komentar,”

“Jadi, cincin itu berguna juga ya?”

“Sepertinya iya,”

Bodoh! Kenapa aku menangis lagi? Apa aku benar-benar belum ikhlas untuk melepaskan Riyan? Apakah aku masih mencintainya?

Kurasakan Fabian menggenggam tanganku.

“Rhea, selama ini aku selalu mendukung keputusanmu. Hampir sepuluh tahun bersahabat dengamu aku masih belum mengerti bagaimana kamu. Aku memang bukan teman yang baik, tapi aku tak ingin melihat kamu sedih begini. Jika memang kamu mau membatalkan rencana kita, aku..aku tak keberatan,”

Fabian menatapku dengan tatapan teduh dan hangat.

“Fabian…tolong jangan katakan itu. Aku tak mau merasakan kehilangan lagi,” badanku bergoncang karena tangisanku. Membayangkan ditinggalkan oleh laki-laki bersenyum paling manis ini saja aku tak akan mampu. Persahabatan yang pelan-pelan berubah menjadi kisah cinta ini memang tidak terjadi dalam waktu singkat. Perlu sepuluh tahun lamanya bagi kami untuk saling memendam perasaan. Termasuk aku yang harus singgah di hati Riyan terlebih dahulu.

“Menangislah, dan perlu kamu tahu, Rhea, aku tak akan marah atas semua ini. Aku mencintaimu sejak pertama kita bertemu. Dan kau tahu…aku akan terus mencintaimu sekarang dan seterusnya,” Fabian merengkuhku dalam pelukannya. Aku merasakan debar jantung yang begitu menghangatkan, wangi tubuhnya yang membuatku bisa bernapas normal kembali. Membuyarkan semua kenangan indah masa lalu antara aku dan Riyan.

“Sekarang kita pulang ya? Dan please Rhea, let me to drive. Aku nggak yakin kamu nyetir dengan kondisi begini,”

Aku mengangguk dan kami pun merubah posisi duduk.

“Kamu cantik kalau lagi nangis, lebih cantik lagi kalau senyum,” Fabian mulai menggodaku.

Ah, laki-laki ini, baru malam ini kulihat Fabian terlihat begitu mempesona. Laki-laki ini lah yang kelak akan menjadi imamku, ayah dari anak-anak yang kelak akan lahir dari rahimku.

“Kenapa aku baru sadar kalau kamu ini sebenarnya lebih tampan dari laki-laki manapun?”

Fabian menoleh sejenak.

“Hei, ngapain ngeliatin aku begitu?” ia terkekeh. “Rhea, aku nggak akan konsen nyetir kalau kamu pandangi seperti ini,”

“Kamu ganteng,”

“Memang,”

“Kadang nyebelin, sok pede, keras kepala tapi aku cinta,”

“Hei, kalau begini besok pagi kita ke penghulu saja ya?”

“Hah?”

“Biar kita sah jadi suami istri. Biar aku bebas cium dan peluk kamu,” ucapnya sambil tertawa.

“Dasar laki-laki!” kucubit lengannya sampai ia merintih kesakitan.

“Tunggu! Aku punya sesuatu untukmu,” kulihat Fabian menyalakan mp3 player dan mengalunlah lagu favorit kami berdua.

Come along with me and don’t be scared

I just wanna set you free

C’mon, c’mon, c’mon

You and I make it anywhere

For now, stay here for a while

Cause you know, I just wanna see you smile

Kupejamkan mataku. Ada perasaan hangat yang mulai merasuk ke dalam kalbu setelah aku belajar berdamai dengan masa lalu. Mungkin memang benar, kita harus berani melepaskan untuk bisa saling menemukan. Dan saat ini telah kutemukan dia, my superhero, my favorite superman.

“Rhea kamu masih ingat quotes favoritku?” tanya Fabian tiba-tiba.

“Kamu punya banyak quotes, aku nggak hapal satu persatu,”

Fabian terkekeh.

A guy and a girl can be just friends, but at one point or another, they will fall for each other..maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever,”

“Dave Mathhews Band”

Fabian mengangguk.

“Dan kamu tahu? Aku mengalami yang terakhir. I fall for her forever,”

Fabian memandangku. Ia mengacak rambutku lembut dan berbisik, “Sayang, jangan pergi lagi ya. Tolong yakinlah jika aku bisa menjadi rumah dimana kamu akan selalu pulang. Rumah yang bisa membuat hatimu nyaman. Rumah yang akan membuatmu jatuh cinta setiap hari. Aku janji rumah seperti aku ini pasti akan selalu kamu rindukan,”

Aku menggamit lengannya, kusandarkan kepalaku pada bahunya yang selalu terasa nyaman. Bahu ini adalah bahu yang selama ini selalu menjadi tumpahan tangisku. Ah, Fabian jika seperti ini mungkin aku setuju dengan pernyataanmu. Besok sebaiknya kita ke penghulu saja agar segera dinikahkan. Biar aku bisa mencium dan memelukmu, kapan pun aku mau.

End-

 

 

P.S: ada beberapa kata yang muncul terinspirasi dari tulisan mas Kurniawan Gunadi. Tapi maaf, saya lupa di buku yang mana. Pokoknya kalau nggak di Hujan Matahari ya di Lautan Langit hehe.

Selamat membaca!

 

 

 

Diposkan pada Cerita Pendek

[Cerpen] : Untuk Sahabat

sahabat

Jam menunjukkan pukul 2 siang. Ponselku berdering, ada pesan masuk dari Vivi.

“Chita, udah lama nunggu ya? Lima menit lagi aku nyampe, macet nih,”

“Tenang aja Vi, aku lagi nggak buru-buru kok, aku tunggu di meja biasa ya,”

Aku memandang ke luar café. Ada banyak orang yang hilir mudik memasuki pusat perbelanjaan terbesar di kotaku. Mulai dari anak-anak, remaja, anak kuliahan sampai nenek-nenek dengan pengasuhnya lalu lalang di depan café dimana aku menghabiskan satu jam terakhirku. Ya, satu jam untuk menunggu Vivi.

Semalam gadis itu meneleponku, menangis. Dia tak banyak bercerita, hanya menginginkan aku menemuinya di café favorit kita. Aku setuju. Dan hari ini aku meninggalkan kelas dan kampusku. Untung saja aku tak ada jadwal mengajar. Urusan dengan mahasiswaku juga sudah aku cancel. Sore ini benar-benar aku luangkan untuk wanita berparas ayu ini.

Vivi tergopoh menghampiriku. Wajahnya yang cantik di usianya yang memasuki seperempat abad sangat kukenal. Wajah ayu khas puteri keraton dipadukan dengan kulit putih khas peranakan Eropa. Perfect!

“Maaf banget Chita, aku telatnya kebangetan. Ada deadline desain yang harus segera aku selesaikan. Mana macet pula,”

Aku tersenyum. Menyuruhnya memesan sesuatu sebelum obrolan kami berlanjut ke tahap yang lebih serius. Ya, ini hanya perkiraanku terkait dengan kejadian semalam. Tangisan Vivi.

“Jadi, apa kabar Bayu?” ia bertanya tentang suamiku.

“Baik sekali. Pagi tadi Ia baru terbang ke Zurrich, ada konferensi internasional disana. Yah, mungkin untuk 2 minggu ke depan aku bakal kangen wajah innocent-nya,”

“Hmm…Bayu memang selalu sibuk. Anak-anak gimana?”

“Aidil aku titipkan ke mama mertua, mumpung liburan. Apalagi ibu berharap banget bisa membawanya liburan ke Bali,”

“Si kecil?”

“Kau lupa ya, seminggu terakhir ibuku sedang liburan di Jakarta. Jadi, sekarang aku bisa tenang menemuimu,”

Vivi tertawa renyah. Entah kenapa, sejak pertama aku mengenalnya di bangku kuliah, aku suka sekali tawanya yang khas. Enak didengar dan bisa menimbulkan tawa juga.

“Gimana kabar Ario?” tanyaku basa basi. Ario pacar Vivi, seorang anak band. Dan entah kenapa, ia selalu bangga dengan profesi pacarnya yang masih serabutan ini.

Kulihat Vivi menggeleng. Wajahnya yang sumringah berubah mendung. Nah kan? Aku menemukan titik temunya. Pasti ini ada kaitannya dengan tangis Vivi di telepon kemarin.

Aku mengusap bahunya demi menunjukkan empatiku. Tangisannya bertambah kencang. Kali ini aku relakan ia memelukku erat. Dan mulailah cerita tentangnya mengalir. Lanjutkan membaca “[Cerpen] : Untuk Sahabat”

Diposkan pada Cerita Pendek

[CERPEN] Menikahimu

wedding_06

“Nina, sepuluh menit lagi aku take off. Perkiraan subuh besok aku sampai di Jakarta,”

Yippie!! Aku berteriak senang saat membaca pesan dari mas Demas. Akhirnya Long Distance Relationship untuk sementara ini akan segera berakhir dalam beberapa jam. Aku segera membereskan meja kerjaku. Deadline laporan artikel untuk edisi bulan depan baru saja beres lima menit yang lalu. Aku menguap lebar.

“Nin! Payah banget sih, masih sore udah ngantuk!” Jossy menepuk kepalaku dengan common note nya.

“Ngopi ngopi yuk sebelum balik?” ajak cewek berdarah Sunda ini.

Aku mengernyitkan dahi. Tidak langsung meng-iya kan ajakan Jossy seperti biasanya. Besok adalah hari penting buatku, kalau malam ini begadang kan bisa telat jemput mas Demas di bandara.

Sorry ya Jossy-ku sayang, malam ini aku mau tidur cepet. Besok mau jemput Aa tercinta di bandara, hehe”

“Ah iye iye ngertilah gue. Yang bakal ketemu yayang..” Jossy menggodaku membuat beberapa rekan kerjaku yang memang sedang bersiap-siap pulang menoleh dan ikut-ikutan melancarkan celetukan-celetukan mereka.

“ Duh yang mau nikah mah bawaannya kangen melulu,” komentar Dede, editor majalah kami yang masih aja betah menjomblo padahal usianya jauh diatasku.

“Jangan lupa oleh-oleh ya Nin. Biasanya sih cokelat dari Swiss itu enak-enak loh,” mbak Ratih mulai mengkode soal makanan.

Aku hanya bisa tersenyum menanggapi mereka semua. Ah, waktu cepatlah berputar aku sudah kangen mas Demasku.

***

“Nin, sudah tidur? mas lagi transit nih di Singapur. Kamu nggak usah repot jemput ya, mas mau langsung pulang ke Purwokerto,”

Pelan-pelan aku baca whats app dari mas Demas. Hah? Gak usah jemput? Duh, kok mendadak banget sih bilangnya. Kenapa pula mas Demas cepet-cepet pulang ke rumah? Ada sesuatu kah dengan keluarganya?

“Kita ketemu dulu ya mas? Please. Aku kangen. Ibu bapak sehat kan?”

“Alhamdulillah semuanya sehat. Mas cuma pengin banget ketemu ibu sama bapak. Gpp ya, kita nggak ketemuan dulu bentar,”

Aku menghela nafas. Kecewa banget. Kulayangkan pandanganku pada sekotak red velvet kesukaan mas Demas. Semalam baru saja aku beli di bakery langganan kami. Kalau memang mas Demas pulang dulu ke Purwokerto pasti urusannya bakalan lama. Mas Demas tak pernah sebentar di rumah. Minimal 3 hari baru ia akan kembali bekerja di Jakarta.

***

“Demas berubah,” ucapku.

Jossy memandangku. Heran. Ia segera menyodorkan secangkir machiato.

“Nih, ngopi dulu baru cerita,”

Aku menyesapnya. Bau harumnya menguar menggoda selera.

“Dia nggak mau ketemu aku lagi,”

“Maksudmu?”

“Sepulangnya dia dari Swiss, sampai sekarang kita belum pernah sekali pun ketemu,” suaraku melemah.

Jossy terdiam.

“Pasti ada yang salah denganku ya Jo?”

Jossy mengelus pundaku tanda simpati. Sepertinya ia kehilangan selera untuk menggodaku seperti biasa.

“Pernikahan kita tinggal sebulan lagi. Banyak banget yang mesti kita omongin. Undangan belum beres, katering masih nggantung,gedung buat resepsi masih indent. tapi hampir dua minggu aku sama Demas belum sekali pun bertemu! Aku pusing Jo!”

“Komunikasi masih kan? Wa? Sms? Bbm?”

Aku mengangguk.

“Tenang Nin. Semuanya akan baik-baik saja. Gue yakin masalah lo sama Demas bakalan kelar. Gue bakalan bantu ngomong sama Demas ya?” Jossy menatapku.

“Nggak usah. Kalau sampai kamu tanya tentang ini ke Demas dia bakal ngira aku kekanakan. Masalah kayak gini aja harus bawa bawa Jossy. Dia kan selalu begitu Jo. Dia mengharapkan aku untuk lebih dewasa. But, thanks ya, kamu selalu ada kapan pun aku butuh,”

Jossy mengangguk. “That’s bestfriend means to do, right?”

***

Lanjutkan membaca “[CERPEN] Menikahimu”

Diposkan pada Cerita Pendek

Lamaran (Cerpen)

tumblr_nj1buw0me61sz6g6zo1_500

“Sudah?” Laki-laki di depanku bertanya. Aku menggeleng cepat. Sedikit kesal, kurapikan kembali kertas-kertas hasil perjuanganku selama satu bulan.

“Sini aku bantu,” laki-laki itu menggeser duduknya. Berpindah dari kursi ke lantai. Duduk berhadapan denganku. Sebenarnya aku ingin menolak. Aku tak cukup bisa untuk bersikap biasa saja jika ia repot membantuku seperti ini.

“Ini gimana ya? Maksudnya aku harus menyusunnya seperti apa?” tanyanya.

“Susun seperti ini Mas,” aku memberinya contoh satu bendel laporanku.

“Ibumu kemarin telepon,”

“Telepon Mas Aji? Ngapain?”

“Biasa lah, nanyain kamu. Katanya akhir-akhir ini kamu suka lama balas smsnya dan jarang telepon ke rumah. Ibu tanya sebenarnya kamu sibuk apa,”

Duh, apa-apaan coba ibu ini, kenapa pakai acara telepon Mas Aji, kan sudah aku bilang kalau seminggu ini aku sibuk menyusun laporan kuliah kerja lapanganku.

“Maaf ya Mas,” entahlah, kenapa tiba-tiba aku meminta maaf pada laki-laki ini. Memangnya aku salah apa? Dan aku pasti tahu ia akan bertanya balik kepadaku.

“Maaf untuk apa?”

Nah kan, tepat sekali. Sekarang aku harus pandai-pandai menyusun kata.

“Membuat Mas Aji repot karena harus mengangkat telepon ibu,”

“Lintang, kamu berlebihan,” katanya.

***

“Lintang bisa keluar sebentar?” suara laki-laki itu di seberang telepon.

“Keluar?” jawabku bingung. Bagaimana tidak? Ini masih pukul 6 pagi, hari minggu pula. Aku harus keluar kemana?

“Aku di depan kos kamu, keluar sebentar ya?”

Aku meloncat dari tempat tidurku. Hei? Kenapa pula laki-laki ini sudah ada di depan kos pagi-pagi begini? Kemarin dia bilang, hari ini akan ke Jogja untuk urusan Rumah Sakit atau apapun itu aku tak begitu ingin tahu.

Aku mengenakan jilbab meran marun, rok panjang dan jaket.

Laki-laki itu sudah berdiri di depan mobilnya. Pakaiannya? Tentu saja rapi.

“Ada apa mas?” tanyaku.

Laki-laki itu tersenyum.

“Ini, kubawakan bubur ayam kesukaanmu,”

Aku terdiam. Bingung.

“Kaget ya? Tadi aku tiba-tiba ingat kemarin kamu bilang ingin sarapan sama bubur ayam, ya sudah aku bawakan ini untukmu,”

Sepertinya aku terlalu lama membiarkan bubur ayam itu menggantung antara diberikan dan diterima.

“Tak seharusnya Mas Aji repot-repot begini Mas, aku kan bisa beli sendiri nanti,” jawabku seraya menerima bubur ayam itu.

“Aku nggak merasa repot. Sudah ya, aku harus segera berangkat ke Jogja,”

Aku mengangguk. Masih saja diam. Aku bahkan tak sempat bilang ‘terimakasih’.

***

Lanjutkan membaca “Lamaran (Cerpen)”

Diposkan pada Info Lomba

[Info Lomba] : Menulis FF DL 13 Januari

copas dari page sebelah. Entah kenapa saya lagi kangen ikut lomba nulis kayak gini lagi. siapa tahu menag heheh 😀

DL  13 Januari 2013

 

Assalamualaikum Wr, Wb…

 

Hai, Boliners, langsung aja, ya.

Kali ini aku mau bikin lomba sekaligus dalam 2 tema, ya. Yang pertama bertema “Secret Admirer” atau pengagum rahasia, kedua bertema “Misteri Angka 13”.

 

Tentang “Secret Admirer”

Naskah masih menggunakan tokoh utama remaja berusia 17-20 tahun. Menjadikan tema bukan sekedar pelengkap kisah, tapi kekuatan utama dalam cerita. Posisikan tokoh telah dalam keadaan mengagumi seseorang, adapun perkenalan atau perjumpaan mereka, dll-nya bisa dijelaskan sebagai pelengkapnya. Cerita bisa dibuat kocak, unik, romantis, sedih, haru, dlsb.

 

Tentang “Misteri Angka 13”

Naskah masih menggunakan tokoh utama remaja berusia 17-20 tahun. Cerita naskah terserah penulis, yang pasti harus menjadikan angka 13 sebagai tema utama untuk dibahas. Misal tentang kejadian ganjil di SMA 13, di rumah nomor 13, di jam 13, atau 13 13 lainnya. Cerita bisa dibuat kocak, unik, romantis, sedih, haru, dlsb.

 

Gimana cara join-nya? Let’s check this out (harap baca infonya dengan jelas, ya. Jangan setengah-setengah! ^-^)

 

SYARAT & KETENTUAN

 

Lomba bersifat gratis dan terbuka untuk semua kalangan tanpa batasan usia, yang ingin berpartisipasi

Untuk memudahkan komunikasi, peserta wajib berteman dengan FB Penerbit Harfeey(http://www.facebook.com/pharfeey) & LIKE FP Boneka Lilin (http://www.facebook.com/BonekaLilin) untuk tau info-info seputar lomba

Peserta wajib menyebar luaskan info event ini agar semakin banyak teman-teman yangjoin dengan cara meng-copy-paste-nya di catatan facebook masing-masing. Tag 25 orang teman FB yang menggiati dunia literasi, termasuk FB Penerbit Harfeey (Tag dari peserta akan muncul di pemberitahuan FB Penerbit Harfeey dan secara otomatis terdaftar sebagai pemenuhan syarat peserta, tapi tidak masuk ke profil karena setting-an FB kami)

Naskah fiksi remaja bertema “Secret Admirer” dan/atau “Misteri Angka 13”.Naskah berbentuk flash fiction (cerita pendek) yang terdiri dari narasi dan dialog

1 peserta hanya boleh mengirimkan 1 naskah untuk masing-masing tema. Boleh mengikuti kedua event (Secret Admirer & Misteri Angka 13), namun di masing-masing event-nya hanya mengirimkan 1 naskah terbaik dan dikirim dengan subjek email yang berbeda (sesuai dengan tema event)

Naskah merupakan karya asli penulis, belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, dan tidak sedang diikutkan dalam event lain

Tulis naskah dalam format microsoft words, font times new roman 12 pt, 1,5 spasi, size kertas A4, margin normal, justify, dengan panjang naskah 500-700 kata termasuk judul (dilarang kurang dari 500 kata, atau lebih dari 700 kata) (Cara untuk mengetahui jumlah kata yang telah ditulis : Block naskah ceritamu, lihat di sudut kiri bawah layar komputer yang ada tulisan “Words”). Simpan dengan nama file : Judul naskah – Nama Penulis. Contoh : Tak Tersentuh – Boneka Lilin

Di bawah naskah (bukan dalam file terpisah) sertakan biodata narasimu sebanyak maksimal 60 kata yang wajib berisi info nama akun FB dan alamat email

Kirim naskah yang berisi cerita sepanjang 500-700 kata dan biodata narasi maksimal 60 kata melalui lampiran/attachment (bukan di badan email) HANYA ke email :bolin_cihuy@y7mail.com (ada angka 7-nya), dengan subjek :

 

-Untuk Event “Secret Admirer” : SA_Judul Naskah_Nama Penulis (nama kamu, ya) Contoh : SA_Tak Tersentuh_Boneka Lilin

-Untuk Event “Misteri Angka 13” : MA13 _Judul Naskah_Nama Penulis (nama kamu, ya) Contoh: MA13_Surat ke-13_Boneka Lilin

 

Update peserta bisa dilihat di catatan FB Penerbit Harfeey

Deadline tanggal 13 Januari 2012. Tidak ada perpanjangan waktu

Pengumuman peserta yang lolos di masing-masing tema dan 3 jawara utama, insyaAllah 1 minggu setelah DL

 

 

REWARD

 

Seluruh naskah dari masing-masing event yang tulisannya dinilai memenuhi semua syarat dan ketentuan serta menarik dan kreatif versi panitia akan dibukukan secara indie di Penerbit Harfeey (bisa dalam 1 atau 2 jilid judul buku, tergantung dari banyaknya naskah yang terpilih) dengan 2 judul yang berbeda tentunya, sesuai tema event

Seluruh penulis kontributor akan mendapatkan e-sertifikat yang dikirim melalui alamat email masing-masing

Seluruh penulis kontributor terpilih mendapatkan voucher penerbitan buku lengkap senilai Rp50.000,- dari Penerbit Harfeey (Voucher tidak dapat diungkan dan/atau diakumulasikan. Satu voucher hanya berlaku untuk satu judul buku)

Seluruh penulis kontributor terpilih mendapatkan royalti berupa potongan harga senilai 15% setiap pembelian bukunya jika sudah terbit (Bukan hanya sekali, tapi seterusnya).Semakin banyak buku yang kamu jual, sebanyak itu juga royalti yang akan kamu dapatkan (Fair, ya. Kita sama-sama menulis cerita dan mempromosikan bukunya dengan keuntungan yang juga setimpal, sesuai kerja keras)

JUARA UTAMA untuk masing-masing event

 

-JUARA 1 : 1 buku bukti terbit yang dikirim gratis ke alamat penulis di seluruh Indonesia, e-sertifikat, & voucher penerbitan buku lengkap senilai Rp200.000,- dari Penerbit Harfeey

-JUARA 2 : 1 buku bukti terbit yang dikirim gratis ke alamat penulis di seluruh Indonesia, e-sertifikat, & voucher penerbitan buku lengkap senilai Rp150.000,- dari Penerbit Harfeey

-JUARA 3 : 1 buku bukti terbit yang dikirim gratis ke alamat penulis di seluruh Indonesia, e-sertifikat, & voucher penerbitan buku lengkap senilai Rp100.000,- dari Penerbit Harfeey

 

*Info tarif penerbitan untuk penggunaan voucher bisa dilihat di sini :https://www.facebook.com/notes/penerbit-harfeey/cara-menerbitkan-buku-di-penerbit-harfeey-tarif-rp350000-/131736106967008

 

Karena infonya sudah jelas, semoga nggak ada lagi pertanyaan yang jawabannya terdapat dalam info ini, ya! 🙂 (Ex : Apa aku boleh ikut? DL-nya kapan? Update pesertanya di mana? Kirim ke mana? Hadiahnya apa? Dlsb). Seandainya pun ada hal yang kurang dipahami dan ingin ditanyakan, harap ajukan pertanyaan hanya di kolom komentar note info event FB penyelenggara (Penerbit Harfeey & Boneka Lilin), bukan lewat inbox, wall, apalagi sms.

 

Sekian, semoga teman-teman berkenan untuk join. Thank you. 🙂

 

Wassalamu’alaikum Wr, Wb…

 

Diposkan pada Cerita Pendek

[Cerpen] : Aku dan Hujan

Dimuat di Majalah Teen edisi 147/2011. Ditulis saat masih berseragam SMA unyu-unyu 🙂

            Aku suka memandang hujan. Entah kenapa hujan memberikan efek ketenangan hati untukku. Mungkin setiap kali turun hujan memoriku tentang ‘si mahluk manis’ yang pernah aku temui kembali terkuak.

            Dia adalah Arga, cowok pendiam, keren, jago karate dan bermata sipit yang duduk di kelas XI IPA 3, besebelahan dengan kelasku. Aku mengenal Arga secara tak sengaja.

Waktu itu mendung sudah di ujung tanduk tinggal menunggu hembusan angin untuk menurunkan butiran-butiran air ke bumi. Aku baru selesai menyelesaikan proposal untuk salah satu acara organisasi yang aku ikuti sehingga tak sadar langit mulai menghitam. Aku nekat untuk tetap pulang karena takut kehabisan angkot dan benar saja tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Aku berlari mencari tempat berteduh, untunglah aku menemukan sebuak lapak yang sepertinya sudah tak terpakai lagi. Aku berteduh seraya mencoba mengeringkan bajuku yang telah basah kuyup.

Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit hujan belum juga reda. Kulihat seorang cowok belari kearahku. Baju dan celanya basah, bahkan tas yang ia gunakan untuk perlindungan terakhir juga tak luput dari guyuran hujan. Ia berdiri di sebelahku sambil mengibask-ngibaskan baju seragamnya. Sekali-sekali ia melihatku dan tersenyum.

“Aneh banget nih cowok,” gumamku dalam hati.

“Kita senasib ya?” tanyanya kepadaku.

Aku masih tak berani menatap wajahnya secara langsung dan aku hanya mengangguk sebagai tanda bahwa aku membenarkan pernyataannya.

“Tak usah takut begitu, aku tak akan mengganggumu kok,” mukaku langsung memerah mendengar perkataannya.

“Aku sangat senang memandang hujan, kau tau kenapa?”

Aku menggeleng.

“Karena hujan memiliki beribu misteri,”

Aku mengernyitkan dahi. Apa lagi maksudnya? Hujan mengandung misteri? Bukannya hujan itu mengandung air ya? Ada-ada saja ini cowok.

“Kau suka hujan?” tanyanya lagi. Lanjutkan membaca “[Cerpen] : Aku dan Hujan”

Diposkan pada Cerita Pendek

[FF] Orion

Aku selalu memandangmu seperti ini. Memandang langit malam sambil tertawa.

“Apa menariknya?” tanyaku sambil menuang teh hangat ke cangkirmu. Seperti biasa kamu hanya tersenyum lalu kembali asyik menatap gugusan bintang di langit malam.

“Untungnya setiap weekend kita masih sempat ke villa ini, Bandung selalu memberi sesuatu yang indah,” kamu, lagi-lagi tersenyum. Memandangku dengan tatapan lembutmu.

“Itu namanya rasi bintang biduk atau beruang besar,” kamu mengarahkan jari telunjukmu ke sebuah gugusan bintang di langit utara.

“Dialah yang membantu nelayan menentukan arah utara” katamu lagi. Ah, kamu mirip guruku sewaktu SD dulu.

“Dan coba lihat rasi bintang itu! Namanya gubuk penceng atau crux, lihatlah bentuknya mirip layang-layang ya? Si cantik ini berfungsi untuk menunjukkan arah selatan,” jari telunjukmu sibuk mengarahkannya ke gugusan bintang berbentuk layang-layang di langit selatan.

“Dan kamu tahu, nama-nama yang dimiliki oleh rasi bintang kebanyakan berasal dari nama Yunani. Sejak dulu orang Yunani memang sudah belajar ilmu astronomi. Sebut saja nama-nama seperti Bellatrix, Remus, Regulus, Sirius, Scorpio, Cygnus, Peggasus dan Orion. Semua cantik bukan?”

Aku hanya bisa mengiyakan saja. Toh, nama-nama rasi bintang yang kamu sebutkan tadi memang cantik. Tapi tak apa, meskipun malam ini kamu cerewet sekali, ngobrolin soal rasi bintang tapi aku menyukainya. Aku suka melihatmu dengan binar bahagia yang terpancar dari wajahmu. Lanjutkan membaca “[FF] Orion”

Diposkan pada Cerita Pendek

[CERMIN] : Bulan Merah Jambu

BULAN MERAH JAMBU

Maybe, for those people who believe, toworrow is a valentine day, but for me tomorrow just like another tuesday 🙂 

                Namanya Amelia, panjangnya  Cahya Amelia. Anaknya cantik dan baik hati. Ia anak yang rajin, tak pernah terlambat  ke sekolah. Tugas dan pekerjaan rumah dari bapak ibu guru pun selalu dikerjakan tepat waktu. Aku tak tahu kenapa ia selalu memilih untuk duduk di depanku. Aku bukanlah tipe siswa yang terkenal, aku tidak tampan dan prestasiku biasa-biasa saja. Amelia bilang, aku adalah pendengar yang baik dan ia seorang pencerita yang hebat. Ya, aku paham betul jika Amelia suka bercerita, ia bercerita apa saja kepadaku. Tentang keluarganya, ibunya yang pintar menyanyi, ayahnya yang seorang dokter dan kedua adik kembarnya yang masih TK. Amelia suka menggambar dan memasak, ia adalah seorang chef yang jago. Lanjutkan membaca “[CERMIN] : Bulan Merah Jambu”